
Sore harinya Ayesha sudah berangkat ke panti bersama dengan Randi yang di ajak oleh Ayesha, di antar sopir mereka segera meninggalkan rumah mewah itu.
“Sepi lagi rumah ya mom?,”
“Ya mau gimana lagi dad,”
“Mau nya buat lagi mom, biar kita ngak kesepian,”
Miranda langsung mencubit pinggang suaminya Karna kesal mendengar ucapan Joshua.
“Aduh, kok di cubit sih yang, di cium dong,”
“Yee, itu mau nya Daddy, lagian udah tua juga masih mau nambah anak ntar di kira orang cucu lagi,”
“Hahaha, kalau ngak mau nambah ngak apa, asal buatnya tiap malam,” ucap Joshua sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Ogah,”
“Ayolah mom, ntar malam yaa,” ucap sambil mencium pipi sang istri setelah itu ia lari ke kamar mandi.
Miranda hanya menggeleng kepala melihat tingkah suaminya.
Sementara di rumah Ares, ia melihat jam ternyata sudah hampir jam enam sore, ia segera membersihkan tubuhnya Karna ingin mengajak Ayesha keluar malam ini. Kurang dari dua puluh lima menit ia sudah selesai dengan ritualnya di kamar mandi. Dengan pakaian rapi Ares segera keluar dari kamarnya.
“ mom, dad, Ares pamit keluar ya?,”
“mau kemana bang?,” Tanya Ara.
“Ajak Ayesha jalan mom,”
“Ya udah hati hati, jagain anak gadis orang bang,” pesan Arkan.
“Ya dad,”
Usai berpamitan Ares segera pergi menuju kos an Ayesha, dengan mengendarai mobil mewahnya yang lecet ulah Ayesha, dengan perasaan senang dan hati yang riang membuat senyum di bibirnya tak pudar sedikit pun mengingat ia sudah jadian sama Ayesha. Tak lama ia sudah tiba di depan gerbang kos Ayesha.
Drt...drt...
“Ya halo, assalamu’alaikum.
“Waalaikum salam, ay, Abang di depan kos an mu keluar dong?,”
“Astagfirullah, maaf bang ay lupa kasih tau kalau sekarang ay lagi di panti baru nyampe tadi sore,”
“Hah, jadi kamu ngak lagi di kos?,”
“Ngak, maaf ya bang ay benaran lupa,”
“Ya udah deh kalau gitu, Abang balik lagi aja lah,”
“Ya, hati hati di jalan bang,”
“Hm..” jawabnya dengan lesu.
Ares segera kembali ke rumahnya dengan perasaan kecewa, karna kekasih hati ngak ada di tempat dan ngak ngabarin juga kalau ia lagi pulang ke panti.
“siapa kak?,” tanya Randi.
“Teman Kaka,”
Ayesha lanjut lagi main bersama Azam dan Randi di ruang bunda nya, Karna si kecil lagi asik asiknya dengan mainan baru yang di beli oleh Randi untuk nya, dan tingkahnya lucu membuat Ayesha gemes.
“Kak, di bawa aja Azam kerumah kak, biar aku ada temannya?,” ucap Randi.
“Belum bisa dek, kaka belum urus surat adopsinya,”
“bilang aja ke Daddy kak, pasti di urus kok,”
“nanti kak pikir lagi ya,”
“hm, ya kak,”
Tak lama ponsel Ayesha kembali berdering dan kali ini panggilan videocall dari Ares.
“Maaf ya bang aku mau liat seberapa cinta Abang ke aku, jika tau aku sudah punya anak, maaf ya zam, Mimi mau tau laki laki mana yang tulus cinta sama Mimi,” setelah itu menerima panggilan telpon dari Ares sambil mendudukkan Ares di dekatnya.
“Hallo, assalamualaikum, bang ucapa Ayesha.
“Waalaikum salam,” jawab Ares.
Matanya membola saat melihat Ayesha memangku anak kecil.
“Anak siapa ay?,”
“Anak aku Abang?,”
__ADS_1
“Mimi...mi..mi..mbuuurrr,” oceh Azam sambil menyemburkan ludahnya.
“What?,”
“Napa bang?,”
“Kamu benaran udah punya anak ay?,”
“Kan waktu itu udah aku bilang, kalau kita beda status tapi Abang bilang status tidaklah penting dan menerima aku apa adanya,” ucap Ayesha mengulang kata kata Ares.
Ares tak menjawab ia membeberkan kata kata itu.
Azam yang asik sendiri membuat Ayesha ketewa melihat tingkah lucunya sementara Ares ngak atau apa yang ada di dalam pikirannya.
“Bang, bang,” panggil Ayesha.
“Hm..ya, ay nanti kita sambung lagi ya ini ada email dari sekretaris aku,” alasan Ares menyudahi panggilan nya dengan Ayesha.
“Ya, selamat bekerja bang,” jawab Ayesha santai sebenarnya ia tau kalau Ares sengaja mengelak darinya.
Setelah sambungan telpon terputus Ayesha kembali bermain dengan Randi dan Azam.
“Mom...mom...mommyyy," teriak Ares yang kecewa mengetahui fakta jika Ayesha sudah punya anak,”
Ara yang mendengar teriakan si sulung langsung berlari ke kamar Ares.
“Ada apa nak, kau teriak teriak?,”
“Mom...hiks..hiks,” drama di mulai.
“Ais, ada apa sih tampan mommy segitu kecewanya ngak jadi malming dan malah mewek kek cewek,”
“Bukan soal ngak jadi malam mingguan mi, tapi karena hal lain,”
“Hal apa bang, jangan bikin mommy penasaran,"
“Ayesha mom,”
“Iya Ayesha kenapa?,”
“Ia udah punya anak mom, hiks hiks,”
“Abang yakin jika itu anaknya?, Bukankah dia tinggal di panti bisa saja kan anak itu bayi yang di besarkan di panti?,”
“Ngak mom, tapi yang pasti bayi itu mirip dengannya dan memanggil Ayesha dengan sebutan Mimi,” adunya lagi.
Ares mendongak dan melihat wajah mommynya yang di katakan Ara.
“Jadi mommy ngak masalah jika Ares nikah sama janda beranak satu?,”
“Mommy sih ngak ada masalah, asalkan Abang benaran cinta sama dia, dan mau menerima anaknya,”
“Apa Abang bisa?,”
“Daddy mah enak dapat perawan lah aku dapat janda,” gumamnya.
Tapi masih di dengar oleh Ara, Ara menahan tawanya mendengar ucapan Ares. Ara tau siapa Ayesha sebenarnya Karna sudah di kasih tau oleh Arkan termasuk anak yang di maksud oleh Ares. Diam diam Arkan menyuruh orang untuk menyelidiki siapa Ayesha sebenarnya, saat mengetahui kebenaran itu Arkan sempat kaget, tapi ia tak bisa memberi tahu putranya biarkan dia berjuang sendiri Tampa mengetahui siapa Ayesha sebenarnya, itu yang di ucapkan Arkan pada Ara, Ara pun menyetujuinya.
“Jadi gimana Abang bisa ngak?,”
“ntar Ares pikirkan mom, hm...jangan sampai Abang menyesal di kemudian hari Karna mengambil keputusan yang salah, ucap Ara.
Setelah itu ia kembali keluar ke kamarnya.
“Ay, kamu utang cerita ke aku,” geram Ares Karna merasa di bohongi oleh Ayesha.
Malam semakin larut Ayesha dan Azam tidur satu kamar sedangkan Randi tidur di kamar anak laki laki yang ada di panti itu, Randi senang Karna mendapat teman baru dan tak merasa risih.
Saat kesunyian malam yang dingin, membuat mereka tidur dengan nyenyak dan mimpi indah tapi semuanya Buyar Karna datangnya seorang penganggu di tengah malam dalam keadaan mabuk.
“bangun...bangun, ucapnya di depan pintu kamar bunda Ayesha.
Bunda Ayesha yang kaget pun segera menghidupkan lampu dan memakai jilbab instannya. Lalu membuka pintu.
Ceklek.
“Maaf ya siapa malam begini?,”
“aku Wawan anak pak ustad Mahmud,” jawabnya
“Ya ada apa wan?,”
“aku mau kalian segera pindah dari panti ini, Karna tanah ini akan aku jual, aku beri waktu seminggu,”
“Mana bisa begitu wan, bukan kah tanah ini sudah di hibahkan oleh ustad Mahmud pada kami,” jawab bunda Ayesha.
__ADS_1
“Yang menghibahkan nya abi bukan gue, lagian sertifikatnya ada sama gue, kalian ngak punya alasan apa pun,”
“Wan, istigfar nak kamu lagi mabuk,”
“Jangan nasehati saya,”
Ayesha yang mendengar sejak tadi akhirnya ia keluar dan melihat seseorang yang sedang mabuk.
“ada apa ini Bun?,”
“wah, cantik juga Lo ya, ucap Wawan dan hendak menyentuh pipi Ayesha dengan sigap Ayesha menepis tangannya.
“Jangan kurang ajar,”
“Cih, sok suci, anak ja lang aja belagu Lo,”
Plaakkk, sebuah tamparan mendarat di pipi Wawan.
“Lo kalau punya mulut tu di jaga yaa, jangan asal bicara,”
“Gue tau Lo tu anak yang di buang, apa namanya jika bukan anak ja lang hah,”
“sudah sudah, sekarang kamu pergi dari sini wan, kami akan pikirkan ke mana akan pindah,”
“Ya, itu lebih baik, lebih cepat kalian pindah makan aku akan lebih cepat pula menjual tanah ini,”
Setelah Wawan pergi Ayesha bertanya pada bunda apa sebanarnya yang terjadi.
“bun, apa yang di ingin orang itu?,”
“Hufff, dia itu putranya almarhum ustad Mahmud, sebenarnya tanah ini sudah di hibahkan oleh beliau tapi saat akan menyerahkan sertifikat surat itu tiba tiba ilang, beliau hanya memberikan surat pernyataan yang di tulis tangan sama beliau dan di tanda tangani di atas materai, sekarang Wawan ingin menjual tanah ini dan menyuruh kita segera pindah dari sini, kita tak punya cukup uang untuk membeli tanah ini dan juga jika di bawa ke jalur hukum pun kita juga ngak ada uang, jadi bunda harus bagaimana lagi ay,”
“Bunda tenang aja, insya Allah Daddy bisa bantu kita, ya sudah sekarang kita istirahat besok ay telpon Daddy.”
“Hm, ya sudah, semoga saja orang tuamu bisa bantu ay,”
“doa in aja Bun,”
Ayesha kembali ke kamarnya setelah bundanya masuk ke dalam kamarnya
Drt..drt...
Joshua yang lagi berada di puncak gunung pujiama terpaksa turun Alon Alon, Karna melihat panggilan telpon dari Ayesha, Miranda melihat wajah geram suaminya hanya bisa menahan tawa.
“Tuh, putri mommy telpon,” ucapnya.
“ya hallo, ada apa ay?,”
“maaf mom, jika ay ganggu waktu istirahat mommy, besok jadikan kesini?
“Jadi sayang,”
“Kalau bisa habis sarapan ya mom, karna ada hal penting?,”
“Ya baiklah, tapi hal penting apa ay?,”
“Besok saja ay cerita mom,”
“Ya udah deh kalau begitu,”
“Sekali lagi maaf ya mom, ya udah met malam dan met istirahat,”
“ya, sama sama sayang.
“Ayo mom, lanjut lagi?,”
“capek dad,”
“Baru satu ronde udah capek aja,”
“ Tapi dad....
Joshua langsung membungkam mulut istrinya Karna kesal, tangannya yang sudah tak bisa di kondisikan membuat sang istri lupa akan penolakannya, dengan lihai ia segera membuat Miranda melayang, menaiki puncak gunung dan memasuki lembah yang sudah basah membuat Miranda lupa dan men de sah.
“Ayo sayang aku suka, suara mu,ucap Joshua dan langsung me lu mat mulut istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang, mereka menikmati malam dengan saling memberi ke nik matan yang tiada Tara, entah berapa kali aksi itu berlangsung, hingga membuat keduanya tepar di atas ranjang dengan tubuh masih polos, yang berbalut selimut, tak lama keduanya pun terlepa dengan nyenyaknya Karna ke kelahan.
🍂 🍂 🍂
Yok beri hadiah dan juga lupa juga like serta komen yaa.
Wasalam.💞💞💞
__ADS_1