My Anemy My Hubby

My Anemy My Hubby
bab74- Keguguran


__ADS_3

...🌵...


...Keguguran...


Lala berdiri di depan ruangan di mana di dalam ruangan itu ada Bunda Rada yang sedang di periksa. Papi El sama dengan Lala, ia mondar mandir di depan pintu, dengan wajah menahan cemas disertai dengan tatapan penuh kekhawatiran.


Lala hanya diam di depan pintu, sambil melihat Papi El di depannya.


di lain tempat, Rey dengan kecepatan tinggi melaju menuju rumah sakit dengan Nenek yang duduk di sampingnya. sang nenek tak henti hentinya berdoa, ia berharap jika Rada dan kandungannya dalam keadaan baik baik saja. jika cemas. kedua orang di dalam mobil itu sedari tadi juga merasa cemas.


Tak lama mobil pun menepi di sebuah rumah sakit yang tadi alamatnya di kirim Lala.


Setelan bertanya di mana dan di ruang berapa dua manusia yang cukup jauh perbedaan usia itu, berjalan beriringan menuju tempat yang di dituju.


Setelah sampai di lantai dua, jalan keduanya semangkin melebar. Rey menggenggam tangan sang neneknya dengan sangat erat.


Bertepatan saat kedatangan Rey dan Nenek, pintu di ruangan yang di tunggu tunggu pun mulai terbuka. yang mana langsung memperlihatkan seorang wanita yang langsung terdengar helaan nafas dari wanita yang di Lala duga dokter.


Wanita itu membuka masker, dan menatap satu persatu orang di depannya. Papi El yang gak sabaran, tanpa kejelasan, langsung mau masuk saja. namun dengan lihat dua perawat menggelengkan kepalanya, menandakan ketidak bolehan masuk.


"Dia istri saya, saya suaminya!" Cetus Papi El dengan wajah kesal.


"Maaf pak, pasien masih dalam keadaan pemeriksaan, dan hal ini berkaitan dengan janin yang sudah berusia sebelas minggu itu pak, jadi tolong dan harap bersiap tenang!" Kali ini wanita yang berstatus dokter itu membuka suara.


"Janin...! maksudnya hal ini membahayakan anak saya begitu?" Tanya Papi El yang sudah mulai lemas.


kedua suster tadi, kembali masuk ke dalam ruangan, sedang dokter wanita itu mengajak Papi El ke ruangnya, sang Nenek juga ikut serta ke ruangan dokter wanita itu, ia berjalan di bantu oleh Papi El.


Selepas kepergian keduanya. tersisa Rey dan Lala di tempat. Lala membuang nafas dengan lemas. ia berjalan mendekati Rey yang masih saja diam di tempat sejak kedatangan dengan sang Nenek.


"Rey !"


Rey langsung menoleh ke sumber suara. Ia berjalan pelan mendekati Lala dan langsung menarik Lala ke dalam dekapanya. Lala membalas pelukan Rey dengan penuh rasa khawatir. ia tau jika cowok yang saat ini sedang berada di hadapannya adalah cowok yang tak bisa melihat wanita di dekatnya tersiksa apalagi seperti saat ini.


Keduanya berdua dalam kondisi seperti ini, keduanya saling berinteraksi melalui kontak batin.


Setengah jam kemudian. Kini wajah tengang terlihat jelas di wajah keempat orang yang sedang berdiri di depan ruangan Bunda Rada di rawat. Seperti saat di dalam mobil tadi, Nenek tak pernah berhenti mengucapkan doa pada sang anaknya itu.


Lama sang Nenek berdoa, dilihatnya kalau Anak, sekaligus mantunya itu sedang berdiri di depan pintu dengan tangan kanannya yang memegangi knop pintu. tangan kiri Nenek meraih tangan kirinya El dan mengengamnya dengan erat.

__ADS_1


Lala yang melihat interaksi antara mantu dan mertua pun menarik tangannya Rey mendekati tangan Papi El. sebelum menjelaskan apa maksud dari Lala. pintu sudah terbuka.


Dokter wanita itu menggelengkan kepala pelan. tau arti dari gelengkan tersebut. El kembali menyosor masuk ke ruangan dimana istrinya di rawat.


Kali ini tak lagi di cegah oleh para suster apalagi Dokter. bahkan Nenek, Lala, dan Rey pun ikut menyusul masuk ke dalam.


Matanya Lala melebar saat melihat gumpalan darah yang terlihat seperti sebuah daging namun di selimuti oleh darah kental. Lala yang ingin bertanya apa itu, langsung sadar kala Rey mengengam tangan kanannya Lala dengan lebih erat.


Nenek sudah menangis dengan memegangi tangan Rada dengan lemas. El hanya dapat merutuki kebodohannya karna rasa malasnya tadi malam untuk mengambilkan minum dan camilan untuk Rada kini beralih menjadi sebuah kenyataan pahit di akhirnya.


Rey menunduk dan langsung meletakan kepalanya di dada Lala. Lala mengelus elus rambutnya Rey dengan pelen. ia tau dan takin jika Rey merasa sedih dengan apa yang di alami dalam keluarga ini.


Keadaan Bunda Rada yang memang masih lemah dan tak ada sadar sejak kegugurannya tadi malam, membuat Lala dan Rey yang menjaga Bunda Rada di rumah sakit. sedang Papi El dan Nenek sedang mengurus makam janin yang masih belum terbentuk itu.


Bahkan sampai hari mulai larut pun belum ada tanda tanda akan sabadarnya Bunda Rada. Lala mengelus puncak Rey dengan lembut. Rey melihat nya, "Gue gak tau gimana keadaan Bunda nantinya saat tau... Lala menutup mulut Rey dengan jari telunjuk nya.


Matanya ikut melihat kearah Lala tertuju. Rey langsung bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati kasur di mana Bundanya berbaring.


Wajah pucat itu perlahan membuka matanya dengan pelan. Rey yang tau akan bundanya yang mulai siuman, menggenggam tangan kakan Bundanya dengan erat. sedang tangan kirinya menggenggam tangan kanannya Lala.


"Gimana bun! apa yang sakit?" Suara Rey terdengar parau karna tak tega melihat pucatnya orang yang telah melahirkan dirinya.


Sepuluh menit kemudian. Papi El dan Nenek sudah berads di sekitar Rada, termasuk Lala dan Rey.


seorang suster yang baru saja keluar setelah mengati infus itu menyarankan agar tidak banyak bertanya dulu dengan pasiennya.


...


Kedua temannya Lala terus menerus memberikan solusi tentang masalah yang di hadapi oleh Bunda Rada. Sudah dua hari berlalu. semenjak kejadian keguguran Bunda Rada, Bunda Rada lebih banyak diam, kadang suka melamun sampai lama, kadang suka mengelus elus perutnya sambil nangis tanpa suara,. dan selama dua hari ini, Bunda Rada gak pernah memasuki area dapur. semua hal ini membuat Lala menjadi khawatir dengan kondisi Bunda Rada.


Lala langsung mengangkat kepalanya yang sejak tadi di letakan di atas meja.


"Apa gue ajak Mami ke rumah ya?" Tanya Lala yang sedikit segar. "Lah jadi masalah ini, Mami lo gak tau?" Mely berucap sambil memesukan sesendok nasi goreng ke mulutnya.


Lala menganguk dan langsung bangkit dari duduknya. "Mau kemana?" Tanya May yang melihat Lala berjalan ke arah pintu.


"Ke kelas lakiknya dong, masa ia ke kamar mayat!" Jawab Mely yang langsung mendapatkan tepukan di kedua pundaknya oleh Ella dan May. "Ini di sekolah Mel! bukan di rumah, suara lo bagai suara di toak, udah keras, kuat, cempreng pula!" Cibir May yang ketus.


"Aieh.. ini teman ape rival sih, omongan nya pedes kaya netizen +62 ditambah tangan lemas lo dua bikin gue ketawa geram!" Jawab Mely yang langsung membalas tepukan di Ella dan May.

__ADS_1


kepala Lala langsung menyembul di balik pintu kelasnya Rey. Untuk pertama kalinya ia datang ke kelas ini. membuat mata Lala memutar mencari keberadaan Rey.


"Asek.. pagi pagi udah di cariin ma ayang nih!" Goda Bagas sambil menyentil bahunya Rey pelen.


Mata Lala terus memutar, mencari keberadaan Rey berada. Matanya langsung berhenti kala melihat rival seasianya itu yang sedang menatapnya dengan tajam. Lala pun menatapnya seakan acuh.


"Cari siapa?" Ryan yang memang baru saja tiba di kelas, dan mendapati Lala sedang celingak celinguk langsung menyapa Lala.


"Ih.. ngagetin aja lo!" Lala tersenyum kecut dan langsung mendapatkan tawa kecil dari Ryan. "Gak lucu tau!" Sebal Lala dengan tangan yang menepuk bahu kirinya Ryan. "Adil!" Ujarnya yang kembali tersenyum.


Ryan terdiam sesaat. "Lo pagi pagi cariin gue ya?" Tanya Ryan dengan pedenya.


Lala menggoyangkan jari telunjuknya di hadapan Ryan. "Gue lagi cari lakik gue!" Ujar Lala di selagi dengan tawa. "Ya udah, kan gue lakik lo untuk masa depan lo!" Jawab Ryan masih dengan mode senyum manisnya.


"Senyum lo manis juga ya!" Rey semangkin tersenyum lebar saat mendapatkan pujian dari orang yang di sukainya itu.


"Tapi lo kan belum co... Ikut gue!" Rey langsung menarik tangannya Lala agar menjauhi kelas.


baru beberapa langkah. tangan kirinya Lala ditarik oleh Ryan. "Lo mau bawa cewek gua kemana?" Tanya Ryan dengan tatapan tajam ke Rey.


Lala sampai memicingkan sebelah matanya, saat mendengar ucapan dari Ryan. Rey menghentikan langkah kakinya, ia menatap Ryan sejenak lalu beralih ke Lala. dapat Lala lihat, bahwa Rey membutuhkan penjelasan dari Lala, ada setitik kekhawatiran di dalam lubuk hati Lala saat melihat tatapan tajam dari Rey.


Rey berjalan mendekati Ryan, ia menetap Ryan dengan wajah permusuhan lalu melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Lala. Rey langsung pergi tanpa mengucapkan sebuah jawaban untuk Ryan.


"Lo belum jawab pertanyaan gue Rey!" Ryan bersuara sedikit meninggi. Rey kembali menghentikan langkah kakinya, dan menatap Ryan lebih tajam dari sebelumnya. "Ryan, gue harap lo gak usah ikut campur masalah gue sama R... " Lala langsung berlari kecil mengejar Rey yang pergi meninggalkannya.


Sedang beberapa orang yang sempat melihat kejadian tadi saling berbisik mencari apa hubungannya Lala dengan Ryan begitu juga dengan Rey.


"Apa gue bilang aja ya? tapi kalo gue bilang itu artinya gue teman yang gak bisa jaga amanah dong!" Bagas yang merupakan salah satu penonton pun merasa sedikit ganjal melihat Ryan yang tak bisa melepaskan Lala. Apalagi mengaku Lala sebagai pacarnya.


Lala langsung mendekat ke arah Rey, saat pria di depannya sudah berdiri lama di depannya. "Lo marah?" Lala berucap pelan namun masih terdengar jelas oleh Rey. Tanganya menggenggam kedua tangannya Rey dengan erat. Rey melepaskan genggaman tangannya dari Lala. Matanya yang semula menghadap ke depan kini ke samping. Melihat wajah datar Rey di depannya, sekaligus penolakan dari Ray membuat hati Lala tersentil.


"Sejauh apa hubungan lo sama dia?" wajahnya Rey masih menatap ke samping. walaupun dari samping kerutan di dahinya masih sangat terlihat jelas. Lala menghela nafas kasar dan berjalan mendekati wajah Rey bertuju. Lala kembali meraih kedua tangannya Rey agar di genggamnya. namun hal yang sama yang Lala dapatkan.


"Jawab gue!" Hanya sebuah suara keras yang terdengar dari Rey. Lala sampai mengelus dadanya kerna kaget.


"Lo cemburu?" Tanya Lala disertai senyum tipisnya. Lala langsung menutup bibirnya Rey dengan tangan kanannya. "Lo tau kan, kalo Ryan itu suka sama gue, bahkan semenjak kita SMP sampai sekarang. tapi gue gak pernah tanggapi dia sama sekali.


"Gue sendiri memang berpikir akan merasakan pacaran di saat gue udah lulus SMA ini, dan gue entah dorongan dari mana, semenjak kejadian di kantin waktu itu, gue mulai membuka hati untuk membalas semua upaya dia!"

__ADS_1


"Maksud lo, lo mau membalas cinta dia, begitu?" Tanya Rey yang masih membuang muka kearah lain.


__ADS_2