
^^^Abaykan Typo...^^^
Pagi harinya.....
Ares dan Ayesha, segera membersihkan diri satelah itu mencari sarapan Karna mereka merasa lapar.
“Kita sarapan di mana sayang?,” Tanya Ares sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.
“Di warung lontong sayur buk Murni yang di dekat kos lama aja mas,”
“baiklah," Ares melajukan mobil menuju tempat yang disebut sang istri.
“Mas, Azam masih dirumah mommy Ara?,”
“Iya, apa mau langsung kesana atau pulang dulu ke rumah?,”
“Habis sarapan kita langsung kesana nanti,”
“Oke,” jawab Ares dengan semangat.
Sementara di kediaman Ara, lagi bising bisingnya Karna ulah restu yang lagi ribut dengan Azam.
“Om...ayo,”
“om mau sekolah sayang,”
“bentar aja kok,”
“Nanti ya pulang sekolah om temani deh,”
“Sekarang om,”
“Huff bocah ini,”
Azam memaksa restu menemaninya bermain mobil-mobilan, sementara restu belum selesai memakai pakaian sekolah nya.
“gini aja deh, kita ambil mainannya ke bawah trus Azam main disini sambil Nemani om, mau ngak?,”
“Mau, yuk kita ambil ke bawah,”
Dua lelaki tampan beda usia itu pun turun ke lantai satu untuk mengambil mainan Azam.
“loh, nak masih belum siap?,” tanya Ara saat melihat restu yang masih belum rapi dengan baju sekolahnya.
“Belum mom, nih bocah lagi manja,”
“ya udah cepatan selesaikan nanti telat loh,”
“Ya mom,”
“Azam sini ikut Oma yuk, biar omnya cepat selesainya.
“azam mau main di kamar om restu Oma,”
“Ya sudah jangan ganggu omnya ya,”
“Ngak Oma,”
Setelah dapat apa yang di cari keduanya kembali lagi ke kamar. Azam yang asik dengan mainannya restu juga sibuk sendiri. Tak lama keduanya sudah duduk manis di meja makan untuk sarapan.
“Pagi, Oma, opa, onty,” sapa Azam.
“Pagi tampan,” sahut mereka.
Azam yang duduk di samping putri pun memakan sarapannya sendiri, Karna menolak disuapi oleh putri. Mereka menatap Azam menyantap sarapannya begitu lahap.
“pelan-pelan dong sayang sarapannya ntar keselek loh,” ujar putri.
Karna mulutnya penuh dengan makanan Azam hanya mengangguk sebagai jawaban.
Usai sarapan restu berangkat sekolah di antar oleh Roy, sedangkan putri mengerjakan tugas kuliahnya sembari menemani Azam bermain.
Arkan menatap Azam yang tak bisa di artikan oleh siapa pun.
“Mas,” ujar Ara membuat Arkan terlonjak kaget.
“Astaga sayang,” sahut Arkan.
“Ngapain sih mantap Azam segitunya, ke taman belakang yuk,”
Cup...Arkan mengecup pipi kanan Ara, seketika matanya membola dan wajah yang bersemu merah Ara malu jika anaknya melihat tingkah daddynya. Setelah sadar apa yang terjadi Ara tak melihat Arkan di sampingnya lalu ia segera menuju taman belakang.
“Lama amat sih kamu, lagi apa di dalam,” tanya Arkan yang tersenyum menatap istrinya.
Bug...bug...Ara memukul lengan suaminya Karna kesal di cium dadakan oleh Arkan.
“main cium aja, nanti kalau putri dan Azam liat gimana, kan aku malu mas,” ujar Ara sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Arkan terkekeh melihat Ara yang masih merona jika saat malu. Arkan menarik pinggang Ara hingga tubuh sang istri tak ada jarak dengannya.
“Mau yang lebih dari itu ngak?,” bisik Arkan di telinga Ara.
__ADS_1
“udah mas, ngak usah mulai deh mesumnya,” omel Ara yang tau apa maksud suaminya.
“Berasa kek ABG lagi pacaran aja,” ujar Arkan.
“Iya ABG tua,” sahut Ara yang tergelak.
Arkan yang gemas melihat Ara ketawa, Tampa basa basi ia langsung membungkam mulut Ara, seketika mata Ara membola melihat tingkah suaminya. Namun ia tak menolak sesapan Lembut disudut bibir Ara yang ranum dan manis itu membuat Arkan lupa kalau mereka berada di mana.
Bug...bug...Ara memukul dada bidang Arkan karna dirasa sudah kehabisan oksigen.
“mas, ih, lihat tempat dong, malu kalau ada yang melihat,”
“Ck, sekarang baru bilang malu tadi nikmati juga tuh,” elak Arkan yang memang benar adanya.
“Massss, ih,”
“maunya kita buat adik buat restu nih, biar Azam ada teman mainnya,” ujar Arkan seraya memeluk Ara.
“Ingat umur mas, aku ngak mungkin hamil resikonya tinggi jika hamil umur segini,” sahut Ara.
“hehehehehehehe, becanda sayang, cukup sekali aku kehilangan orang aku sayang dan aku ngak mau untuk ke dua kalinya, jika pun itu aku tak bisa menolak kematian tapi setidak nya aku ingin melihat anak dan cucu-cucu kita nanti bahagia dulu,”
“iya, aku juga berharap seperti itu, seperti mama yang bisa melihat Ares menikah walau mereka belum di karunia anak tapi mama cukup bersyukur masih di beri umur panjang untuk melihat cucu menantunya.
“Mommy, teriak Ares,”
Seketika dua paruh baya itu mengalihkan pandangannya ke arah suara, mereka melihat Ares dan Ayesha serta Azam dalam gendongan Ares.
“Assalamualikum, mom, dad,” salam Ayesha seraya menyalami kedua mertuanya itu.
“Waalaikum salam nak,” jawab Ara dan Arkan.
“apa kalian sudah sarapan,” tanya Ara.
“Sudah mom,” jawab Ayesha.
“Ya sudah aku mau bersih bersih dulu, dah mom,” ucap Ares.
“Ya nak,”
Ares mengajak Ayesha ke kamar untuk membersihkan diri, sedangkan Azam kembali ke putri.
Tiba di kamar Ayesha menyiapkan baju Ares untuk di pakainya ke kantor, dan juga baju untuk dirinya. Seraya menunggu Ares mandi Ayesha membuka jendela agar udara di kamar lebih segar. Kurang dari lima belas menit Ares sudah selesai dan segera memakai pakaiannya.
“Sayang, bantuin dong,” pinta.
Ayesha menoleh dan melihat Ares baru selesai memakai kemejanya Tampa berniat memakaitkan kancing bajunya.
“Sayang jangan di banguni yang lagi tidur,” ujar Ares saat merasa tangan Ayesha menyentuh sijerynya yang lagi puasa. Ayesha tersenyum mendengar ucapan suaminya malah dengan sengaja ia menyenggolnya.
“sayang,” desis Ares.
“apa,” jawabnya cuek tapi tetap melakukan pekerjaan dan tak memperdulikan Ares yang tersiksa karenanya. Setelah itu Ayesha memasangkan dasi di leher Ares ia sengaja menarik sedikit leher sang suami dan mengecup singkat.
“uh....manisnya,” ujar Ares sambil tersenyum.
“selesai,” ucapnya sambil merapikan jas yang Ares kenakan dan merapikannya.
“Ay, mandi dulu ya tunggu bentar,”
“iya, ucap Ares sambil memasang kaos kakinya.
Tak berapa lama Ayesha keluar dan dari kamar mandi dengan memakai dress selutut warna biru kesukaannya serta merias sedikit wajahnya dirasa sudah cukup, Ayesha dan Ares pun segera turun kebawah.
“Mas nanti pulang jam berapa?,”
“Jam empat,”
“ya sudah nanti aku pulang di antar pak Roy, atau putri saja,”
“Ya, baiklah,”
Setelah berpamitan pada istri dan Azam serta kedua orang tuanya, Ares segera menuju perusahaan Loghan group.
Sedangkan Ayesha menemani putri mengerjakan tugasnya seraya menemani Ares bermain.
“Put, Oma mana?,”
“Di kamar kak,”
“Oh, kaka ke sana ya?,”
“Ya, masuk aja,” Ayesha mengaguk lalu segera menuju kamar mama Ara.
Ceklek...
Ayesha membuka pelan pintu kamar mama Ara agar Omanya itu tidak kaget.
“assalamualaikum, Oma,” ucap Ayesha.
“Waalaikum salam,” nak.
__ADS_1
“Gimana kabar Oma,” ujar Ayesha sambil menyalami mama Ara tersebut.
“alhamdulillah sehat nak, gimana kabarnya nak,”
“Ay, sehat Oma,”
Ayesha menghabiskan waktu bersama mama Ara banyak hal yang diceritakan mama Ara, Ayesha memijit tangan Omanya itu, ia dapat merasakan jika mama Ara benar sehat adanya.
*
*
*
Ayesha melihat waktu sudah masuk jam makan siang, tampa menunggu lama ia membantu Ara memasak buat makan siang mereka nanti. Dengan cekatan dan kemampuan yang ia punya tak butuh waktu lama mereka berdua sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ayesha tak lupa mengabari sang suami untuk mengingatkan makan siang.
Selesai makan siang Ayesha beristirahat di kamar Ares dan membawa Azam juga Karna pria kecil itu sudah mengantuk, sambil meminum susunya dan usapan lembut di kepalanya tak butuh waktu lama Azam tertidur dan di susul oleh Ayesha.
Jam tiga sore, Ayesha sudah tiba dirumah mommynya, ia baru saja di antar oleh putri selesai mengantar Ayesha putri langsung pamit dengan alasan mengerjakan tugas yang belum kelar memang benar adanya.
Setelah putri pergi Ayesha pun segera membersihkan diri Karna ia akan segera pergi ke rumah sakit, sedangkan Azam bermain dengan Randy di ruang keluarga.
Drt....drt...
“ya, ada apa?,” ujar Rafa.
'bos, meeting, akan segera di mulai,”
“Kau hendel dulu aku lagi terjebak macet Karna ada kecelakaan di jalan,” terang Rafa.
“Baiklah bos,” sang asisten.
“Uh....lama amat sih,” umpat Rafa dalam mobil.
Rafa pun membuka pintu mobilnya dan segera melihat korban tersebut, entah kenapa dia ingin sekali melihat siapa yang mengalami kecelakaan tersebut.
“Korbannya perempuan apa cowok pak,” tanya Rafa pada salah satu warga.
“cewek pak,” ujarnya.
Rafa melewati beberapa orang yang berkerumun dan juga membantu mengeluarkan putri dari dalam. Rafa kaget bukan main melihat siapa yang ada di dalam mobil tersebut.
“Ayo pak cepat pak dia itu teman saya,” pekik Rafa lalu para warga pun mengeluarkan putri dalam mobil tersebut.
Rafa langsung mengendong putri ke dalam mobilnya dengan bantuan warga mobil Rafa bisa menembus kemacetan, ia segera menuju rumah sakit Loghan Group dengan kecepatan normal.
Kurang dari lima belas menit Rafa sudah tiba di rumah sakit. Ia segera mengendong putri ke ruangan UGD. Nayra yang sedang berada di ruangan itu pun sangat kaget melihat putri di gendong oleh seorang laki-laki yang tak ia kenal dan keadaan putri yang penuh luka membuat ia segera menghampirinya dan beberapa perawat juga membantu Nayra.
“Selamatkan teman saya dok,” ujar Rafa.
“Baik, silakan keluar dulu tuan,”
Rafa keluar dan duduk di kursi tunggu di ruangan UGD.
Nayra segera dan beberapa perawat membersihkan luka yang ada di tubuh putri dan juga menjahit sobekan di kepala putri.
“Apa sebenarnya yang terjadi sama kamu put, dan siapa lelaki tadi,” ujar Nayra dalam hati.
Selesai membersihkan dan memberikan perawatan pada putri. Nayra segera menelpon Ara, Ara sangat syok saat mendengar kabar dari Nayra, Tampa menunggu lama ia dan Arkan serta restu segera menuju rumah sakit, begitu juga dengan Ayesha yang sudah dapat kabar dari Nayra. Dalam hati mereka hanya bisa berdoa semoga putri.
Ara segera menuju ruangan UGD Karna putri masih berada di sana, ia melihat seorang pemuda di depan pintu.
“Nak,” sapa Ara membuat Rafa terlonjak kaget.
“Tante,” ucap Rafa.
“Sedang apa kamu disini,”
“saya, mengantar putri Tante kesini, yang masih di tangani oleh dokter,” ujar Rafa.
“terima kasih atas bantuannya, dan siapa namu mu,” tanya Arkan.
“Rafa, om,”
“dad, mom,” ujar Ayesha yang baru tiba di ruangan UGD.
“Gimana keadaan putri mom,” tanya Ayesha lagi.
“Belum tau nak, dokter belum keluar,”
“Ay, masuk dulu ya mom, jangan cemas semoga semuanya baik baik saja,” ujar Ayesha. Ara hanya mampu menganggukkan kepalanya.
🍂🍂🍂🍂🍂
Jangan lupa tampolan mawar dan kopinya, like dan komen.
Wasalama...
__ADS_1