My Anemy My Hubby

My Anemy My Hubby
bab10-Asam cuka..


__ADS_3

...🌵...


...Asam Cuka.....


"Di sini ya?" ucap Rey dan kini sudah membuka kan pintu mobil untuk Sabrina. Sabrina sempat memutar bola mata malas. "Di sini?" tanya nya balik.


"Gue pengen, keliatan nya lebih enak, apalagi gue baru kali ini makan di pinggir jalan sama kamu!" jawab Rey dengan senyum simpul melihat Sabrina. Sabrina tak menjawab dan langsung turun dari mobil.


"Tau gini gak bakal gue bilang terserah, rugi amat gue. kirain makan di restoran atau tempat yang lebih berkelas lagi, eh taunya makan di tempat kampungan." Sabrina menggerutu dirinya sendiri dengan kesal.


"Mau pesan apa?" Tanya Rey yang melihat Sabrina terus terusan memandangi sekelilingnya. Tak mendapatkan jawaban, Rey pun kembali bertanya.


"Gimana, Ana suka tempat nya?" Tanya Rey lagi. Kali ini sabrina langsung menatap Rey intens. "Kamu ngomong apa?" Tanya Sabrina dengan muka kesal nya.


"Pesan apa?" Ulang Rey lagi. "Kalo gue bilang terserah, nanti yang ada malah yang aneh aneh lagi di pesan nya. lagian gue gak selera makan di sini, nafsu nya ilang," ucap nya mengomel dalam hati.


"Hmm.." Sabrina merebut menu yang tampak kumuh yang ada di tangan Rey, ia memengang nya sedikit sekali. "Teh dingin aja deh!" Ucapnya dengan memberikan menu tadi kembali ke Rey. "Gak lapar?" tanya Rey menyakinkan. "Gue udah makan tadi setelah siap salon, jadi cuma haus aja," jawabnya dengan senyum yang di paksakan. sekaligus berbohong.


"Bang.." Rey memanggil seorang Pria yang sedang sibuk memasak. "Sana ndok datangi dulu!" Ucap Pria itu pada seseorang gadis yang bisa di bilang mungkin anaknya.


"Iya, pak," Mau pesan apa mas, sama neng nya?" tanya nya dengan sopan. "Hah.. cewek se kece gue di panggil neng, buta mata nya kali ya!" Ucap Sabrina dengan pelan. namun masih terdengar jelas oleh Rey dan gadis tersebut.


Rey memesan apa yang ia inginkan, setelah nya, gadis tersebut pergi. "Memang panggilan mereka emang gitu, jadi gak usah di bawa ke hati," Jelas Rey ke pada Sabrina.


Sabrina menjawab dengan ber'oh ria saja, dan setelah nya langsung mengambil ponsel di tasnya.


Sabrina tak banyak berbicara ia lebih memilih memainkan ponsel nya. ia tersenyum senyum sendiri saat membalas pesan dari seseorang di sebrang sana. "Siapa?" tanya Rey dengan curiga, masih tak mendapat jawaban Rey kembali mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali.

__ADS_1


"Apa sayang!" Ucap sabrina masih dengan pokusnya di layar ponsel depannya. "Liat gue Na..!" Sabrina menghela nafas kasar dan menatap Rey dengan malas.


"Kenapa sih?" tanya sabrina yang merasa aneh gak ada apa apa menurut nya. "Ana balas pesan sama siapa?" tanya Rey masih dengan menatap Sabrina dengan curiga.


"Temen Smp dulu." jelas Sabrina dan mulai kembali pokus ke ponsel nya.


Baru saja Rey akan bertanya teman cewek atau cowok, tapi pesanan nya sudah meluncur di depan mejanya. "Ini minum kamu, minum dulu!" Ucap Rey yang memberikan teh dingin ke Sabrina.


"Iya," Jawabnya ketus. Rey semangkin curiga dengan Sabrina. ia pun merampas ponsel Sabrina dengan senyum miring nya. "Balikin gak?" Protes Sabrina.


"Kalo aku balikan kamu cuekin aku terus." Jawab Rey yang kini kembali makan. "Kalo aja lo bawa gue ke restoran atau cafe gue pasti gak bakal cuek, tapi lo lola Rey, masa cewek se anggun gue makan nya di tempat begini an, apa kata publik kalo liat gue!"


Jawab sabrina pada dirinya sendiri ia memperlihatkan muka masam nya ke arah Rey.


"Temen kamu siapa?" tanya Rey. "Madel," Jawab Sabrina jujur. "Cewek atau cowok?" tanya Rey lagi. Sabrina sempat berpikir sejenak,


'Cowok, tapi kelakuan nya cewek." Jelas sabrina lagi. "Bisa di bilang banci lah, tapi sekarang dia udah balik ke aura semula cowok lagi, walaupun masih ada nempel aura cewek nya. Dia temen sekelas gue waktu di Smp, termasuk teman dekat juga sih, tapi setelah tamat dia ngilang dan gak ada kabar. dan sekarang dia baru dapet nomer gue!" Jelas sabrina lagi.


"Tapi gak ada hubungan lebih kan selain temen?" Ucap Rey lagi, dengan wajah menginterogasi.


"Gak ada lo sayang," Sabrina mengulurkan tangannya ke depan. Rey yang melihat pun mengerti, ia langsung memberikan ponsel Sabrina kembali. " tapi inget jangan cuekin gue lagi, apalagi hanya karena pesan dari tuh cowok, bukan maksud gue cewek jadi jadian!" Jelas Rey yang membuat mereka tertawa.


"Bentar ya," sabrina bangkit dari duduknya dan mengangkat telepon. Rey menggangguk mengiyakan.


Sedari tadi Mely terus terusan membahas tentang Rey dan sabrina dengan May. Lala yang emang paling gak suka lebih milih masuk ke dapur. "Gue masak apa ya?" tanya nya yang dari tadi hanya mondar mandir gak jelas sambil menggigit jari jempol nya, dengan tangan kiri terlipat di dada. ia sendiri tadi merasa bingung, karna gak pernah tau dan berkutik dengan urusan yang berhubungan dengan dapur.


"Hem.. gue mencium, aroma aroma masakan gosong." ucap May yang baru saja memasuki dapur dengan hidung yang kembang kempis seakan benar benar merasakan gosong. "Bukan gosong tapi pahit!" Saut Mely dengan tawa jahilnya seakan Lala benar benar masak. Lala menyengir kuda. "Masa sih, gue aja belum masak sama sekali, jangankan masak nyentuh benda dapur aja belum, masa iya udah di katain gosong, apalagi tadi?" Tanya Lala dengan muka yang tampak berpikir.

__ADS_1


"Sama pahit," Ucap Mely dengan bangga nya.


"Aneh, gitu aja di banggain." Protes May atas jawaban Mely barusan. "Udah deh, mending bantuin gue masak." Saut Lala yang sudah mulai membuka kulkas. "Masak apaan?" Tanya Mely dan May berbarengan. "Masak air di godok!" Jawab Lala di iringi dengan tawa.


"Kalo gitu gue juga bisa," Jawab May yang kini mengeser Lala di depan kulkas. "Ih.. kejam ya, main geser geser, lo kira gue apaan?" Protes Lala dengan muka masam nya. dan melueh lueh kan yang baru saja di minumnya. Saat Lala baru saja meminum, minuman yang baru saja ia ambil di dalam kulkas. "Asem banget, minuman apaan sih?" Tanyanya dan melihat botol itu dari jarak dekat dengan sedikit memicingkan mata.


"Bege. coba sebelum minum itu, di liat dulu, masa ia botol asam cuka lo telan gitu aja, ya asam lah," Ucap May yang kini mengambil botol di tangannya Lala, dengan menggeleng geleng kepala atas perbuatan Lala yang ceroboh.


"Minum putih Mel," tunjuk Lala yang dengan muka meminta. "Gue aja liat lo, dah trauma sama botol nya. asam banget ya?" Tanya Mely dengan memberikan segelas air putih ke Lala.


"Botolnya gak usah trauma, tapi rasanya, bege_" Jawab Lala dengan menoyor kening Mely pelan.


"Aduh.. kok gue aduh ya? kan gak sakit?" tanya nya pada dua temannya dengan tangan yang mengelus elus kening nya dan wajah bingung nya.


"Mulai deh, ngeheng, otak nya!" Ucap May dan kini sudah mengacu telur yang baru saja di pecah nya. Sedang Lala hanya tertawa kecil. "Udah deh. Mel, jangan lugu banget ntar nular lagi ke gue!" Saut Lala dengan mengipas ngipas badanya. seakan takut kena tular.


"Emang lugu bisa nular?" tanya nya lagi masih dengan muka bingung nya. Lala dan May hanya menepuk kening melihat tingkah Mely yang kelebihan lugu nya.


"Udah deh, mending lo duduk aja ya di kursi ini, gue sama May mau masak." Tutur Lala dengan membawa Mely duduk di kursi makan. "Oke. gur main ponsel ya!" Jawabnya yang kini sudah main ponsel.


"Minta di minumkan betadin tuh anak," Ucap Lala dengan tangannya yang mencoba menghidupkan kompor. "Kan lo juga dah nular tuh, aneh nya. masa betadin di minum kan, aturan nya kan di beri saat kita lagi punya luka." jelas May dengan menggeleng kan kepala.


"Gue gak nular, cuma mau tau aja rasa betadin tapi bukan gue yang ngerasain melaikan Mely. Kan lucu gimana muka nya setelah minum." Jawab Lala dengan membayang bayang kan muka aneh Mely.


"Udah deh. jangan yang aneh aneh. liat tuh wajan nya gosong gak lo masukin minyak. Protes May.


Oke lanjut gak nih??

__ADS_1


Lanjut dong, masa kagak, tunggu bab selanjutnya ya gais


__ADS_2