
Dua hari telah berlalu kini Ayesha sudah kembali ke kosnya, Karna besok dia kembali bekerja dan juga kuliah.
Drt....drt....
“Halo, assalamualaikum,”
“Waalaikum salam, ay sekarang di mana?,” Tanya Miranda.
“Sudah di kosan Tante, ada apa ya?,”
“Tante Cuma mau ngundang kamu makan malam, malam ini bisa ngak?,”
“Bisa Tante tapi aku ngak tau rumah Tante,”
“Hihihi, Randi yang akan jemput kamu sama sopir,”
“Ah, baiklah kalau begitu Tante, jam berapa Tan?,”
“tunggu Randi jam tujuh ya,”
“Ah, baiklah Tante,”
“Ya sudah Tante tutup dulu telponnya yaa,”
“Ya Tante, assalamualaikum,”
“Wa’alaikumsalam,”
Setelah sambungan telepon terputus Ayesha geleng kepala melihat niat dari Miranda yang ngebet banget ngajak makan malam dirumahnya.
Ayesha melihat jam yang mengantung ternyata sudah jam setengah enam sore, dengan cepat Ayesha membersihkan dirinya agar nanti ngak kelamaan Randi menunggu.
Kurang dari dua puluh lima menit Ayesha sudah selesai dengan ritual di kamar mandi, ia memakai dress selutut rambutnya sengaja di gerai dengan indah dan sedikit polesan di wajahnya. Ayesha terlihat sangat anggun malam ini.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Randi pun datang, dengan segera Ayesha masuk ke dalam mobil.
Kurang dari lima belas menit mereka tiba di kediaman Joshua Senjaya, Ayesha kaget melihat rumah yang begitu megah nan indah bak istana dalam serial yang sering ia tonton, Ayesha berdecak kagum melihat pesona rumah Joshua.
“Wah, rumah mu bagus banget Ran,” puji Ayesha.
“Apa Kaka mau tinggal disini?,”
“Hihihi, ngak dek,”
“Kalu Kaka mau nanti aku bilang ke mommy,”
“Eh, jangan dek, Kaka ngak enak,”
“Hihihi, Randi becanda kak,”
“hufff, syukur deh,”
“ayo masuk kak, mommy dan Daddy sudah menunggu,”
“Hm..yuk,”
Dua saudara itu berjalan ke dalam rumah megah tersebut, tiba di dalam rumah lagi lagi Ayesha tercengang melihat barang serba mewah namun ada satu hal yang menarik hatinya, dan penuh tanya saat melihat Sebuah foto Bayi perempuan berkalung biru seperti yang ia punya. Ia terpana melihat wajah Bayi tersebut, ia ingat dengan fotonya waktu kecil, tapi ia hanya menggeleng kepala merasa tak mungkin dengan semua itu.
“eh, sudah datang ay,” ucap Miranda sontak membuyarkan lamunan Ayesha.
“Hihihi, udah barusan Tan,”
“Kita langsung aja keruang makan ya,”
Ayesha mengangguk sebagai jawabannya, dan mengikuti Miranda dari belakang bersama Randi.
Tiba di meja makan Miranda melayani mereka semua, setetes air mata meluncur di sudut matanya melihat putri yang begitu nyata dan bisa makan malam bersamanya dan ada perasaan ingin memeluk Ayesha dan mencurahkan rasa rindu namun ia tahan untuk sementara waktu.
Sementara di kediaman Arkan, Ares lagi kedatangan tamu teman masa kecilnya. Ya Aurel datang berkunjung ke rumah Ares. Niat hati ingin mengajak Ares jalan namun pemuda itu menolak. Alhasil mereka ngobrol di taman samping rumah Ares.
“Res, yuk lah kita keluar sebentar?,” ajak Aurel?.
“maaf rel, aku lagi ngak mood,”
“ya udah aku pulang,”
“Hm...hati hati di jalan yaa,” pesan Ares.
“Ya,”
__ADS_1
Setelah Aurel pergi, Ares segera masuk ke rumah dan langsung menuju kamarnya.
Tak lama putri masuk dan melihat Ares udah rebahan di kasur.
“pacarnya udah pulang?,”
“Siapa yang pacaran?,”
“ais, udah di apelin malah ngak mood,”
“Dek, udah deh ah, ngeledek melulu perasaan dari tadi,” kesal Ares.
“Hahahaha, ya...ya. Maaf, habisnya kenapa sih dari kemaren badmood, kek ada yang ilang aja,”
“Ngak ada, lagi banyak kerjaan aja,”
“Eleh alasan, bilang Aja lagi mikirin kak Ayesha, apa susahnya sih,” tebak putri.
Bug..sebuah bantal guling melayang di lengan putri.
“Nah tukan benar, kalau ngak ngapain marah,”
“Udah ah, keluar sana Abang mau tidur,” usirnya.
“bang kita keluar yuk cari camilan?,”
“ogah, makanya nyari pacar biar bisa di ajak keluar,”
Bug...kini giliran Ares yang kena bantal guling tepat di wajahnya.
“Ayo bang, Bantar aja kok, Cuma beli martabak doang,”
“Ngak,”
“Aku aduin mommy nih,”
“Aduin aja,” tantang Ares.
“Momm...mmppprr,” Ares membekap mulut putri dengan tangan nya agar putri ngak teriak, karna kesal putri menggigit jari Ares sontak ia melepaskan tangannya dari mulut Ares.
“ngapain sih bang, ah,”
“Ya udah Abang temani,”
Tiba di lantai bawah putri dan Ares segera berpamitan pada kedua orang tuanya, kalau Restu jangan di tanya ia sudah rebahan di sofa dengan kepala berbantal paha sang mommy.
Ares keluar dengan mobilnya tapi di ikuti oleh Roy dan anak buahnya. Mereka menyusuri kota di malam hari sambil mencari martabak favoritnya.
Tak lama mereka tiba juga di lapak penjual martabak tersebut, setelah memesan lima kotak dan membayarnya kedua saudara itu segera kembali ke rumah.
“mom, Oma mana?,” tanya putri.
“Ada di kamar lagi istirahat,”
“Aku ke kamar Oma ya mom, mau ngasih ini, ucap putri sambil membawa martabak dan segelas air.
“Ya,”
Tiba di kamar mama Ara putri melihat mama Ara lagi santai di sofa.
“Oma, ini putri bawa ini martabak kesukaan Oma,”
“Wah, makasih banyak sayang, tapi ini kebanyakan mana kuat Oma makan sendiri,”
“Ya sudah kalau gitu kita makan di luar saja sama yang lain,”
“Hm...baiklah, tolong Oma berdiri ya,”
“Sini aku bantu,”
Putri membawa mama Ara keluar dan duduk bersama mereka sambil makan martabak dan bersanda gurau.
🍂🍂🍂
Lain halnya di rumah Joshua, mereka merasakan ketegangan untuk menyampaikan sebuah fakta pada Ayesha.
“Ay, ada satu hal yang ingin kami sampai kan pada mu,” Ucap Joshua.
“Hal apa tuan?,”
“kau liat foto Bayi itu,” tunjuk Joshua.
__ADS_1
“Ya, trus?,”
“Dia putri kami yang hilang dua puluh dua tahun yang lalu di rumah sakit, setalah dua hari kelahirannya,” ucap Joshua.
Deg...Jantung Ayesha.
“apa mungkin foto itu....ah ngak mungkin,” pikir Ayesha.
“Dan kami sudah menemukannya sekarang berada di hadapan kami,” sambung Joshua.
Ayesha menggeleng dengan cepat.
“Apa maksud tuan?,”
“benar ay, dia adalah kamu, apa kamu punya kalung seperti ini,” tanya Miranda.
Dengan cepat Ayesha mengangguk.
“Dan kami juga sudah melakukan tes DNA, dan hasilnya positif, kamu memang putri kami yang hilang, sambung Joshua.
Ayesha menepuk menepuk pipinya Karna ini terasa mimpi, mimpi yang selama ini ia ingin kan bisa bertemu dan berkumpul dengan ibu kandungnya di saat ia di hina dan dikatai anak haram, tapi hari ini mimpi itu nyata, ia tak tau arus bereaksi seperti apa untuk mengungkapkan rasa bahagianya.
Dengan cepat ia memeluk Miranda dan menumpahkan air matanya.
“tante apa benar ini semua,” Tante ngak bohongkan, ucapnya di sela Isak tangisnya.
“Jangan pangil Tante nak, sekarang aku adalah mommy mu, ini semua nyata sayang kamu bisa liat ini hasil tes DNA,” ucap Miranda sambil memberikan secarik kertas pada Ayesha.
Ia melihatnya dengan detail Tampa ada satu kata pun ia lewatkan.
“Bagaimana nak, apa kau sudah percaya?,” tanya Joshua.
“iya, aku sudah yakin,”
“marilah nak daddy merindukanmu, ” ucapnya sambil merentangkan kedua tangannya.
Ayesha pun berhamburan ke pelukan ayahnya, pelukan yang selama ini ia rindukan dari kedua orang tuanya kini sudah ia rasakan.
“kak,” panggil Randi.
Ayesha tersenyum melihat mendengar Randi memanggilnya.
“Alhamdulillah, ya Allah. Orang tua yang selama ini yang aku kira membuangku Karna tak mengharapkan kehadiranku, ternyata aku salah mereka malah kehilangan aku, terima kasih ya Allah engkau telah mempertemukan aku dengan mereka,” batin Ayesha .
Dalam pelukan hangat dari mommy, Daddy serta adiknya.
“Sayang, malam ini kau menginap lah disini, besok semua barang barang mu akan di bawa kemari, ucap Joshua.
“Hm...tu...eh dad, apa boleh ay tinggal di kos untuk sementara waktu?,”
“Kenapa,”
“Karena ay, masih bekerja di sambil kuliah, nanti setelah kontrak kerja habis, baru pindah kemari,” ucapnya sambil menunduk.
“Hufff, janji yaa, hanya sampai kontrak kerja habis,” tegas Joshua.
“Iya dad, ay janji,” jawabnya cepat.
“Tapi malam ini harus tidur di sini,” tegas Miranda.
“Ya baiklah mom,” jawabnya pasrah.
🍂 🍂 🍂
Insya Allah hari ini dua bab, yok lah ramaikan kolom komentar dan like.
Jangan lupa setangkai mawar untuk penyemangat Author, dan secangkir kopi buat dahaganya.😂😂😂😘😘😘
Wasalam.💞💞💞
__ADS_1