
Usai sarapan Miranda dan sang suami segera berangkat menuju panti, mereka penasaran ada hal apa hingga Ayesha menelpon malam malam.
Sementara di panti, Ayesha sibuk membuat sarapan bersama dengan bundanya dan di bantu oleh beberapa anak panti. Sedangkan Randi lagi asik dengan Azam bermain di halaman depan bersama anak anak yang lain.
“Bun, pagi ini mommy akan kesini, nanti bunda telpon aja pria yang semalam kemari ya,”
“Benarkah, semoga saja mommy bisa bantu kita ay, nanti akan bunda telpon setelah ke dua orang tuamu sampai di sini,”
“ya, baiklah,”
Tak lama makanan pun sudah selesai, mereka menyusunnya di meja makan dan memanggil anak anak untuk segera sarapan.
“ran, kamu sarapan aja duluan sama yang lain,”
“Ka kak,”
Ayesha segera mengambil alih Azam dari Randi dan membawa ke kamar untuk memandikan pria kecil itu, selesai mandi Azam Ayesha segera memakaikan bajunya dan tak lupa memberinya bedak sedikit di pipi gembul Azam dan sedikit olesan minyak telon di bajunya, setelah itu Ayesha segera membuatkan susu formula.
“kak, panggil Cantika,”
“Ya tik, ada apa?,”
“Sini aku bantu buatkan susunya,”
“Hm..makasih yaa, Kaka bisa kok kamu lanjut aja makannya,”
“yakin nih ngak butuh bantuan?,”
“Iya tik,”
“ya udah aku lanjut lagi makannya,”
“ay, jangan dikasih susu dulu, kan Azam belum makan nak,”
“astaga ay lupa Bun,”
“ais, kamu ini, ini makannya,”
“Hahaha, makasih nek,” ucap Ayesha sambil menirukan suara anak kecil,”
Ayesha langsung dapat cubitan di pipinya.
“Sakit Bun,”
“Masa sih, tapi bunda ngak ngerasa tuh,”
“bundaa, yang di cubit kan ay mana mungkin bunda juga rasa,” rengekannya.
Membuat wanita paruh baya itu ketawa melihat tingkah Ayesha yang polos.
“Ya ya, bunda becanda kok, cepat suapi Azam tuh anak mu udah kelaparan.
“hihihi, ya Bun,”
🍂 🍂 🍂
Setelah kedua orang tuanya datang Ayesha membawa mereka ke ruangan bundanya tiba di sana Ayesha menceritakan semuanya pada Daddy dan mommynya.
Atas permintaan Daddy Ayesha, bunda Ayesha segera memanggil Wawan untuk datang ke panti tak lama ia datang.
“ ada apa tuan memanggil saya,” tanya Wawan.
“Saya dengar Anda ingin menjual panti ini, apa itu benar?,”
“Iya, kenapa?,”
“Saya mau membelinya, berapa akan Anda jual?,”
“ tapi bagaimana dengan anak-anak disini mereka belum pindah,”
“mereka tak perlu pindah Karna saya masih ingin anak anak ini berada disini,”
“Oh, baiklah kalau begitu, saya akan menjualnya seharga 200 juta,”
“oke saya akan mengambilnya, dan mana surat suratnya?,”
“Oke akan saya ambil dulu di rumah,”
“baiklah akan saya tunggu di sini,”
__ADS_1
“ Windi siapkan surat jual belinya dan buat atas nama Ayesha,”
“Baik tuan,”
“dad, kok atas nama ay?,”
“ya Karna panti ini milik kamu dan di ke Lola oleh bunda mu, Daddy tak akan merubah Apa pun dengan bangunan ini, cukup anak anak nyaman disini, apa kamu keberatan?,”
“Ngak sih dad, Cuma kaget aja, makasih dad,”
“Ya sayang,”
Tak lama Wawan datang dengan membawa sertifikat tanah tersebut.
“Ini tuan sertifikatnya, ini asli bukan KW,”
“Baik, boleh saya lihat dulu?,”
“Silahkan tuan,”
Joshua melihat surat tersebut dan membacanya dengan detail, ternyata benar surat ini asli.
“Windi, apa semuanya sudah selesai?,”
“Sudah tuan, ini suratnya,”
“Kau tanda tangan sini anak muda,” ucap Joshua pada Wawan sambil menunjuk kolom yang akan di bubuhi tanda tangan oleh Wawan diatas materai.
“Ay tanda tangan disini,” ucapnya pada putrinya.”
Ayesha hanya mengangguk patuh pada Joshua.
Selesai transaksi, Wawan segera pergi dari panti Karna urusannya sudah selesai.
🍂 🍂 🍂
Sore harinya.
Ayesha pamit pada bundanya dan juga Azam, pria kecil itu merajuk hingga tak mau lepas dari gendongan Ayesha, membuat ia tak tega untuk meninggalkannya.
“Bun, gimana ini?,”
Bunda Ayesha mencoba mengambil alih Azam dari gendongan Ayesha namun usahanya tak berhasil, dan Cantika mencoba dengan membawa mainan yang di bawa oleh Randi dan membujuk Azam untuk main dengan yang lain hasilnya tetap sama ia tak mau lepas dari Ayesha.
“Bawa aja kak, biar mommy dirumah ada temannya,”
Ayesha melirik ke arah mommynya dan Daddy nya ternyata ke dua paruh baya itu mengangguk.
“Bukan ay ngak mau bawa Azam mom, Cuma surat adopsi belum ay urus,” ucapnya.
“Hai, kenapa tidak kasih tau Daddy, ya sudah besok Windi akan mengurus semuanya, kamu tinggal beres saja,”
“bun, apa boleh ay bawa pulang Azam nya?,”
“Ya sudah bawa saja dari pada dia nangis saat kamu tinggal, tapi ngak kerepotan nanti?,”
“Ngak apa buk, saya bisa jaga Azam saat Ayesha kuliah, saya juga kesepian dirumah jika semuanya sudah pergi ke aktivitas masing-masing,”
“ya sudah, bunda hanya pesan sama kamu ay, jaga dia dan sayangi dia dan kamu juga masih fokus kuliah sebentar lagi kan mau jadi dokter,”
“ya Bun Ayesha ingat pesan bunda,”
Miranda merasa terharu melihat kasih sayang ibu Afifah pada Ayesha, ia bersyukur Ayesha di besarkan oleh ibu Afifah yang menganggap Ayesha seperti anak sendiri, ia memberi perhatian dan kasih sayang yang tulus pada Ayesha dan juga anak anak lainnya yang ada di panti ini.
🍂 🍂 🍂
Dirumah Ares.
Saat mereka berkumpul di diruang keluarga, tapi Ares masih betah di kamarnya karna patah hati.
“Mom, putra kesayangan mommy mana?,” tanya putri.
“Berapa kali mommy bilang sayang mommy itu sama rata,”
“Hihihi, ya ya, maaf mom becanda,”
“Abang mana mom?,”
“palingan di kamar, coba kamu liat,”
__ADS_1
Dengan langkah cepat putri segera menuju kamar abangnya, Tampa mengetuk pintu ia segera masuk ke dalam kamar tersebut.
“bang, lagi apa?,” tanya putri saat masuk ke kamar ia melihat Ares rebahan di ranjang.
“ngak ada Cuma main game aja,”
“keluar yok,” putri menarik tangan Ares.
“Ke mana sih put?,”
“Ke mana aja asal Abang ngak di kamar trus,”
“huff, ya udah ayok,” dia ngak bisa nolak ajakan putri walaupun nolak putri pasti merengek pada nya sebelum Ares menuruti permintaannya.
Putri dan Ares segera menuju ruang keluarga, Ara senang melihat Ares juga ikut.
“Kalian mau kemana?,” tanya Arkan.
“keluar bentar dad,”
“Abang aku ikut,” sambung Restu.
“Ngak,” jawab Ares dan putri.
“Kalian ngak aku kasih restu keluar rumah,” selorohnya.
“Ngak ngaruh wleeee,” cibir Ares.
“mom,” adunya.
“Ares putri ajak restu sekalian,”
“Dasar manja, ya sudah ayo,” ucap putri.
Wajah restu berbinar dan langsung menyusul ke dua saudaranya, putri dan Ares segera berjalan keluar pagar dan tetap di depan pagar tukang bakso langganannya juga muncul, Ares memanggilnya dan ia juga memesan tiga mangkok.
“Abang sama Kaka, ngak lagi ngerjain aku kan?,”
“Siapa yang ngerjain kamu, jawab putri ia sudah susah payah menahan tawanya,”
“Bukannya tadi bilang keluar,”
“iya ini kan udah di luar Adek ku sayang,” jawab Ares.
“Iya di luar, tapi ini masih di lingkungan rumah bang, aku kira kita jalan jalan pakai mobil,” omelnya.
“Udah sama aja, mau pakai mobil kek mau jalan kaki kek yang penting kita udah di luar kan,” terang putri.
“Kalian ngak asik,”
“Tetserah, sekarang cepat pangil mommy sama Daddy ajak kesini kita makan bakso bareng,” perintah Ares.
“Ya bang,” jawabnya dengan lesu.
Setelah restu pergi Ares dan putri tos, Karna sudah berhasil mengerjai Adek manja nya itu.
“asik juga bang, sekali kali ngepreng restu,” ucap putri.
“Hahaha, kamu ada ada aja put, nanti di marahi mommy baru tau rasa,” ucap Ares.
“Hihihi, ngak akan,”
Tak lama Ara dan Arkan datang beserta Roy, mereka makan bakso berjamaah di halaman depan rumah, semua orang yang ada rumah Arkan ikut menikmatinya bakso tersebut.
🍂🍂🍂
Maaf ya kemaren ngak up, kurang semangat soalnya, kasih semangat dong Reader, cukup like dan vote serta komen dan hadiah jangan lupa ya.
Makasih yang sudah like dan vote serta hadiah dan komennya.
Love You All😉😉💞💞💞
Wasalam💞💞💞
__ADS_1