
...🌵...
...Ternyata Kita Saudara...
Langkahnya Lala berhenti saat melihat Maminya yang sedang menelpon seseorang dengan wajah yang tak bisa di artikan bagi Lala. bahkan Lala yang sejak tadi berada di dekatnya pun tak di sadarinya sama sekali. Begitu panggilan selesai, Lala langsung memanggil Maminya.
"Mi..!" Sang Mami mengelus dadanya kaget. "Siapa Mi?" Tanya Lala dengan suara pelan.
Tampak Mami Rosi yang sedang berpikir sebelum menjawab .
"Temen lama!" Jawab Mami Roni dengan gagu.
Roni menatap Lala dengan perasaan was was. sebenarnya yang menelponnya barusan adalah Rada, Bundanya Rey sekaligus mertuanya Lala.
"Tum_Mi, ada yang mau Lala omongin ke Mami, tapi perlu tempat tenang!" Lala langsung menarik Mami Rosi dan merangkulnya dengan menuju ke belakang rumah.
Lala teringat kembali akan perkataan Bunda Rada padanya. Lala membuang nafas berat lalu menatap maminya dengan perasaan campur aduk. "Mii..!" Lala memeluk Maminya dengan erat. Ia menangis sejadi jadinya di perlukan Roni. Roni yang masih bingung dengan situasi seperti ini pun, hanya mampu bertanya dengan perasaan yang heran.
"Ada masalah apa sayang?" Roni berucap seakan akan tak bersikap heran.
Lala hanya diam sambil menatap Roni dengan rasa kagum, ia tak menyangka ternyata di balik sikap tegas dan rasa kasih sayang Maminya padanya membuat hanya bisa diam dengan menyimpan rasa sesak di hatinya.
"Kamu lagi bertengkar sama Rey! cerita ke Mami, jangan nangis begini!"
Lala hanya tersenyum tipis. "Mami jujur ya sama Lala!" Ucap Lala dengan nada seraknya.
Perasaan Roni menjadi tidak keruan saat mendengar kata jujur. "Kamu mau ngomong apa, Mami siap membantu dan memberi solusi buat kamu!" Roni menyingkirkan pininya Lala ke samping.
"Siapa ayah Lala?" Keluar sudah kata yang sejak tadi di hindari dari Roni, perasaannya susah di artikan, ia bingung harus menjawab jujur atau mengatakan hal yang lain.
"Mami, tolong jujur!" Ucap Lala lagi.
"Dia udah gak ada, gak usah di bahas lagi!" Rada menjawab sambil mengalihkan pandangan matanya dari Lala.
Lala menarik nafas berat. Sungguh bukan jawaban seperti ini yang ia inginkan. "Mami.. Lala pengen kejujuran Mami, tapi kenapa Mami selalu saja membohongi Lala lagi dan lagi!"
"Apa sebegitu susahnya Mami mengatakan yang sebenarnya ke Lala?" lagi lagi Lala merasa heran dengan Maminya ini.
"Mi! Lala masih punya ayahkan! dia masih ada kan?" Tanya Lala yang berusaha menetralkan suaranya.
"Kenapa bahas masalah ini, bukannya dari dulu udah Mami jelaskan kalo Ayah kamu itu udah gak ada udah meninggal!" Jawab Roni dengan suara yang sedikit meninggi. "Maafin Mami sayang, Mami takut kamu akan benci dengan Mami dan akan pergi mencari ayahmu yang berengsek itu!" Roni bermonolog dalam hati.
Lala memberanikan diri menatap ke arah Maminya. "Lala cuma pegan kejujuran Mi, gak mau yang lain!" Suara Lala juga ikut meninggi.
"Kalo kamu cuma mau cari masalah dan buat Mami marah, lebih baik kamu pulang aja, jangan buat Mami mangkin emosi!" Ketus Roni yang bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Lala bukan mau cari masalah apalagi buat Mami emosi, tapi Lala hanya ingin memastikan dan tau siapa Ayah kandung Lala. awalnya Lala berpikir jika sekarang Mami akan menjawab dengan jujur, tapi semua yang harap melesat dari pikiran Lala. Lala tau Mi.. kalo Ayah masi ada, dan Lala juga tau Mi, kalo Ayah adalah pria yang tak tanggung jawab, Lala juga tau kalo Ayah hanya masuk ke dalam hati Mami buat balas dendamnya aja, tapi setidaknya Mami jangan menyiksa diri hanya untuk menyimpan masa lalu pahit itu, Lala juga merasa sakit Mi.. sakit benget.. Lala yakin seribu menyakitkan rasa yang Mami pendam saat ini, dan sakitnya Lala saat mengetahui Ayah kandung Lala, tak ada apa apanya dengan apa yang Mami rasa.
Roni menitiskan air mata. memang benar atas apa yang Lala ucapkan padanya. ia memang lebih suka menyimpan masalahnya sendiri di banding membagi masalahnya dengan orang lain.
Lala menggenggam tangan Maminya dengan erat. "Lala minta tolong Mi, apa bener pria ini adalah Ayah Lala dan apa benar Pria ini yang buat Mami menanggung semuanya!" Roni tak bisa berkata kata saat melihat poto mantan suaminya dengan dengan dirinya yang tersenyum bahagia. Roni langsung menyobek poto mantan suaminya itu.
"Ingat sama Mami!" Jika suatu saat nanti kamu ketemu denga pria ini, jangan sekalipun kamu menganggapnya Ayah kamu, dan ingat karna ulah ayahmu ini, Mami kehilangan Opa kamu!"
Lala langsung memeluk Maminya dengan sedikit rasa lega. "Mami tenang aja, setelah apa yang ayah lakukan ke Mami, pasti bakal Lala balas!" Batin Lala dengan niat buruk.
'Maafin Mami yang gak bisa menghadirkan seorang ayah buat kamu!" Lala langsung mendongak dengan gelengen kepalanya.
...
Semenjak Lala yang mengetahui siapa ayahnya. Ia lebih sering melamun. "Mikirin apa?" Tanya seseorang yang langsung memeluk Lala dari belakangnya.
"Mikirin kamu!" Jawabnya asal. Mendengar ucapan Lala. Rey langsung membalikkan badannya Lala agar menghadap ke arahnya.
"Gak dingin apa, di luar terus?" Tanya Rey sambil mengelus kedua pipinya Lala gemas.
"Sakit tau!" Kesal Lala, diiringi mulut yang cemberut.
"Cup!"
"Kalau cemberut lagi, gue cium lagi!" Ujar Rey yang dengan sengaja. Lala menarikkan sudut bibirnya keatas.
"Awas ke bawa suasana!" Bisik Lala, setelehnya ia mengedipkan matanya sebelah.
Selang kepergian Lala, Rey meremang di tempat. "Dasar, kalo aja gue gak buat janji sama lo, dan gue makan lo!" Rey menggelengkan kepalanya dengan cepat dan mengusul Lala ke dalam.
Matanya langsung tertuju ke Lala yang berada di kasur. "Tidur yuk!" Ajaknya sambil menepuk nepuk kasur di sampingnya.
Tanpa menjawab, Rey langsung mematikan lampu dan berbaring di sampingnya Lala.
•
Istirahat pun tiba, Lala yang berada di kelas yang sama dengan kedua temannya langsung otw ke kantin. "Gimana lo bisa jawab?" Tanya Mely dengan wajah lesunya.
"Gue sih lumayan bisa, kalo lo!" Tanya May ke Lala. "Bisa dong!" Bangga Lala dengan senyum manis.
"Aduih selain cantik di lihat, ternyata manis juga di pandang!" Ucap seorang cowok yang baru saja masuk ke kantin. di belakangnya ada Bambang dan Dian. "Ih, baru sadar tuh anak, jagan jangan selama ini matanya ketutup!" Jawab Mely dengan nada cempreng.
"Bukan ketutup tapi emang di tutup oleh Yang Maha Melihat!" Saut May. "Kalo gue gimana Di?" Tanya Mely lagi.
"Gimana apanya?" Tanya Bambang yang buka suara.
__ADS_1
"Eh, anjir.. gue lupa kalo ada bambang di situ!" Mely menjadi salah tingkah saat menyadari adanya bambang di sampingnya Dian.
"Jangan jangan cewek lo, matanya di tutup oleh sang maha melihat, agar bisa mengoda cowok lain, tapi eh.. belum sempat menggoda, udah kebuka lagi!" Ujar Dian di selangi tawa.
Mely hanya mencebik kesal. May hanya menggelengkan kepalanya di selangi tawa. Tawa May terhenti saat melihat sosok pria yang membuat dirinya ingin melayang.
bagai di hipnotis, matanya tak lepas dari wajah tampannya Yogi. "Yogi!" Mendebat nama orang yang di sukainya di panggil. May langsung menoleh ke sumber suara.
Ia menautkan alis heran disertai penasan. seorang cewek dengan gaya rambut bergerombol diiring poni tipis membuat cewek itu terlihat lumayan cantik. "Cantikkan mana sama gue?" Tiba tiba saja pernyataan dari orang setelahnya membuat May terbangun dari pemikiran keponya.
"Cantikan gue!" Jawab May tanpa ekspresi. "Idih.. jawabnya ada dua, antara gue dan tuh cewek. bukan tiga!" Kesal Mely.
Sejak tadi, Lala hanya menjadi pendengar gratis sekaligus penonton setia, ia menyantap bakso kuah dengan penuh selera. Tak lama Rey duduk di sampingnya.
"Mau!" Tanya Lala yang sudah memberikan bakso ke mulutnya Rey. Rey tak menolaknya, ia langsung membuka mulutnya lebar. "Dari mana?" Tanya Lala di sela kunyahannya.
"Ruang Bk!" Jawab Rey sambil mengambil meminum jus di cangkir Lala. "Pesen sono, gue juga kepedasan!" Atur Lala dan Rey hanya menurut saja.
Yogi yang sejak tadi melihat interaksi Lala dan
Rey merasakan gejolak sesak dihatinya.
"Kenapa harus dia dari sekian banyaknya pria dan kenapa harus Lala, dari sekian banyaknya cewek di sekolah ini. kenapa gue suka dengan lo?"
May memilih keluar dari kantin. bukan pertama kalinya ia melihat Yogi seperti ini.
•
Lala memundurka langkah kakinya. saat ini ia berada di rumah Ryan. Niat ingin meminjam buku catatan bahasa indonesia, malah membuatnya menimbulkan luka.
"Gak mungkin!" Ujarnya yang merasa tak percaya.
Tatapan Lala terlalihkan saat mendengar Ryan memanggilnya. "Sory.. gue lupa taruh. jadi gue bongkar bongkar dulu!" Ryan meletakan buku tulisnya di atas meja.
"Gak apa kok!" Jawab Lala yang masih merasa gugup dan gelisah. Ia menatap Ryan dengan senyum kikuk. "Gue boleh tanya sesuatu gak?" Tanyanya sambil menggenggam kedua celanya erat.
"Mau tanya apapun pasti gue jawab, termasuk masalah hati!" Ryan tersenyum hambar di akhir ucapannya.
"Lo anak keberapa?" Tanya Lala pada akhirnya. "Kita anak yang sama, dengan tanggal lahir yang sama namun dengan tahun yang berbeda. lebih tepatnya gue anak pertama!" Jawab Ryan dengan rinci.
Dek..
Lala menghela nafas berat. ia meminum jus di depannya dengan cepat. "Maaf kalo gue lancang, Om yang tadi itu Ayah lo!" Tanya Lala yang langsung menggigit bibir atasnya.
"Iya, jangan bilang kalo lo naksir sama bokap gue!" Canda Ryan dengan tawa kecil.
__ADS_1
Lala langsung merampas buku di atas meja. "Makasih minumnya. tapi gue harus pulang sekarang, dan bukunya besok gue balikkan!" Lala menutup mobilnya dengan perasaan yang tak karuan. di tatap nya kembali rumah yang baru saja ia datangi.
"Ternyata kita saudara. karna lahir dari Ayah yang sama. gue harus coba menghindar dari lo, agar kedepannya kita gak bakal berinterksi lagi, gue gak mau Mami tau soal ini!" Lala menghidupkan mobil dan mulai meluncur ke luar pagar.