My Anemy My Hubby

My Anemy My Hubby
bab53- Mati Daya


__ADS_3

...🌵...


...Mati Daya...


Tanpak seorang cewek yang sedang duduk disofa dengan muka mamandang lurus ke depen, "Hayo ade kakak mikirin apa?" Tanya Kakanya Ella dengan menarik remot di tangannya Ella. Lala mendesis kesal dengan perbuatan kakanya itu.


"Kak, ternyata Yogi satu sekolah sama Ella!" ucapnya saat sudah cukup lama diam dan melamun. mendengar ucapan sang adik, membuat Eura langsung mematikan televisi yang tadi menyala. "Dia gak ganggu kamu kan? gak buat macam macam kan? atau dia masih suka sama kamu?" Tanya Eura pada adik semata wayang nya itu, Ella hanya menggeleng kan kepalanya.


"Enggak kak, dia udah berubah, malah lebih baik kok, walaupun awal kita jumpa sempat ada kesan canggung dan sesak juga, tapi sekarang kita temanan, kakak tau gak tadi Yogi yang antar Ella pulang." Ucap Ella dengan senyum namun senyumnya dengan cepat memudar. "Tapi pas kita lagi di jalan, dia sempat bahas tentang hubungan kita dulu, dia minta maaf, tapi yang disini salah kan Ella, dia juga bilang kalo dia pernah mogok makan karna Ella, dan yang bikin Ella sakit lagi gak lama setelah Ella tinggal dia, Mamanya meninggal!" Ucap Ella dengam mimik yang berubah sedih.


Eura mendekati adik semata wayang nya itu, ia langsung memeluk Ella dengan erat. "Dengar ini gak salah Ella semuanya sudah di atur dan kita hanya perlu menjalaninya dengan sabar!" Terang Eura yang mendapatkan balasan pelukan dari Ella.


...


sejak senyum May terus menerus berkembang, ia tak pernah berpikiran seperti ini jadinya. karna ajakan Mely yang pengen alias rindu dengan bambang, membuatnya berada di rumah Bambang dengan adanya Yogi di sini. terlebih saat dua orang berbeda jenis itu tak mau di ganggu, membuat May bisa berlama lama berada dekat dengan Yogi.


"Lo sering kemari?" Saat ini May dan Yogi berada di balkon kamarnya bambang. Yogi membalasnya dengan gelengan kepalanya.


"Ini yang pertama kali, semenjak gue pindah dari kampung dan berakhir di sini!" Ujar Yogi dan di angguki oleh May. "Btw lo anak ke berapa sih?" May bertanya sambil mengubah posisi duduknya yang mengarah ke arah Yogi.

__ADS_1


"Gue? gue anak ke berapa ya? gue lupa?" Jawab Yogi dengan wajah sok mikirnya. May tertawa melihat tingkah nya itu. "Oh privat pasti nih, makanya begitu!" Ujar May lagi.


Terdengar helaan nafas dari Yogi, "gue anak terakhir," Ujar Yogi tanpa melihat kearah May.


"Bambang..!" bambang menghampiri teman semasa kecilnya itu yang saat ini sedang tampak mengobrol dengan May. Mely mendesis kesal saat mengetahui jika bambang berlari ke tempat nya May dan Yogi. Ia berjalan dengan malas dan bibir yang sudah maju sepuluh senti.


"Mel, lo berdua dulu ya, sama May. gue ada perlu sama Yogi." Ujarnya dengan senyum kecil kearah Mely. Mely mau mencubit perut kurusnya Bambang, dan langsung berjalan menghampiri May berada. May hanya menggeleng kan kepalanya, menurutnya sikap Mely terlalu lebay. "Ya elah, baru juga jadian. berapa hari, cemburuan nya udah luber aja!" May berucap tanpa memperhatikan penampilan Mely yang tambah kesal.


"Sok tau lo!" Ujar Mely tak terima. "cemburu sama kesal beda!" Sambung nya lagi. "Oh bedanya gimana? kok gue gak tau?" Tanya May dengan wajah sok peduli nya. Mely melihat wajah May sekilas lalu ia tersenyum dan tertawa. May yang tak tau letak lucunya hanya menggeleng kepalanya.


"Jangan bilang lo kesambet setan di kamarnya bambang," Mely berperilaku layaknya orang yang sedang merinding. "Emang, gue tadi ngomong sama hantu di kamar ini, hantu nya mirip sama penghuni kamarnya gue, serasi banget kan gue sama bambang, sampai hantu pun bisa sama rupanya," Ucap Mely yang sudah berhenti tertawa. "Alasan gue ketawa bukan itu sih, tapi_" Mely sengaja menjeda ucapannya, ia lebih memilih berbicara dengan berbisik oleh May.


"Kampret lo!" Mely tabpa sengaja dan mungkin karena sudah terbiasa menepuk pundaknya Mely dengan kuat. tawa Mely yang tadinya tertawa lagi saat baru saj berbisik ke May, pudar saat mendapat kan sebuah hadiah di lengannya.


...


Tukk..


"Aduy.. sakit ternyata!" Ujarnya dengan mengelus elus keningnya yang baru saja ia jatuhkan kr meja belajar.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Rey dari belakang Lala. "Gue bingung ngerjainnya, udah gue ulang ulang tapi tetap aja gak mudengnya, Kimia, Fisika ah mati daya deh gue di buatnya!" Lala kembali menghantukan kepalanya di meja, kali ini terasa lebih sakit dari sebelumnya. hingga ia langsung memukul meja dengan kedua tangannya


ck. aduh la, gak apa lah mati daya daripada mati rasa. kalo daya kan bisa di isi nah kalo mati rasa itu urusan dah susuh di urusi.


"Kenapa lo gak mau ngedukung gue, gue lagi pusing tambah mangkin pusing karena lo, sakit tau pala gue, memar lo yang tanggung jawab, gue gak mau tau!" Omel Lala dengan menunjuk nunjuk meja di depannya. Rey tersenyum kecil melihat keanehan cewek di depannya yang sekarang berstatus istri.


"Mana yang sakit, biar gue tanggung jawabi" Rey langsung memutar kursi belajar yang sedang di duduki oleh Lala, posisi nya saat ini sedang setengah berjongkok dengan memijak mijak keningnya Lala. "Ternyata pijatan nya jauh lebih enek dari pijatan Mami!" Puji Lala dalam hati di hiasi dengan senyum simpul yang asli.


Awalnya Lala merasa nyaman dengan pijatan di keningnya, namun saat dirinya beru saja memuji Rey, ia merasa Rey memijat keningnya bagai memijat kaki yang sedang terkilir sontak hal itu membuat Lala mengeluarkan suara rintihan.


"Auu.. au.. au.. lo iklas gak sih mijitin kening gue, atau lo sengaja ya mau nyiksa dengan cara begini?" Tanya Lala sambil mengusir ucapannya yang memuji Rey sebelumnya. Rey hanya terkekeh kecil melihat tingkah nya Lala.


Setelah paus akan merepeti Rey, Lala mendorong dengan paksa ke tempat asalnya, gak alin adalah sofa.


"Yang mana yang gak bisa biar gue bantu!" Tawar Rey saat baru saja selesai dari tugas kantornya. Lala hanya melihat Rey sekilas, ia menutup bukunya dengan asal dan berjalan gontai ke arah kasur. "Jangan lo pegang!" Ujar Lala sebelum makan membaring kan badanya di beda empuk itu. Ssaat Rey melihat Lala yang tengah terpejam dengan setengah kakinya yang menjuntai ke lantai hanya menghela nafas. Rey membuka buku tulis dan paket yang tadi di tutup oleh Lala. Ia tertawa saat melihat selembar kertas di buku tulis paling belakang yang penuh dengan coretan pulpen.


Coretan itu berupa gambar dirinya dengan persi anime. tak lupa Lala juga membuat percakapan di dalam buku ini, senyum Rey semangkin mengembang saat melihat persi anime wajahnya Lala. "Lenih buruk dari yang gue bayangin!" Ucap Rey lagi. "Ngapain lo!" Tiba tiba saja Lala langsung menarik buku yang sedang berada di tangannya Rey.


"Kan dah gue bilang tadi jangan pegang pegang," Omelnya dengan meletakkan buku tulisnya di dalam tas yang di dalamnya ada coretan pulpen dari hasil gabutnya. Lala menyingkirkan tangan nya Rey yang menghalangi jalannya. "Lo mu kemana sih?" Tanya Lala dengan sewot. Bukanya menjawab Rey malah menarik Lala masuk ke dalam pelukannya. 'Ayo tidur, ini udah malam!" Ajak Rey dengan mengelus elus rambut nya Lala hal yang baru saja dialami Lala membuat Lala salting, bege lo baru di elus dan di peluk aja salting, gimana kalo gu_" Lala langsung menutup mulutnya yang akan mengeluarkan kata yang tak seharusnya ia ucapkan.

__ADS_1


"Sini La!" panggil Rey dengan menepuk tempat di sebelah nya. Lala hanya mengangguk mengiyakan dan langsung berbaring di sampingnya Rey dengan posisi membelakangi Rey. Lala menghela nafas lemas saat Rey sudah memeluknya dari belakang. namun tak lama kemudian Lala menghadap ke arah Rey.


Tanpa aba aba, Rey langsung mengecup bibir Lala sekilas, dan Lala pun balik mengecup, dari pikiran Lala saat ini ia mengerutu membodohi dirinya yang membalas kecupan dari Rey. pasalnya Rey saat ini bukan hanya kecupan singkat saja yang di berikan tapi menjalar ke bagian bawah.


__ADS_2