Mommy Ara

Mommy Ara
102. S2. kekesalan putri


__ADS_3

“kauuuu,” tunjuk putri dengan rasa kesalnya.


“Iya, aku tak sengaja, maaf telah merusak ponselmu,” ucap Rafa.


“Sengaja atau tidak tapi kau sudah dua kali merusak ponsel ku,” putri mengingatkan.


“Onty....”ucap Azam sambil melingkarkan tangannya di leher putri.


“Ya sayang, kita beli saja ya susu sama botolnya, ngak apa kan?,”


“Ya Onty,”


Putri segera mengambil troli dan mendudukkan Azam di dalamnya, mereka berdua segera mencari susu Azam dan mengabaikan pria tampan yang selalu mengekor di belakang putri, mereka seperti suami istri yang lagi marahan.


Putri dan Azam sudah mendapatkan apa yang ingin mereka beli, sekarang mereka berburu camilan dan tak lupa Ica krim kesuakaan Azam.


“Azam, mau es krim rasa apa?,”


“coklat,”


“Oke,”


,”Sekarang kita bayar dulu yaa,”


“yuk,”


Putri melihat ke belakang ternyata Rafa sudah tak mengikutinya lagi, ia bersyukur pria itu sudah tidak ada di belakangnya.


Usai membayar belanjaannya Azam yang berjalan disisi kanan putri sambil memegang tangan ontynya.


“Kita pulang kerumah mommy Ara ya,” tanya putri sekali lagi?,”


“Iya, Azam kangen sama om restu, Oma dan opa,” jawabnya sambil mendongak ke atas.


“nanti kalau papa jemput jangan pulang yaa, tidur sama Onty mau?,”


“Mau, nanti Azam bilang ke papa, kalau Azam tidur sama Onty.


“oke boy,”


Putri dan Azam santai menuruni tangan eskalator sembari bercanda dengan pria kecil itu.


Graaappp....


Barang belanjaannya di sambar oleh Rafa.


“Hay kau apa yang kau lakukan dengan belanjaan ku?,”


“cuma bantu kamu aja,”


“Aku ngak butuh bantuan Lo, sini in belanjaan gue,”


Rafa tak menanggapi ucapan putri ia masih setia menenteng belanjaan putri.


Setelah tiba di lantai dasar ia langsung menuju mobilnya sambil membawa belanjaan putri.


“Hai, kau mau dibawa ke mana belanjaan ku,” teriak putri yang tak di hiraukan oleh Rafa.


“dasar pria gila, seenaknya saja merebut belanjaan gue,” gerutu putri dengan kesalnya sambil mengendong Azam.


Rafa yang sudah tiba di mobilnya langsung membuka pintu belakang dan memasukkan semua belanjaan putri ke dalam mobilnya.


“Sini belanjaan Gue,” pinta putri


“ngak,”


“Huffff, dasar pria gila, ya sudah lo ambil saja semuanya sepertinya lo lebih butuh itu,” ucap putri kesal lalu pergi dari sana dan menuju mobil Roy yang tak jauh dari sana, tapi dengan cepat Rafa menarik tangan putri.


“Masuk, aku yang akan mengantar mu pulang?,”


“tak perlu repot,” ujar putri sambil menepis tangan Rafa.


“Masuk atau aku akan mendorong mu,” ujarnya lagi.


“dasar gilaaa, Lo lihat tidak, gue mengendong Seorang anak jika Lo mendorong gue maka kepalanya akan terbentur kemobil lo, awas gue mau pulang,” geram putri.


“Ngak, masuk,” ucap Rafa sekali lagi dan menekan sedikit kepala putri lalu mendorongnya masuk ke mobil.


Braaakkkkk....


Rafa menutup pintu, hingga Azam terlonjak kaget dan menangis di pangkuan putri.


“Mimi....hik....mi....,”

__ADS_1


“Sayang ini onty jangan nangis yaa,” ucap putri sambil mengelus punggung Azam.


“kau lihat kan, ponakan gue menangis gara-gara lo, dasar gila,” ucap putri.


“Iya aku gila Karna dirimu,” batin Rafa.


Rafa melajukan mobilnya menuju rumah putri, dengan kecepatan sedang.


“Ini aku ganti ponselmu, anggap saja permintaan maaf ku,”


“gue ngak butuh,”


“aku tau kau anak seorang konglomerat, setidaknya hargai permintaan maafku,”


“Aku sudah memaafkanmu tapi aku ngak butuh hadiahmu,” ujar putri ketus


mendengar penolakan putri membuat Rafa tersenyum masam.


Hufff...helaan nafas putri terasa berat, ia benci pria di sampingnya ini yang selalu saja bertemu dengannya, parahnya lagi pria ini selalu memaksanya kehendaknya


Putri paling tidak suka di paksa apa pun bentuknya, makin di paksa maka ia akan makin membangkang.


Tak lama mereka tiba dirumah putri, ia langsung turun dan melupakan belanjaannya, Rafa mengambil semua belanjaan putri dan menentengnya lalu mengekor di belakang putri.


“Put...kok Azam sama kamu?,”


“Dia mau kesini mom,”


“Put, ini siapa?,” tanya Ara sontak putri menoleh ke belakang.


“Mau apa lagi lo, terima kasih sudah mengantar ku, silakan pulang,” ucap putri.


“Put, ngak boleh seperti itu sama tamu,”


“Ya sudah mommy aja yang baik sama dia aku mau ke kamar pen istirahat,”


“Maaf kan sikap putri saya, dia memang begitu jika belum kenal,”


“ya ngak apa Tante, saya mengerti, oh iya ini belanjaan putri tente, kalau begitu saya pamit,”


“kok buru-buru?,”


“Lagi ada urusan Tan,”


“Ya sama sama,”


Rafa pun segera melakukan mobilnya menuju perusahaannya. Karna masih jam setengah tiga dan sekretarisnya sudah berulang kali menelponnya.


Setelah Rafa pergi Ara melihat putri dilamarnya.


Ceklek....


Ara membuka pintu kamar putri dan nampaklah anak gadisnya itu sedang tidur memeluk Azam, Ara merasa Dejavu melihat pemandangan itu, ia ingat saat Ares masih kecil.


*


*


*


Jam lima sore Ares sudah tiba di rumah mommynya, ia akan nginap disini malam ini, setelah menelpon Ayesha ia pun segera mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah rapi dengan baju santainya ia segera menuju ruang keluarga dimana semuanya sedang berkumpul disana, Ares melihat Azam yang asik main Lego bersama restu dan putri.


“sore, mom, dad,” sapa Ares.


“Sore juga nak,”


“Put, tadi Abang telpon kok ponsel mu ngak aktif?,”


“Mana mungkin aktifkan ponselnya aja sudah hancur lebur?,”


“Kok bisa?,”


“Ya bisalah, wong ponselnya nyium lantai,”


“oh...,”


“Bang,”


“Hm...,”


“baliin aku ponsel dong,”

__ADS_1


“Sekarang?,”


“Minggu depan,” jawabnya ketus.


“Oh, Minggu depan ya,”


“abaaaaang, ih,” ujarnya kesal.


“Apa an sih put,”


“Beli ponselnya sekarang bang,” rengek putri.


“Lah, tadi bilangnya Minggu depan,”


“Ck..pelit,”


“mana ada Abang pelit, Abang ini dermawan,”


“Kalau dermawan yuk kita beli ke toko sekarang,”


“Nanti siap makan malam kalian boleh pergi,” jawab Ara.


“Hahahahaha, kasihan,” ledek restu.


“Ck...menyebalkan,” ucapnya seraya melempar restu dengan bantal Sofa.


Selesai sholat magrib mereka makan bersama, Azam yang manja sama Ara pun membuat Oma cantiknya itu menyuapi Azam, sampai pria kecil yang imut dan lucu itu makan hingga kenyang.


“apa mau nambah lagi?,” tanya Ara.


“Ngak Oma, udah kenyang ucapnya. seraya tersenyum.


Azam melihat Arkan yang menatapnya, lalu tersenyum ke arah Arkan.


“Opa,”


“Ya apa,” jawab Arkan,”


Lalu ia menggelengkan kepalanya. Usai makan dan beristirahat sejenak, Ares mengajak adik-adiknya beserta azam ke toko ponsel.


Putri yang tau kalau Rafa memasukkan ponselnya yang ia beli tadi ke dalam belanjaan putri tapi ia Enggan memakainya.


Tiba di toko ponsel, putri memilih seperti yang di belikan mommy nya kemaren dengan warna yang sama, serta model bahkan mereknya pun sama.


“Yakin yang itu,” tanya Ares.


“Ini aja bang, sama kek yang di beliin mommy kemaren kok,”


“ya udah bayar,” ucap Ares sambil memberikan kartu sakti pada putri.


Putri segera membayarnya, dan setelah itu mereka berempat kembali menaiki mobil Ares.


“Bang, beli martabak yuk,” ajak restu yang tak pernah absen membeli martabak kesukaannya jika sudah keluar rumah.


“Ya,” jawab Ares lalu melajukan mobilnya menuju penjual martabak langganan mereka.


*


*


*


Ares segera pamit dari rumah mommynya, setelah mengantar mereka bertiga, Azam yang sudah tertidur pulas pun di bawa oleh putri ke kamarnya.


Area segera menuju rumah sakit di mana sang istri berada malam ini, rasa rindunya pada sang istri ia tak jadi menginap dirumah mommynya, tapi terlebih dahulu ia membeli makanan ke sukaan Ayesha. Kurang dari dua puluh menit Ares sudah tiba di rumah sakit, ia melihat hampir jam sepuh malam. Tiba di ruangan Ayesha Ares tak mendapati sang istri tercintanya. Lalu bertanya pada perawat yang lewat di depan ruangan sang istri. Perawat itu memberi tahu jika Ayesha Sadang di ruangan UGD lagi sibuk dengan para anak muda yang habis tauran, banyak luka sayatan senjata tajam di tubuh mereka, Ayesha dan Nayra sibuk membersihkan luka tersebut serta menjahitnya. Hingga sampai jam setengah dua belas malam.


Setelah selesai ia langsung menuju ruangannya untuk beristirahat, sejenak namun ia kaget saat melihat Ares sudah tertidur lelap di sofa yang ada di ruangan itu, Ayesha segera menutup pintu dan tak lupa menguncinya.


“Mas...mas...bangun,” juara Ayesha sambil menggoyang goyangan tubuh Ares.


“Mas...”ujar Ayesha lagi kali ini ia membelai manja pipi sang suami. Ares hanya menggeliat kecil.


“Karna tak ada tanda-tanda Ares akan bangun ia pun membersihkan dirinya lalu ikut berbaring di sofa tersebut sambil memeluk Ares, sofa yang lumayan besar untuk tubuh mungil Ayesha. Karna lelah tak butuh waktu lama Ayesha pun ikut menyelami mimpi Ares.


🍂🍂🍂🍂🍂


Tak ada kah yang berniat memberi tampolan bunga dan secangkir kopi buat Author.🙈🙈


Jangan lupa Lika dan komennya...


yang sudah memberi like dan komen serta hadiah dan vote juga Author ucapkan terimakasih, tinggal beberapa bab lagi ya, novel mommy Ara akan untuk kedua kalinya.😇


Wasalam💞💞💞

__ADS_1


 


__ADS_2