Mommy Ara

Mommy Ara
96. S2. Anniversary


__ADS_3

Selesai sholat magrib, Ayesha dan putri segera merias diri, mereka terlihat sangat anggun malam ini.


“Ia ke mana sih?, jadi pergi ngak nih,” kesal Ayesha yang berulang kali menelpon Ares.


“Kenapa kak?,” Tanya putri pada Ayesha.


“Nih Abangmu, semalam katanya pergi sama sama ke pesta itu,” jawabnya sedikit cemberut.


“abang ngak akan kesini, lah kan aku yang disuruh jemput Kaka sama pergi ke pesta itu, Abang nunggu kita disana kak,”


“whatttt, kok dia ngak kasih kabar sih, ih, ngesalin, ponsel juga ngak aktif, gerutu Ayesha.


“ngak usah marah-marah, ntar cantiknya kurang satu ons,” ucap putri santai sambil melanjutkan merias wajahnya di depan cermin.


“Ck, Adek Kaka sama ngelasin, ucap Ayesha.


Putri menulikan telinganya mendengar gerutuan dari Ayesha.


“Udah selesaikan, yuk berangkat,”


“Dari tadi kali kamunya aja yang lama dek,” jawab Ayesha masih cemberut.


“Yaa...salam, Kaka ipar gue sensi amat sih,” sahut putri.


Ayesha hanya mendengus kesal ke arah putri, dan jalan mendahului putri, putri ingin ketawa melihat Kaka iparnya yang seperti itu.


“makin gemas deh ih,” ucapnya sambil tertawa kecil di belakang Ayesha.


Dengan kecepatan normal putri mengendarai mobil menuju hotel yang di sebutkan Ares, tak ada pembicaraan dalam mobil itu, hanya suara musik yang diputar putri lah yang terdengar. Ayesha yang masih terlihat kesal sesekali putri meliriknya menggunakan ekor matanya, senyum kecil terbit disudut bibirnya.


Sementara Ayesha berulang kali membuang nafas kasarnya. Karna masih kesal membuat moodnya hancur untuk melanjutkan ke pesta itu.


“Masih jauh kah put?,”


“ngak kak, Napa?,”


“ngak ada,”


“Oh...,”


Saat melewati taman kota Ayesha melihat pedagang gulali, ia meminta putri untuk berhenti sebentar.


“put, menepi sebentar?,”


“Ada apa kak?,”


“Aku mau beli gulali itu,” tunjuknya.


“Oke,”


Putri segera menepikan mobil di bahu jalan. Tampa menunggu lama Ayesha segera melangkah menuju pedagang tersebut dan membeli gulali itu, setelah membayarnya Ayesha kembali ke mobil.


“Mau put?,” ucap Ayesha sambil menyodorkannya pada putri. Yang sudah mulai melajukan mobilnya menuju hotel tempat acara tersebut


“Ngak, takut kemanisan, secara aku kan udah manis,” ucapnya lalu senyum seimut mungkin.


“yaa...salamm, narsis amat sih,”


“hahaha, kaka aja yang makan,”


Tak berapa lama mereka sudah tiba di tempat acara tersebut.


Dua wanita cantik itu, segera masuk ke balerom hotel tempat di adakannya acara.


“Kak, duluan aja yaa,” ujar putri.


“emang kamu ngak masuk?,”


“Masuk, tapi aku mau ke toilet bentar,”


“Oh, ya udah,”


Ayesha segera masuk ke dalam ruangan tersebut, tak ada satu pun orang yang ia kenal disana, Ayesha segera mencari tempat duduk, tapi belum sempat duduk tiba tiba lampu ruangan itu mati, Ayesha panik dan segera mengambil ponsel di tas kecil yang ia jinjing untuk menyalakan lampu ponselnya, namun lampu sorot mengarah ke seseorang yang sangat ia kenal.


“Separuh aku”


Senyuman terlukis di wajahku.


Disaat ku mengingat kamu.


Tawamu menjamu membuatku rindu.


Tak sabar ingin bertemu.


Ayesha sangat kenal suara itu, suara yang sedari tadi ingin dia dengar, tapi sekarang dia berada di depan Ayesha, menyanyikan lagu kesukaannya.


Suara lembut menyapa aku.


Lembutnya selembut hatimu.


Tulusnya setulus cinta padaku.

__ADS_1


Ku sadar beruntungnya aku.


Hidupku tampamu tak kan.


Pernah terisi sepenuhnya.


Karna kau separuh ku.


“yaa...tuhan apa maksud dari semua ini, kenapa mas Ares bernyanyi begitu merdu malam ini, sebenarnya ada apa ini,” batin Ayesha.


Berbagi suka duka saling mengisi.


Dan menyempurnakan Karna kau separuh aku.


Song. Nano.


Tap...lampu ruangan itu menyala lagi Ares membawa buket bunga dan berjalan menuju belahan jiwa, yang masih mematung berdiri di tempatnya.


“Sayang, maafkan aku seharian ini mengabaikanmu, semua itu sengaja aku lakukan Karna  mau memberikan kejutan untukmu, selamat hari Anniversary kita yang pertama,” ucap Ares sambil memberikan bunganya.


“Mas, maafkan aku yang ngak ingat hari Anniversary kita, dan aku sangat terharu malam ini,” ucapnya lalu mencium pipi Ares.


“ayo, kita kesana semuanya sudah menunggu untuk memotong kuenya,” ucap Ares sambil menuntun Ayesha menuju keluarganya.


“Kamu sangat cantik malam, ini sayang,” bisik Ares di telinga Ayesha.


Blusss, wajah Ayesha bersemu merah.


Ayesha kaget melihat semua anggota keluarga sudah berkumpul disana, dan matanya melotot melihat putri dan Nayra sudah duduk manis di samping mommy Ara.


“Put, Nay,”


“Apa,”


“jadi yang undang kamu secara langsung, itu mas Ares?,”


“Hm...siapa lagi kak, dan aku mengikuti semua yang dia perintahkan jangan marah ke aku ya kak, marahnya ke bang Ares aja,” ucapnya sambil tersenyum imut.


“Mimiiiiii,” panggil Azam tiba tiba,”


Ayesha menoleh ke arah sumber suara ia melihat Azam lagi di gandeng oleh bundanya.


“Bunda, juga ada disini?,”


“Iya nak, mommymu dengan Azam yang jemput tadi,” ucapnya.


Ayesha segera berhamburan ke pelukan bunda Afifah, ia sudah kangen hampir satu bulan ia tak bertemu dengan bunda Afifah.


“Jadi semuanya sudah di persiapkan ya mas,” tanya Ayesha.


Setelah semua berkumpul Ares dan Ayesha memotong kue tersebut, tapi sebelumnya mereka menyelipkan doa untuk kebahagiaan mereka.


“Ya Allah, setahun sudah kami menjalani biduk rumah tangga ini, semoga kami selalu bahagia dalam suka maupun duka, dan perkenankan lah kami memiliki keturunan yang Sholeh, serta cerdas dan berakhlak mulia, Aammiin,” doa Ares dalam hati yang paling dalam.


Potongan kue pertama Ayesha memberikannya pada Ares, dan setelah itu Ares juga menyuapi Ayesha. Lalu mereka berdua menyuapi pria kecil yang tampan dan imut yang selalu membuat tertawa riang, Ayesha bersyukur memiliki Azam Karna ia bisa mengalihkan pemikirannya tentang kehamilan yang belum terjadi pada dirinya. Usai acara potong kue selesai, dan membagi kebahagiaan mereka dengan keluarga, kini mereka mengelar makan malam bersama di tempat tersebut yang sudah dipersiapkan oleh Ares.


“mimi, suapi,” pinta pria kecil itu.


“Baiklah,” sahut Ayesha.


Malam ini adalah hari paling bahagia setelah mereka menikah dan tak terasa sudah satu tahun, walau belum memiliki momongan tak membuat mereka putus asa. Tak mengurangi rasa cinta di antara mereka berdua, Ayesha merasa bersyukur memiliki Ares yang masih memberi dia semangat dan tak menuntut Karna belum adanya anak di antara mereka.


“Nay, kamu datang kesini jam berapa?,” tanya Ayesha setelah mereka selesai makan malam, yang kini hanya tinggal para wanita, sedangkan para lelaki sudah sedang asik membahas masalah pekerjaan. Sambil main catur.


“Jam tujuh an, Napa?,”


“tadi benaran belanja bulanan atau hanya bikin aku kesal aja?,”


“Hm...jawab gak ya,” ucap Nayra sambil melirik Ayesha.


“Ais, ngesalin,”


“mom, jadi mommy jemput bunda ke panti tapi bilang ada acara di luar?,”


“Hehehehehe, maaf sayang itu yang punya ide suami mu, mau marah sama dia aja yaa,” jawab Miranda sambil ketawa kecil.


“put, temani aku ke toilet bentar?,”


“Oh, baiklah, mau ikut ngak kak Nay?,”


“Ngak, aku tunggu disini ajalah,”


“ya sudah kami pergi dulu,”


“mimi,”


“ya, sayang,” jawab Ayesha saat ia akan berdiri.


“Mau kemana?,”


“Mimi ke toilet sebentar, Azam tunggu disini yaa, ngak lama kok,”

__ADS_1


“Ya mi,”


Ayesha dan putri pun segera pergi dari sana. Putri menunggu di depan pintu, namun Karna terlalu fokus ke ponsel putri tak sengaja menabrak seseorang.


Brugggg....pranggg ponsel putri terpelanting ke lantai yang glowing, membuat matanya melotot.


“Astaga, ponselku,” pekiknya, lalu mengambil benda tersebut.


Sementara orang menabrak, kaget melihat ponsel putri yang hancur.


“Maaf nona, aku ngak sengaja,” ucapnya.


“Hufff,” putri hanya membuang nafasnya lalu ia segera pergi dari situ dan masuk kedalam toilet, untuk mencari Ayesha.


“Udah siap kak?,”


“Hm, yuk keluar,”


Mereka keluar dari tempat tersebut dan tiba di depan pintu Ayesha kaget melihat ada seorang cowok berdiri dan menetap putri.


“bisa kami lewat,” ucap Ayesha, membuyarkan lamunan pria itu.


“oh, silahkan nona,”


Ayesha dan putri segera pergi dari sana, namun belum beberapa langkah pria tersebut menarik tangan putri. Membuat putri menjerit.


“Kakkkkkk,” teriak putri.


“Hay apa yang kau lakukan pada adikku,”


“Aku hanya ingin bertanggung jawab, atas insiden tadi,”


“Insiden apa yang kau maksud?,”


“Aku tak sengaja menabraknya, hingga ponselnya hancur,”


“Ka...kau tak perlu bertanggung jawab, aku bisa beli ponsel yang baru,” jawab putri tergagap.


“Ini kartu namaku, aku serius ingin Mengganti ponselmu,”


Putri hanya menggelengkan kepalanya lalu, menarik tangannya dan segera lari ke arah Ayesha.


“terima kasih tuan, atas kebaikan mu tapi kau tak perlu melakukan itu, Karna kami masih mampu,” ucap Ayesha, lalu ia menarik tangan putri dan segera menuju tempat semula.


“Kalian menarik juga, yang satu cantik dan imut, satu lagi manis dan mengemaskan, aku akan mendapatkan salah satu dari kalian,” batin pria itu, dengan senyum devilnya.


“Kalian lama sekali sih,” tanya Ares.


“Antri mas,” jawab Ayesha.


“Sudah malam, yuk kita pulang,” ajak mommy Miranda.


“Mimi, Azam ngantuk, peluk,”


“Sini sama Mimi, yuk kita pulang,”


Mereka semua pulang ke istana masing masing, putri berjalan beriringan dengan mommynya dan bergelayut manja di lengan sang mommy. Pria yang tadi kebetulan lewat melihat rombongan itu ia memperhatikan dua wanita yang tadi ia temui.


Ia melihat Ayesha mengendong Azam, dengan tangannya di gandeng Ares, sementara putri bergelayut manja pada seorang wanita paruh baya, cekrek...kamera ponselnya memotret dua wanita tadi dan menyimpannya di galeri ponselnya.


Kita akan bertemu lagi, salah satu dari kalian pasti akan aku dapatkan, ucapnya menyeringai. Dengan siulan kecilnya ia kembali ke kamarnya dan menghubungi seseorang, yang bisa di percaya untuk membantu meraih masa depannya.


*******


Hayoooo, siapa yaa yang akan di incar oleh pria itu, jangan lupa like dan komennya, boleh dong Authornya minta hadiah.😉😘


Wasalam.💞💞💞


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2