
...🌵...
...Akhir dari Kisah...
Kedatangan Mely dan Argell bukannya membuat dirinya bahagia tapi malah menjadi khawatir dengan bayinya.
Revan El Pratama nama anak pertama dari Lala dan Rey.
"Lo dua bukannya buat Revan tenang tapi malah buat gue pusing!" Kesal Lala yang mengangkat Revan dari tempat tidurnya. padahal anak itu sudah tertidur pulas namun entah apa yang di lakukan oleh kedua temannya yang membuat Revan menangis dari tidurnya. Lala membawa Revan ke gendongannya. ia pun mulai memberi asi ke Revan.
"La geli gak?" Pertanyaan bodoh yang di ucapkan oleh Mely membuatnya mendapatkan sentilan kecil dari Argell.
"Kalo lo mau tau jawabannya mending lo kawin aja sana!" Usul Argill yang di angguki cepat oleh Lala.
"Gue mah mau nikah dulu baru kawin. lagian gue mau punya karir dulu baru mikirin begituan!" Ucapnya dengan muka sok.
Baik Lala maupun Argill keduanya menepuk kening mendengar jawaban Mely. "Tapi kalo si bambang ajak gue sekarang, gue mah siap lahir dan batin!" Ucapnya yang mendapat tatapan tajam dari Lala dan Argill.
"Huh.. si bambang, mending cari yang mapan, jangan anak kuliahan! " Tutur Argell.
"Huh.. dasar. bilang aja kalo lo sukanya yang Om Om, si banyak cuan!" Ucapnya asal.
"Emang. Om om lebih mantap lebih bagus cara kerjanya!" Jelasnya yang membuat Mely tercengang.
"Gak ah masi hot** Mas Bambang dong!" Bela Mely.
"Otak lo ngegeser ke depan tuh, belakangin dikit!" Ucap Lala.
"Ih.. ngeri deh lo, udah ngerasain sebelum halal, jangan di temenin La, ngeri si Mely!" Kompor Argell lalu meninggalkan Mely di tempat.
"Mending lo dua pulang deh, gue takut otak anak gue ikutan ngegeser gara lo dua!" Ucap Lala yang berisi candaan.
"Kita pulang dulu ya Revan," cubit Argell dan pergi yang di susul oleh Mely di belakangnya.
"Rewel rewel aja ya Revan gak boleh kasih kendor buat Mami kamu! " Ujar Mely lalu ngacir pergi.
"Kita pulang ya sayang, bay bay..!" kedua temannya Lala pun mulai menghilang dari balik pintu.
Tak lama setelah kepergian kedua temannya Lala. Rey masuk, ia tersenyum manis sambil mengelus pipi Revan dengan lembut.
"Dia udah tidur!" Bisik Rey. Lala meletakkan Revan di atas tempat tidurnya. Melihat wajah letih sang istri membuat Rey berjalan mendekati Lala.
"Belum makan kan? kita makan dulu ya!" Ajak Rey yang membawa Lala ke bawah.
Terlihat Yaya yang sedang duduk cengar cengir gak jelas dengan memakan keripik pedas di pangkuannya.
"Jaga Revan dulu, Abang sama kakak mau makan!" Ucap Rey yang kembali melanjutkan jalannya.
Sudah dua hari ini, Yaya tinggal di rumah sang Abang, ia memilih tinggal di untuk bisa leluasa mencubiti Revan. Setelah satu bulan lebih Revan berada di rumah orang tuanya. yang baru seminggu ini Abangnya kembali ke rumahnya. ia pun memaksa sang Bunda agar bisa tinggal di rumah sang abang. selain berbebas dan leluasa melihat ponakannya itu. ia juga leluasa melakukan ini itu di sini.
Dengan membawa keripik pedas menuju kamar Revan serta banda pipih yang tak lepas dari pandangannya membuat Yaya terus menerus tersenyum membaca kata demi kata yang muncul di layar ponselnya.
Siapa lagi kalau bukan deretan pesan dari Yogi. "Pacar berasa sugar dady!" Celetuknya dengan tawa.
"Aduh manisnya ponakan ku ini!" Cubit nya dengan muka gerem.
"Apa sebaiknya kita adakan baby sister yang bunda bilang itu?" Tanyanya sambil membantu Lala mencuci piring.
"Gak usah dulu deh, kan masih ada Yaya,
__ADS_1
lagian adanya Yaya di sini udah ngebantu banget, nanti aja kalo aku udah mulai masuk kuliah!" Jelasnya.
"Tapi kamu leleh banget sayang, aku jadi gak kebagian!" Ucap Rey yang di akhiri pelan.
Lala menghentikan gerakannya. "Baby sisternya masi muda atau udah tua?" Tanyanya dengan selidik.
"Masi muda.. tapi itu nostalgianya!" Ucap Rey yang sempat mendapat tatapan tajam. "Kalo masi seumuran aku baik di bawah aku dan di atasan aku, aku gak mau, aku maunya baby Sister yang usianya tiga lima ke atas. satu lagi syaratnya dia udah nikah!" Jelas Lala yang berlalu setelah meletakkan piring terakhirnya.
Rey menikkan alis karna merasa seneng mendengar pengakuan Lala yang cemburu
...
Lala menatap kesal ke Yaya. "Kamu itu makan yang pedas pedas tapi nyubitin pipi Revan tanpa cuci tangan. liat nih dia nangis lagi kan!" Omel Lala yang kembali mengangkat Revan. ia berusaha mendiamkan Revan dengan nyanyian ringan.
Yaya yang merasa bersalah di buat kesal karna Rey cekikikan melihat omelan istrinya.
"Bukannya bantuin diemin, malah ngomporin. baut naik tengsi aku aja!" Rey langsung mengejar Lala yang berjalan meninggalkannya.
Kini giliran Yaya yang menertawakan Abangnya. "Rasain!" Ucapnya mengejek.
"Gak gue kasih uang jajan satu bulan!" Ancam Rey yang membuat Yaya bungkam. Namun setelahnya ia tersenyum manis. "Minta sama Papi, sama Bunda blekk..!" Ejeknya sambil mengulurkan lidah.
...
May tersenyum manis melihat sebuah cincin yang melekat di jari manisnya. cincin yang menempel di jarinya beberapa jam lalu.
Hari ini hari yang penuh ketegangan dan kejutan, ia di lamar dua hari lalu dan hari ini langsung di bawa ke jenjang pernikahan.
Ia kembali tersenyum kala melihat sosok pria yang kini berstatus suaminya. "Udah makan?" Tanyanya sambil mencium kening May.
"Belum.. aku nunggu kamu!" Ujarnya, kini keduanya keluar kamar dengan pakaian yang sudah di ganti dengan baju biasa.
Di balik rasa bahagianya, ada sakit yang masih menempel di hatinya. sejak tadi siang sampai malam ini, tak ada terlihat sosok Mama maupun Papinya di sini, tak ada satu pun sanak saudaranya yang datang, kecuali Bibi yang beratus tetangganya dan Kakeknya.
Pernikahan May saat ini tak di ketahui oleh semua teman temannya. bahkan semenjak reuni terakhir kali waktu, ia tak memunculkan diri bahkan ia mengganti nomor ponselnya. ia sengaja melakukan semua itu karna ia ingin jelas dan mengejar masa depannya.
Pria yang saat ini beratus suaminya menggenggam tangan May erat. "Ada aku, ada keluargaku, ingat jangan mengharapkan hal yang minim terjadi karna hal itu hanya membuat kita sakit hati!" May tersenyum lega dan memeluk suaminya dengan erat.
...
Dua tahun kemudian.
Mely dan Bambang bagikan lem yang sangat menempel. Dehemen dari arah belakang membuat dua orang itu menjaga jarak.
Bagas berjalan pelan dengan seorang cewek yang sedang merangkul lengannya. Mely sontak berdiri karna kaget dan tak percaya atas apa yang di lihatnya.
"Ini El.. ini lo Ella?" Tanyanya yang menatap Ella dari atas sampai ke bawah. Ella tersenyum sebagai jawaban.
Sungguh berbeda, sosok Ella yang saat ini berbeda jauh dengan masa SMAnya dulu. Ella, memakai baju gamis dengan jilbab pasmida berwarna senada melekat di tubuhnya, di tambah lagi sepertinya Ella sedang berbadan dua karna perut itu terlihat buncit.
"Wuih.. wuih.. jadi ini istri lo, sory gue gak bisa datang maklum gue kan ngejar karir!" Tukas Bambang.
"Jadi kamu tau?" Tanya Mely mereka tak adil. "Gue juga dah kasi tau kamu Mel.. tapi kamu bilang kamu gak bisa datang karna lagi banyak tugas dan ngerjai skripsi!" Jelas Ella.
"Ah.. kapan?" Tanya Mely merasa lupa. tak lama kemudian ia tertawa ketiga mengingatnya. "Astaga gue lupa.. kado dari kita sekalian pas lo lahiran aja ya!" Ucap Mely yang membukakan kursi agar di duduki oleh Ella.
"Lo dua kapan?" Tanya Bagas tertuju ke bambang. "Jangan bilang tunggu kita semua udah pada berkeluarga lo dua masi gitu gitu aja, ingat bam lo udah enam tahun lebih jadian!" Ujar Bagas.
"Minggu depan!" Jawab Bambang asal. Mely terarah atas ucapan bambang barusan.
__ADS_1
Seketika Mely menjadi lemas.
"Tapi lamaran dulu!" Muka Mely langsung murung mendengarnya.
'Btw lo dua gimana bisa jadi, cerita ke kita dong!" Pinta Mely melepaskan rasa panas di hatinya.
...
Lala mengacak pinggang karna mereka geram atas kelakuan Reven. "Sayang bajunya jangan di buka lagi ya!" Ucapnya yang kembali memasang baju Revan.
"Udah sampai ?" Ujar Rey yang langsung mengangkat jagoan kecilnya. mereka pun keluar dari mobil di ikuti Lala yang berjalan beriringan di sampingnya Rey, mereka mulai memasuki sebuah restoran yang menuju ruang VVIP.
Kedatangan Lala dan Rey menjadi ricuh, bukan karna adanya Rey dan Lala tapi karna adanya Revan di antara mereka semua.
Satu meja yang berukurang besar itu sudah ada Bambang, Mely, Ella, Bagas, Yogi, Yaya, serta Dian. semuanya memiliki pasangan, kecuali Dian.
"Dih si jomblo akut!" Usik Bambang dengan suara ejekan yang jelas di tujukan ke Dian
"Akut akut gini, lagi tunggu waktu yang pas, buat lamar anak orang, gak kayak lo udah lama mepetin anak orang, sampe sekarang statusnya masi aja sama!" Cibir Dian balik.
Lala tersenyum kecil melihat Ella yang berubah.
"Sory gue gak datang!" Ucap Lala yang memberikan sebuah kotak ke tangan Ella.
"Hadiah pernikahan!" Bisiknya.
"Hadiah yang mencurigakan!" Balas Ella.
"Yang jelas bikin suami lo ke tagihan!" Lala menjawab dengan tawa ringan.
"Ketagihan? maksudnya?" Ella berubah cengo mendengar ucapan Lala. "Pokoknya lo bakal ngerti deh, kalo lo buka!" Lala kembali berbisik.
"Hayo ngegosipin gue ya lo dua!" Tanya Mely selidik.
"Kepo!" Jawabnya serempak.
"Lo mah masi gadis, gak bagus gabung sama kita ya kan Ella!" Ucap Lala. Ella mengangguk sebagai jawaban.
"Iya lah si paling emak emak!" Ujarnya.
"Udah berapa bulan?" Tanya Lala yang melihat perutnya Ella.
'Enam bulan!" Jawab Ella yang tanpa sadar mengelus perutnya. Entah kenapa, Lala yang melihat itu tertawa lucu. 'Setelah gue melihat lo El, gue baru sadar kalo orang hamil itu ngemesin!" Ujarnya yang ikut mengelus perut Ella.
Revan jangan di tanya, anak kecil itu sibuk bermain dengan Mely dan lainnya. ia terus menerus mengganggu Bambang dan Yogi. sedang Dian sibuk dengan ponselnya, lain hal dengan Yaya, gadis itu bolak balik memotret dirinya.
Mely yang merasa di abaikan oleh para emak emek itu, melemparkan sebuah anggur ke Lala namun karna terlalu kencang. Lemparannya melesat dan berhenti di sebuah kaki.
Mely melotot dengan mulut terbuka. "E-Eh ADA BUMIL!" Ucapnya yang membuat lainnya mengarah ke arah tatap Mely.
Suasana yang tadi ticuh kini hening. "May!" Ucap Lala, Ella, dan Mely berbarengan. yang di panggil hanya tersenyum manis. kini alihan mereka beralih ke orang yang berada di sampingnya May.
"Ryan, kok.." Mely kembali membungkam mulutnya. "Mata gue gak rabun kan?" Tanya Mely yang terdengar goblok.
Suasana masih hening. namun sebuah suara yang bersumber dari Reven membuat mereka tertawa bersama.
"Anak kamu tuh!" Tunjuk Lala yang kesal karna di saat seperti ini, Revan bisa bisanya membuang ketut dengan kuat disertai ta* yang keluar dari pantatnya.
"Nasib seorang emak² dan bapak²!" Ucap Mely sambil tertawa.
__ADS_1
...hai para pembaca setia.. Ini kisah bakal tamat nih, kemungkinan satu bab lagi, kalo gak ke bablasan dua hihihi... jangan lupa tinggalin jejek *yaaaa**🙌🙌*...