
...🌵...
...Curharan May...
"Gue buatin minum dulu ya?" ucap Lala dan berjalan meninggalkan kedua temannya. "Iya. perlu gue banguin gak?" Tawar Mely yang kini sudah berdiri di depannya Lala.
"Gak usah lo temanin May aja, gue rasa dia ada masalah ribet banget deh!" ucap Lala menolak kebaikan dari Mely.
"Gue gak apa, ya udah bantuin aja dulu Lala, ntar baru gue jelasin apa masalah gue!" Jelas May yang memang mendengar ucapan dari Mely dan juga Lala.
"Kan. si May juga bilang gak apa, yuk buat sama gue!" ucap Mely yang kini menarik tangannya Lala menuju dapur.
"Bentar ya May gue buatin teh, biar ada hangat hangat nya dikit hati lo!" Ucap Lala yang mendapat tawa kecil dari May, begitu juga Mely.
"Sempet sempat nya juga ngelawak, padahal lo sendiri terus terusan melarang gue." Ucap May dengan suara pelan.
"Sakit gigi lo dah ngilang?" tanya Mely saat melihat Lala yang tak mudah kebawa emosi dan kembali seperti biasa.
Lala memengangi gigi nya. "Iya ya kok gue baru sadar!" jawab Lala dengan tangannya yang masih sibuk mengaduk teh di depannya. "Masi sakit gak?" tanya Mely lagi.
"kagak, tapi masi sedikit nyeri." jawab Lala dengan merapatkan jari jempol dan telunjuk nya. "Itu bukan dikit tapi udah sembuh namanya." komentar Mely yang melihat tangannya Lala menyatu.
Saat mereka kembali membawa minuman dan beberapa makanan ringan. mereka saling pandang ketika melihat May yang tertidur dengan pulas nya. "Gue rasa masalah bokap, nyokap nya ya?" tanya Mely dengan membisik ke Lala saat sudah meletkan makanan di meja.
Lala menatap Mely sekilas. Kini keduanya saling pandang lagi. "Gue liat ya?" tanpa mendengar jawaban dari Lala, Mely sudah mengambil pelan ponsel yang berada di kepala May.
"Huh.. bagus kerja lo!" ucap Mely yang merasa berhasil mengambil ponsel di kepala May. "Cepetan, ntar bangun pawangnya." Bisik Lala yang kini mengajar Mely yang berjalan agak jauh dari ruang keluarga itu.
__ADS_1
"password nya apa?" tanya Mely yang merasa leleh saat tak berhasil membuka password nya May. "Sini deh, gue gantian," Lala mengingat ingat apa password nya dan langsung mengetik sesuatu yang tidak dapat dapat di lihat oleh Mely. "Cerdas kan gue?" Lala berucap dengan bangga nya.
"Ya deh, kecerdasan Lala emang gak ada imbang nya." Ucap Mely dengan muka kesal nya. kesal karena gak tau apa password dari ponsel May.
Lagi mereka berdua saling pandang dan menutup mulut gak percaya. "Jadi_" Lala memutuskan ucapan dan berbalik ke belakang.
kini mereka berdua diam, dan saling gelagapan saat mendengar suara May yang memanggil kedua nya.
"Kenapa, ada apaan, kok kaya ketawan ngopek di sekolah gitu?" tanya May dengan meminum teh di meja depannya. Lala dengan cepat memutar ide. "Lo letak ponsel nya di atas sofa. biar gue ajak ngobrol May," Jelas Lala yang kini sudah berhadapan dengan May.
"Gimana? enak kagak biatan gue?" Tanya Lala dengan senyum kikuk nya. "Lumayan." Jawab May dan kini membalik badannya ke arah sofa.
"Aduh. May.. May.. mata gue kelilipan nih, tolong dong, perih nih!" Sandiwara Lala dengan memberikan kode ke Mely.
Mely yang mendapat kode itu pun dengan cepat, berlari kecil dan meletakkan nya di tempat ia mengambil, hanya saja bedanya, ia tak di bawah kepala May.
"Sory. ini akibat gue penasaran sama masalah lo, cerita dong!" desak Lala yang kini membawa May duduk di sofa.
~
"Tadi siang, waktu bel istirahat nyokap gue nelpon, kalian dua tau kan, semenjak dua tahun belakang ini, kalo keluarga gue lagi broken home." ucap May dengan muka nanarnya. "bokap sama nyokap gue udah resmi pisah. dan kalian dua tau gak_" May menjeda ucapan nya dan mengelap air matanya dengan kasar. "Gue gak di anggap ada, buat mereka. Bokap gue sibuk dengan bisnis nya, dan yang pasti main dengan para ****** malam di luar kota sana." May menatap kedua temannya dengan sendu. Melihat itu Lala dan Mely gak tinggal diam mereka dua memeluk dan berusaha untuk menguatkan hati May yang mungkin saat ini sudah terlanjur rapuh.
"Nyokap, gue emang selama ini di sini, tapi dia di sini bukan karena gue, ia cuma datang buat nyelesain makasih cerai. dan melampiaskan kemarahan nya ke gue. " May menuduk dan kini butiran bening terus terusan menetes melewati pipinya. "Kita selalu ada buat lo, mungkin kita dua gak bisa berbuat apa-apa sekarang ini May, tapi se enggak nya, kita bisa bantu lo yang kita bisa perbuat, walau pun saat ini kita cuma membantu lo hanya dengan pelukan." Jelas Lala yang mengelus elus pundak May dengan lembut, begitu juga Mely.
"Ini mungkin karma buat gue, buat gue yang gak pernah mengharap akan adanya almarhum adik gue. Ini salah gue!" May mangkin keras menangis dan tak lama kemudian ia tertawa di iringi air mata.
"Gue bodoh ya, hanya karena kelalaian gue, sekarang keluarga gue jadi bubar seperti minyak yang bercampur dengan air, sangat mustahil jika bersatu.
__ADS_1
"Ini gak salah lo May, ini takdir!" Jelas Mely yang berusaha menenangkan May. May menggeleng. "Nyokap gue sering bawa Pria kerumah, tiap malam bercinta, di depan mata gue, meraka gak punya malu lagi. bahkan saat Nyokap gue belum resmi bercerai nyokap udah sering banget gonta ganti Pria.
"Keluarga gue hancur_ karena gue!" lirihnya dengan meremas rambutnya prustasi. "Gue gak di anggap.. gue hanya anak pembawa sial bukan, bagi mereka?" Kini May menatap Lala dan Mely bergantian. "Lo gak pembawa sial May. percaya deh, ada kita yang selalu ada buat lo, lo percaya takdir kan, mungkin ini masih awal dari takdir sulit lo menuju takdir yang lebih baik." Jelas Lala yang kini kembali memeluk May.
"Nyokap gue nelpon gue, dan bilang ia pergi untuk beberapa bulan ke depan, gue sendiri senang degarnya, tapi rasa salah itu masih tergiang giang di pusaran otak gua." dengarin gue, Lala mengoyang goyang kan bahu May agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.
"Menurut gue lo gak salah, kok May. ini semua salahnya itu pada Mama lo, dia yang teledor ninggalin mendiang di mobil, dan saat lo mau bangunin adik lo, itu gak salah lo, karena itu sebuah kecelakaan." Jelas Lala yang tak sanggup meneruskan ucapkan nya. karena melihat May yang sudah tertunduk dengan menangis tanpa suara. dan dengan teladan nya, Mely mengelus elus pundak kepala May. begitu juga Lala.
•
Kini merasa sedang berada di rumahnya May. Mereka menunggu May yang sedang mengganti pakaian di kamarnya. "Gue baru tau kalo May bisa se dramatis gitu nagisnya!" Ucap Mely dengan nada Pelan.
"Gue juga gak nyangka. di sela susahnya hidup gue, masih ada yang lebih susah lagi dari gue." jawab Lala yang kini langsung meminum air di depannya.
"Kok Art nya May kagak keliatan ya?" tanya Mely yang tidak melihat adanya yang lewat, atau menyapa nya.
Lala mengangkat bahu sebagai jawaban. "Ayuk!" ajak May yang kini sudah berdiri di depan kedua sahabatnya dengan seluas senyum simpul.
"Lo benaran mau nginep di rumah gue satu malam ini doang?" tanya Lala saat merasa sedang menuju rumahnya Mely. May mengganguk mengiyakan. "Tapi gue perasan, Art lo kok kagak keliatan?" Tanya Lala penasaran.
"Belanja sore!" jawab May kini masih pokus mengarah ke jendela. sesampainya di rumah Mely di sambut hangat oleh sang mami nya Mely.
"Dek.."
Dada May naik turun mengingat kejadian beberapa tahun lalu, yang mengingat kan dirinya di manja dan di sayangin kedua orangtua nya.
Lala tersenyum kecil melihat tingkah May yang tampak murung, "Tenang masih ada gue!" jelas Lala dan merangkul May ke dalam rumah Mely.
__ADS_1
...Sabar ya Maya, gak apa moga aja takdir kedepannya akan lebih baik. masi ada Lala dan Mely kok, yang kuat ya Maya. ...