My Anemy My Hubby

My Anemy My Hubby
Bab76- Nurut dong Oma..


__ADS_3

Lala dan Rey yang baru saja sampai di depan rumahnya Mami Roni, langsung di sambut hangat oleh Omanya Lala. Emang sang Oma sangat menanti nanti kedatangan Lala, sejak beberapa hari sang Oma tinggal di sini, Lala hanya bertanya kabar melalui jalur telepon saja. karna berhalangan Bunda Rada yang mengalami keguguran. ketika mendengar jika Lala akan datang dengan suaminya, sang Oma langsung menyiapkan makanan kesukaan Lala.


"Oma..!" Lala langsung memeluk omanya dengan erat, senyum Lala mengembang saat melihat Omanya yang tampak sehat. "Gimana kabar Oma!" Lala berucap di selingi ciuman di pipi kanan Omanya.


Omanya pun berbalik mencium pipi nya Lala. "Baik Lala, ini.. ini suaminya Lala sekaligus seorang yang akan membimbing Lala untuk kedepannya!" Balas Rey diiringi dengan senyuman bersamaan dengan ciuman di punggung tangannya Oma.


Lala hanya melihat Rey sekilas, ia masih merasa kesal atas kejadian di kantin tadi siang.


Tak lama muncullah seseorang di balik pintu. seseorang yang menjadi tujuan utama Lala dan Rey datang.


"Oh udah pada datang ya ma, ayo masuk masa pada ngobrol disini, gak asyik lah gak ada camilannya!" Mami Rosi langsung menuntun Oma nanun di tolak oleh Oma. karna ia ingin di tuntun oleh Lala.


Lala pun dengan senang hati membawa Oma sampai ke ruang tamu.


Lala hanya bisa pasrah ketika sudah duduk diruang keluarga, ia terus menerus di tanyain oleh Omanya tentang hari hari setelah ia memiliki status yang berbeda. Mami Rosi sendiri pergi ke dapur mengambil air. "Gimana cucu Oma ini, nurut gak sama kamu!" Sang Oma yang sejak tadi menanyai Lala kini beralih ke Rey.


"Nurut dong Oma, sanging nurutnya, Lala gak boleh punya teman cowok!" Lala berucap dengan senyum mengejek ke arah Rey, tangannya mengeliat manja di lengan Omanya. "Oma mangkin tua, mangkin cantik, tutornya dong Ma !" Puji Lala diiringi dengan tawa. Posisi Lala saat ini masih memeluk Omanya.


'Kalian satu sekolah, satu kelas?" Lala menggelengkan kepalanya. posisinya masih setia berada di pelukan Oma.


"Oma, Rey gak pernah merasakan.. merasakan apa?" Sambung Lala dengan nada sanggar. "Merasakan manjanya Lo saat di ka.." Lala langsung mendekap mulutnya Rey dengan kue kering yang sejak tadi sudah di sediakan di meja.


Oma hanya tersenyum melihat Cucunya dengan suaminya itu. Tak lama Mami Roni pun datang dengan nampan berisi air kopi dan susu. "Kok tumben buat Susu?" Tanya Lala, karna diingat nya Omanya tak suka sama sekali dengan Susu.


"Buat kamu lah, masa ia buat Oma!" Lala hanya melihat Maminya dengan bingung.


"Bukanya Lala suka kali dengan susu!" Tanya Omanya saat melihat wajah tak suka dari Lala. "Bukan gak suka Oma, tapi.. buat gua aja!" Rey yang tadinya akan meminum kopi, kini mengambil Susu yang berada ditangan Lala.


tumben biasanya gak suka susu, kalo gak dari asalnya


"Apa cucu Oma gak suka susu lagi?" Tanya Oma dengan nada sendu.


"Suka Oma, tapi beberapa hari ini kalo gak tau kenapa gak suka!" Jawab Lala yang tau jika Omanya murung. Lala membelai lembut kemari Omanya. Sang Omanya pun membalas Lala dengan sembelai rambutnya Lala di sertai dengan senyum kecilnya.


Tak lama setelah bercanda tawa, Semuanya pun makan malam yang diisi dengan keheningan malam. Lala membereskan meja di bantu oleh Rey, sedang Mami Roni dan Oma sudah duduk manis di depan tv.


"Rey.. rey.. !" Lala memanggil Rey yang sibuk membersihkan meja, sempat membuat Rey heran, namun tanpa bertanya, ia pun mendekati Lala. "Tolong ikatan rambut dong, panas banget!" Koceh Lala dengan nada sewot. Rey pun menuruti saja apa yang di mau oleh Lala.


Di tempat lain, jauh dari keberadaan Lala dan Rey. Mely yang sedang mengerjakan tugas bersama dengan May, hanya cekikikan saat membalas pesan dengan Bambang. May yang sejak tadi leleh mencari pun beranjak dari duduknya.


Mely yang tak sadar jika May tak lagi berada di sampingnya. Masih asyik dengan ponsel di tangannya.

__ADS_1


"Hahh.. leleh juga ya!" May merebahkan badannya di kasur. "Naseb amat sih, gak punya ayang, sampe sampe temen di lupakan!" gerutunya dengan nada menyindir diri sendiri.


trrttt..


Dengan gerakan malas, May mengangkat panggilan telepon tanpa melihat siapa yang meneleponnya. "Ia langsung menjauhkan ponsel nya dari telinganya ketika mendengar suara cempreng dari sipenelpon.


May menghela bafasnya, lalu bengkit dari berberingnya, ia duduk di pinggiran kasur sambil menaruh bantal di pahanya.


"Pelan pelan kalo ngomong. bisa jadi tiga kuping gue gara gara lo!" Omel May yang menjawah Mely.


Malas mendengarkan kocehan dari Mely, Ia pun mematikan ponselnya dan kembali berbaring.


Baru saja akan memejamkan matanya, suara pintu yang di buka dari luar dengan kuat, membuat May ripleks terduduk. terlihat Mely di dengan muka embelnya, setelah tau rupanya Mely menangis, membuat May menautkan alis heran.


"Napa lo, diputusi Bambang?" Tanya May sambil menononyor kepala Mely agar tak bersandar di pundaknya.


"Liat nih!" Mely menunjukkan poselnya ke May. "May sampai mendelik melihat nya. "Trus apa hubungannya sama lo?" Tanya Mely yang membalikan ponsel ke tangannya Mely.


"Masalahnya, ini cewek bukan ceweknya Bambang, tapi adeknya, lo tau kan gue pernah tunjang nih cewek, gara gara gue curiga kalo Bambangselingkuh sama nih cewek.


"Terus?" May sebenarnya tak mood sama sekali mendengar curhatan Mely, namun karna keadaan yang memaksa, akhirnya bersedia dengan muka malasnya.


trus tadi waktu gue video call, muka tuh cewek yang muncul, gue sempat kaget kan, kok bisa ponsel si Bambang sama nih cewek. apalagi gue liat latarnya itu di kamarnya si Bambang. karna gue gondok dan kesal gue adu mulut dong sama tuh cewek, eh pas usah mau sampai pinal si Bambang rebut ponsel sama tuh cewek.


"Trus.. reaksi lo selanjutnya gimana?" Tanya May sambil menguap.


"Tutup dulu mulut lo bauk jigong lo!" Canda Mely dengan senyum kecil nya. "Mana jingong lo bauk mayat kering lagi"


May hanya mencebik kesal. ia pun menarik selimut mau tidur. namun hal yang di lakukan May membuat Mely kesal.


Mely pun kembali membangunkan May dan memberi tau jika ia langsung shock. "Oh.. jadi alurnya sama dong, sama film


...


Setelah kedatangan Mami Roni ke Rumah mertuanya Lala. membuat Bunda Rada sedikit bersemangat. bahkan Bunda Rada lebih menjadi sering memanjakan Yaya. Melihat istrinya yang sudah mulai terbuka lagi, Papi El pun turut bahagia. Hal ini membuat Lala merasa bahagia, Rey serta sang Nenek pun ikut merasa nyaman, karena semuanya kembali ke posisi semula, walaupun ada seseorang yang harus pergi sebelum melihat apa itu dunia. Kini keluarga besar itu sedang berada di depan meja makan. tak kecuali Bunda Rada dan Yaya.


Mereka semua sedang menunggu kedatangan Bunda Rada, "Biar Lala panggil ya!" Lala pun beranjak dari duduknya. namun tangannya di cekal oleh Rey.


"Duduk aja, bentar lagi juga datang!" Lala pun hanya menuruti apa yang Rey ucapkan.


Banar apa yang telah di ucapkan Rey barusan. Setelah satu keluarga itu sudah duduk manis di tempat masing masing. akhirnya mereka semua memulai untuk makan.

__ADS_1


...


Tak terasa mendekati ujian semester akhir, para anak kelas tiga di sibukan dengan belajar. Lala yang biasanya akan bergabung dengan May dan Mely kini tak pernah lagi di otaknya saat ini hanya ingin serius dengan kata belajar.


Jika Rey, ia pun tak kalah sibuk dengan Lala, di dalam sibuknya belajar, ia juga disibukan dengan semangkin mengeluti bisnis Papinya. Ia juga lebih sering berkunjung di kantor. setelah mengantar Lala sampai di rumah. maka ia akan memutar balik arah menuju kantor Papinya, hal ini sering ia lakukan belakangan ini.


Lala yang leleh membaca, Lala memilih bangkit dari duduknya ia berjalan menunju laman belakang, dimana ada Bunda Rada dan Yaya yang sedang mandi sore.


"Begitu tiba, baju Lala langsung basah karna kena siram air oleh Yaya. Lala hanya meberengut sambil menatap Yaya dengan tatapan musuh. "Ih.. seram!" Yaya berjalan cepat menuju Bundanya.


"Ayo mandi!" Ajak Rada yang mulai ikut menyiram Lala dengan air. "Gak bisa renang bun!" Keluh Lala yang saat ini memasukan kakinya ke air kolam. "Bunda ajari!" Ujar Rada dengan senyum ajakan. karena terlanjur basah, akhirnya Lala pun ikut mandi.


"Kak Lala cemen, masa gak bisa renang!" Ejek Yaya sambil memeletkan lidah mengejek ke Lala. Yaya saat ini sedang di gendang dari belakang Bunda Rada. "Ayo bun, ajari Lala, biar bisa tandingi Yaya yang sombong!" Lala sudah berdiri dengan posisi siapnya.


Bunda Rada hanya tersenyum tipis melihat kedua anaknya itu. Yaya pun di turunkan di pinggir kolam dengan ban air gambar bebek. Lala mengejek sebelum mulai berenang.


'Bun.. Lala bisa bun. tapi gaya batu!" Ujar Lala diiringi senyum kecil. "Mana ada gaya batu, kamu itu aneh aneh aja, sini biar Bunda ajari.


Cukup lama Lala berlatih, akhirnya ia bisa juga dikit dikit. "Ayok kita lomba!" Tantang Lala.


"Ayo!" Yaya pun merentangkan kedua tangannya pada Bundanya.


Lala tersenyum puas saat ia berhasil mengalahkan Yaya. "Yah cemen!" Ejek Lala diiringi dengan menyiram Yaya dengan air.


Menjelang sore ke kekuningan mereka pun menyudahi aksi mandi Meraka.


Lala yang baru saja keluar dari kamar mandi. merasa kaget saat pintu kamar mandinya di tutup rapat. "Segitu kebelet nya kah?" Tanya Lala di sertai dengan gelangan kepalanya.


"Masih banyak ya?" Lala yang memang menunggu Rey kinu harus bangkit dari duduknya. ia mendekati Rey dengan mengalungkan tangannya ke leher Rey.


"Kenapa gak tidur?' Tanya Rey yang masih pokus ke laptop di depannya.


"Gak bisa tidur, gak ads yang meluk!" Jujur Lala. ia pun duduk di sampingnya Rey. Rey tersenyum kecil mendengar jawaban Lala. hubungan keduanya mangkin hari mangkin baik. di tambah adanya perjanjian di antara keduanya masalah suami istri di antara keduanya di hilangkan. apalagi karena merasa ingin pokus karena saat ini sudah mendekati ujian.


Lala meletakkan kepalanya di bahu kiri Rey. Rey kembali tersenyum, ia membelai rambut Lala lembut.


"Bentar lagi gue siap!" Jawab Rey yang dengan sempat nya mengecup kening Lala sekilas. Lala hanya menganguk kecil. Ia memilih memainkan ponselnya kembali. Lala tersenyum ketika membaca pesan dari Ella.


"Kenapa?" Rey yang tadinya pokus dengan layar di depannya, kini merasa curiga dengan tingkah orang di sampingnya. apalagi melihat Lala yang tersenyum sambil tertawa kecil.


"temen!" Jawaban Lala membuat Rey merasa curiga. tanpa ada niatan bertanya lagi, ia pun merampas ponselnya Lala dengan kasar. Lala sendiri mengira jika ponselnya akan jatuh untuk ketiga kalinya, dengan orang yang sama, untuk Rey mengambil nya dengan cekatan.

__ADS_1


"Gue gak chatan sama cowok lo.. kan gue bilang teman!" Lala merampas ponselnya kembali, lalu beranjak dari tempatnya.


Rey pun merasa bersalah juga. ia pun hanya garuk garuk kepala, rasa cemburu nya dengan Lala membuatnya merasa salah tingkah.


__ADS_2