
...🌵...
...Mencurigakan.....
Pulang sekolah pun tiba, seperti biasa Lala pulang bersama dengan kedua temannya, berhubung saat ini ia sedang sakit mereka berhenti di apotek untuk membeli obat yang di saran kan oleh Buk Tiwi di sekolah tadi.
"Masih sakit La?" Tanya Mely yang saat ini sedang duduk di samping nya.
"Gak sesakit yang tadi pagi, tapi lo dua jangan bocor ya, ma Mami gue, yang ada bukanya mendapat perlakuan baik nantinya, malah di omelin nantinya." Pinta Lala pada dua temannya, karena biasanya Mely akan memberi tau Maminya jika ia sedang ada masalah, berbeda dengan May ia hanya memberi tau kalau sedang di tanya.
"Mel, pokus lo kejalan, jangan ke samping," Omel May yang baru saja buka omongan sejak pertama memasuki mobil tadi.
"Guekan punya dua mata, satu mata untuk menjaga arah depan, satu lagi untuk melihat wajah Lala yang cantik," Ucapnya sambil menepuk pundak Lala pelan.
"Muji gue boleh, tapi jangan main pukul pukul juga kali!" Protes Lala sambil memutar balikkan kepala Mely agar pokus ke arah jalanan.
"Gak ada yang namanya bisa liat depen dan samping emang kedua mata lo, sama kayak matanya bebek?" Tanya Lala sambil menggeleng.
"Ck.. masa mata secantik gue di samain sama matanya bebek, gak berperi kemanusiaan," Ucap Mely dengan menambah kan kekencagan mobil nya.
"Resek lo Mel..!" Cerocos May dari belakang dengan menoyor kepala nya Mely kuat, pakai botol minum nya.
"Anjir, lo yang resek May, main toyor toyor kepela gue, emang lo kira ini pentungan orang ninggal apa?" Ucap Mely dengan tatapan kesal ke arah belakang nya.
"Kalo pentongan mayat, ya kagak botol minum juga kali untuk mukulnya, tapi pake pukulan khusus yang dari kayu," Protes May dari belakang.
"Lagian salah siapa lo balap balap, liat nih akibat perbuatan balapnya lo!" Ucap May dengan menunjukkan rambutnya yang berantakan akibat gagal mengucir.
"Lagian salah siapa gak lo kucir dari rumah!" Balas Mely tak mau kalah.
"Ya salah lo lah!" Ucap May tak mau kalah.
"Lo ya.." Saut Mely masih peda pendirian nya untuk menyalah kan May.
__ADS_1
"Lo.."
"Lo apa gue?" Tanya Mely sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Lo lah.. masa gue!"
"Ya udah berarti lo kan?" Tanya Mely lagi.
"Lo.." Jawab May lagi.
"Udah ah.. berisik!" Ucap Lala dengan sedikit meninggi kan volume suara nya. sontak perdebatan itu pun berhenti, "Sory.." Ucap keduanya berbareng. Lala tetawa menyadari kekompakan keduanya.
"Lah kok lo ketawa?" Tanya mereka kompak.
"Udah ah.. cukup kalian tanya diri masing masing aja apa penyebab gue ketawa." Ucap Lala dan turun dari mobil.
"Ayo! gak ada niatan nemenin gue yang sakit ini nih?" Tanya Lala pada kedua temannya yang terlihat berdiam diri dengan membuang muka masing masing.
"Jadi berantem nih?" Tanya Lala lagi. Keduanya saling pandang dan secepat kilat keluar dari dalam mobil.
"Kalian dua itu lebih cocok di bilang sebagai teman kembar, dari pada teman rival!" Ucap Lala dan merangkul keduanya masuk ke dalam apotek.
Di tempat lain. selesai mengantarkan Ella sampai ke rumah, Rey berhenti di pinggir jalan, ia mencoba menghubungi Lala yang sejak di sekolah tadi tak ia jumpai sama sekali. Ia mencoba menghubungi Lala sedari tadi, namun tak ada tanda tanda akan di angkat oleh nomor yang di tuju nya. Saat ingin menghidupkan motor miliknya matanya tanpa sengaja menatap seorang cowok yang sejak di sekolah tadi menjadi bahan tanya nya. Orang yang sedang di pandangi oleh Rey gak lain dan gak bukan adalah Yogi.
"Lo lagi, lo lagi, yang gue liat!" Ucap Rey dengan menatap nyalang ke arah Yogi. Yogi yang merasa jika orang di sampingnya yang baru ia lewati tadi sedang mengatainya langsung berbalik dan memandangi Rey dengan senyum simpul.
"Kenapa emang ? kalo gue?" Tanya Yogi dengan berjalan mendekati Rey yang berada di atas motor nya.
Malas meladeni orang yang tadi ia sindir, Rey henya mengangkat kedua bahu acuh dan menghidupkan motor nya. Tanpa banyak omong Rey langsung melewati Yogi begitu saja.
"Mencurigakan," Ucap Yogi dan kembali berjalan lagi.
Balik lagi ke tiga orang yang sudah berada di dalam mobil.
__ADS_1
"May nanti jadi kan kita nonton nya?" Tanya Mely pada orang di depannya, saat ini yang menyupir adalah May, ia tak mau jika saat ini Mely lagi yang membawa, karena ia takut bisa menaikan darah tinggi nya.
"terserah," Jawab May malas. "Gue gak di ajak nih?" Tanya Lala tanpa membuka matanya.
"Astaga.. La! lo ngagin gue aja!" Proses Mely sambil mengelus dadanya.
"Lo yang di belakang aja kaget, apalagi gue?" Ucap May dengan wajah kesal nya pada Lala. Tadi setelah mereka sudah membeli resep obat yang di sarankan oleh Buk Tiwi. Lala langsung meminumnya dan mungkin karena efek obat dan rasa lelehnya di sekolah tadi. membuatnya tertidur di mobil.
"Sory.. sory, gue tadi ketiduran ya?" Tanya Lala dengan wajah bantalnya, sekaligus bingung nya.
"Muka lo mirip kodok ya La, kalo bangun tidur!" Ucap Mely dengan tertawa. May melirik sekilas dan ikut tertawa bersama Mely. "Mending, ketawa lo dua, mirip kuntil mamak." Ucap Lala dengan malas.
"Kuntilanak kali la!" Mely mebenarkan ucapan Lala. "Ini kan khusus buat lo dua, makan nya kuntil mamak.
"Gue ikut ya?" Pinta Lala pada kedua temannya. "Kemana?" Tanya May heran atas ucapan Lala barusan. "Nonton, lo dua pada mau nonton kan?" Tanya Lala pada dua temannya.
"Rencana sih! tapi lo sakit, apa gak sebaiknya lo istirahat aja di rumah, liat tuh muka lo aja masih lesu." Jelas May mengingatkan pada Lala. Sejujurnya Lala sendiri emang masih merasa lemas, walaupun tak selemas waktu di sekolah tadi, tapi ia berpikir lagi.
"Gue juga pengen nya istirahat, tapi di rumah bukanya buat gue nyaman, malah buat tambah beben gue aja, mangkin puyeng yang ada!" Jelas Lala mengerutu dalam hati.
"Gimana? jadi lo istirahat aja kan?" Tanya Mely saat mobil yang di bawa oleh May sudah menepi di depan rumahnya.
"Gak ah.. malas gue pulang!" Jelas Lala sambil keluar dari mobil. Baik May maupun Mely saling pandang.
"Gak takut lo, ntar lo dapat ceramahan dari Mami lo?" Terang May mencoba untuk mengingat kan. Lala memandangi kedua nya sejenak.
"Ntar gue telepon Mami," Ucapnya sambil bersandar di depen pintu menunggu May dan Mely yang masih berada jauh dari keberadaan nya.
"Liat tuh.. muka lo masih pucat, badan lo logo, masa ia masih mau ikut nonton, yang ada lo tiduran aja kerjanya."Ujar Mely saat merangkul Lala menuju sofa.
"Gue tinggal ke kamar dulu ya.." Pamit May dan mulai membalik menuju kamarnya berada.
"lo telepon Mami? Ini udah jam tiga lewat lo!" Ucap Mely saat mereka sedang makan sinang di rumah May, namun tak dengan Lala ia merasa tak berselera makan.
__ADS_1
"Ya udah kalian lanjut makan aja, ini gue masih telepon!" Jawab Lala dan di angguki keduanya.
Lala terbelalak saat melihat banyaknya panggilan dari Rey, orang yang baru beberapa hari ini menjadi suaminya. dan selebihnya dari Maminya. Ketika mendengar sambungan terangkat, Lala riplek menjauhkan ponsel dari telinganya.