
...🌱...
...Bodo Amat gue...
"Becanda!" Jawab Bambang dengan enteng.
Rey mengajak Lala agar berjalan searah dengan nya. Ia mendudukan Lala di sebuah sofa yang sudah di persiapkan sebelumnya.
Tak lama kemudian, Papi El, Bunda Rada, Yaya, dan juga Nenek datang dengan membawa sebuah kado berukuran besar. hal itu menjadi pusat perhatian beberapa orang di sana.
Rada mengelus puncak rambut nya Lala dengan lembut. "Mami kamu tadi telepon kamu tapi gak di angkat, jadi dia nelpon ke Bunda. ia bilang gak tau pulangnya kapan, ia juga nitip selamat atas bertambahnya usia kamu ini!" Ujar Rada dengan lembut.
Lala yang sempat murung kembali tersenyum. "bunda sehatkan bun?" Tanya Lala dengan senyum kecil. Rada pun membalas nya dengan senyum manis. "Kamu juga harus punya, biar gak sepi kamarnya, biar Rey merasain bolak balik beli kemauan istri yang lagi ngidam!"
Rada berucap dengan tersenyum, ia teringat masa ngidam nya yang pertama kalinya.
"Bunda dulu ngidamnya yang aneh aneh waktu hamil Rey!" Ujar Rada mengingat masa ngidam yang pertama kali saat hamil Rey. Lala hanya tersenyum kecil mendengar ucapan sang Bunda.
"Bunda dulu, pengen makan martabat tapi harus di suapin sama mantan nya bunda!" Rada beda berisik dengan tatapan tertuju pada El, suaminya. "Awalnya Papi gak mau turuti tapi Banda merajuk, dan gak omongan sama El, lama lama Papi kamu yang gak tahan!" Ujar Rada yang akhirnya tertawa.
"Yang bikin lebih sulit nya lagi, mantan Bunda itu mau nikah besoknya, tapi karna bunda yang ngidam akhirnya dia mau datang juga!" Ujar Rada lagi.
"Lala rasa pasti Papi El, cemburu banget kan Bun!" Jawab Lala yang mulai terikat akan cerita bunda.
menatu dan mertua itu pun sibuk bertelepon cerita tanpa ada halangan di antara keduanya.
Rey tersenyum melihat Lala yang tampak semangat kembali, kala bersama dengan Bundanya, matanya tertuju pada sosok Papinya yang juga melihat ke arah Bundanya.
Rey tau apa yang di rasakan oleh Papinya. ia pun menghampiri Papinya yang sudang bersama dengan Yaya dan Neneknya.
'Gue tinggal bentar ya, makan aja apa yang kalian ingin makan, gak usah segan segan!" Ujar Rey yang di angguki oleh keempat orang itu. "Gue cicip kue ultahnya boleh kan?" Tanya Bambang padahal ia sudah makan sebanyak banyaknya.
"Gak lo, gak Mely sama aja!" Ujar May dengan kesal ke Bambang.
"Sama sama aneh!" ujar Ella.
__ADS_1
Sedang Bagus. cocok satu ini terus terusan mencari perhatian dari Ella, namun karna emang bawaan sipatnya yang pemdiam, Ella hanya mengganguk dan tersenyum kecil atas apa yang di bahas oleh Bagus.
Seketika Bambang teringat akan Mely, ia sempat akan bertanya, namun sudah terlihat di depen matanya.
Berbeda dengan semuanya yang sedang menikmati suasana di sana, tanpak Mely yang berusahanya untuk bisa terlepas dari kamar.
"Bodoh bangat gue!" Ucapnya pada dirinya sendiri, karna pintu kamarnya tak di kunci sejak tadi. Ia memedang pintunya dengan keras, yang berakhir dengan meringus mesakitan di kakinya.
Mely tak melihat lihat lagi ia langsung menuju apa yang di liatnya saat ini.
Mely langsung berlari dan meninju Bagus, dan Rey berada, dengan tatapan menerkamnya menendang kaki dua orang itu dengan kuat. hal itu membuat beberapa orang menjadi mengarah ke Mely. "Gue gak beb!" Sebuah ucapan pertama yang membuat orang di sana menjadi tertawa.
"Dasar gila!' Ucap Mely dan May berbarengan.
"Sok kompak lo dua!" Ujar Bambang lagi, ia berucap seakan tak punya dosa.
"Bambang..!" Jerit Mely yang menarik telinganya Bambang menjauhi tepat tersebut.
Beberapa orang di sana tertawa melihat tingkah dua manusia itu.
Saat ini bajunya Ella sudah di ganti, ia berjalan kearah Lala yang sedang duduk dengan sedikit melamun.
"Sory!" Ucap Ella yang baru saja sampai di depannya Lala. Lala mengangkat alis kerna bingung. "Karna buat lo jadi takut tadi! " Ujar Ella lagi. Lala tersenyum kecil, "Gue sama Rey sepupu, kita gak ada hubungan yang namanya pacaran, gue dianggap sebagai adiknya Rey di keluarga Papi El. lo rasa lo sempat salah paham kan tentang gue!" Ujar Ella yang mendapatkan tatapan serius dari Lala.
"Maksud lo, Rey sama lo gak pacaran gitu?" Tanya Lala lagi. "Seperti yang gue bilang tadi!" Ujar Ella yang berakhir dengan memeluk Lala dari samping dengan mendadak.
Lala di buat heran atas tingkah nya Ella padanya.
Rey yang melihat interaksi kedua nyapun tersenyum senang. ia melangkahkan kakinya ke arah Ella dan Lala.
"Gue sama Rey sepupuan, ya kan bunda!" Jerit Ella dan mendapatkan anggukan kepala dari Rada. Ella yang sejak tadi memeluk Lala langsung melepaskan pelukanya kala melihat kode dari Rey.
"Gue tinggal ya, gue laper mau makan!" Ujar Ella yang berjalan mendekati May dan Bagas berada.
Tinggallah Lala dan Rey di tempat itu, Lala melirik sekilas ke arah Rey begitu juga Rey. "Apa lo liat liat!" Ujar Lala sambil bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Gak salah kan kalo liat istri gue, dan gue rasa baru salah kalo gue liatin cewek lain selain lo, bunda dan Yaya!" Ujar Rey yang membuat Lala tersenyum di kecil, senyum yang tak terlihat oleh Rey.
Acara itu pun berlangsung dengan meriah walaupun hanya terdapat beberapa orang terdekat saja. sekitar jam sebelas malam mereka pun pulang ke wilayah masing masing. kecuali Rey dan Lala.
"Kenapa bawa gue kesini?" Kini posisi Lala menghadap ke arah Rey, "Karena ini adalah hari kelahiran lo!" jawab Rey dalam hati. Rey tersenyum miring melihat Lala, "Jangan senyum kek gini, gue merinding liat nya!" Ujar Lala jujur.
Rey menahan tawa, dan menarik tangan kirinya Lala agar kembali berjalan dan meningikutinya.
Lagi lagi Lala tersenyum kecil. tak lama kemudian Rey menghentikan langkah kakinya secara mendadak. membuat Lala yang terhantuk oleh bahu nya Rey.
"Aduh..!" Lala langsung mengerutkan dahi nya dan menatap Rey dengan tajam. "Sory sory..!" Ujar Rey yang mengelus elus pipinya Lala. "Ini yang sakit bukan pipi!" Ujar Lala dengan menunjuk bibirnya.
Cup.. Cup Rey mengecup bibir mungil nya Lala sebanyak dua kali. "Wuuiss!" Lala mencubit pipinya Rey dengan kuat dan berakhir dengan injakan kaki oleh Lala.
"Dasar, cari kesempatan dalam ke sakitan!" Ujar Lala yang kini langsung terdiam kala melihat pemandangan di depannya.
Rey tak mempermasalahkan apa di lakukan oleh Lala padanya, karna dia sendiri emang sudah biasa mendapatkan hal seperti ini.
"Rey.. i. ini!" Lala tak sanggup berucap lagi karna ia merasa sangat suka dengan apa yang di lihat nya. Lala pun berjalan pelan ke depan, ia memegang pangar besi di depannya, Rey pun berjalan pelan tangan kekernya di lingkaran ke perut ramping nya Lala.
Awalnya Lala ingin menolak namun, ia urungkan karna merasa hangat, jujur saja Lala merasa sedikit kedinginan di sini, namun nyaman.
Rey menyatukan dagunya ke rambut Lala, Jam sebelas, lewat dua belas, tiga detik, tepat di hari pernikahan kita, hati rabu. lo di lahirkan ke dunia ini, selamat menempuh usia yang baru sayang, usia ke tujuh belas tahun, semoga cepat dapat juniornya Rey dan Lala ya!" Bisik Rey dengan pelan.
"Dan kita di satukan menjadi orang yang akan bersama hingga tua!" Ujarnya lagi.
Lala tersenyum bahagia di depan sana. di elusnya dengan lembut tangan Rey yang melingkar di tangannya. begitu juga dengan Rey ia mencium rambutnya Lala.
Lala memutar badannya ke arah Rey. Ia melihat wajah Rey dengan lekat. tanganya pun dengan terampil mencubit pipinya Rey. "Jangan panggil gue sayang, nanti muka gue bisa merah!" Ujar Lala. Rey menyentil hidungnya Lala sekilas. tatapan nya Rey beralih ke arah bawah di sana. "Gimana lo suka gak?" Tanya Rey yang masih menatap ke bawah. Lala pun ikut menatap ke bawah.
Bibiranya tersenyum. Lala dengan sengaja menciup pipinya Rey, namun yang tercium bukanya pipi melainkan bibir. "Nakal!" Ujar Rey yang berakhir dengan mengacak acak rambutnya Lala.
Lala cemberut. "Yah jadi berantakan dong!" Ujarnya dengan cemberut. "Mau cemberut aja, atau gue cium!" Tantang Rey dengan wajah licik.
Lala langsung tersenyum paksa. dan kembali melihat ke bawah. ia menyatukan kedua tanganya ke purut. "Dingin banget sih!" Ujarnya pelan. "Rey kembali memeluk Lala dengan keadaan yang lebih erat dari sebelumnya.
__ADS_1
Keduanya pun lama berada di tempat tersebut, hingga keduanya pun merasa katuk dan mulai meninggalkan tempat tersebut.