My Anemy My Hubby

My Anemy My Hubby
bab72- Virus Apaan?


__ADS_3

...🍁🌵...


...Virus Apaan ...


Lala mengeliat malas, dengan helaan nafas kecil yang keluar dari dirinya. Ia memerengkan badannya dan langsung memeluk Rey dengan erat. Rey yang sebenarnya sudah bangun lebih dulu dari Lala, hanya kembali ikut tertidur.


Ia juga sempat mengira jika Lala akan bangun jika sudah mengelit seperti tadi, namun jauh dari dugaanya.


Rey pun membalas pelukan yang diberikan oleh Lala. Lala mendongak. ia tersenyum kecil melihat wajah Rey yang tampan. "Ternyata lo emang ganteng ya!" Ujar Lala yang kembali memeluk Rey dengan erat. Rey tertawa kecil di baik mata yang terpejam.


Ia membuka matanya dan balik melihat ke arah Lala. "Bangun yuk, udah siang!" Rey berucap dengan tangan yang mecubit pipinya Lala. Lala yang mamang masih kantuk pun terbangun.


"Bentar lagi, masih ngantuk!" Lala mengarahkan kepalanya Rey dan menyingkirkan tangan Rey yang mencubit pipinya.


"Oke.. kita tidur lagi!" Rey memeluk Lala kembali dengan erat. Dinginnya pagi ini hilang saat merasa hangat dari sebuah pelukan yang membuat rasa nyaman.


`....


Mely dan May bertanya tanya karena heran dengan tak adanya kemunculan dari pagi tadi. "Gila.. tuh anak, gue rasa bakal telat deh!" Bisik Mely. "Oh... jangan bilang kalo ini bakal jadi kebiasaan barunya!" Ujar Mely lagi.


"Gue rasa karna di pepet lakiknya tadi malam, tau lah lagi ngebet ngebet nya, biasa pengantin baru, tapi persi lama!" Ujar May dengan suara pelannya.


Mely memandang May dengan aneh, ia menjadi merinding setelah mendengar ucapan May. "Napa?" Tanya May heren.


"Nyeri aja Bayangin mereka di kasur. dan lo masih ingat gak, tentang kebiasaan Lala setelah siap mandi. auto ngelek deh otak gua mikirnya!" Mely memijat mijat keningnya.


"Aneh.. bisa bisanya lo bisa mikirin hal sampai ke situnya, sampai pusing lagi, karna penasaran gimana rasanya!" Ujar May. Lagi lagi May tak habis pikir atas apa yang dipikirkan oleh May.


"Lo kena virus apaan sih May! samapi sampai merasakan gimana rasanya. kita beda ma Lala. kita masih bocil!"


"Virus ngebet ngelakuin sama ayang!" Jawab Mely dengan cengiran. "Bener bener di masukin jin kafir tuh otak lu, sono rukiyah biar para jin yang menyimpang kalang kabut..


May tak jadi meneruskan ucapannya kala melihat guru yang sudah masuk ke kelas mereka.



Lala terbangun dengan sinar matahari yang masuk dari sela sela jendela kamarnya. Lala mendingak ke atas.


"Rey.. bangun udah siang!" Lala mencoba membangunkan Rey yang tampak tertidur dengan pulasnya. "Ih.. mimpi apapin sih sampe panggil panggil sayang?' Dengan kesal yang merasuki dirinya. Lala menekankan kedua pipinya Rey agar terbangun.


Sesuai keinginan, kini Rey sudah membuka kedua matanya dengan tangan yang mengelus elus pipinya. "Kalo mau cium ya cium aja, gak usah teken teken takutnya ke tekan.. ngaku abis mimpiin apa?' Lala langsung menginterogasi kayanya seorang dektetif.

__ADS_1


"Pagi pagi gak boleh di ketuk takutnya nanti nurun ke juniornya Rey!" Rey berucap dengan kedipan sebelah mata. Lala mendelik saat melihat jam di kamarnya. "Rey udah jam setengah sembilan!" Lala berucap dengan wajah tak percayanya.


"Sekolahnya gimana dong?" Lala terlihat resah dan murung. Cup.. Rey menyingkirkan poni yang menghalangi matanya Lala. 'Bau tau!" Lala menjauhkan badanya Rey. "Bauk bauk gini, memuaskan kan?" Goda Rey yang lagi lagi mengangkat alis sebelah.


Lala tak menjawab, ia memilih bangkit dari kasur dan menuju kamar mandi.


...


"Pagi bik!" Sapa Lala pada artnya. Matanya memutar mencari keberadaan Maminya. "Udah pergi non, tadi katanya ke butik sebentar!" Sang art berucap kala menyadari jika Mita sedang mencari cari Maminya.


'Dah lama bik?" Tanya Mita yang membukakan kursi untuk diduduki oleh Rey.


"Sekitar dua jam yang lalu non!" Jawab artnya Lala dan langsung pergi ke dapur. Lala melihat ponselnya. mana tau ada pesan masuk dari teman temanya.


_Lala


Sory sory.. gue baru pengangguran honsel😄


_Lala


Gue gimana? di buat alpa kah?


_Lala


Satu menit, dua menit, masih tak ada jawaban dari semua pesan yang ia kirim. Lala pun memutuskan untuk melanjutkan makan nya bersama dengan Rey.


Lala tersenyum manis melihat pantulan dirinya di depan cermin. Rey yang sejak tadi berbaring dengan memainkan ponsel, sesekali melirik ke arah Lala. Lala menghembuskan nafasnya ke atas. karna matanya yang tertutup oleh poni.


ia mendekatkan wajahnya ke depen, "Ini.. gue ada tai lalat?" Tanyanya yang baru menyadari tai lalat di pinggir bibirnya.


"Terlalu merah!" Rey bangkit dan langsung menarik tisu dari meja rias. ia mendudukkan Lala di kursi rias. tanpa ada kata yang keluar dari mulutnya. Rey langsung mengelap bibir Lala pelan pelen. Lala hanya diam saja, ia memperhatikan wajah Rey yang kini hanya berjarak tiga senti dari matanya.


Tangannya Lala memegang kedua pipinya Rey dengan kuat. Rey mendelik kala menyadari jika pipinya sedikit sakit karena ulah dari Lala.


"Sakit?" Tanya Lala. "Tapi ini gak sesakit saat lo ambil kehormatan gue!" Rey mencerna ucapan Lala barusan. "Apa masih sakit sampai sekarang?" Tanya Rey dengan tatapan sendunya.


Lala mencebik kesal, Ia melepaskan tangannya yang sejak tadi menguyek uyek pipi Rey.


"Dah ah.. gue mau pigi!" Lala langsung berlari meninggalkan Rey yang masih terdiam di tempat. Rey tersadar saat mendengar gedoran pintu yang sangat kuat. ia berjal menuju pintu dan saat akan membukanya. pintu itu sudah terbuka dari luar.


Lala tersenyum yang memperlihatkan gigi gisulnya. Ia mendorong Rey agar bisa ia diberi jalan untuk masuk ke dalam. "Nah ini dia!" Lala langsung menyimpan benda berbentuk oval itu ke dalam tas kecilnya. Ia cengengesan saat melihat Rey dengan wajah merah dan kerutan di keningnya.

__ADS_1


Rasa ingin marah Rey tercegah saat melihat senyum termanis yang Lala lihatkan padanya. Baru saja akan bertanya, pintu kamar kembali tertutup.


Lala melewatinya bengitu saja. Rey yang tadi tersenyum bahagia karena mendapatkan ciuman dari Lala ,kini harus kembali ke ordo kesalnya.


Niat akan akan membuka pintu dan memberi pelajaran untuk Lala. kini ia malah mendapatkan akibat dari pikiran kesalnya.


"Oh iya minta duit dong, dua lemar aja, tapi yang warna merah ya!" Bukanya merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan, Lala malah tersenyum dan meminta uang pada Rey, padahal kondisi Rey saat ini dalam kondisi terduduk di lantai.


Lala memutar arah kepalanya sana sini. tak terlihat Rey sama sekali membuat Lala kembali menutup pintu kamarnya, tak lama kemudian pintu kamar di buka kembali.


"Wuihh.. ternyata mantra gue ampuh juga!" Lala langsung meraba raba kantung celana pendek yang saat ini di pakai oleh Rey. Lala langsung diam saat kedua tangannya Rey mencekal kedua bahunya dengan keras.


"Auhh.. !" Lala sempat merintih sakit. "Minta duit!" Ucapan Lala dengan gaya sok nakalnya mampu membuat Rey luluh.


Suara klakson membuat Lala langsung melepaskan genggaman tangannya Rey dipundaknya. "Di mana biar gue ambil duitnya?"


Lala berucap setelah mendudukkan Rey di atas kasur. Rey membuka kesing hpnya dan memberikan dua lembar duit berwarna merah.


Lala langsung mengambilnya dan pergi dengan cepat. Sebelum menutup pintu, ia membalikkan badannya. "Dasar pelit!" Setelah mengatakannya, Lala pun langsung menuruni anak tangga.


...


"Senang banget nih silalai di samping gue, ada apaan! cerita dung?" Tanya Mely yang sempat sempatnya melirik Lala di sampingnya.


Sedari tadi Lala memang tersenyum senyum sendiri saat melihat Rey yang kapok atas ulahnya tadi. "Ah.. masalah pengentin baru, tau lah!" Jawab Lala dengan mengedipkan mata.


"La.. si May kemarin nanyak, gimana rasanya enak gak?" Tanya Mely yang sudah membuka lebar lebar telinganya. Lala terdiam mendengar pertanyaan Mely. Ia tersenyum kecil ke Mely.


"Kepo lo!" Lala berucap sambil tertawa kecil saat melihat muka geram nan kesal ke Lala.


"Kalo May yang nanyak gue rasa gak mungkin deh, tapi kalo lo yang kepo bisa jadi!" Lala dengan sengaja menjebak Mely. "Ya udah anggap aja pertanyaan yang tadi itu dari pertanyaan gue!" Ujar Mely dengan wajah keponya.


Puk..


Mely langsung melihat ke belakang saat merasa nyeri di kepala. "Cukup otak lo aja deh yang mereng kepala lo jangan, takutnya cintanya si bambang sama lo jadi ngambang!" Koceh May yang baru membuka suara, karna sejak tadi diam dengan ponselnya di belakang.


"Huh... mereng mereng gini yang bening bening pada ngantri!" Jawab Mely yang tak suka dengan komentar May.


"sekarang bening yang bagaimana nih, soalnya yang sekarang ini, beningnya sama. sebening kulit duren!" Ejek May yang mengingat kisah Bambang saat berusaha mendapatkannya, namun yang dapat bukannya dirinya melainkan sekawannya, gak lain Mely lah orangnya.


Lala dan May tertawa bersama saat melihat ekspresi Mely yang tak bersahabat. tiba tiba saja mobil yang di bawa oleh Mely berhenti mendadak, membuat dua orang di dalam mobil yang tadinya tertawa kini mengaduh kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2