
...🌵...
...Kita Tamat...
...flashback on...
"Hubungan lo sama Rey sejauh apa?" Tanya Yogi dengan penuh selidik.
Lala yang sedang meminum es cendol langsung tersedak. 'Apa? lo tanya apa tadi?" tanyanya balik dengan muka di cemberut.
"Hubungan lo sama Rey sejauh apa?" Tanya Yogi namun kali ini ia berusaha agar menujukan wajah tak kepo kepo amat.
Lala mengubah posisi duduknya menghadap ke Yogi. "Sebentarnya gue sama dia.." Lala sengaja mendeda. "gue sama udah nikah!" Ucap Lala dengan wajah menahan kesal.
"Lo tau kan gue sama dia itu bagaikan air dan minyak tak bisa akur, tapi semenjak kita terikat dengan pernikahan, kita jadi punya rasa satu sama lain, yang gue masalahin di sini, dia terlalu cemburuan, gue gak suka!" Lala kembali menghadap ke samping.
"Lo liat kan, kejadian di sekolah tadi, berlebihan!"
"Hahaha.. cemburu itu wajar La, banget malah. Tapi gue gak percaya kalo lo sama Rey udah sejauh itu!" Ucap Yogi yang masih tak percaya.
Lala menatap Yogi dengan selidik. "Gak percaya. liat nih, liat!" Lala memperlihatkan cincin di jari kanannya. "Gue dah lama nikah sama dia, kalo lo mau percaya atau gak itu sih terserah lo yang jelas gue sama Rey udah nikah." Jelas Lala yang meminum es campur.
"Satu lagi, gue sama Rey menikah hanya teman teman Rey dan teman gue yang tau bisa di bilang kalo ini masalah rahasia"
...
Rey berjalan tergesa sambil menaiki satu persatu anak tangga. Di pertengahan tangga, Rey terhenti saat namanya di panggil oleh sang Bunda.
"Tolong masukan jarum ini, mata Nenek gak nampak lagi!" Ujar sang Nenek dengan wajah mengerut.
Rey menghela nafas berat. setelah selesai memasukan jarum ia kembali ke arah kamar, sebelumnya ia bertanya ke Neneknya apakah Lala sudah pulang atau belum, jawaban yang di berikan membuat Rey laga.
Matanya langsung tertuju sosok yang sejak tadi ia cari cari. ia berjalan mendekati "Maafin gue!" Ucapnya sambil mengelus rambut Lala dengan penuh kehangatan.
Mata Lala terbuka lebar saat melihat Rey yang samar samar duduk di samping kasur. "Baru pulang?" Tanyanya dengan wajah bantal. "Udah makan!" Tanya Rey balik setelah mengganguk kecil.
Lala merentangkan tangannya lalu memeluk Rey dengan erat. Tak lama terdengar dengkuran kecil dari Lala. Rey tersenyum tipis melihat Lala yang kembali tertidur.
Niat ingin marah karna pulang dengan Yogi. ia urungkan. kala melihat wajah lelehnya Lala.
...
Dua minggu kemudian.
Semua siswa/i bersorak bahagia dengan disertai haru dan sedih di antara mereka.
Ada yang memilih berfoto sesama teman sekelas maupun guru, ada yang langsung pulang yang tak membawa kenangan, ada yang mencoret coret baju sekolah sebagai tanda kelulusan mereka. Sejujurnya mencoret baju sekolah di larang keras oleh pihat sekolah, namun karna mereka melakukan coret coretan di luar
ada yang berpacaran di pojokkan kelas, ada yang memilih merayakan di cafe terdekat, ada pula yang menangis karna masih tak sanggup untuk menerima hari akhir mereka di sini.
Lain hal dengan Rey dan temannya. mereka memilih berkumpul di rumah Bagas meraka merayakan hari terakhir mereka dengan secangkir kopi di sertai kue kering sambil mendengarkan Dian bermain gitar.
Lala yang di bebaskan oleh Rey. memilih menghabiskan waktu dengan poto dan ngepi. Mereka akan pergi hapi hapi.
"Lo yakin gak bakal di cariin ma suami?" Walaupun sibuk mendadani diri, Mely terus menerus bertanya pada Lala.
"Gak lah, ini hari mah bebas, bebas tidur bebas main, dan bebas dari kurungan semut merah!" Gelagar Lala dengan gaya dua jarinya
Krukkk..
krukk...
Semua mata menuju ke arah Mely. yang di lihat malah cengar cengir gak jelas. "Makan yuk, perut gue udah roda rodi keliling duniawi nih!" Mely mendorang ketiga temannya, agar memasuki mobil.
"Aduh mak, main dotong dorong aja nih, ambir terbang pantat gue!" Ujar Lala yang menyingkirkan tangan Mely.
__ADS_1
"Jadi kemana dulu nih?" Tanya Lala yang saat ini sedang menyetir. "Ke kafe kerauke yuk, gue mau nyanyi!" Usul Mely yang mendapatkan anggukan kecil dari Ella.
"Lo bisa nyanyi gak?"
Ella yang merasa di tanya. hanya menggelengkan kepalanya petanda tak bisa nyanyi. Lala yang melihat Ella menggelengkan kepala dari spion mobil, melirik ke arah Ella sekilas.
"Gue pernah dengar lo nyanyi, dan suara lo bagus!" Tutur Lala yang kembali pokus ke depen.
"Gue gak di tanya?" Tanya Lala dengan muka menunggu. "Kalo lo sih, jagoanya jadi gak perlu lah di tanya!" Jelas Mely.
"Kali gue, gue rasa lo pada tau lah, kalo gue yang paling hebat dan cantiek, lo pada jangan iri ya, suara gue pasti kagak ada imbang!" Bangga Mely dengan senyum pepsoden.
"Salahnya.. gak tanyyaaa!"
Mely menatap nyalang ke arah Lala. ingin sekali ia menerkam ciptaan tuhan di depannya ini. "Gue tau pasti loe punya niat balas kan kegua!" Batin Lala.
Kini ketiga orang itu menatap ke arah samping kemudi. "Ya elah, orang mau represing malah molor!" Celutuk Mely sambil tersenyum jahil.
"Hah.. hah.. jan yang aneh dah yang lo buat! " Cegah Lala yang melihat gelagat Mely yang akan mengerjai May.
Namun nihil, Mely yang sudah kembali keusillanya pun membuat May terwahing wahing. "Rese amat lo!" Celutuk May yang langsung tau jika ini kerjaan dari Mely.
"Abis lo, gue tanya gak di jawab jawab, eh dengan enaknya lo tidur!" Kelakar Mely dengan kesal. ia bukan kesal karna May maupun Lala melainkan kesal yang di sebabkan karna chat whatsapp nya yang tak di balas. jangankan di balas berharap di baca aja udah syukur.
"Eh udah sampe aja, padahal gue masih kantuk!" Celutuk Mely yang di iyakan oleh Ella.
May menatap Ella dengan kening mengerut. Dia kenapa? kok pucat amat?
"Apa sakit?"
Yah saat ini, May memilih duduk manis bersama Ella sambil menikmati suara cempreng yang bisa di bilang suara kejepet.
Alih alih dengan camilan di hadapannya. ia menangkap wajah pucat Ella.
"Gak tau nih, tiba-tiba kepala gue kerasa pusing!' Jawabnya yang hampir tak di dengar oleh May.
"Apa lo mau balik, biar gue antar!" Terang May yang mulai merasa jika Ella tak baik baik saja.
"Tapi.. ayok gue siap sedia dengan penuh rasa setia pada sahabat gue" May menarik kunci mobil dan menuntun Ella menuju keluar ruangan.
May yang tadinya akan memberi tahu dua temannya yang sedang asik karaokean ia urungkan karena dua orang itu tak melihat ke arahnya sama sekali.
"Mereka mana?" Lala memutar bola matanya ke sekelilingnya. tak mendapatkan respons dari Mely, Lala berbicara melalui mic yang membuat Mely meloncat kaget.
"May sama Ella mana?"
Mely hanya menanggapi dengan angkatan kedua bahu. "paling juga lagi ke kamar mandi!" Ucap Mely dengan muka yang menebak nebak.
"Kalo ke kamar mandi keknya kagak deh, tas, ponsel, sama kunci mobil juga gak ada!" Tutur Lala yang terlihat heren.
Mely yang tadinya duduk di sampingnya Lala sambil meneguk es tersedak. "Apa mereka tinggalin kita?" Tanyanya dengan muka songong.
"Ya gak lah, tapi iya juga ya!" Tutur Lala yang terlihat pimplan.
Tak lama Lala mendapatkan sebuah pesan singkat dari May.
"Siapa?"
"Nenek lo!" Jawabnya asal.
"Hah.. mau ngapain nenek gue?" Tanya Mely dengan muka tak percaya. Lala menatap Mely dengan heren. "Percaya amat sama ucapan gue! " ia merampas ponsel Lala dengan lugas. pasalnya Mely memiliki Nenek yang terbilang galak dan suka ngatur.
"Mana?"
Lala kembali merampas ponselnya dari tangan Mely. "Gue belum selesai ngomong kali" Lala memperlihatkan pesan dari WAnya.
__ADS_1
May
_Sory, gue gak ajak lo dua, gue sekarang lagi ngantarin Ella. gue rasa sakitnya kambuh. oh ya gue pinjam mobil lo tanpa izin.
Lala
_Kita kesana aja ya, gue jadi gak enak juga, lo macam gak kenal gue aja, sejak kapan lo mau izin kalo mau pakai mobil gue!
_Mely
Oh ya, gue tadi jumpa sama si Bambang, dia lagi di bengkel benerin motor. dia bilang lagi habis baterai jadi gak bisa kasih kabar sama
Mely.
Mely yang sejak tadi melihat chatan Lala dengan May kembali merampas ponsel Lala.
tangannya dengan lincah mengetik sesuatu di ponsel Lala.
"Apaan sih lo, lo kira ponsel gue barang rampasan!" Kesal Lala.
"Aduh La, pinjem bentar atuh kan gue mau nyusul masa depan gue, kasian kan dia... Mely tak melanjutkan ucapannya saat melihat Lala bangkit dari duduknya.
"Lo bayar, gue mau cari taxi dulu!" Ujar Lala sambil memberikan dua lembar uang berwarna merah. Mely mendesis kesal saat melihat kelakukan dari sosok Lala.
....
Lala berjalan pelan saat memasuki kamar. ia mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan. tak ada tanda tanda adanya Rey di kamar. ia mengambil ponsel di dalam tas sambil mendudukkan pantatnya di atas sofa.
^^^Lala^^^
^^^_Rey, dimana?^^^
sampai hitungan menit ke lima, masih tak ada tanda tanda akan ada balasan. Lala pun memilih membuka You Tube, ia tersenyum manis saat melihat angka subscribenya yang mangkin hari mangkin bertambah.
Di tengah keasyikannya. Lala sampai tak menyadari jika Rey sudah berada di dekatnya.
"Baru pulang?"
Suara dingin yang tepat berada di gendang telinganya membuat Lala menegang. Ia membalik badan yang mendapati sosok Rey yang berdiri sambil mengelap rambutnya.
"Jangan liatin begitu, ntar nafsu!" Ujar Rey sambil mengedipkan mata mengoda.
Cih..
Pede amat nih orang , batin Lala kesal.
Setelahnya Lala berlalu menuju kamar mandi. sebelumnya ia sudah menyiapkan baju Rey.
"Udah siap?"
Lala melihat orang di belakangnya dari kaca hiasnya. "Udah!" Jawabnya sambil tersenyum kecil.
Sesampainya di bawah, keluarga kecil mereka sudah menunggu di bawah, "Yah anak muda jaman sekarang, tau gitu kita makan luan!" Kesal Rada pada anak yang sejak tadi di tunggu tunggu.
Lala melirik ke arah Rey. "Jadi kamu gak bilang kalo kita bakal makan di luar?" Tanya Lala yang berbisik.
"Lupa Sayang" Bisik Rey yang juga ikut berbisik.
"Geli aku dengarnya!" Balas Lala di sertai tawa.
"Kak, bakso mercon satu ya! " Jerit Yaya saat Rey membuka pintu. Lala membalikkan badan dan membentuk jari tangan menjadi oval. setelahnya mereka pun pergi.
...
Tiga bulan kemudian...
__ADS_1