Mommy Ara

Mommy Ara
97. S2. putri yang malu


__ADS_3

Pagi harinya...


Ayesha masih bergulung di balik selimut tebalnya, walau Ares mengganggunya namun tak membuat ia bergerak sedikit pun.


“sayang, ayo bangun, apa ngak mau sarapan?,”


“Bentar lagi mas, aku masih capek, habisnya ngak kira kira jika udah begituan,” gerutunya.


Ayesha kesal pada sang suami, Karna Ares menggempurnya sampai ia tepar. Habis sholat subuh Ares memulainya lagi dua ronde, hingga Ayesha kesal tapi tak menolak ajakan suaminya.


“Maaf sayang, habisnya enak sih,” jawab Ares santai.


Bug...bug...bug...Ayesha memukul tubuh suaminya Karna kesal mendengar jawaban Ares.


“Hahahahahaha, ya...ya...maaf, sayang, yuk aku bantu ke kamar mandi, apa ngak kangen sama bunda hm...,” ucap Ares.


“Astaga aku lupa jika bunda ada disini,” jawabnya.


“jadi sudah ingat hm...,”


“Iya, gendong aku ke kamar mandi ya,” ucapnya sambil mengecup singkat bibir Ares.


“Ngak usah mancing,”


Ayesha mencebek mendengar ucapan Ares.


*


*


*


Lain halnya di rumah Ares.


Di meja makan semuanya lagi asik menyantap makanan, tapi tidak dengan putri, kurang berselera menyantap makanannya.


“Ada apa nak?,” Tanya Ara pada putri. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.


“ya sudah cepat habiskan sarapannya,”


“Ya mom,”


“nanti siang temani mommy ke moll ya,” seketika mata putri berbinar dan mengangguk cepat.


“baiklah mom,” jawabnya semangat.


“Ck..di ajak Shopping aja semangatnya mintak ampun,” ejek restu.


“Napa hm...iri...,” cibir putri.


“siapa yang iri?,”


“Ya kamu lah masa Daddy,” jawab putri.


“Enak aja bilang aku iri, aku tu Cuma heran aja tadi mukanya kek ikan mau di bakar aja, saat di ajak mommy ke moll wajah ceria banget,” terang restu.


“suka suka aku dong,”


“Bilang aja mau sesuatu, ya kan,” ucap restu.


“Bukan urusan Lo,” jawab putri.


“Apa mau masih berdebat atau lanjut sarapan hm?,” tanya Ara.


Seketika keduanya diam, dan melanjutkan sarapan mereka masing-masing.


*


*


*


Sementara di kediaman Joshua, masih ribut ributnya, kini Azam yang teriak teriak di depan kamar kedua orang tuanya.


Tok...tok...tok...


“Mimi, papa, buka pintuuuu, Azam mau masukk,” teriaknya berulang kali di depan pintu.


Ceklek....


Ares membuka pintu, seketika  Azam langsung lari mencari Ayesha.


“Mimi, panggilnya saat melihat Ayesha sedang berdandan.


“Apa sayang hm..,”


“Ayo sarapan, Oma dan nenek suruh panggil Mimi,”

__ADS_1


“Ya, yuk kita keluar,”


“gendong mi,”


Ayesha segera mengendong pria kecil yang selalu mengemaskan itu.


Cup...cup...Azam mencium kedua pipi Ayesha.


“Mimi aja yang di cium papa ngak?,”


Cup...cup...Azam juga mencium Ares.


“sini sama papa,”


Graapp....


Azam pindah ke pangkuan Ares dan tangannya satu lagi menggandeng tangan Ayesha, mereka segera menuruni anak tangga, dan menuju ruang makan.


“Pagi dad, mom, Bun, Randi,” sapa Ayesha saat tiba di ruang makan.


“Pagi,” jawab mereka.


Seketika mata Ayesha berbinar melihat makanan yang terhidang di atas meja.


“Wah, enak enak nih,” ucapnya senang.


“ya dong, kan ini bunda mu yang masak,” jawab Miranda.


“Ngak semua ay, di bantu mommy mu juga,” sahut bunda Afifah.


“Sudah, ngak usah berdebat kapan makannya,” sergah Joshua.


“Hahahaha, lapar ya dad?,” tanya Randi.


“Emang kamu ngak?,”


“Iya sih,” jawab Randi.


Semuanya ketawa mendengar jawaban Randi.


Miranda mengambilkan nasi untuk sang suami, begitu juga dengan Ayesha, setelah mengambil makanan untuk Ares lalu untuk bunda Afifah, serta tak lupa untuk dirinya dan Azam. Pria kecil kesayangan semua orang yang ada dirumah itu jika makan pasti minta disuapi oleh sang Mimi, jika tak ada Ayesha maka Miranda lah yang akan menyuapinya.


Sarapan pagi ini terasa hanya dan nikmat apalagi buat Ayesha, sudah lama ia ngak makan masakan bundanya, ia makan sangat lahap pagi ini.


*


*


*


“Kita cari apa dulu mom?,” tanya putri setelah mereka tiba di dalam moll tersebut.


“Cari baju buat Azam dulu, mommy sudah kangen banget samanya nanti sore kita main ke rumahnya,”


“Siap, ratuku,”


Mereka segera masuk ke dalam toko pakaian anak -anak, putri sangat antusias memilih baju untuk Azam, cukup lama mereka memilih baju tersebut hingga mendapatkan sepuluh stelan baju dengan model yang berbeda, kalau soal harga itu tak masalah bagi Ara asalkan bahannya bagus dan nyaman di pakai maka berapa pun tarifnya tak akan masalah baginya. Walau Azam bukan cucu kandungnya tapi rasa sayangnya sangat teramat buat Azam.


Setelah membayarnya dua wanita kesayangan Arkan itu segera pergi dari sana.


“ke mana lagi mom?,”


“Kita belanja bulanan dulu lah,” jawabnya.


“Baiklah,” saat melihat toko ponsel putri ingat ponselnya yang rusak dan mengajak Ara ke toko itu.


“mom, boleh ngak putri beli ponsel baru,” ucapnya.


“Emang ponsel mu kenapa?,”


“Hancur mom, jatuh kemaren malam di depan toilet,”


“Ya sudah ayo kita lihat ke dalam,” ajak Ara, dengan langkah cepat putri mengikuti mommy.


Cup...putri mencium pipi Ara, ia tak sadar jika berada di keramaian.


“masih kayak bocah aja, ngak malau apa di lihat orang,” jawab Ara. Seketika ia sadar dan melihat beberapa orang menatapnya dengan senyuman, membuat pipi putri bersemu merah.


“ih, mom aku malu,” rengeknya di dekat telinga Ara.


“Ngak usah malu, udah terlanjur juga, sekarang pilih mana yang kamu mau,”


“Ini aja mom, ayo cepat aku malu,” jawabnya sambil menunduk.


“hahahaha, sabar dong nak,”


“Yakin ini?, Coba lihat yang lain dulu,”

__ADS_1


“Ngak ini aja mom,”


“Ya sudah,”


Setelah membayar ponsel putri mereka segera melanjutkan belanja bulanan, disinilah mereka sekarang, putri asik memilih sayur dan ikan, serta beberapa seafood kesukaannya, Ara juga tak lupa mengambil daging sapi dan ayam, dan beberapa camilan tentunya yang di sukai putri dan restu.


“bumbu masaknya jangan lupa ya put,”


“Ya mom,”


Putri segera mencari beberapa bumbu masakan yang sering ia beli bersama mommynya, di rasa semua sudah lengkap ia kembali ke Ara yang masih memilih buah.


“Nih mom, ada yang kurang ngak mom?,”


Ara segera melihat bumbu yang di ambil oleh putri, dan mengeceknya.


“Hebat, semuanya sudah lengkap,”


“sekarang kita ke mana lagi mom?,”


“Maunya sih makan siang, di sini atau di kafe kita aja?,”


“di kafe lah mom,”


“Ya sudah kita bayar ini dulu, habis tu langsung ke kafe aja ya,”


“Oke deh,”


Ibu dan anak itu langsung menuju kasir untuk membayar semua belanjaan mereka, antrean panjang membuat Ara sedikit lama, putri yang masih menunggu mommynya, ia memindahkan kartu yang lama ke ponsel barunya.


“hay, lagi sendiri aja ya,” sapa seseorang pada putri yang lagi asik mengecek ponsel barunya tadi.


Putri mendongak melihat siapa yang telah menyapanya. Seketika matanya membola melihat pria yang ada di depannya itu.


“Ngapain Lo disini?,”


“Ini kan moll, siapa saja boleh disini,”


“Udah beli ponsel lagi ya,”


“Bukan urusan Lo,”


“Ih, galak amat,”


“kenalkan nama gue raf.....,”


“putri yuk, panggil Ara,”


“Sory gue duluan yaa, wleee,”


Cibir putri pada pria itu, membuat mata pria itu membola melihat tingkah putri yang masih kayak anak anak,”


“Jadi namanya putri, cantik ke orangnya, tunggu aku Baby, pangeran Rafa akan menjemputmu.


Ya, pria yang menabrak putri waktu itu adalah, Pangeran Rafa Singgalang, yang kembali di luar Negri Karna baru selesai menyelesaikan S1 duanya.


Putra dari seorang pengusaha elektronik terkenal di kota itu, Putra kedua dari Fajri Singgalang, anak pertamanya bernama, Ayunda putri Singgalang, yang kini sudah menikah.


Drt...drt...


Rafa mengangkat telfon dari salah satu orang kepercayaannya. Dengan rasa kesal.ia mengangkat juga telpon itu.


“Ck, kau lelet kek siput, aku beritugas dari semalam dan kau baru menelpon udah siang gini, kerja apa tidur sih,” kesalnya.


“maaf, bos, sedikit sulit mencari info tentang mereka, hanya sedikit yang aku dapatkan,”


“Sudah sebutkan, aku tak punya banyak waktu menunggu mu,”


“Wanita yang bergandengan tangan dengan laki-laki dan punya seorang balita itu, adalah pasangan suami istri, namanya Ayesha Humairah Senjaya, putri dari tuan Joshua Senjaya, dan wanita yang bergelayut manja pada wanita paruh baya itu namanya, putri Alfarizi Loghan, putri ke dua dari tuan Arkan Alfarizi Loghan, sedangkan Kaka tertuanya adalah menantu dari tuan Joshua, yang bernam Ar.....


“Sudah aku ngak butuh lagi infonya, nanti akan aku transfer ke rekening mu sisanya,” ucap Rafa tiba tiba dan mematikan sambungan ponselnya secara sepihak.


“uhhh, putri Alfarizi Loghan, gadis manis aku catuh cinta pada mu saat pandangan pertama, tunggu aku untuk menjemput mu,” gumamnya dalam hati dan setelah itu ia melanjutkan perjalanannya lagi menuju kantor Singgalang group, Rafa yang baru selesai meeting dan tak sengaja melihat putri maka dari itu ia mendekat dan berniat berkenaan dengan gadis itu tapi sayang semua yang di bayangannya tak sesuai keinginannya, dia dan putri tak sempat berkenalan Karna gadis itu sudah di himbau oleh mommynya.


🍂🍂🍂🍂🍂


Author usahakan dua bab hari ini, jadi mohon kasih vite dan hadiahnya yaa, jagan lupa like dan komen juga tentunya.😉😘


Wasalam💞💞💞.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2