
Pagi harinya.
Ara yang sudah siap dengan baju olah raganya, dengan tak sabaran mengajak Arkan untuk keliling kompleks Karna hari Minggu banyak warga yang jalan jalan mengitari kompleks.
“Mas, cepatan.”
“Iya sabar napa sih.”
Karna Arkan belum juga muncul Ara memutuskan untuk keluar dari kamar dan melihat Ares sudah siap apa belum, ia juga mengajak Ares tiba di kamar Ares ia melihat anak itu Sadang memasang sepatunya.
“Belum siap sayang?.”
“Sudah mom.”
“Kita tunggu Daddy di bawah aja yuk.”
“Ayok lah mom.”
Sebelum berangkat Ara tak lupa meminum segelas susu ibu hamil yang sudah di buatkan oleh mamanya, begitu juga dengan Ares ia juga minum susu kesukaannya.
“Ayo kita berangkat, ucap Arkan."
Tampa dosa, yang tak tahu kalau istrinya lagi kesal karena menunggu dirinya .
“Dari tadi kali mas, jawab Ara sedikit ketus Karna sudah lama menunggu Arkan. Arkan hanya nyengir mendengar jawaban Ara.
“Ma..kita jalan jalan bentar ya.”
“Iya hati hati.”
“Ya, ma.”
Mereka keluar dari rumah dan menuju taman di ujung kompleks, Karna tiap hari Minggu biasanya ramai pengunjung disana, Ara yang tadi pakai sendal kini malah menenteng sendalnya. Di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya memegang tangan Ares.
“Mom, sendalnya kok ngak di pake?”
“Ngak apa, mommy lagi pengen nyeker aja.”
“Ngak sakit mom kakinya.”
“Ngak lah, ini salah satu terapi sayang, buat kesehatan jantung.
“Oh, Ares juga mau kayak mommy lah, tunggu mom, Ares lepas sepatu dulu.
“Baiklah."
“Mau ngapain Res?.”
“Mau lepas sepatu dad, kayak mommy.”
Arkan melirik Ara yang nyeker.
“sayang kok sendalnya di lepas?.”
“Ngak apa mas,”
Arkan dan keluarga nya berjalan sampai taman di ujung kompleks, tiba di taman Ara mengistirahatkan tubuhnya disalah satu bangku yang kosong dan di ikuti oleh Ares dan Arkan.
“Tunggu disini ya, mas mau beli minum."
“Ya, jawab Ara."
“Mom, capek ya? Sambil mengusap perut Ara."
“sedikit sayang, jawab Ara dan membelai puncak kepala Ares."
Arkan datang dengan membawa 3 botol air mineral dan juga beberapa camilan di tangannya. Ara yang melihat jajanan tradisional yang di bawa Arkan seketika matanya berbinar.
“wah, kayaknya enak tu mas?.”
“ya dong, ini mas belikan buat mu.”
“Ares mau sayang?.”
“Ngak mom.”
“Habis ini kita ke mana lagi?.”
“aku mau beli lontong sayur di depan gang situ mas,”
“Apa kita jalan sekarang?.”
“Yuk, nanti pembelinya banyak lagi, bisa lama kita menunggu.”
“Sayang apa masih lelah kah?.”
“Udah ngak lagi mom.”
“ya udah kita jalan lagi, kita cari sarapan pagi, Ares mau makan apa sayang.”
“Ares ikut mommy aja.”
Mereka berjalan dengan santai Tak terasa mereka tiba di depan penjual lontong sayur yang di ingin kan Ara. Setelah mendapat tempat duduk, Ara memesan 3 mangkok dan dua gelas teh hangat.
“Mom, perut mommy bergerak ucap Ares yang melihat ke arah perut Ara.”
“Iya sayang, mungkin dia sudah lapar, jawab ara sambil senyum.”
“Ini nona pesanannya, ucap pemilik warung mengantarkan pesanan Ara."
Tampa menunggu lama Ara segera menyantap makanan yang ada di depannya, Karna ia sudah ngiler melihat makanan tersebut, tak perlu menunggu lama satu mangkok lontong sayur sudah pindah ke dalam perut Ara, selesai makan ia memesan 3 bungkus lagi buat mamanya dan juga dua pembantu dirumahnya.
Setelah selesai makan Arkan membayar semuanya, dan langsung pulang. Tiba di rumah Ara memberikan bungkusan lontong tersebut ke bik Sumi, setelah itu ia mengajak Arkan dan Ares untuk membersihkan diri.
“Sayang, mau mommy mandi kan?.”
“ngak usah mom, mommy pasti capek Ares mandi sendiri.”
__ADS_1
Cup...satu kecupan mendarat di perut Ara, Ares berlalu pergi setelah mencium perut Ara.
“ayo sayang kita mandi, ajak Arkan.”
Tiba di kamar Ara langsung menuju kamar mandi dan tak lupa membawa handuk, sementara Arkan menunggu Ara sampai selesai ia memilih santai di balkon kamar. 35 menit berlalu Ara sudah selesai mandi dan lengkap dengan baju rumahan khusus ibu hamil. Ara melihat Arkan yang lagi bersantai di balkon pun menyusulnya.
“mas, cepat lah mandi airnya sudah aku siapkan.”
Arkan berbalik dan melihat Ara sedang mengusap rambutnya dengan menggunakan handuk, Arkan berjalan mendekati Ara, dan mendarat kan sebuah ciuman di pipi setelah itu berlalu pergi menuju kamar mandi.
“ais, kebiasaan, ucapnya sambil senyum.”
Sambil menunggu Arkan mandi, Ara duduk selonjor di ranjang sekali kali memijit kakinya yang sedikit lelah, melihat kakinya membengkak ia cekikikan sendiri, Arkan yang baru keluar dari kamar mandi heran melihat istrinya ketawa sendiri.
“Sayang kamu kenapa, kok ketawa sendiri?.”
“Hihi, lucu aja liat kaki ku yang bengkak mas, dah kayak kaki gajah aja, ucapnya sambil menekan nekan kakinya.
Arkan mengalihkan pandangannya ke kaki Ara yang semakin membesar, seketika matanya membola.
“Sayang ini makin besar aja, apa sabaikya kita periksa.”
“Ah ngak lah mas, kata mama ini wajar saat hamil tua, dia akan ilang sendiri pas sudah lahiran, begitu kata mama.”
“Oh..baiklah kalau begitu, tapi sebaiknya ngak usah terlalu banyak gerak, biar ngak makin bengkak.”
“Hm....ya mas.”
“Apa mas sudah siap?, Kita sarapan yuk aku lapar mas.”
“Ya sudah ayok.”
Mereka segera menuju ruang makan disana sudah ada Ares yang menunggu, sambil melipat tangan di meja.
“maaf sayang, mommy kelamaan yaa?.”
“Ya ngak apa apa mom.”
Ara mulai mengambilkan nasi untuk Arkan dan Ares, setelah itu baru untuk dirinya. Mereka menyantap makanannya Tampa ada yang bicara sarapan pagi yang sudah telat tak mengurangi kenikmatan untuk melahap makanan yang sudah di sediakan oleh bik sumi, selesai makan Ara membantu bik Sumi membersihkan meja makan, sementara Arkan dan Ares menuju ruang keluarga, dan mama Ara memilih bersantai di taman belakang bersama bik Sumi dan bik Wanti. Ares yang asik dengan mainannya sementara Arkan asik menonton dan Ara duduk di samping Arkan dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Arkan untuk mencari kenyamanan, tak lama ia terlelap.
“Dad, mommy tidur ya?.”
“Iya, pasti mommymu ke capek an, ya sudah Daddy bawa mommy ke kamar yaa, Ares main sama Oma yaa di taman belakang.”
“Hm....Ares menemui Oma dulu ya ded.”
“Ya..”
Setelah Ares pergi Arkan mengendong Ara ke kamar, agar tidurnya lebih nyenyak lagi, tiba di kamar Arkan membaringkan Ara di ranjang dan tak lupa menyelimutinya, dan tak lupa mengecup singkat bibir Ara.
Setelah itu ia menuju ruang kerjanya, Karna ada pekerjaan yang belum selesai.
“oma, panggil Ares saat melihat mama Ara sedang bercerita dengan baik Sumi."
“Eh, tampan Oma, sini duduk dekat Oma.”
Ares pun duduk di samping mama Ara, dan tak lupa membawa mainannya. Mereka asik mengobrol ringan sementara Ares juga asik dengan mainannya Tampa mengganggu para paruh baya di dekatnya. Arkan yang sudah selesai dengan pekerjanya langsung menuju kamar dan melihat Ara masih terlelap dengan nyenyaknya, Arkan pun segera naik keranjang dan ikut berbaring di samping Ara serta memeluk Ara, Ara yang setengah sadar langsung membalas pelukan Arkan dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Arkan tak lama mereka tidur dengan lelapnya.
Sore Harinya.
Saat asik bersantai di gazebo taman belakang, ponsel Ara berdering, Tampa menunggu lama Ara mengangkat panggilan masuk.
“Ara, Lo dirumah ngak, ucap Mita di seberang sana.”
“dirumah, kenapa Mit?.”
“Aku mau kesana, sekalian bawa buah buat di rujak.”
“ah, aku siapin dulu yaa bumbunya.”
“Oke, kita udah dijalan.”
“Ya, hati hati.”
Setelah sambungan telepon berakhir Ara segera membuat bumbu rujak yang ngak terlalu pedas Karna Mita ngak suka pedas.
“Kamu mau ngapain Ra?.”
“Astaga mama, ini mau bikin bumbu rujak buat Mita.”
“Maaf udah bikin kamu kaget, duduk aja sana biar mama yang buat in.”
“Berdua aja kita ma, ucap Ara sambil senyum.”
“Ya sudah sini mama bantu.”
Mita yang sudah tiba di rumah Ara lasung masuk dan dan bertanya pada bik Wanti dimana Ara, setelah tahu Ara di dapur Mita segera menyusulnya, sementara Leo menuju taman belakang dimana Ares dan Arkan berada.
“udah siap Ra?.”
“Dikit lagi.”
“ya sudah aku kupas dulu buahnya.”
“Sini aku bantu.”
Ara dan Mita mengupas buah yang akan di bikin rujak, dan setelah mengupasnya tak lupa memotong motong buah tersebut sesuai selera mereka, dan memasukkannya ke dalam mangkok dan tak lupa menyiramnya dengan bumbu rujak yang sudah siap di buat mama Ara.
“wah, udah ngak tahan aku liat nya Ra, aku cicipi sedikit yaa.”
“boleh.”
Ara mengambil piring kecil dan sendok lalu memberikannya pada Mita. Tampa menunggu lagi Mita sudah mengambil sedikit rujak tersebut dan langsung menikmatinya.
__ADS_1
“Gimana ada yang kurang ngak?.”
“Kurang banyak ngambilnya, jawab Mita sambil ketawa.
“Ais, kamu ini.”
Ara menyisihkan dua piring buat mamanya dan juga dua pembantu di rumahnya, setelah itu membawanya ke taman belakang dan tak lupa membawa air minum.
“Eh, udah jadi rujaknya, ucap Leo.”
“Udah dong, jawab Mita.”
Ara meletakan rujak tersebut di tengah mereka dan juga air minum yang di bawa Mita.
“Mas mau ngak, tanya Ara.”
“Ngak, kalian aja yang nikmati.”
“Habby mau ngak, tanya Mita pada Leo.”
“ngak yang, kamu aja yang makan, jawab leo.”
“Bro, kita main raket yuk, udah lam kita ngak main nih, ajak Leo pada Arkan.
“Oke, bentar aku ambil raketnya.
Arkan mengambil rakatnya dan sekalian sama bolanya, Ares yang melihat Deddynya membawa raket pun mengikuti Deddy dari belakang. Tiba di taman belakang Ares melihat Leo sudah berdiri di lapangan badminton.
“Hy sayang, sini panggil Mita pada Ares.
“Eh, mama disini kok Ares ngak tahu.
“Mama udah dari tadi disini kamu ke mana aja sayang, ucap Mita sambil mencium pipi Ares.
Ares memangil Mita dengan sebutan mama dan panggil papa pada Leo, semenjak Leo resmi menikah dengan Mita, Leo merubah panggilan Ares padanya, Karna Arkan dan Leo masih saudara walau tak sebapak tapi papa Leo dan Arkan saudara kandung. Karna itu Leo ingin Ares memanggilnya papa.
“udah tau jenis kelamin Mit?."
“Belum, besok pas kontrol ke rumah sakit."
“kupasin Ares buah apel mom.”
“Ah baiklah, sini buahnya.”
Ara segera mengupas buah yang di berikan oleh putranya, dan tak lupa memotongnya agar putra yang tampan itu mudah untuk memakannya. Sambil melihat para suami main raket Ara dan Mita tak lupa menikmati rujak yang di buat tadi.
“Ayo dad, kalahkan papa.”
Sorak Ares saat melihat Arkan dan Leo saling cari poin. Dan akhirnya Arkan memenangkan permainan tersebut hanya selisih dua angka saja.
Hufff, helaan nafas keduanya Karna lelah nya bermain.
“Ni mas, minumannya, ucap Ara sambil menyodorkan segelas air putih pada Arkan.
“makasih yang, jawab Arkan.”
“Kami pulang dulu udah sore nih, pamit Leo.”
“Habis makan malam aja pulangnya, sambung Ara.”
“Kapan kapan lah, jawab Mita.”
Mereka segera meninggalkan taman belakang, setelah mengantar Mita sampai teras depan Ara segera ke kamarnya untuk membersihkan diri Karna ia sudah merasa gerah, begitu juga dengan Ares.
Selepas sholat magrib mereka makan malam bersama. Usai makan Ara segera ke kamar ia merasa lelah dan di ikuti oleh Ares.
“Mom, Ares tidur sini yaa.”
“Ya sayang.”
“Ara segera naik ke ranjang dan membaringkan tubuhnya dan Ares duduk di samping Ara sambil melihat mommy nya.
“Ada apa sayang liatin mommy?.”
“Ngak ada mom.”
“Sini baring dekat mommy.”
Ares menuruti kemauan Ara, ia pun membaringkan tubuhnya di samping Ara, dan langsung mendaratkan sebuah ciuman di pipi Ara.
Ceklek.
Arkan berjalan menuju ranjang dan melihat Ara dan Ares sudah rebahan sambil memeluk Ara.
“Kamu capek ya sayang?.”
“Iya mas, aku mau istirahat.”
“Ya, istirahatlah aku mau mengerjakan sedikit pekerjaan.”
“Hm...jangan tidur terlalu malam mas.”
“Ngak sayang.”
Setelah Arkan fokus pada laptopnya, Ara yang merasa kelelahan memilih untuk tidur dan melihat Ares sudah tidur di pelukannya. Ia pun ikut menyelami mimpi Ares.
💕💕💕
Jangan lupa hadiah dan like nya yaa.😉😘😘.
__ADS_1