
Setelah kejadian di pantai itu Rafa makin sulit buat mendapat hati putri, ia sudah tau kalau cowok yang mengaku pacar putri ternyata adiknya, ia mengumpat kesal pada saudara sepupunya yang telah mengerjainya. Ditambah lagi kesibukan putri mengurus perusahaan bersama Dika asisten Ares membuat Rafa tak bisa mengajak putri bertemu, Dengan sedikit mengancam saudara sepupunya itu akhirnya ia selalu berusaha meluluhkan hati putri, hingga suatu hari sepupu Rafa yang bernama Dara tak sengaja bertemu dengan putri di sebuah restoran cepat saji di moll bersama Azam. Ia melihat putri yang memanjakan Azam membuat ia terharu, dengan langkah pasti ia duduk di kursi yang ada di depan putri.
“Selamat siang kak, apa boleh gabung?,”
“siang, boleh silah kan,” jawab putri sopan.
“ini siapa kak?,”
“Ponakan aku,”
“Wah, ganteng banget,” sahutnya.
“Kak, aku mau ngomong sesuatu, apa Kaka ada waktu setelah ini?,”
“Mau ngomong apa?, Kita tidak saling kenal?,” tanya putri.
“Emang ngak kenal tapi aku mau meluruskan sesuatu,”
Ada apa dengan gadis ini, kenal juga enggak emang dia mau meluruskan apa, pikir putri dalam hati, tapi ia tetap menyuapi Azam dengan telaten Tampa menoleh pada wanita yang duduk manis di depannya.
“udah kenyang Onty,”
“oh udah yaa,”
“Hm...,” jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.
Putri membersihkan mulut Azam yang sedikit belepotan Karna terkena noda makanan, setelah selesai ia dan Azam segera beranjak dari duduknya dan membayar makanan tersebut setelah itu ia keluar dari restoran itu Tampa menoleh pada Dara, namun gadis itu mengikuti putri.
“Kak, bisa ikut aku sebentar?,”
“Emangnya mau meluruskan apa sih, kita kenal aja ngak lalu masalah apa yang harus di bahas,” tanya putri dengan sedikit kesal
“maka dari itu Kaka ikut aku bentar,” ajaknya dan sedikit memaksa putri.
Dara membawa putri ke sebuah kafe yang berada tak jauh dari tempat makan nya tadi.
“kenalkan aku Dara sepupunya mas Rafa,” putri menerima uluran tangan Dara dan menyebutkan namanya.
“Onty...,” panggil Azam.
“Apa sayang,”
“Ngantuk,”
Putri mendudukkan Azam di pangkuannya lalu secara perlahan tangannya mengusap punggung azam membuat ia merasa nyaman di dekapan putri.
“Lalu masalahnya apa?,”
“Ais kak, Mas Rafa itu suka sama Kaka, sejak kejadian di pantai waktu itu dia ngak mau lagi menyapa aku dan aku main ke rumah dia pun dingin sama aku, yang biasanya selalu usil tapi sekarang semuanya berbanding terbalik, jadi aku harap Kaka mau membuka sedikit hati Kaka buat mas Rafa,” ucap Dara panjang lebar.
“emang hati gue pintu,” batin putri.
“huff, jadi ini masalahnya,”
“Hm...mau ya kak, demi aku,” ujar sambil menatap putri.
Putri hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mana mungkin ia bisa memaksa hatinya demi orang lain yang ngak ia kenal.
“maaf ya gue ngak bisa, itu urusan Lo sama Rafa, jadi gue ngak bisa bantu dan gue sama Rafa hanya sebatas teman dan rekan bisnis saja dan kami juga tak terlalu dekat, sekali lagi maaf ya, gue pamit,”
“Huff, helaan nafas Dara,”
Putri pun segera pergi sambil mengendong azam yang sudah terlelap dengan nyenyaknya.
“apa Kaka ngak bertanya di mana mas Rafa?,” ucap Dara, seketika putri menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Dara.
“maksud lo?,”
__ADS_1
“Mas Rafa sakit hampir satu minggu, sekarang lagi di rawat di rumah sakit Loghan, dia terkena tipes jika Kaka benaran menganggapnya teman setidaknya jenguklah dia sebagai teman,” jawab Dara.
“baiklah nanti, akan gue sempatkan untuk menjenguknya,” jawab putri setelah itu ia pergi dari hadapan Dara.
*
*
*
“mom...mommy,” panggil Ayesha pada mommynya.
“Apa sayang,” jawab Miranda seraya mengelus perut buncit putrinya.
“Ay mau sambal terasi sama sayur bening dan telur ceplok,” ujarnya.
“Sekarang?,”
“Iya, Ay lapar mom,” jawabnya enteng padahal masih jam dua siang itu artinya Ayesha baru siap makan satu jam yang lalu.
'baiklah duduk yang manis ya, jangan lakukan apa pun,”
“Oke,” jawabnya lalu mencium pipi Miranda.
Ayesha memperhatikan mommynya yang memasak makanan untuknya sambil memakan buah yang naga.
“Sayang,” panggil Ares.
“Iya mas, aku disini,” jawabnya sambil mengupas sisa buah naga nya.
“Sini aku kupasin,”
“Nanggung mas,”
“Kamu lapar lagi?,”
“Hm,” jawabnya di sertai anggukan kecil.
“Sayang, ini sudah matang,” ujar Miranda seraya menaruhnya di meja makan dan tak lupa satu gelas besar air hangat, semenjak hamil Ayesha mau minum pasti minta air hangat.
Seketika matanya berbinar melihat hidangnya yang ada di hadapannya.
“mas, suapi dong,” pintanya.
“assiap, ratuku,” jawab Ares lalu mengambil makanan untuk Ayesha, lalu dengan telaten ia menyuapi Ayesha hingga semau makanan itu habis tak tersisa.
Selesai makan Ayesha mengajak Ares ke kamar Karna ia ingin beristirahat, tiba di kamar Ayesha merebahkan tubuhnya dengan dan meminta Ares untuk mengusap punggungnya yang dirasa sakit, dengan sabar Ares menuruti semua yang Ayesha inginkan sambil ngomong di depan perut buncit istrinya.
“Jangan nakal ya nak, semoga kalian sehat terus,” Ucap Ares sambil mencium perut Ayesha.
Malam menjelang...
Semuanya berkumpul di maja makan untuk menikmati makan malam bersama, tapi ada yang berbeda Ayesha sedari tadi cemberut Karna ia hanya ingin makan dengan gulai buah nangka muda, Miranda sudah menyuruh bik Ana untuk mencari buah tersebut sejak sedari sore tapi ia tak mendapatkannya.
Ares mengajak Ayesha ke rumah makan Padang biasanya di sana ada, namun mereka datang terlambat Karna gulai tersebut sudah habis. Ares mencoba mencari di rumah makan Padang lainnya yang ada namun tak juga mendapatkannya.
“Anak papa mau apa nih, selain gulai buah nangkanya?,” tanya Ares.
“ngak ada, maunya gulai buah nangka,” jawabnya.
“ya sudah kita cari lagi yuk,”
“Hm..yuk,” ujarnya cepat.
Ares dan Ayesha keluar dari kamar kemudian berpamitan pada kedua orang tuanya, menyusuri malam yang indah penuh bintang Ayesha terlihat gembira. Saat tiba di taman ia meminta Ares berhenti dan mencari kudapan yang ia sukai sambil berjalan menikmati semilirnya angin malam.
“Mas, aku mau jagung bakar sama pisang bakar,” ujarnya kala tiba di depan penjual tersebut.
__ADS_1
Ares pun segera memesan apa yang di inginkan oleh Ayesha sambil menunggu ia duduk di tempat duduk yang di sediakan oleh pedagang.
Tak berapa lama, semua pesanan Ayesha sudah jadi ia sangat menikmatinya.
“Mas, mau?,”
“Ngak, kamu aja,”
“baiklah,”
Ayesha kembali melanjutkan menikmati makanannya dengan lahap.
Usai makan Ayesha dan Ares kembali melanjutkan mencari sesuatu yang menggugah seselaranya. Pilihan jatuh pada soto Betawi Ares memesan dua mangkok soto Betawi tersebut Karna iya juga merasa ngiler melihat kuah soto tersebut.
“mas, nanti pasangan kan bakso bakar ya buat Azam dan Randi,”
“Oke, kamu mau juga ngak?,”
“Mau tapi seafood, bakar apa boleh?,”
Ares tertawa kecil mendengar jawaban istrinya tak mengelak jika di tawarkan makanan.
“Boleh dong, mau barapa tusuk?,”
“lima saja mas,”
“Tunggu di sini mas pesankan semuanya,”
“Baiklah,”
Tak lama dua mangkok soto Betawi sudah terhidang di depan Ayesha, Ares pun juga sudah tiba dengan membawa tiga kantong plastik di tangannya.
“Nih seafood bakarnya,” ujar Ares seraya menyodorkan satu kantong plastik pada Ayesha.
“makasih mas,”
“iya sayang,”
Mereka melanjutkan makan sotonya hingga semangkok soto itu pindah ke perut mereka.
“Apa masih ada yang mau sayang?,”
“ngak ada mas,”
“kita pulang aja,”
“Hm...baiklah,”
Ares melajukan mobilnya menuju rumah karna hari semakin malam, dan angin malam tak baik bagi ibu hamil, di dalam mobil Ayesha menyantap seafood dengan lahap dan sekali kali membaginya pada Ares.
Tiba dirumah Ayesha sudah tidur lelap di dalam mobil, dengan hati hati Ares mengendong Ayesha ke kamarnya.
“Tidur yang nyenyak ya sayang,”
🍂🍂🍂🍂🍂
Makasih yang sudah memberi like, komen, serta Hadian sama votenya.
Wasalam....
__ADS_1