
"Kita sama sama manusia yang bersatu dari pelarian_" Ucapnya dengan sengaja menjeda.
"Dua pria berbeda dengan satu wanita yang sama!" Sambungnya. "Gue menyukai pria yang menyukai wanita yang sudah bersuami, sedang Ryan menyukai wanita yang pria gue sukai, unik bukan!" Jawabnya dengan senyum kecil. ia meneguk minuman menghilangkan semua rasa sakitnya. Ella menjadi paham arah pembicara May saat ini.
Tatapan Ella tertuju ke sosok Lala yang sedang asik dengan kegiatan makannya. Ella tau jika Lala mendengarkan namun tak bereaksi dengan gerakan, ia hanya mendengar dan menjawab ucapan May dalam diam.
"Apa sekarang masi sakit?"
Sebuah pertanyaan yang kini keluar dari Lala.
ketiga orang di meja itu menatap Lala bersamaan dengan sebuah ponsel yang berdering.
"Gue angkat dulu!" Pamitnya.
Melihat kepergian Lala dari tempat tersebut. Ella memepetkan kursinya ke May.
"May!" Panggilannya di gubris saat tiba-tiba Mely menggenggam kedua tangannya May.
"Siapa wanita itu? gue mau kasih pelajaran, biar tau berapa hati yang udah di sakiti dia. Ryan, cowok yang lo suka, dan lo juga masuk ke dalam sakit itu karna dia!" Kelakar Mely yang membuat Ella kaget.
Senyum tipis terpancar di wajah May saat itu.
"Lo cukup tau kisahnya, tanpa tau detailnya!" Jawab May pada akhirnya.
"Yah. si pelit mah gini!" Kesalnya yang kembali ke tempat duduknya.
"May!"
Sekali lagi, Ella memanggil sosok May. Kini ia berbalik dan mendapati Ella yang sedang menatapnya khawatir.
Senyum tipis itu keluar lagi dari bibir manisnya May. Di gengamnya tangan Ella dengan erat.
"Gue bahagia, dengan kehidupan gue yang sekarang, gue suka dan gue syukuri dengan semua yang gue punya saat ini, tapi-" May menatap Ella sejenak.
"Tapi apa May?" Tanya Ella tak sabaran.
"Tapi gue merasa gak iklas aja, liat Yogi sama Yaya!" Ucapnya lesu di akhiran.
"Kenapa? Tanyanya spontan.
May menghembuskan nafas berat. "Gue gak tau, tapi yang pasti, gue merasa gak ikhlas aja gitu, masa ia dia buat pelarian adik iparnya Lala, sedang dia sendiri sukanya kan ke Lala. kaya gak masuk di cerna. Kebanyakan orang buat pelarian ke orang jauh, lah ini ke adik iparnya malah. apa dia punya rencana di balik ini El?" Selidik May dengan wajah serius.
Puk.
"Lo nyeritain gue ya, mana calon ibu lagi yang dengerin, ntar bisa kebelat loh!" Canda Lala sambil mengelus perut buncit Ella. Bisa-bisanya Lala muncul di tengah Ella dan May.
"Lo gak apa kan?" Tanya Lala yang tertuju ke May.
"Gue mah gak apa-apa, cuma ke inget masa lalu aja!" Ucapnya jujur.
Lala menelisik wajah kebohongan di wajah May namun tak ada tanda kebohongan di sana. Kini giliran Lala menatap bumil di sampingnya May.
"Sory!" Satu kata itu membuat May dan Ella langsung tertuju ke Lala. Belum sempat kedua orang itu berbicara, Lala sudah mengeluarkan kata-kata di mulutnya.
"Gue tau lo suka sama Yogi kan? tapi dulu. sekarang mah laki sendiri dong!" Ucapnya yang menarik kursi lalu menempatkannya di hadapan Ella dan May.
"Denger May, gue tau lo kesal dan iri saat melihat Yogi yang malah jadian sama adik ipar gue, gue mewakili adik ipar sekaligus diri gue sendiri, maaf. mungkin hanya kata itu yang bisa gue keluarkan saat ini!" Lala mengambil tasnya, yang mengeluarkan sebuah kalung di dalam tasnya.
"Ini!" Ucap Lala yang memberikannya langsung ke tangan May.
"Lo ma'afin gue kan?" Tanyanya lagi. Sebuah senyum simpul dari May membuat Lala lega.
"Lega gue May!" Ucapnya senang. senyum Lala kandas lalu beralih ke wajah serius.
"Satu lagi!" Ucapnya menatap orang di sekitarnya. "Gue rasa ini hal hanya gue sendiri yang tau!" Ketiga orang di sana merasa penasaran ke arah mana jalur pembicaraan Lala kali ini.
"Apa?" Tanya ketiganya kompak.
__ADS_1
Lala langsung memeluk May dengan erat. "Kita saudara sekarang!" Ucapnya dengan girang.
"Itu mah dari dulu atuh La!" Kesal Mely yang sejak tadi melihat Drama di depannya.
"Ini mah beda atuh Mel!" Sahut Lala. Lala menghempaskan nafas lemas. "Gue sama Ryan satu darah!" Ucapnya two the poin.
"Udah melewati garis pinis nih drama, keluar aja lah gue!" Ucapnya yang meraih ponsel di atas meja, lalu memainkannya. "Takut salah ucap!" Ujarnya cekikikan.
"Kita satu Papi, tapi beda Mami!" Kini wajah cerianya berubah muram. Helaan nafas lemas terdengar jelas di telinga kedua orang di sampingnya. May dan Ella.
May sejak tadi yang diam, menjadi bingung atas ucapan Lala. Lala pun menceritakan semua hal tentang Maminya dan Papinya sampai ia tahu.
"Jadi, Ryan ngelepas lo karna kali-" Ucapan May terpotong. "Lalu ini apa?" Tanya Mely pada kalung mas di tangannya.
"Hadiah surat cinta masa SMA, dari lakik lo. jangan salah paham dulu, karna ini benda gue simpan, gak pernah gue pakek, karna gue udah nikah, masa ia mau di ajak pacaran sama temannya lakik gue lagi!" Kini raut wajah serius itu hilang di ganti dengan tawa dari keempatnya.
...
Lala berjalan cepat kesana kemari, tujuannya saat ini hanyanya Revan. "Revan kamu dimana sayang, Mami leleh lo!" Teriaknya yang memang leleh mencari anaknya itu.
Hening, tak ada jawaban. "Hah.. anak ini, kalo dapat Mami bakal Mami masukan ke kandang ayam!" Kesalnya yang kembali mencari di seisi rumah.
"Mami cari apa?" Suara anak kecil disamai dengan suara dewasa itu membuat Lala membalikan badan. Ia mengacak pinggang menatap Revan yang sedang berada di gendongan Rey yang baru pulang kerja.
"Turun gak!" Tatapan tajam dari Maminya bukan membuatnya takut, tapi malah tertawa.
"Papi, Mami galak!" Adunya dengan memeluk kepala Rey dengan lidah mengejek.
"Revan!" Kesalnya saat melihat ejekan dari anak itu.
"Sayang, jangan jerit liat tuh kucing sampe ketabrak pintu!" Ujar Rey sambil merangkul pundak Lala dengan niat menenangkan. Namun bukannya tenang. ia tamah kesal saat mendapati Revan yang sedang menarik narik rambutnya.
"Papi, ayo lari! Mami mau marah capat lari Papi!" Pintanya dengan kaki yang di gerakan ke kanan dan kiri, anak kecil itu tertawa puas saat Papinya membawa dirinya berlari menjauhi Maminya.
"Ayo kejar Mami, kejarrr!" Jeritnya dengan semangat menggebu gebu.
Ia menghela nafas lemas saat melihat tas dan sepatu Rey yang berserakan di lantai, di tambah pintu rumah yang tak di tutup Rey membuat Lala mengerutkan dahi.
"Suami gak berguna, gunanya bawa anak aku ke jalan sesat!" Kesalnya yang memunguti sepatu dan tas yang berserakan.
Lala menggelengkan kepalanya mendengar jeritan dan tawa dari kamar sebelahnya. Saat ini ia baru saja selesai mandi. Suara keras dari kamar sebelah membuatnya bertabah kesal.
Ceklek..
Matanya membola melihat sekitar kamar yang sudah berantakan layaknya habis terkena gempa dadakan. Kini tatapan tajam ia perlihatkan kepada dua orang yang sama sama tak memakai baju, dengan keringat yang bercucur deras di dahi keduanya.
"Mamii Pi!" Tunjuk Revan dengan tawa yang masih terdengar ia melihat Maminya memunguti mainan yang bersekan.
"Biar aja sayang, nanti aku yang bersihkan!"
Lala menghentikan gerakkan tangannya. "Kapan? besok? atau gak tamah berserakan?" Kesalnya yang kembali memunguti mainan Revan.
"Ini kan udah aku simpan kemarin, kenapa di buka lagi? susah tauk bersinnya!" Omelnya yang menatap musuh ke Rey.
"Mami sayang !" Panggil Rey
"Mamiii cayanggg!" Ikut Revan.
"Jangan marah marah aja, main sama Revan yuk!" Bujuk Rey.
"Iya sini Mii!" Sambung Revan yang menarik-nariki kaki Lala agar naik ke kasur.
"Mami gak mau!" Tolaknya. "Gak mau nolak sayang!" Lanjutnya lagi. Jujur saja, jika melihat Revan yang ikut membujuk dirinya agar tidak marah. pasti akhirnya ia tak tahan dan langsung menggendong anaknya itu.
Lala menciumi wajah anaknya dengan berulang ulang, sampai Revan menjerit memanggil Papinya.
"Papi! Levan di buly Mami!" Adunya yang terus menjauhkan wajahnya dari ciuman Maminya.
__ADS_1
"Anak Mami, bauk banget. belum mandi ya?"
"Iya Mami!" Jawab Rey dengan kekehan.
"He'm pantes bauk ketek lagi!" Ucap Lala yang mendapat tawa kecil dari Rey.
"Mami jangat, Mamii jahat, muka Levan ilang!!! Papiii, cium Mami yuk!" Ajaknya yang kini sudah berada di gendongan Rey sambil menutupi wajahnya.
"Ayo!" Jawab Rey dengam riang.
"Enak aja! mandi dulu sana, bauk ketek lembu!" Tolaknya dengan muka jahil ke Revan.
"Saatnya mandi, ini udah sore. Ayo!!" Ucap Lala dengan menaik turunkan alis. Tampak dua orang, yang gak lain anak dan Papi itu saling berbisik.
"Jangan macam macam!" Ucap Lala yang memberikan cubitan kecil di perut Rey. "Macam -macam apa Mi?" Tanya Revan dengan lugu.
"Yang Papi bilang tadi itu namanya macam-macam!" Bisik Rey ke Revan. "Ayo kita macam-mecam sama Mami!" Ujarnya dengan bisikan semangat.
"wha, sato, yiga." Ucapnya yang memberikan kode ke Papinya. muah.. muah.. Lala mendapatkan serangan dadakan dari dua pria sekaligus.
"Geli tau!" Ucap Lala setelah sekian lama menghindar. Rey tertawa puas, sedang Revan ia masih saja menciumi pipi Maminya.
"Anak kamu nih!" Kesalnya yang menggendong Revan keluar kamar. "Udah jalan, jangan di gendong terus gak bagus!" Ujarnya mengatai Revan. Revan yang tadinya bahagia kini membentuk kerutan di bibirnya.
"Ih ngambek, anak siapa ini gak kenal Mami!" Lala berjalan mendahului Revan.
"Mamii! Papii!" Jeritnya sambil mengejar Rey dan Lala yang sudah jauh darinya.
"Sayang!" Rey mengejar Lala yang berjalan ke dapur, Ia memeluk tubuh istrinya bermaksud menenangkan si empunya.
"Jangan marah ya, nanti aku yang bersihkan kamarnya, nanti yang nyuci piringnya aku juga!" Bujuknya lagi.
"Benar ya!" Balas Lala yang sudah berbalik menghadap Rey. "Benar! bener!" Balasnya yang memberikan ciuman bertubi di wajah istrinya.
"Mamii! Papii!" Panggil Revan namun tak dihiraukan oleh keduanya.
"Mamii! Papii! Levan juga pengen di peluk, cium!" Pintanya namun masih sama seperti tadi, kehadirannya tak di hiraukan oleh keduanya.
"Mamii, levan pengen cium juga!! " Pintanya.
"Gak boleh. yang boleh cium cuma Papi aja!" Jawabnya dengan lidah mengejek. membuat anaknya itu kesal.
"Papiii, mami jahat, pengen cium mamii!"Lagi lagi Revan mengadu ke Rey.
Tak mendapatkan jawaban dari aduanya. ia terus mengucapkan hal yang sama, namun tak sekalipun di hiraukan oleh Rey maupun Lala.
"Papii, levan pegen peluk!" Ucapnya yang pantang menyerah. "Gak boleh. yang boleh peluk cuma Mami aja, ya kan Pi!" Panas Lala yang semangkin mengeratkan pelukan nya ke Rey.
"Iya Mami!" Balas Rey sambil mengelus rambut Lala dengan lembut.
Huaa..
"Mamii, Papii jahatt!" Tangisnya pecah saat itu juga. Baik Rey maupun Lala terbawa melihat tingkah anak yang di abaikan oleh mereka.
"Anak kamu tuh diemin!" Ujar Lala.
"Anak kamu juga sayang!" Balasnya namun tak menuruti ucapan Lala.
"Ma-mami jahaatt, pa-Papii jugaaa jahat semua!" Ucapnya terbata. Puas mengerjai anak mereka. mereka mengangkat Revan yang kini berada di gendongan Rey.
"Cup.. cup.. anak Mami cengeng!" Ejeknya yang memberikan ciuman di pipi Revan namun anak itu terus menutupi wajahnya.
...THE AND...
Huaaa.. terima gak terima harus terima, mungkin sampai di sini aja ya kisahnya. sampai jumpa di cerita baru yang akan datang di bulan baru..
Makasih buat kalian semua yang udah baca.
__ADS_1
kasih jejek ya say