
Selamat siang beb,” ucap seseorang di depan pintu.
Sontak mata putri membola melihat siapa yang datang dan itu membuat Rafa tak nyaman dengan panggilan beb. Putri pun tersenyum melihat wajah tak bersabar dari Rafa.
“Siang juga sayang, kok telat sih kesini ya,” sahut putri kala memainkan drama dengan restu.
“Maaf beb lagi sibuk, ada tamu ya,”
“Iya, kenalin teman aku, Rafa kenalin ini....,”
"gue, pacarnya putri," sambung Restu cepat.
Rafa menyambut uluran tangannya restu dan menyebutkan namanya.
Restu duduk di atas tempat tidur lalu meraih tangan putri dan menggenggamnya, melihat itu Rafa sudah tak nyaman serta juga ada gejolak aneh dalam dirinya.
“Kalau begitu gue pamit dulu,”
“Kok cepat sekali bro,”
“Ada urusan yang harus gue selesain, put gue balik dulu ya,semoga cepat sembuh,”
“aammiin, makasih Rafa doanya, sekali lagi makasih ya, tiati di jalan,”
“ya,”
Setelah Rafa keluar dan hilang di balik pintu, restu ketawa ngakak melihat wajah Rafa tak bersahabat.
“dasar jahil,” ucap putri.
“Ck...jangan bilang Kaka suka padanya,”
“Emang ngak suka, tapi cara kamu ngerjain orang itu meyakin kan,”
“Ada yang ajarin,”
“Siapa?,”
“Ada deh, ngak usah kepo deh,”
“ck menyebalkan,”
Restu ketawa kecil melihat putri yang ngambek. Tak lama datang Ayesha lalu menghampiri putri.
“Sudah makan dan minum obat dek?,”
“Sudah kak, kapan aku boleh pulang, udah bosan nih,”
“Nanti Kaka tanya Nayra dulu,"
“Baiklah kak,”
*
*
*
Sebulan sudah berlalu...
Hari ini weekend, Ares mengajak Azam ke rumah kedua orang tuanya bersama Ayesha, tentu membuat Azam girang sebab ia bisa bermain dengan restu sepuasnya, pria kecil nan tampan itu semakin gembul dan mengemaskan saja. Usianya yang kini menginjak empat tahun
“Assalamualaikum, salam Ares.
“wa’alaikumsalam,” jawab bik Wanti.
“Mommy ada bik?,”
“Ada den, di taman belakang sama non putri dan restu,”
“Oh, Ares kesana ya bik,”
“Mari silakan den,”
Ares berjalan menuju taman belakang sambil mengenggan tangan Ayesha dan tangannya satu lagi mengendong Azam.
“Onty,” teriak Azam saat melihat putri,”
“Hay sayangnya Onty kesini ya, kok ngak kasih kabar,” ujar putri.
“Apa kabar mom, dad, sapa Ares sambil menyalami kedua paruh baya itu yang di ikuti oleh Ayesha dan Azam.
“Alhamdulillah, sehat nak,”
“Kalian apa kabar?,”
“Baik mom, gimana kabar mu dek?,” tanya Ares.
“Udah baikkan bang, ngak ada yang perlu di khawatirkan,” jawab putri.
“mom, Abang mau pecak gurame buatan mommy,” ucapnya tiba tiba.
“Kenapa tiba tiba ingin pecak gurame,” tanya Ara.
“Entah, Abang juga ngak tau, tapi sudah lama juga kan mommy ngak bikinnya,” sahut Ares lagi.
__ADS_1
“iya juga sih, Ya sudah mommy buatin ya,”
“Ay, boleh bantu mom?,”
“Boleh dong sayang,”
Ara dan Ayesha segera meninggalkan taman belakang dengan langkah lebarnya mereka menuju dapur untuk memasak apa yang di minta Ares, di bantu bik Wanti untuk sekalian masak buat makan siang.
Sementara di taman belakang, mereka lagi asik asiknya menikmati tingkah lucu Azam yang lagi main dengan restu.
“Hufff,” helaan nafas Ares terdengar kasar di telinga Arkan hingga ia menoleh ia sang putra.
“Kamu kenapa bang,” tanya Arkan.
“Abang pengen buah matoa,” jawabnya tiba tiba.
“ya udah cari sana, tunggu apa lagi,” ucap Arkan.
“Udah dad, tapi ngak ketemu,” jawabnya lesu.
“Bentar, Daddy telpon Roby mungkin dia bisa menemukannya,”
“Ya dad,”
Sambil menunggu apa yang di ingin kan Ares, mereka bercengkerama bertiga di taman belakang, sedangkan Azam sibuk dengan restu. Kesempatan buat putri bermanjaan dengan Ares Karna sudah lama ia tak begini dengan abangnya, putri merebahkan kepalanya di paha Ares sambil mendengar obrolan antara dua pria tampan yang beda usia itu, hingga membuat putri terlelap dengan nyenyak.
Ara datang dengan Ayesha membawa pecak gurame serta sambalnya dan tak lupa pula nasi, makan siang di taman belakang dan duduk lesehan di atas gezebo sambil menikmati hembusan angin.
“Put, bangun, makan siang dulu,” ucap Ares.
“Hm...,” sahutnya namun masih Enggan membuka mata.
“Put bangun,” ujar Ara.
Putri pun bangun dan melihat semua makanan sudah terhidang.
“wah, enak nih kita makan siang disini,” sahutnya.
“Sana cuci muka dulu,”
“ya,” jawabnya langsung menuju wastafel yang ada di dekat gazebo.
Ara dan Ayesha melayani saling membantu mengambilkan makanan untuk orang tersayangnya, putri menoleh ke arah Ares melihat abangnya yang makan sangat lahap.
“Bang, udah berapa lama ngak makan pecak ikan?, lahap benar makannya,” ujar putri.
“Abang lupa, pecak buatan mommy memang enak,” sahutnya sambil mengacungkan kedua jempol nya.
“Bilang aja kelaparan bang,” sambung restu.
“Kamu tau aja,” jawabnya santai.
“Permisi tuan, ini buah matoanya,” ucap Roby
“Weh, makasih ya om,” sahut Ares cepat dan mengambil karung ukuran sedang itu dari tangan Roby.
“Iya tuan muda,”
“Abang yang pesan buah ini,” tanya restu,”
“Iya kenapa emang,”
“Ngak,”
“Ini enak rasa buahnya,” sahut Ara.
“Iya mom, Ares udah dari kemaren mencari buah ini,” jawab Ares jujur.
“Jadi kamu telat pulang Cuma gara-gara cari buah ini mas,” tanya Ayesha.
“Iya,” jawabnya nyengir.
“Pengen banget ya,” tanya Ara.
“Hm...,” jawabnya sambil menganggukkan kepalanya dan memakan buah yang di inginkannya.
Selesai makan buah yang di idamkan nya Ares mengajak Ayesha dan Azam untuk istirahat di kamar, begitu juga dengan yang lain mereka memutuskan untuk istirahat juga.
Tiba di kamar Ares langsung menuju kamar mandi, lima belas menit berlalu ia keluar dengan tubuh yang segar dan segera melangkah ke lemari untuk mengambil baju santai, ia melihat Ayesha sudah tidur dengan lelapnya sambil memeluk Azam. Usai memakai bajunya Ares juga ikut menyelami mimpi Ayesha.
*
*
*
Selesai sholat magrib berjamaah, Ara mengajak keluarga untuk makan malam, namun Ares memilih makan buah saja alasannya masih kenyang, ia hanya menemani istrinya saja di meja makan.
“sayang, keluar yuk,”
“kemana?,”
“Temani aku nyari iga bakar,” ucapnya.
“Apa Karna itu kamu ngak mau makan mas?,”
__ADS_1
“Hehehehe, iya,” jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.
“Ya sudah ayo,”
“Azam Mimi mau pergi keluar sama papa, apa Azam mau ikut?,”
“Ngak mi, Azam mau main game sama om restu,”
“Ya sudah Mimi pergi ya,”
“Ya mi,”
“Dad, mom,” Abang keluar bentar ya,”
“Ya, tiati di jalan,”
“oke dad,”
Ares segera melajukan mobilnya menuju tempat yang ia ingin kan, rasanya sudah tak tahan untuk cepat sampai di tempat penjual iga bakar tersebut. Dua puluh menit perjalanan kini mereka sudah tiba di warung penjual iga bakar yang pernah di datangi Ares bersama Dika waktu itu.
“sayang kamu mau coba ngak?,”
“Ngak mas, ay pesan jus apel aja lah,”
“Ah baiklah,”
Setelah mendapat tempat duduk, Ares dan Ayesha menunggu pesanan mereka sambil mengobrol, dan bercanda.
Tak berapa lama, pesanan yang mereka nantikan akhirnya datang juga.
“Aaaa,,” Ares menyodorkan satu suapan pada Ayesha.
“Ayolah,” ujarnya lagi.
Dengan terpaksa Ayesha membuka mulutnya, dan melahap sarapan dari Ares hingga habis.
“gimana, enak ngak?,”
“Hm..., enak,”
Ayesha memperhatikan Ares yang makan dengan lahapnya, hingga makanan itu habis hingga tak tersisa.
Ayesha menyadari sesuatu yang berubah dari Ares, namun dengan cepat ia menepisnya tapi Karna rasa penasaran akhirnya ia meminta Ares berhenti di sebuah Apotek, untuk membeli sesuatu.
Tiba di rumah ia dan Ares langsung membersihkan diri dan setelah itu beristirahat.
*
*
*
Sebelum berwudu, Ayesha mengambil benda yang sempat ia beli tadi malam, dan membawanya ke kamar mandi, dengan mengucap bismillah, ia mencelupkan benda pipih itu dalam wadah menunggu beberapa menit akhirnya ia mengambil benda tersebut dan melihat hasilnya.
Deg...
Deg...
Deg...
Air mata Ayesha mengalir begitu saja Tampa di perintah, Tampa menunggu lama Ayesha kembali keluar dan membangun kan Ares yang masih tidur lelap.
“Mas...bangun, udah subuh,”
“hm...,” tapi masih enggan membuka matanya.
“Mas, ayo bangun,”
“Iya, sayangnya Abang Ares,” jawab Ares sambil mencium pipi Ayesha.
“kamu udah wudu?,” tanya Ares.
“Astaga, belum,”
“Yuk bareng ada sesuatu yang mau aku kasih tau sama kamu mas,”
“Apa?,”
“Nanti siap sholat aku kasih tau,”
“Hm...ya udah ayo,”
🍂 🍂 🍂 🍂 🍂
Jangan lupa like, komen dan gif nya yaa.
Wasalam...
__ADS_1