
...🌵...
...Siapa Ayah Lala!...
Matanya Lala masih saja terbuka lebar, padahal saat ini ia sedang berada di dekapan Rey. "kenapa?" Rey yang memang tau jika Lala tak bisa tidur pun ikut membuka suara. namun ia sendiri tak tau apa penyebab Lala tak bisa tidur.
Lala mendongakan kepalanya. "Rey..!" Panggil Lala dengan pelan. Rey menjawab nya dengan dehemen pelan, diiringi dengan seulas senyum tipis.
Lala yang ingin berucap namun dihalagi dengan rasa ragu pun hanya mengumpat dalam hati. Ia memilih membalas pelukan dari Rey. Rey tersenyum simpul menyadari tingkahnya Lala. ia pun mengelus puncak rambutnya Lala dengan kasih sayang.
"Good night dear, sleep well!" bisik Rey di telinga Lala. 'Good night dear' ucap Lala dari balik dada bidangnya Rey. Rey mengecup singkat keningnya Lala dan mulai masuk ke alam mimpi. Lala yang mendengar dengkuran dari Rey pun mendongakkan kepalanya. "Udah tidur ya?" Tanyanya pelan yang hanya di jawab dengan dengkuran yang mangkin keras.
Lala menaikkan sudut bibirnya ke atas saat melihat wajah damai seseorang yang saat ini menjadi suaminya. "Gak nyangka, gue bisa jadi binik lo, kalo di pikir pikir hal ini jauh dari keinginan gue dulu, gue pinging menjemput cita citanya gue dulu, yang belum jadi itu, namun sekarang, gue di hadang dengan sebuah ikatan. yang mana gue sendiri gak bisa lepas dari ikatan itu, namun dari ikatan itulah gue sadar akan satu hal.
Satu hal yang membuat gue menjadi begini, menjadi wanita yang sedikit mandiri, yang mulai hilang dari kata manja. gue bersyukur karna ternyata orang yang menjadi suaminya gue adalah lo, cowok berengsek dengan seribu luka yang lo buat ke gue, dengan seribu masa lalu pahit yang gue rasa dari lo, dengan seribu kata manis lo dan dengan mudahnya gue bisa jatuh ke tangan lo, bahkan gue pernah menyumpahi lo agar hidup lo gak bakal sesuai dengan keinginan lo, dan ternyata sumpahan itu membal dan malah membuat gue kemakan sumpah gue sendiri." Lala tersenyum getir saat mengingat masa lalu dirinya dengan Rey.
"Satu hal yang gue suka dari lo, lo berubah dari gaya playboy lo, gue suka sifat lo yang sekarang, walaupun kadang kadang buat diri gue menjadi kesal!" Lala mengelus pipi Rey dengan gemas. tak lama bibirnya yang mengulas senyum langsung berubah cemberut.
entah apa yang membuat gadis itu
Ia menggeser tangannya Rey yang melingkar di perutnya.
Matanya yang terus memelek membuat Lala leleh berbaring. Ia berjalan mendekati balkon, untuk kedua kalinya, Lala berada di tempat yang sama. Air matanya menetes tanpa di sadari olehnya. Ia tersenyum getir saat mengingat kejadian dua hari lalu. Wajahnya mendongak keatas. Ditatapnya langit yang hitam, tak ada bintang di malam ini.
Lala mengosok gosokan kedua tangannya di kedua lengannya. rasa dinginnya malam ditambah angin malam yang cukup kencang membuatnya semangkin melipat kedua tangannya di perut dengan erat. Setetes demi tetes jatuh mulus ke permukaan bumi ini. Sekali lagi gadis berambut sebahu itu menatap langit dengan air matanya yang terus mengalir.
Ada sebuah sakit yang harus ia simpan, namun bukanlah suatu kenangan, melainkan suatu rasa sakit yang sejak dulu ia simpan.
...
__ADS_1
Rey terbangun dari tidurnya, ia merasa sangat haus. tangannya terus meraba raba mencari keberadaan Lala. matanya yang semula belum terbuka lebar kini sudah memandangi sekitar kasur dengan keadaan duduk.
"Ia telonjat kaget saat suara petir menyambar dengan kuatnya.
Ia menghidupkan lampu, kini suasana kamar yang gelap menjadi terang. hidung dan kerutan di dahinya menandakan jika pria itu sedang heran. di lihatnya ke arah pintu. pintu masih tertutup rapat dengan kunci yang masih menempel di Handle pintu. Ia memutar matanya ke seisi ruangan.
Raut wajahnya kembali heren. ia berjalan mendekat ke arah balkon. "Saat tirai penutup nya di buka, tak ada seorang pun disana. hanya sebuah kursi yang terletak di dekat genggaman pembatas.
Ceklek.. Matanya Rey langsung tertuju pada kamar mandi yang baru saja terbuka. ia semangkin bingung saat melihat Lala yang hanya melilitkan handuk disertai dengan rambutnya yang basah. Di tatapnya jam di dinding. jam tiga malam. Rey kembali menatap ke arah Lala.
Yang di tatap sama sekali tak melihat ke arahnya. Lala memilih jalan ke arah lemari. tiba tiba saja badannya Lala menegang saat mendapati pelukan hangat dari Rey. "Gue kira lo ngilang, ternyata gue yang terlalu khawatir!" Rey melepaskan pelukannya yang langsung mengarahkan Lala agar menghadap ke arahnya.
Lala langsung menundukkan kepalanya, setelah ia melihat Rey sekilas. "Ada masalah apa?" Rey langsung menghadapkan wajahnya Lala ke arahnya dengan memegangi kedua pipinya.
"Lala terdiam sesaat, Ia menggelengkan kepalanya, "Gak ada!" Jawabnya singkat. Rey yang tak percaya pun mulai mendekatkan wajahnya. "Lo habis nangis?" Ujarnya lagi.
"Di lihatnya Rey yang sedang menatapnya dengan satu tangannya yang menopang kepalanya sambil melihat ke arahnya. "Awas bengkok tuh kepala, kalo bengkok gue gak mau ngurus!" Canda Lala yang ikut berbaring di sampingnya Rey.
Rey hanya tersenyum tipis mendengar candaan Lala, ia hanya menarik Lala agar berbaring di sampingnya.
"
Pagi yang begitu cerah, dengan sinarnya yang begitu menyilau membuat Lala tersenyum kecil. di liriknya orang di sampingnya sekilas. "Masih nyenyak!" Ujar Lala pelan. ia menyingkirkan selimut dan bangkit dari tidurnya .
"Pagi Bunda!" Lala mencuci kedua tangannya lalu berjalan menghampiri Bunda Rada. Rada hanya menjawab dengan senyum kecil. "Hhhmm.. wangi banget bun, masa apaan?" Lala langsung mendekati Bunda Rada. "Masak makanan kesukaan kamu!" Jawab Rada.
Lala menautkan alis bingung. "Masa lupa sama makanan kesukaan sendiri!" Karna di iringi rasa penasaran yang meluber. Lala langsung melihat kearah panci. "Soto lo sayang, kata Mami kamu kamu suka banget sama soto, tapi setelah kamu tinggal di sini, gak pernah tuh Bunda masak soto_ Lala langsung memeluk Bunda Rada erat.
Setelah sarapan pagi selesai, Rey memilih duduk di depan tv dengan Bunda Rada. Sedang Rey, Nenek, dan Yaya, mereka pergi berbelanja. Jika Papi El jangan di tanya, ia sudah dua hari tidak pulang kerumah, karna menjalankan proyek di luar kota yang mana harus menginap tiga atau empat hari.
__ADS_1
"Bun!" Rada langsung melihat ke arah Lala. "Kenapa sayang!" Lala menelan ludah, sebelum mengucapkan kata yang akan keluar dari mulutnya. Lala mengeluarkan dua buah poto di hadapan Bunda Rada.
"Ini! kamu dapat.. dapat di gudang bun!" Sambung Lala. Rada yang tadinya terlihat santai, kini berubah tegang. "Bunda tau kan ayah Lala?" Lala langsung menatap Bunda Rada serius.
Rada hanya diam membisu. "Bun.. selama ini Lala gak tau menau siapa ayah kandung Lala, apalagi mami gak pernah kasih penjelasan yang pas dan masuk ke logika. malah akhir akhirnya nangis. Tapi Lala gak pernah bahas soal itu lagi, tapi_" Lala mendongakan kepalanya ke hadapan Rada. "Setelah Lala jumpa poto ini, rasa keingin tauan Lala kembali muncul bun, dan semua yang di bilang Mami ke Lala gak pernah pas sama yang Lala rasa!"
"Dan poto ini, pasti Bunda bisa kan beri dikit aja, Lala yakin pasti Bunda bisa kan tolong Lala?" kedua tangannya Lala menggenggam kedua tangannya Rada. Rada menjadi semangkin bingung. "Bun..!" Lala memasang wajah penasarannya.
Rada menghela nafas lemas, "Tapi kamu harus janji dan menepati janji ini!" Ucap Rada yang mencoba meyakinkan Lala. Lala mengangguk mantap. "Bunda, Papi, Mami, dan orang yang ada di poto ini adalah sahabat. Mami kamu suka dengan pria ini, Sedang Pria yang di sukai sama Mami kamu udah menikah dengan wanita lain, dan Bunda gak tau kapan dan bagaimana, tiba tiba aja Mami kamu sama Sahabatnya ini udah nikah.
Dan kami taunya saat Mami kamu lagi ngandung kamu, di situ Ayah kamu nalak Mami kamu di depen orang tua kamu, dan_" Rada mengelap air matanya dengan kasar. Ternyata Ayah kamu menikahi Mami kamu hanya untuk balas dendam. karna adiknya Ayah kamu itu, adalah istrinya Om kamu Lala, alias Abang Mami kamu, adiknya Ayah kamu meninggal dengan bunuh diri saat di talak oleh Om kamu.
Rada menghela nafas lemas.
"Bukanya Mami, Bunda, sama Papi udah pada tau kalo Ayah Lala udah punya istri? itu artinya Mami pelakor dong? " Tanya Lala yang masih kurang paham.
Rada menggelengkan kepalanya. Mami kamu gak tau sama sekali, sedang kami taunya saat mendengar kamu yang sedang di kandung Mamimu. Di saat kami akan menjelaskan, di pertengahan jalan, Bunda mau lahiran, tapat saat Rey lahir, Kami dapat kabar buruk!" Rada sengaja menjeda ucapnya.
Lala yang ingin tau kelanjutannya pun, melihat Rada dengan tatapan serius. "Mami kamu gak terima dan gak mau di ceraikan, saat itu pula Mami kamu yang juga merasa shok langsung pingsan di tempat, bahkan Mami kamu hampir saja kehilangan kamu, karna kondisi tubuh Mami kamu yang lemah. saat itu kandungan Mami kamu masih sekitar empat bulan.
Bukan hanya itu, Opa kamu kena serangan jantung di tempat. sebelum di bawa ke rumah sakit, Opa kamu meninggal.
Lala menundukkan kepalanya, rasa sesak kembali ia rasakan. "Pantas!" Ujarnya pelan. Lala pun mengelurkan air mata. Rada langsung memeluk Lala dengan erat. setelah merasa lega akan rasa penasarannya selama ini. Lala pun menatap Bundanya dengan tatapan sedih.
"makasih Bunda!" Ucap Lala yang langsung bangkit. tak lupa ia membawa kedua poto yang tadi di pengang oleh Rada.
"Mau kemana?" Tanya Rada yang mulai tak jelas di pendengaran Lala.
" Pulang bun!" Lala melambaikan tangannya. ia menarik kunci mobil di atas meja lalu pergi meninggalkan pekarangan rumah.
__ADS_1