
Putri yang sudah rapi dengan stelan kantornya, siap sarapan nanti ia akan ke rumah sakit sebentar untuk menjenguk Rafa Karna siang nanti hingga sore ia sibuk di kantor, Azam yang masih tidur nyenyak di kasurnya dengan memeluk boneka beruang milik putri, membuat ia tersenyum lalu memfotonya dan mengirimnya pada Ayesha. Setelah itu ia segera menuju ruang makan.
“Dad, mom, apa boleh aku bawa mobil lagi?,” Tanyanya dengan hati hati, soalnya mommynya masih trauma.
“Sebaiknya jangan dulu ya nak,” jawab Ara.
“Ya baiklah mom,” jawabnya pasrah.
Selesai sarapan pagi putri yang selalu di antar oleh Roy, telah menuju rumah sakit milik keluarga untuk menjenguk Rafa sambil membawa beberapa kue dan buah.
Tiba di rumah sakit, putri segera bertanya pada resepsionis di mana kamar Rafa, setelah mengetahui letak kamar Rafa dengan segera ia menuju kamar Rafa.
“Assalamualaikum,” salam putri yang berdiri di depan pintu ruang rawat Rafa.
“Waa.....,” jawaban Rafa terputus saat melihat putri.
“wa’alaikumsalam, silakan masuk kak,” jawab Dara.
“Hm...jawab putri lalu memberikan buah tangan yang ia bawa pada dara.
Setelah menerima buah tangan tersebut Dara pamit keluar dengan alasan mau sarapan pagi, padahal ia hanya memberi ruang pada mereka berdua.
“Gimana kabar Lo,” tanya putri basa basi.
“Alhamdulillah, udah mendingan, kok Lo tau gue disini?,”
“Itu ngak pentingnya gue tau dari mana, ini sarapan Lo kok ngak dimakan?,”
“Gue bosan makan makanan rumah sakit, ngak enak,”
“namanya juga sakit, kalau mau makan enak cepat sembuh tapi jangan lupa obatnya diminum,”
“hufff,”
“gue Cuma sebentar, Karna hari ini lagi sibuk,” ujar putri.
“Hm..makasih sudah mau datang menjenguk gue,” jawabnya sambil menetap lembut putri.
“Hm...sama sama,”
“Sebelum kamu pergi mau ngak siapin gue sarapan itu,” ujarnya.
“Eh...ah..baiklah,” jawab putri yang sedikit gugup.
Putri mengambil mangkok bubur yang ada di samping meja dekat Rafa.
Putri menyuapi Rafa dengan telaten hingga bubur itu habis, Tampa mereka tau kegiatan itu di rekam oleh Dara. Putri juga mengambilkan obat yang akan di minum oleh Rafa, dan memberikan padanya tak lupa segelas air.
“Semoga cepat sembuh ya, gue pamit dulu Karna sebentar lagi ada meeting di kantor,”
“hm..ya, tiati di jalan,” jawab Rafa. Putri hanya mengangguk sebagai jawaban, setelah itu ia segera keluar dari ruangan Rafa.
Tak lama setelah putri pergi Dara masuk dengan senyum usilnya, dan tatapan menggoda pada Rafa membuat Rafa mendengus kesal.
“udah maafin aku kan mas?,”
“belum,”
“What...?, wah kejam kau mas, ya sudah aku pulang saja jika begitu,”
“Eh..eh..jangan pulang dong trus siapa yang temani aku disini?,”
“Tuh banyak perawat yang cantik,”
“ck...kamu ini, udah ngak usah pulang temani aku disini sampai mama datang,”
“Bayarannya berapa?,”
“Yaaaa salammmmm, dasar matre,”
“Ya udah aku balik ya mas,”
__ADS_1
Dara langsung keluar dari ruanga Rafa, dengan cepat Rafa mengail adik sepupunya itu.
“Daraaaaa, berani keluar jangan pernah temui aku lagi,” ancam Rafa.
“Huffff, iya iya, aku ngak pulang, puasss,”
“Puas banget,”
Rafa mengambil ponsel lalu mengetik sesuatu.
Ting.....
Dara melihat motif yang masuk ke ponselnya seketika matanya membola.
“Aaaaaaa, makasih mas,” ujarnya langsung mencium pipi Rafa bertubi tubi.
“Udah ah aku mau istirahat,”
“Ya ya istirahatlah, lekas sembuh biar bisa kencani kak putri,” selorohnya.
“Diaamm, jangan berisik,”
Dara hanya mendengus kesal.
*
*
*
Hari hari terus berlalu, banyak kisah dan kenangan yang terukir di setiap waktu yang di lewati, semua di kenang dalam kenangan indah. Begitu juga dengan hubungan Rafa dan putri semakin menunjukkan kemajuan yang positif, Rafa sudah melamar putri untuk menjadi tambatan hatinya, hanya menunggu Ayesha melahirkan setelah itu baru acara pertunangan di laksanakan, itu atas permintaan putri sendiri.
Tak terasa usia kandungan Ayesha kini sudah masuk sembilan bulan, hanya beberapa Minggu lagi Ayesha akan melakukan operasi sesar.
Kini semuanya sedang berkumpul di rumah Miranda, Karna sudah dua malam ini Ayesha menggalami kontraksi palsu, itu membuat mereka khawatir, bunda Afifah pun sudah tiba di rumah Miranda atas permintaan Ayesha.
“Sayang, kamu mau apa nak, biar bunda buatkan,”
“Baiklah, tunggu ya bunda buatkan,”
“Ya Bun,”
Ayesha sudah tak sabar melihat ketiga buah hatinya, apa lagi setelah melihat baju baju bayi yang baru saja di belinya bersama sang mommy bulan lalu, membuat ia gemes melihat baju baju yang lucu-lucu itu.
“Mimi,” panggil Azam.
“Apa sayangnya Mimi,”
“Apa perut Mimi masih sakit?,” ujarnya sambil mengelus perut Ayesha.
“Ngak sayang,”
“Adek abangnya Azam, jangan nakal ya kasihan Mimi kita kesakitan, Abang sayang kalian,” ujarnya sambil mencium perut Ayesha.
“iya Abang Azam yang genteng,” sahut Ayesha menirukan suara anak kecil.
“abang dari mana nak?,”
“habis main bola sama papa dan om Randi, apa Azam bau mi?,”
“Sini coba Mimi cium dulu,”
Ayesha mencium pipi Azam bertubi tubi hingga perut dan ketek balita itu membuat ia terkikik geli Karna aksi Ayesha.
“Hahahaha, geli mi,” ujar di sela tawanya, Ares yang mendengar tawa Azam yang mengema dari ruang makan dengan langkah lebar ia segera menuju ke arah suara.
“Abang bau acem,” sahut Ayesha sambil menutup hidungnya.
“Azam mandi dulu mi,” jawabnya sambil mencium kedua pipi Ayesha.
“Sayang,” panggil Ares mengalihkan kedua pandangan mereka berdua.
__ADS_1
“Mas,”
“Papa,” teriak girang Azam.
“Ayo mandi dulu, nanti miminya pingsan lagi nyium bau Abang,” gurau Ares.
“Pa, Azam ngak sebau itu kok,” jawabnya dengan wajah cemberutnya
“Iya iya, papa becanda kok,” sahut Ares yang sudah ketawa bersama Ayesha melihat wajah lucu Azam.
“Sayang, aku mandi dulu ya sama Azam,”
“Ya mas,”
Tak lama setelah Azam dan Ares pergi, bunda Afifah membawa pesanan Ayesha dan tak lupa ia membuat salat buah untuk Ayesha.
“Nih nak, makan dulu,”
“Wah, makasih Bun,” ucapnya.
“Sama sama sayang,”
“Apa masih sakit perutnya?,”
“Sekali kali Bun, Bun Ay takut,” ujarnya.
“Percayalah semuanya akan baik baik aja sayang, ngak usah takut ya,”
“Biasanya Ay, yang membedah orang tapi sekarang Ay yang akan di bedah?,” ujarnya.
“jangan khawatir, kami semua mendoakan yang terbaik buat mu,”
“Sudah jangan dipikirkan lagi, ayo makan, apa mau bunda suapi,” bujuk bunda Afifah.
Dengan cepat Ayesha menganggukkan kepalanya.
“Calon ibu yang manja,” gurau bunda Afifah,”
“Bunda ih,” jawabnya dengan wajah yang merona Karna malu.
“Hahahahahahaha, ngak terasa ya, semuanya sudah berubah tapi kasih sayang bunda sama kamu ngak pernah berubah, dan sebentar lagi kamu akan tau sakitnya melahirkan dan repotnya merawat mereka, semua itu akan akan menjadi momen tersendiri nantinya nya,”
“ya, Kasih sayang Ay juga ngak pernah berubah sama bunda, dan makasih sudah merawat Ay dari bayi hingga besar jika Ay pernah menyakiti hati bunda baik yang di sengaja maupun yang tidak di sengaja Ay minta maaf ya Bun,” ucapnya sambil menghapus air mata yang sudah luluh di pipinya dan kemudian memeluk erat bunda Afifah,”
“Kamu anak kesayangan bunda nak, apa pun kesalahan yang pernah kamu lakukan bunda tak pernah marah apa lagi sakit hati nak,”
“Makasih Bun,” sahutnya sambil mencium pipi bunda Afifah.
“Yuk, bunda antar ke kamar untuk istirahat,” ujar bunda Afifah setelah semua makanan ludes.
“Yuk, bun” jawabnya sambil menggandeng tangan bunda Afifah.
🍂🍂🍂🍂🍂
Uh...part ini ada sedih apa ada yang seperti sebelum melahirkan?...
Jangan lupa like komen ya, tinggal satu part lagi novel ini tamat yaa.😥😔
Wasalam...
__ADS_1