
Ayesha bergegas masuk ke dalam untuk memastikan keadaan putri, tiba di ruangan UGD ia melihat Nayra yang sudah selesai membereskan semua peralatan yang di gunakan untuk mengobati putri.
“Bagaimana keadaannya Nay?,”
“Tidak terlalu parah, hanya luka sobekan di kepala bagian belakang dan luka goresan di tangan,”
“Ah, syukurlah dia tidak apa apa, semua sudah selesaikan?,”
“Sudah, ay,”
“Ayo kita pindahkan keruangan rawatan agar mommy ngak khawatir,”
“Yuk,”
*
*
*
Rafa melihat keadaan putri yang sudah baik baik saja ia pun segera pamit undur diri Karna masih ada yang harus ia selesaikan.
Putri sudah berada di dalam ruangan rawatan namun belum juga ada tanda tanda ia akan siuman, Ara bernafas lega saat melihat ke adaan putri yang tak terlalu parah.
“Sayang, bangun lah mommy mengkhawatirkanmu,” ujar Ara lirih.
Ara yang setia duduk di kursi samping tempat tidur sang putri semata wayangnya, dan menggenggam tangan sang anak dengan lembut.
Putri mengerjapkan matanya, dan melihat dinding putih, lalu menoleh ke samping dan melihat Ara sedang menunduk.
“Mom,” panggil putri dengan suara lirihnya.
“alhamdulillah nak kau sudah siuman,” jawab Ara dengan hati yang gembira.
“mom, aku...,” Ucapan putri terhenti saat ia ingat kalau ia menabrak pembatas jalan.
“putri mana yang sakit nak, mommy panggil dokter yaa,”
Ara segera menekan tombol, yang berada di samping putri.
Tak lama Nayra datang bersama seorang perawat.
“apa yang kamu rasakan put?,”
“ Cuma merasa perih saja di kepala,”
“Itu wajar Karna reaksi biusnya sudah habis makanya kamu merasakannya, apa kamu merasa pusing,”
“Tidak,”
“Syukurlah, jangan lupa obatnya di minum ya, semoga cepat sembuh yaa,”
Ara yang sedari tadi berada di samping putri, putri merasa bersalah karena telah membuat orang tersayangnya sudah merasa khawatir.
“Mom, maafkan putri Karna telah membuat mommy dan Daddy khawatir,”
“Ngak ada yang perlu di maafkan, ini namanya musibah nak, tak ada yang bisa menolaknya, mommy bersyukur kamu tak kenapa Napa,”
“Hiks...mommy takut nak jika terjadi yang lebih dari ini,” ujarnya.
“Jangan sedih mom, putri janji akan lebih hati hati lagi, oh iya, siapa yang menyelamati putri mom?,”
“Pria yang waktu itu antar kamu pulang sama Azam,” sahut Ara.
“loh, kok bisa,”
“Dia terjebak macet Karna mobilmu menabrak pembatas jalan, Karna penasaran ia mendekati mobil yang kecelakaan itu dia melihatmu masih di dalam mobil yang sedang di evakuasi oleh para warga setelah kamu berhasil keluar dia langsung membawa mu kesini,” jelas Arkan yang baru masuk keruangan putri.
“Kenapa bisa seperti ini put,” sambung Arkan lagi.
“Aku kaget dad, saat ada pengendara sepeda motor yang ugal ugalan dan aku hampir menabraknya makanya aku banting setir,”
“hais...Daddy sangat khawatir sama kamu, Daddy takut jika terjadi yang lebih serius dari ini,”
“Maaf kan aku dad,” Arkan hanya mampu mengaguk sebagai jawaban yang ia berikan.
“Aku harus menyuruh Roby untuk mengikuti setiap langkah anak anakku nantinya, agar tak terjadi hal seperti ini, cukup ini jadi pengalaman,” batin Arkan.
Saat mereka asik mengobrol, Ares datang bersama Ayesha dan pria kecil nan tampan kesayangan semua orang itu juga ikut.
“Assalamualaikum,” salam Ares.
“Waalaikum salam,” jawab mereka.
“dek,” ucap Ares. Lalu mendekat ke ranjang putri.
“syukurlah kamu ngak terlalu parah dek,”
*
*
*
Semuanya berkumpul diruang rawatan putri termasuk kedua orang tua Ayesha, mereka larut dalam obrolan ringan yang mengundang gelak tawa semua apalagi saat restu dan Randi mengusili Azam. Hingga waktu menunjukkan jam 10 malam.
“Mommy, pulang dulu ya nak, semoga cepat sembuh,” ucap Miranda pada putri.
__ADS_1
“Ya mom, makasih udah datang, tiati dijalan mom,”
“Ya nak,”
Joshua dan keluarga segera pulang Karna malam sudah larut dan putri pun harus beristirahat.
“Mommy, sama Daddy dan restu pulang aja, biar Abang dan istri Abang disini temani putri,” ucap Ares.
“Tapi nak aye....,”
“Ngak apa mom, lebih baik mommy dan Daddy istirahat dirumah,” sambung Ayesha cepat.
“Ah, baiklah kalau kalian maksa,” jawab Arkan.
“Kami pulang dulu ya,”
“Ya mom, tiati dijalan,”
Setelah semuanya pergi kini tinggallah mereka bertiga.
“istirahatlah dek, nanti kalau ada apa apa, panggil Kaka ya,”
Putri hanya mengangguk sebagai jawabannya, lalu Ayesha menarik selimut putri setelah itu mengecek infus setelah memastikan semuanya ia pun ikut rebahan di samping Ares di atas sofa yang ada di ruangan itu.
Pagi menjelang....
Ayesha membantu putri ke kamar mandi, setelah keluar dari kamar mandi Ayesha membersihkan luka putri yang ada di tangannya. Saat sedang asik melakukan aktivitasnya mereka di kagetkan oleh suara Ara yang sudah datang dengan membawa sarapan pagi untuk mereka.
“Sayang, kita sarapan dulu, habis itu jangan lupa obatnya diminumnya,”
“Iya mom,” jawab putri yang penurut.
“loh, Ares mana?,”
“lagi mandi mom,” sahut Ayesha.
Tak lama Ares keluar dengan wajah segar dan pakaian rapi. Mereka segera menyantap sarapannya.
Ara dengan telaten menyuapi putri menyantap sarapan paginya dengan lahap, begitu juga dengan Ares dan Ayesha masakan Ara memang lezat sama kek masakan mommynya pas lidah para penikmatnya.
*
*
*
Jam sebelas siang Rafa datang ke rumah sakit untuk menjenguk putri, dengan membawa beberapa macam buah di tangannya ia pun segera melangkah menuju ruang rawat putri.
Kreeeek....
“Assalamualaikum...,” salam Rafa kala melihat putri lagi duduk menyandar di kepala tempat tidurnya.
“gumana kabar Lo?,” tanya Rafa.
“Baik,” jawab singkat putri.
“Ini gue bawain sedikit buah buat Lo,” ujarnya lagi.
“Makasih, dan makasih juga udah nolongin gue,”
“Hm..iya, apa kepala Lo masih sakit?,”
“Sakit enggak perih iya,”
“Kalau hati Lo,”
“Hati?,”
“Udah lupa kan, oh iya ini gue mau kasih barang barang Lo yang tertinggal di mobil gue,” ujar Rafa lagi sembari menyodorkannya pada putri.
“eh, gue kira tertinggal di mobil gue, makasih ya,”
“dari tadi perasaan minta makasih melulu deh,”
“Ck..ya udah gue ngak minta makasih lagi,”
“Hehehehehe,”
“Oh iya ke mana keluarga Lo?,”
“mereka ke kantin,”
“Gue minta maaf sama Lo, Karna udah beberapa kali bikin Lo kesal dan rusakin ponsel Lo, apa bisa kita berteman?,”
“Bisa, tapi dengan satu syarat,”
“Eh, ada syaratnya?,”
“Ada, gimana mau ngak?,”
“ya baiklah, katakan apa syaratnya,”
“ jangan memaksa jika gue ngak mau, Karna gue ngak suka di paksa,”
“Cuma itu,”
“Iya,”
__ADS_1
“deal aku setuju, jadi kita temankan,”
“Ya,”
“Lo mau buah ngak, biar gue kupasin,”
“Boleh deh,”
Rafa pun mengupas beberapa buah dan memotongnya lalu menaruhnya di samping yang ada di atas nakas samping putri. Saat sedang asik bercengkerama Ara dan Arkan masuk ke dalam ruangan putri ia melihat Rafa dan putri lagi asik berdua.
“Apa kami gangu?,” tanya Arkan dengan senyum usilnya menatap putri.
“Ngak,” jawabnya cepat sambil menetap malas sang Daddy.
“Selamat siang om, Tante,”
“Siang juga Rafa, ini Tante bawain makan siang,”
“Nak makan siang dulu habis itu minum obat,”
“Ya mom,”
“mom...su....,”
“ya hallo,” ucap Arkan yang menerima telpon dari seseorang.
Arkan yang sedang menelpon pun terus melirik Ara dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Ya sudah aku kesana,” Arkan pun memutuskan sambungan telpon.
“Mom, ikut Daddy sebentar ada urusan mendadak,”
“Loh, kok tumben ngajak aku dad,” sahut Ara heran.
“udah jangan protes, ayo,” jawab Arkan sambil menarik tangan Ara.
“tapi dad aku mau bantu, putri....,”
“Rafa, om titip putri sebentar ya, soalnya ada urusan mendadak,”
“Baik om,” jawab Rafa patuh.
“Put, mommy tinggal sebentar yaa,”
“ya mom,”
Setelah kedua orang tuannya pergi, putri menyantap makan siang yang sudah di bawa mommynya tadi.
“Sini gue bantu,” ucap Rafa.
“gue bisa sendiri,” sahut putri.
“Lo makan juga, tuh masih ada satu kotak lagi,” titah putri.
Rafa merasa senang mendapat perhatian dari putri, dengan anggukan kecil ia pun menyatap makan siang tersebut. Putri mantap Rafa yang menyantap makan siangnya dengan lahap.
“lo lapar, apa kelaparan sih,” tanya putri.
Rafa menghentikan gerakan tangannya Karna mendengar ucapan putri.
“lo mau gue suapi,” dengan cepat putri menggelengkan kepalanya.
Tak lama drama makan siang pun berakhir. Rafa membantu putri mengambil kan obat serta air untuk menelan pil itu. Selesai minum obat, putri kembali duduk seperti semula.
“Selamat siang beb,” ucap seseorang di depan pintu.
Sontak mata putri membola melihat siapa yang datang dan itu membuat Rafa tak nyaman dengan panggilan beb.
🍂 🍂 🍂 🍂 🍂
Ayo siapa ya kira kira yang di panggil beb, yuk lah beri sangat buat Authornya biar rajin up.🤭🤭🤭
Marhaban ya ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏🙏.
Wasalam.
__ADS_1