
...🌵...
...Hamil ...
Lala yang baru saja pulang dari berbelanja dengan dua temannya, pangsung panik saat mendapati sang mertua yang pingsan di lantai.
Di liriknya sekitar rumah tak ada tanda tanda akan adanya orang dirumah. Nenek dan Yaya sedang berbelaja di temani oleh Bikik sedang Rey sedang berada di kantor mertuanya.
Tanpa perhitungan dan pikir panjang lagi, Lala meletakkan asal belanjaanya di lantai. Saat ini tujuan Lala adalah menelpon Rey. saat panggilan pertama, langsung di angkat oleh orang di seberang sana.
"Rey lo pulang cepat deh, Bunda_ Lala tak meneruskan ucapannya sesaat ia mengehela nafasnya degan kasar lalu kembali melanjut kan. namun belum sempat melanjutkan Rey sudah langsung memotong ucapan nya.
"Bunda? Bunda kanapa? ada apa sebenar nya?" Tanya Rey dengan antusias. "Gue gak tau Rey, yang penting lo cepetan pulang deh, gue gak tau Bunda kenapa! lo cepat pulang!" Ucap Lala pada akhirnya. Setelah memberikan penjelasan yang tak pasti, Lala langsung memastikan ponselnya, tanpa ada persetujuan dari Rey.
__ADS_1
Selepas putus nya panggilan telepon, Lala berlari ke ruang tamu, ia mencari minyak kayu putih di dalam kotak obat, setelah mendapat kan apa yang di cari Lala mengoles kan nya dengan penuh rasa khawatir kepada Bunda Rada. Walaupun yang saat ini pingsan adalah Bundanya Rey, tapi Lala sendiri menganggap nya sebagai Bundanya sendiri, bahkan rasa khawatir nya sama dengan saat Lala yang merasa gelisah dan takut di yang di sertai dengan khawatiran saat Bundanya yang pernah kecelakaan satu tahun lalu, bahkan Lala yang saat itu menjaga tak bisa tidur karena rasa khawatir nya yang mendalam bisa tidur
"Bunda! bun!" Pangil Lala saat merasa ada pergerakan pada orang yang sedang di bangku nyaya saat ini. Rada mencoba untuk duduk, namun karena kondisi nya yang masih terbilang lemas, membuatnya kembali berbaring di tempat. "Bunda di sini aja dulu, kalo udah mulai merasa baikan Lala bakal tuntun Bunda ke kamar!" Ujar Lala dengan membatu Bunda Rada agar duduk. "Bantar ya bun, Lala ambilkan air hangat dulu!" Pamit Lala dengan membenarkan polisi duduk Bunda Rada.
Rada tersenyum melihat wajah khawatir nya Lala, "Maafin Bunda ya, udah buat kamu khawatir!" Ujar Rada dengan mencoba mengatur nafas nya. Lala hanya tersenyum kecil saat mendengar ucapan Bundanya, ia mengambil alih gelas yang sudah kosong dari tangannya Rada. "Bunda mau istirahat?" Tanya Lala saat melihat letih nya wajah wanita seusia Maminya itu.
Rada mengangguk seraya tersenyum pucat. "Ayo bun, biar Lala bantu!" Ujar Lala sambil membantu Rada yang akan berdiri, keduanya pun berjalan beriringan menuju kamar kamar.
"Lala.. Lala.. La..!" Rey menjerit memanggil namanya Lala sambil memeriksa di setiap ruangan yang ada di rumah. sambil membuka pintu setiap tuangan dengan penuh tak sabaran.
Lain dengan Lala, ia yang merasa lega karna sudah melihat Bunda Rada yang sudah tertidur dengan pulas. Hal ini pun ia ambil untuk membersihkan barang belanjaannya yang ia rasa sangat berserakan. Saat Lala menutup pintu kamar, di kagetkan dengan suara kerasnya Rey, yang memanggil dirinya dengan keras. Lala menghela nafas dengan lega. "Untung gue punya atok jantung tiga. kalo gak bisa sekarat gue!" Batin Lala dengan kesal. Tambah kesal lagi saat Rey mengguncang kedua bahunya Lala dengan kuat. "Apaan sih! sakit tau!" Protes Lala dengan mencoba melepaskan kedua lenganya yang di pengang kuat oleh Rey.
Mata Rey menatap tajam ke Lala, hal ini membuat mental Lala menciut. "Bunda tadi pingsan, gue gak tau penyebab nya apa, waktu gue pulang udah pingsan di depen, sekarang udah baikan, cuma keliatan leleh dan kecapean aja kok, tapi muka Bunda pucat banget, sekarang udah tidur di dalam, tadi juga udah minum obat!" Jelas Lala dengan wajah yang menatap ke arah bawah. "Syukur lah kalo gak kenapa napa, tapi_" Rey menarik tangannya Lala dengan kaut. Tey membawa Lala kembali masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Lala hanya menuruti kemana Rey membawa nya. Di penganya wajah wanita yang telah melahirkan nya kedunia ini, "Bun!" panggil Rey dengan pelan. Lala memegang lengan kiri nya Rey dengan mengelus elusnya. dapat Lala lihat jika Rey sangat menyayangi Bundanya. Perlahan mata Bunda Rada terbuka. Rada langsung memperlihatkan senyum manis ke arah putra pertamanya itu. Rey pun tersenyum begitu juga dengan Lala.
...
Menjelang sore, kini semuanya sudah berkumpul di dalam kamar Bunda, mereka semua sedang menunggu kehadiran dokter yang biasa merawat keluarga El. Tak perlu waktu lama, seorang dokter wanita yang memiliki wajah lumayan cantik itu pun sampai. Setelah memeriksa keadaan Rada, dokter wanita itu, terus bertanya hal apa saja yang di rasakan sebelum terjadi pingsan. "Pagi tadi saya gak sarapan dok, karna nafsu makan gak ada, jadi cuma minum air putih doang, itu pun hanya setu tegukan. karena pait dok, sempat muntah muntah juga, waktu saya buka kulkas, karna bauk amis dok, siang ini makan dok, tapi cuma makan sedikit bisa di bilang sebagai tanda aja, kepala juga pening, saya usah sering merasakan hal ini semenjak dua hari terakhir!" Ujar Rada dengan suara pelan.
Nenek yang mendengar kata terakhir dari Rada langsung memukul pantat nya Papi El dengan kuat, "Kamu ini gimana, masa masalah istri yang gak selera makan kamu gak tau, syukur anakku cuma pingsan dan gak perlu masuk rumah sakit, kalo masuk rumah sakit, Ibu gantung di kulkas sampe lima hari!" Omel Nenek dengan mendekati menantunya, gak lain adalah Rada.
"Yang anaknya siapa, yang diakuai siapa, serasa anak candangan!" Ucap El dengan lemas. "Bukan candangan Pi, tapi peralihan!" Sambung Lala yang mendapat kan tarikan di tanganya oleh Rey. "Gak bakal Papi makan istri kamu, lebih enekan Bunda kamu!" Ucap El membisik ke Rey. Rey tak menghiraukan lagi, ia hanya memandangi Lala dengan wajah serius nya.
Dokter wanita itu tersenyum kecil mendengar penjelasan pasienya. "Kenapa? apa ada hal yang aneh?" Tanya Nenek dengan tak sabaran. bukan hanya Nenek yang tak sabaran mendengar jawaban sang dokter, Lala, Rey, dan juga Papi. "Maaf buk, apa bulan ini udah datang bulan?" Tanya Dokter itu dengan tatapan serius nya. mendengar pertanyaan itu, semuanya terlihat tajam ke arah Bunda Rada. "Tapi saya udah suntuk kb, apa saya_" Rada tak lagi mengucapkan ucapan nya karna mendapatkan pelukan dadakan oleh suaminya. "Hamil El! aku hamil lagi!" Ujar Rada dengan tak percaya. Seketika badanya kembali lemas, ia merasa tak percaya di usia yang sudah berkepala empat akan memiliki anak lagi, ia sendiri merasa ganjal, dan tak pernah berharap jika menginginkan anak lagi, bahkan Rada selalu suntik kb.
Lala sampai menangis haru melihat harmonisnya keluarga ini, ia juga ikut merasakan bahagia, Rey menarik Lala ke dalam pelukanya sambil mengelus rambut nya dan mengelap air matanya Lala. "Tapi saya sarankan periksa terlebih dahulu dengan testpack agar tau hasilnya atau jika ingin lebih pasti langsung ke ke doktor kandungan saja karna pasti akan lebih memastikan," Ujar Dokter wanita itu sambil memberikan beberapa obat peredang pusing dan menambah nafsu makan. "Saya sarankan, untuk ibuk, jalan sering ke dapur dahulu, namun jika menurut saya, ibuk emang lagi mengandung, selamat buat ibuk dan bapak!" Ujar Dokter itu dan berlalu pergi dengan di antar oleh Lala.
__ADS_1