
...🌵...
...Reunian...
Seperti yang mereka janjikan seminggu yang lalu. Baik temennya Lala maupun Rey sudah menunggu kedatangan Lala dan Rey di sebuah resto yang sudah di janjikan, mereka sepakat akan bertemu di tempat tepat jam sembilan pagi.
Lala yang sudah lebih dulu keluar dari mobil, langsung memasuki resto, karna merasa bosan melihat Rey yang sejak tadi sibuk dengan panggilan telepon yang putus sambung. Dirinya bagikan robot yang terus memijat ikon berwarna hijau, hal ini membuat bibir Lala terus mengerut dengan wajah kesalnya.
Belum sempat ia mencari keberadaan teman temannya, namanya sudah lebih dulu di panggil oleh suara cempreng gak lain suara dari Mely. "Nih anak emang kagak ada berubahnya ya, dari sd sampai kuliah masi aja kaya anak tk!" Omel Lala dalam hati, namun langkah kakinya berjalan mendekati Mely dan teman yang lainnya.
Terlihat adanya Mely, May, Bambang, Bagas dan Dian, serta Yogi yang sudah duduk dengan posisi nyaman di tempat masing masing.
Seteleh menyapa satu sama lain, Lala pun mulai duduk di kursi yang teleh di sediakan.
"Ella sama Ryan gak pada datang?"
"Si Ella sempat ketemu gue dua hari lalu, dia sempat minta maaf juga karna gak bisa ikut reunian, lo semua pada tau lah, kalo dia lagi magang jadi cuma pulang dua hari doang!
May menjelaskan.
"Trus Ryan gimana, bukanya dia bilang bakal datang?" Tanya Lala lagi.
Semuanya saling pandang. "Gak tau, gue juga udah ajak, tapi gak ada respons sama sekali!" Jawab Dian yang memang paling dekat diantara semunya.
"Huh.. udah punya Rey, masih aja tanyain Ryan, kalo kangenkan bisa diam diam, jangan terang terangan takutnya si suami matan rival lo salah paham!" Suara dari sudut sana, yang berasal dari Bambang membuat Lala mendesis kesal.
"Gak Mely, gak bambang, lo dua emang cocok deh jadi pawangnya kehebohan.
Semuanya tertawa mendengar Lala, terkecuali Yogi. Lala langsung merampas gelas yang berisi susu coklat di depannya. Rasa haus tiba tiba saja menyambar dirinya hingga tanpa peduli ia mengambil gelas di dekatnya. "Hais.. Enek aja, gelas gue tuh!" Sosor May yang baru saja buka suara. di sertai dengan sentilan di keningnya Lala.
Lala kembali meletakan gelas yang tak jadi di minumnya. Namun tak sampai di bibir meja, Lala melihat ke May sekilas, lalu kembali mengangkatnya dan meminum susu milik May.
Semuanya menyengir, melihat istri dari seorang Rey, dengan sengaja meminum bekas May.
"Manis!" Lala meletakkan gelas yang sudah kosong dengan ringgakan dari mulutnya. Ia mengelap bagian bibirnya yang sedikit celemotan karna bekas susu.
"Lebih manisan mana sama gue?" Tanya Dian dengan gaya dua jari. "Mau nyoblos di mana lo?" Tanya Lala balik, ia menatap Dian dengan tatapan kesalnya.
__ADS_1
"Rencana sih mau nyoblos lo, tapi udah terlanjur di cucuk luan sama lakik lo!" Yang menjawab bukanya Dian melainkan Bagas, mesti mulutnya penuh dengan stik, tapi masih saja ikut berkomentar.
"Udah move on kah, si akang Bagas dari Ella!" Mely menaik turunkan alisnya, dengan ratapan senyum nakalnya. Di sertai dengan tangannya yang menopang dagunya.
Hemm..
Deheman dari Bambang, membuat Mely tersenyum kecut. "Yang lupa kalo udah punya ayang, jadi merasa ayangnya orang ayangnya dia juga!" Cibir May dengan tatapan sendu ke arah gelasnya yang sudah kosong.
"Gak usah di ratapi juga kali May.. sepuluh gelas bisa gue bawakan sebagai pengganjal perut lo!" Cibir Mely dengan ketus. "Dia mah gak butuh sepuluh gelas kali yang, tapi sepuluh ayang!" Jawab Bambang yang menimbulkan tawa di sekitar meja itu.
"Kalo sepuluh gelas doang, gak ada isinya !apa yang diminum? yang ada cuma di tatapi doang!" Lala berucap dengan tatapan kesal.
"Kenapa muke lo, kesal amat?" Tanya Mely yang memang merasa jika mood sahabatnya itu lagi done.
"Lo macam gak tau pengantin baru aja, begitu jumpa ya langsung di kekep lah, malamnya berbunga bunga, paginya lemas gak bertenaga, dan paginya malah sarapan lontong doang lagi, gak pake bakwan lagi, minumnya air putih, mana ada minat untuk semangat dong!" Ujar Bagus yang mendapatkan pelototan dari Lala.
"Jangan melotot lotot La.. Soalnya gue bukannya takut, tapi gue kebayang gimana rasanya permen model batangan yang lo rasain tadi malam, kenyal kenyal gitu kali ya?" Bagas memasang muka berpikir nya tanpa ada rasa segan dan malu setelah berucap yang aneh aneh tentang Lala.
Semuanya yang mendengarkan kocehen dari Bagas tertawa, kecuali Yogi.
Pria itu hanya menggelengkan kepalanya, merasa tak suka dengan ucapan yang di tuturkan oleh Bagas. Menurut nya lah itu tak bagus jika di ucapkan. Apalagi hal itu termasuk ke dalam hal pribadi. Yogi menggeser kursinya ke belakang dan langsung berdiri.
May yang sejak tadi curi curi pandang dengan Yogi, merasa yakin jika Yogi masih memiliki rasa dengan Lala. "Lo bukan Yogi yang gue kenal masa SMA dulu, mana sifat lucu dan konyol lo yang dulu, sifat yang buat gue baper karna gombalan manis lo yang lo buat candaan itu, sedang gue menganggap nya sebuah keistimewaan dari lo dan titik bahagian gue ke lo, kenapa harus berubah menjadi sipat dingin yang lo perlihatkan seteleh tiga tahun kita gak jumpa!" May mengerutu dalam hati. Ada setitik kata yang tak bisa ia ucapkan ketika melihat Yogi.
"Setidaknya, gue bisa melihat lo dengan orang lain yang bisa membuat lo bahagia, tapi gue salah, di hati lo masih saja ada diri Lala!"
Lala medesis dengan tatapan tajam ke Bagas. "Dasar iri lo pada, bilang aja! lo juga pengen kan merasakan nyaman dan syahdunya di atas kasur, dengan lentunan dan kekuatan dahsyatnya saat itu!" Ujar Lala yang mendapatkan tawa kembali dari semunya.
"Jadi kebelet tuh si Bambang, pengalaman lo sedap juga tuh!" Ujar Bagas dengan senyum
'Gue rasa lo salah curhat deh La, mestinya lo curat ke Yogi alias ke Ryan, eh kok jadi Ryan ya, tapi enakan ya di sukai dua cogan beda karakter!" Bambang cekikikan mengucapkan nama cowok yang menyukai Lala.
"Sok tau lo!" Cicit May yang ikut kesal. Karna mendengar kata Yogi di sebut sebut.
"Bener tuh, sok jadi cenayang yang bisa tau hal begituan!" Ujar lala. "Enek aja, lo kira ayang gue peramal gitu!" Protes Mely dengan cemberut di sertai kedua tangannya yang di letakan di depan dada.
Lala mengangkat kedua bahu seakan acuh pada ucapan Mely. Tanganya memanjang kala mengambi salat buah yang baru saja di buka dari boxsnya oleh Bagas. Lala langsung merampasnya dan memasukan makanan buah ke mulutnya.
__ADS_1
Bagas tersenyum tipis, "Gue kira yang makan si Ella, ternyata bestynya, kebiasaan baru biniknya Rey ini memang meresahkan!" Bagus hanya meneguk coffe hangat di depannya yang mendapatkan tepukan bahu dari seseorang dari belakangnya.
"Kenapa dengan kebiasaan binik gue?" Rey yang tiba tiba muncul di belakangnya Bagas langsung duduk di sampingnya Lala.
"Suka makan dan minum bekas orang!" Bambang menjawab. Rey hanya terkekeh kecil mendengar jawaban Bambang. Setelahnya Rey saling bertukar kabar dengan para temannya dan juga kedua temannya Lala.
Lala yang memang merasa bad mood pagi ini, hanya memainkan ponsel nya dengan gaya gerahnya. Lala betambah kesal saat tangannya Rey menopang di bahunya. ia meletakkan tanganya Rey ke bawah dengan kasar. Ternyata hal itu menjadi daya tarik di sekitarnya.
"Gak lo kasih jatah ya binik lo, pagi pagi udah bad mood aja!" Cicit Dian. Lagi lagi pertanyaan konyol yang keluar dari mulut para temannya.
Ingin sekali, Lala menendang Dian dari tempatnya saat ini, "Gue kasih, tapi binik gue yang suka nolak, katanya capek!" Lala tak habis pikir atas jawaban yang Rey berikan kepada para temannya itu.
"Harusnya lo belajar sama Bambang, kalo dia nih pakarnya bujuk membujuk, liat tuh si Mely gak bisa lepas kan, udah empat tahun jadian, tapi salahnya suka di tahan tahan, katanya bakal kawin tahun depen, tapi tahun depannya lagi!" Bagas menambahkan.
Mely hanya mencebik kesal.
"Kampret lo, emang lo kira hubungan gue sama Bambang itu karna bujuk rayuan, kalo masalah itu gue udah pergi luan sebelum Bambang bujuk gue, tapi yang gue ingat gue deh yang ngejar ngejar dia!" Mely langsung bergelut manja di lengan Bambang di sertai senyum malu malu, Bambang tersenyum manis dan mencubit pipinya Mely dengan gemas.
"Ini princes aa Bambang yang paling aa sayang!" Ucapan bambang membuat Dian dan Bagas merasa ingin muntah. sedang May dan Lala bersikap acuh saja. Rey hanya terbawa kecil.
"Begini nih, nasib para jomblo, liat orang bicin dikit aja udah begini, keliatan banget ya, para jomblonya!" Sindir Mely yang tertuju pada Bagas dan Dian, manun May juga merasa tersentil.
"Iya lah, si paling bucin, tapi harus ingat status juga ya jangan sampai kebablasan bucin nya, karna si bucin bisa bikin buncit tuh perut!" May berucap dengan tatapan ke perut Mely.
"Ihhh.. Ya kagak lah, mesra kita kan wajar wajar aja!" Mely mencoba membela.
Tak lama kemudian. Para pesanan yang mereka tunggu pun sudah di letakkan di atas meja. Melihat cumi sambal asam manis membuat Mita merasa mual.
"Huek.. huek.. huek..!" Tak tahan melihatnya, Lala langsung berdiri dari duduknya.
"Napa tuh binik lo?" Tanya Bagas tertuju ke Rey. "Kenapa?" Malah Rey yang gantian bertanya ke Lala. Lala hanya menggelengkan kepalanya. di sertai gerkan mulut "Gak apa, cuma tuh bumi baunya amis banget!" Lala sampai menutup hidungnya merasa tak tahan.
"Ini!" Mely malah menujukan cuminya ke Lala. Lala kembali merasa mual, ia berjalan menjauhi meja. "Mau kemana?" Tanya Mely sedikit menjerit.
"Mau ke toilet!" balas Lala yang tak kalah menjerit saat menjawab pertanyaan Mely.
Lala yang berjalan setengah berlari, tak sengaja menabrak Yogi yang baru saja melewatinya. Lala yang merasa akan muntah hanya meminta maaf dengan gerakan tangannya saja. Tanpa melihat siapa yang di tabrak nya, Lala pergi begitu saja.
__ADS_1
Yogi menautkan alis heran. dilihat nya wajah Lala yang sedikit pucat membuatnya merasa khawatir juga. Ia pun berniat menjemput Lala ke kamar mandi. Namun langkah nga di hentikan oleh suara seseorang yang sangat pamiliar di ingatannya.