
...🌵...
...Temen Laknut.....
"Mau tante buatkan apa?" tanya tante Loga saat mereka sudah duduk di ruang tamu. "Gak usah tan, tadi kita juga udah minum, di rumah nya May," tolak Lala dengan halus.
"Iya Mi. Mely aja masih kenyang, Mely cuma mau ambil baju doang, sekaligus ganti baju." terang Mely yang kini sudah pergi dan berjalan menuju kamar.
"Gimana, butik Mami kamu sayang?" tanya tante loga yang kini duduk berhadapan dengan Lala dan Mely. "Seperti biasa, tan. lancar!" Jelas Lala di iringi senyum. Kini tatapan Tante Loga beralih ke May. "Kamu gimana kamar mama kamu sayang?" tanya Tante Laga dengan nada lembut. May tampak diem sejenak lalu tersenyum simpul.
"Baik, tante." jawab May dengan suara seperti tertahan. "Oh.. ya bentar ya," Pamit Tante Loga dan berjalan menuju ruang tengah.
"Nih. oleh oleh buat kalian," ucap Tante Loga dengan memberikan dua hadiah. "Ayo dibuka, suka gak?" tanya Tante Loga dengan tatapan penasaran.
"Mami punya Mely mana?" tanya Mely dengan suara manjanya. "Aduh, Mami lupa, Mami cuma beli dua!" Ucap Mami Loga dengan muka di buat buat lupa.
"Ih.. jahat," Jawab Mely dengan muka di cemberut kan. "Itu yang kamu pakai apa?" tanya Mami Loga dengan tatapan yang terus mengarah ke tas kecil yang di pakai Mely.
Mely tetawa. "Oh. iya mely lupa," Jawabnya yang kini sedang menarik tangan kedua temannya agar cepat cepat keluar dari rumah miliknya.
Mami Loga tertawa melihat tingkah anak perempuan nya. "Dasar manja!" ucapnya mengatai anak perempuan nya itu.
Di mobil, Lala membuka pemberian dari Tante Loga. Lala tersenyum melihat apa yang di lihat nya. "Sampein salam makasih gue ya sama Mami lo!" ucap Lala dan memasukan kembali isi hadiah ke dalam bungkus nya. Sedang May iya tampak kelelahan, ia seperti sedang tidur, "Kenapa?" tanya Mely melihat wajah lemas Lala
"May," ucap Lala dengan tatapan serius, "Gue khawatir sama May, lo tau sendiri kan, dia paling lemah sama yang berurusan dengan keluarga." ucap Lala yang melihat May sekilas.
"Tapi gue yakin, ini semua pasti ada hikmahnya untuk kehidupan dia kedepannya." Jawab Mely yang mendapat anggukan kepala dari Lala.
~
Rey. masih sibuk di kantor Eltar Grop, di ruangan Papinya ia tampak serius membaca berkas di depannya. "Permisi pak," Sapa seorang sekretaris Papinya.
"Ada apa?" tanya Rey dengan masih pokus dengn berkas di tangan nya. "Ini. tinggal di tanda tangani sama tuan El." Ucap sekretaris itu, dan undur diri saat tidak ada lagi yang harus ia kerjakan.
"Terrt..
tertt..
Rey melihat siapa yang menghubungi nya di saat seperti ini, "Ana," ucapnya dan langsung mengangkat teleponnya. Rey menjauhkan nya dari telinganya,
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Rey saat sudah merasa baikan ditelinganya.
"(...)"
"Jangan keras keras na, gue dengar," ucap Rey yang kesal atas tingkah orang di seberang sana.
"(....)
"Gue gak bisa, gue transfer aja ya, uangnya. Nana sendiri aja, gue lagi sibuk." Jelas Rey yang merasa kesal.
"(....)
Tanpa banyak basa basi Rey langsung menutup panggilan telepon nya. Cukup lama ia berpikir lalu tak lama ia berdiri dari duduknya dan keluar dari ruangan sang Papi, Ia bersimpang siur dengan sang Papi. "Pi, ada berkas yang tinggal di tanda tangani, udah Rey baca, kerjasama dengan Grup Ultap.
"Papi mengerti, kau mau kemana?" tanya Papi El, yang melihat Rey tergesa gesa. "Aku rasa kerjaan ku sudah selesai, jadi aku pulang," jelas Rey.
"Tuan. Pak Endar menelpon tuan!" Joko tangan kakan Papi El, memberikan ponsel ke pada Papi El. Setelah nya Rey langsung menuju keluar dari kantor ini, semua karyawan yang melewati nya menyapa nya.
Setelah mengirim kan tiga juta ke rekening Sabrina, Rey memutar balik arah motornya, ia merasa ingin makan di sebuah warung kecil di dekat pantai.
~
"La, stik ini masih ada stok kagak di dapur?" Tanya Mely dengan tangan nya yang memegangi sebuah stik. "Liat aja sono, gue gak terlalu tau, kalo abis nih duitnya." Jelas Lala yang melempar kan selembar uang berwarna biru.
"Kurang lah segitu, pelit banget lo!" Ucap Mely, namun ia ambil juga uang pemberian dari Lala.
"Kan yang makan stik nya lo sendirian. jadi kalo kurang kan bisa loh tambah kan, lagian kan lo lebih banyak tuh duit, dari gue." Jelas Lala yang masih pokus ke ke depen.
"Dasar pelit!" Balas Mely dan bangkit dari duduknya. Tak lama kemudian ia kembali lagi. "Lala." Panggil Mely dari luar pintu.
"Apa lagi Melyy!" Saut Lala dengan wajah kesal nya. "Apa ya gue lupa," Mely sengaja berpura pura lupa, ingin memancing emosi Lala.
"Ya udah ingat ingat aja dulu, baru manggil gue!" Jelas Lala dan kini kembali pokus ke depan.
"Yah, gak berhasil nih!" Ucap Mely, "Oh. iya La, pinjam kunci mobil lo!" Pinta May.
"Ambil noh, di atas sofa tadi." Ucap Lala dan tak lama kemudian Mely pergi. "Hahaha.. rasain lo gantian gue kerjain. salah siapa berniat ngerjain gue," ucap Lala di iringi tawa.
May pun ikut tertawa, ia tertawa bukan karena Mely melainkan karena komedi yang di tonton nya.
__ADS_1
"Mana ya, kok gak ada?" Mely menelisik setiap sofa, cukup lama mencari dan akhirnya ia berhenti ketika mendengar tawa pecah dari Lala. "Makanya jangan suka ngerjain gue!" Omel Lala dan melemparkan kunci mobil nya.
dari atas.
"Haha.. Makanya jangan suka nertawain gue, kena imbas kan!" Ucap Mely yang masih tertawa kuat. "Sial." umpat Lala dan turun ke bawah. kunci yang Lala lempar masuk ke dalam tempat ikan, Lala menyeret kursi dari dapur dan meminta tolong Mely agar memeganginya.
"Awas ya lo, Mel. kalo sempat lo goyang goyang dan gue jatuh, gue tendang endas lo," Lala memperingati Mely. "Sebelum lo tendang gue, gue lebih duluan tendang gigi lo!" Ucap Mely yang juga memberikan peringatan.
Dengan hati hati tangan Lala masuk ke dalam kotak ikan ****** tersebut, sempat teraduk aduk juga, namun tak lama kemudian ia pun berhasil.
"Dah kan?" tanya Mely yang merampas kunci mobil nya, dan meninggalkan kan Lala yang berteriak takut jatuh. Benar yang di takuti malah benar terjadi padanya. "Sial dua kali, ini nih namanya!" umpat Lala dan bangkit dari dudukan nya di lantai dan berjalan sedikit memukul mukul bokong nya yang terasa pegal.
"Kenapa lo La?" Tanya May yang kini baru saja sampai di dapur dan menuang air putih untuk di minum nya. "Di kerjain balik gue sama si Mely!" omel Lala dan ikut minum juga bersama May.
"Di kerjain kenapa?" tanya May setelah selesai minum. Lala menceritakan semuanya. dan benar May juga ikut tertawa seiring mendengarkan cerita Lala.
"Temen laknat!" ucap Lala dan meninggalkan May yang masih tertawa.
Mely terperarah saat melihat Rey yang sedang berhenti di pinggir jalan. "Ganteng juga ya." Ucap Mely yang matanya masih setia memandangi Rey.
"Eh. busyet sama si centil rupanya. rugi ah gue bilang ganteng." Ucap Mely yang memukul bibirnya pelan. "Auu.. sakit, tangan lo kasar juga ya Mel?" Protes nya pada diri sendiri.
Mely masih pokus ke orang di depannya. "Huek.. main cium pipi segala, sok imut." Protes Mely dan mulai menyalakan mobilnya. dan pergi dari pandangan kedua orang itu.
•
Niatnya Rey, terbuang ketika melihat Sabrina yang sedang menunggu taxsi untuk pulang, Rey mengklakson mobilnya ketika berada tepat di depan Sabrina.
Sabrina mendekat, ketika kaca kemudi di buka. "Gak sibuk?" tanya Sabrina dengan senyum manjanya. Rey juga ikut membalas senyum tersebut. dan turun dari mobil nya. "Udah selesai?" tanya Rey saat melihat gaya rambut Sabrina yang berbeda.
"Gimana, bagus gak?" tanya nya dengan memegangi rambut nya yang ikal. "Mau gimana pun, kan tetap cantik!" Jelas Rey dan merangkul Sabrina. agar masuk ke dalam mobil.
"Tunggu," cegah Sabrina dan berbalik mengambil barang yang ia beli. "Mau di bantu gak?" tawar Rey dengan sengaja berdiam di tempat. "Gak perhatian ya sekarang?" tanya Sabrina dengan muka cemberut. Rey terkekeh melihat wajah Sabrina. di selingi elusan lembut di kepalamya.
Mely yang baru saja memasuki mobil terperangah saat melihat Rey, sempat ia puji juga, tapi pujian nya ia kutuk sendiri saat melihat kehadiran centil yang dengan sengaja mencium pipi Rey. Merasa jijik dengan tontonan di depannya ia pun mulai meninggalkan tempat parkir.
"Kita makan dulu ya?" Ajakan yang juga termasuk permintaan menurut Sabrina. "Iya, Ana juga lapar!" ucap nya dengan senyum manis.
"Mau makan di mana?" tanya Rey lagi. "Terserah. tepat yang mana aja Ana suka!" Jelas Sabrina. Rey mengelus puncak rambut Sabrina sekilas dan kembali pokus ke arah jalan.
__ADS_1
...Hai, para pembaca setia, beri like, komentar, favorit, dan vote bila perlu, di tunggu ya dukungan nya. Mari semangati autor. karena satu semangat dari pembaca sangat membantu....