
Ares yang baru selesai mandi dengan Azam lalu memberikan Azam pada Ayesha, Ares hanya menggunakan handuk yang membungkus dari pinggang hingga batas lututnya, pemandangan indah yang tak mungkin di lewat oleh Ayesha, dengan sengaja ia menyentuh roti sobek milik Ares serta membelainya.
“Sayang jangan mulai deh,”
“mulai apa mas?," jawabnya lalu tersenyum
“Udah nakal ya sekarang,”
“hahaha, mana ada,” jawabnya lalu membawa Azam ke atas ranjang dan mengolesi tubuh pria kecil itu dengan minyak telon.
Saat akan memakaikan baju Azam dengan sengaja melompat lompat di atas ranjang dan lari kesana kemari.
“Sayang, ayo cepat pakai baju dulu,” ucap Ayesha.
“ya mi,”
Azam mendekat ke Ayesha lalu dengan cekatan memasangkan baju putra tampannya itu dan setelahnitu menyisir rambut azam yang sedikit berantakan.
“Wa, sudah ganteng dan wangi, anak siapa sih?,”
“Anak Mimi,”
Cup, Ayesha mencium pipi Azam bertubi tubi.
“Sayang, bantu in dong,” pinta Ares sambil memberikan dari pada Ayesha.
Ayesha merapikan kemeja yang di pakai Ares lalu memasangkan dasinya dan setelah itu merapikan jasnya.
“Selesai,” ucapnya .
Ares menarik dagu Ayesha dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanan di masukan ke saku, refleks Ayesha menarik dasi Ares yang bertengger di lehernya, seketika mata mereka saling bertemu dan mengunci.
Cup, kecupan singkat mendarat di bibir Ayesha.
“Makasih ya sayang, untuk semuanya,”
Ayesha mengulum senyumnya lalu menganggukkan kepalanya.
“Ayo kita ke bawah untuk sarapan,” ajaknya pada sang istri sambil mengendong Azam.
Tiba di ruang makan Ara tersenyum melihat mereka datang.
“Senang ya bang, ada yang pasangi dasi,” ucap Ara.
“hehehehe, iya mom, kalau ngak tiap pagi ganggu mommy di sini ya,” ucapnya.
“itu kan kebiasaan Abang, tapi kalau ngak ada Abang rasanya ada yang kurang,” sambung putri.
“ngak ada yang jahili kan, ngak ada yang Usil lagi kan,”
“Iya,” jawabnya.
“Dih, jujur amat,”
“Emang kenyataannya begitu,”
“Jadi?,” tanya Ares.
“Kangen, semua itu,” ucapnya.
“Kalau mau ada yang Usil in, buruan nikah,” ucap Ares sambil menaik turunkan alisnya.
Bug...pukulan putri mendarat di lengannya.
“Hahahahahaha, becanda dek tapi kalau mau juga ngak apa apa,” sambungnya lagi.
“sudah kita sarapan dulu, liat nih Azam udah manyun,” ucap Arkan.
Sontak semuanya menoleh ke Azam, pria kecil itu dengan santainya mencomot udang tepung yang ada di depannya, sengaja Ara buat untuk Azam.
* * *
Selesai sarapan Ares dan Ayesha berpamitan pada Arkan dan Ara, sedangkan putri dan restu sudah berangkat lebih dulu.
“Mom, kami berangkat yaa,”
“ Ya, sering seringlah kemari jika ada waktu, pesan Ara.
“Iya mom,” jawab Ares sambil memeluk Ara lalu mencium pipinya.
“Dah, dad, mom,” ucap Ares dan Ayesha.
Setelah masuk ke mobil Ares melajukan mobilnya dan segera menuju rumah mertuanya.
“Mas,”
“Hm,”
“Cerita dong, gimana perjalanan mommy Ara bisa menjadi mommy mas??,”
“Pengen tau aja, apa pengen tau banget?,”
“Ih, ngeselin,”
“hahaha, ya sudah dengan kan aku bercerita.
__ADS_1
“Pada suatu hari, aku kabur dari rumah Karna saking inginnya punya mommy, pas waktu itu Daddy lagi dinas luar kota, dan....Ares menceritakan kisah Ara yang menjadi mommy Ara, hingga sekarang.
“wah, salut deh sama mommy Ara.
“Hm, aku sangat menyayanginya bahkan mommy Ara terasa mommy kandung, ia selalu memanjakan dan menyayangi sepenuh hatinya dari dulu hingga sekarang, aku sempat khawatir saat putri lahir kalau mommy tak menyayangi ku lagi ternyata pemikiran ku salah, kasih sayangnya tak pernah berubah.
“ya, itu terlihat dari matanya kalau mommy Ara emang sayang banget samamu mas.
Tak terasa mereka sudah tiba di rumah Ayesha.
“Aku langsung berangkat ya sayang, salam buat mommy,”
“ Ya mas hati hati,”
Ayesha segera menyalami Ares dan tak lupa Ares mendarat kan sebuah kecupan pada pipi Ayesha dan juga Azam.
* * *
“Assalamualaikum, salam Ayesha saat tiba di dalam rumah.
“wa’alaikumsalam,” jawab Miranda yang datang dari ruang keluarga.
“eh, cucu nenek sudah balik, mana Ares?,”
“langsung berangkat mom,”
“Oh,”
“Daddy mana mom?,”
“Baru saja berangkat Karna ada meeting dadakan pagi ini,”
Ayesha hanya mengangguk lalu segera masuk ke kamar Azam untuk meletakan barang Azam.
“ay, kita bikin camilan yuk,”
“Boleh mom, dari pada ngak ada kesibukan,”
Miranda segera memberikan Azam pada pengasuhnya, lalu mereka segera melangkah ke dapur dan membuat berbagai aneka kue kering kesukaan Azam dan Randi dan juga puding coklat kesukaan restu dan Ares, hampir empat mereka berkutat di dapur untuk menyuguhkan camilan enak buat orang terkasih.
“Huff, akhirnya selesai juga mom,”
“Lumayan capek juga ya ay,”
“hahaha, iya mom, mom Minggu besok ay mau ke panti ingin ketemu bunda kangen samanya,”
“Ya, ngak apa, nginap disana?,”
“Rencananya iya mom, mau ikut ngak mom?,”
“Ngak, titip salam saja buat ibuk,”
Semua kue kering yang sudah masak pun di susun rapi dalam wadah, sedangkan puding di simpan di lemari pendingin.
“Mana Azam mbak,” tanya Ayesha pada bibi pengasuhnya.
“sudah tidur non,” jawabnya.
“Oh, ya udah saya ke kamar dulu ya bik,”
“Ya non,”
"mom, ay ke kamar ya mau bersih bersih,"
"ya, mommy juga,"
Ayesha segera ke kamarnya, tiba di kamar ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri Karna gerah, dua puluh lima menit berlalu ia sudah selesai dengan membersihkan diri lalu keluar dengan pakaian santai dan setelah menyisir rambutnya ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang untuk beristirahat sejenak tapi belum sempat ia memejamkan matanya seketika ingat sang suami yang lagi istirahat pikirnya Karna hari sudah siang.
Drt...drt...
“Ya sayang,” jawab Ares di seberang sana,"
“Udah makan siang mas?,”
“belum sayang nih lagi banyak kerjaan,”
“mau ay bawakan makanan?,”
“benaran nih,” ucapnya dengan mata berbinar,”
“Iya,”
“Dengan senang hati kalau gitu, aku tunggu di kantor yaa,”
“Ya baiklah, ay siapkan dulu,”
“ya, jangan lama ya, aku udah lapar soalnya.
“ngak lama kok, ay siap siap dulu yaa,”
“Hm ya, hati hati ya.
“Ya mas,”
Setelah sambungan telpon terputus Ayesha segera mengganti bajunya dengan dress selutut yang bermotif bunga, lalu memoles sedikit wajahnya dengan riasan make up yang tak terlalu tebal membuat ia semakin cantik saja.
Setelah itu Ayesha menuju ruang makan untuk menyiapkan makanan yang akan di bawanya, Ayesha memasukkan makanan tersebut ke dalam rantang lengkap dengan nasi, lauk pauk serta sayurannya, setelah selesai ia menutup rantang tersebut dengan rapat.
__ADS_1
“Bik, mommy mana?,”
“Ada di kamar non,”
“Oh ya udah, ay kesana ya bik,”
“ ya non,”
Tok...tok...
“Ya,”
Ceklek.
Miranda melihat Ayesha berdiri di depan kamarnya sambil membawa rantang.
“Sayang,”
“Mom, titip Azam ya, ay mau ngantar makan siang buat mas Ares,”
“Ya, hati hati ya nak,”
“Ya mom, ay berangkat dulu,” pamitnya lalu mencium pipi Miranda setelah itu ia berjalan keluar dan melihat mang Karman.
“pak, antar ay ke kantornya mas ares ya,”
“Baik non,” ucapnya lalu membuka pintu untuk Ayesha.
Tampa menunggu lama Ayesha segera masuk ke dalam mobil, dan setalah itu driver melajukan mobilnya menuju perusahaan Loghan Grup.
Menempuh perjalanan dua puluh menit dari rumah kini ia sudah tiba di depan perusahaan Loghan Grup.
Ayesha berjalan ke meja resepsionis untuk bertanya di mana letak ruangan suaminya, jujur ini kali pertama ia menginjakkan kaki di perusahaan Ini pantas saja ia tak tau letak ruangan suaminya.
“Permisi mbak,” ucap Ara.
“Ya, ada yang bisa kami bantu?,”
“saya ma....,”
“Nona, teriak seseorang dari belakang, membuat Ayesha menoleh.
“kak Dika,”
“Nona mau ke ruangan bos?,”
“Iya,”
“Mari saya antar,”
“Baiklah,”
“Maaf mbak, ngak jadi. Permisi mbak,” pamit Ara.
“ya,”
Ayesha mengikuti Dika dari belakang dan masuk ke dalam lift lalu menekan angka 30, benda persegi empat itu mulai naik ke atas dan tak berapa lama berhenti di nomor yang sesuai di inginkan, setelah pintu lift terbuka Dika mengantar Ayesha hingga ke ruangan Ares.
Tok..tok...
“Masuk,” jawab Ares dari dalam Tampa melihat siapa yang masuk.
Ayesha masuk ke dalam dan berjalan menuju sofa yang sudah di sediakan di ruang itu. Ares yang masih fokus belum menyadari jika yang masuk adalah istrinya, setelah menunggu tiga menit Ayesha berdehem hingga membuat konsentrasi Ares buyar, dan mengalih kan pandangannya pada pemilik suara. Betapa kagetnya Ares melihat sang istri sudah tersenyum manis padanya.
“sayang,”
“Masih sibuk mas,”
“Hm iya,”
“Makan siang dulu, nanti lanjut lagi kerjanya ya,"
Sebuah ide brilian terbit di otaknya yang licik, ia tersenyum miring menatap sang istri.
“Ya,” jawabnya sambil membawa benda petak yang masih menyala.
“Sayang, suapi ya, kerajaan aku masih banyak,”
“Ya baiklah,” lalu Ayesha membuka rantang yang ia bawa tadi, dan mengisi piring dengan nasi serta lauk dan tak lupa pula sayurnya, lalu menyuapi Ares dengan penuh cinta dan kasih sayang, setelah itu Ayesha juga menikmati makan siang dari piring yang sama serta sendok yang sama pula.
“Hehehehe, ternyata lebih enak disuapi dari pada suap sendiri,” monolog Ares dalam hati.
🍂 🍂 🍂
Jangan lupa Like komen dan hadiah ya.😉😅
Dan makasih yang sudah mau mendukung novel Author yang receh ini.
Semoga sehat selalu yaa.
Wasalam 💞💞💞
__ADS_1