
...🌵...
...Bikin Gue Malu Aja...
Lala menghempaskan badannya di kasur dengan perasan yang masih tak dapat di cerna.
"Sepertinya gue harus hilangkan niat pembalasan dendam gue ke Ayah deh, gue gak bisa berpikir jernih karna ternyata Ryan satu darah sama gue, jika di ingat ingat, dia juga baik sama gue!" Ucapnya lagi.
Ceklek..
Tempak Rey yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Baru pulang?" Tanyanya sambil melemparkan handuk ke badannya Lala.
Lala mendelik saat melihat karna tingkah suaminya itu, membuka handuk sebelum memakai celana.
"Udah sana mandi, gue mau ajak lo keluar malam ini, sekalian ada yang mau gue urus nantinya!" Ujar Rey sambil membuka lemari.
"Gak malu banget sih!" Omel Lala yang melipatkan handuknya ke pinggang Rey.
Lala dengan sengaja melambatkan gerakan tangannya saat melilitkan handuk di pinggangnya Rey bahkan dengan sengaja, ia menghembuskan nafasnya pelan tepat di leher jenjang suaminya.
"Laaa...!" suara Rey tiba-tiba saja terdengar berat.
"Kapok kenak kan!" Batin Lala yang tersenyum puas dalam hati. "Makan tuh nafsu, taham.. tahan ya!" Lagi lagi Lala mengejek dalam hati.
"Gu.. gue mau mandi!" Jerit Lala sambil berlari kencang ke kamar mandi. Ia tertawa terbahak bahak di sela rendaman mandinya. "Emang enek, gue beri tantangan!" Ujarnya lagi.
Dengan kedua matanya yang di pejamkan Lala bersenandung sambil mengosok badannya dengan santui.
Ia merasa jika ada yang aneh di dalam bak mandinya, awal di biarkan masih biasa biasa saja, namun lama kelamaan rasa geli yang berasal dari dalam air membuatnya jadi merinding.
Ketika ia bangkit dari bak tempat ia berandam. seekor cicak nimbul dari dalam air. degan spontan, Lala membuka pintu dan berlari ke arah Rey.
"Rey menatapnya Lala dengan mata memicing. Sempat heran dan lucu saat melihat gaya wajah serta larinya Lala saat itu. Lala berdecak kesal saat Rey malah tertawa saat mendengar ucapan dari Lala.
"Gue gak mau ah, masa mandi sama cicak. jorok tau!" Kesalnya sambil menatap tajam ke Rey.
"Jadi maksudnya, lo maunya mandi sama gue!"Rey meletakan ponselnya di atas nakas. Ia tersenyum licik dengan niat mengerjai Lala balik
"Gue belum mau, maksudnya gue lagi halangan!" Jawab Lala dengan bibir yang menggitir saat berucap.
Puk..
Rey menepuk keningnya Lala dengan pelan. "Dasar cewek mesum!" Bisiknya yang berakhir mengangkat Lala masuk ke kamar mandi.
...
Lala memakan jagung bakar dengan penuh nafsu. ia sangat tak menyangka jika Rey akan membawanya ke ini. "Biasanya, ehh.. maksudnya saat lo masih jadian dengan para mantan lo, lo bawak merasa ke tempat ini?" Tanya Lala dengan antusias.
"Jangan bahas mantan di saat kita berdua!" Ujar Rey dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Oke.. oke.. jangan gitu dong liatnya, jadi kabur kan para cacing tanah!" Ujar Mita dengan muka masam.
Selesai dari makan jagung bakar dan jalan jalan malam Rey berhenti di salah satu rumah. "Rumah siapa?" Tanya Lala yang ikut berjalan di sampingnya Rey.
"Rumah Bagas!" Jawabnya tanpa menoleh ke Lala.
Begitu pintu terbuka, mata Lala langsung bertemu dengan Ryan yang juga sedang menatapnya. dan muncul seorang lagi di belakang Ryan, yaitu Dian.
"Wehh.. biasa bawa cewek. sekarang bawak binik!" Ucap Bagas yang mendapat tatapan seram dari Lala.
"Iri bilang!" Ujarnya sambil merangkul lengan Rey dengan manja. "Ya kan sayang!" kedua temannya Rey tertawa geli saat mendengar Lala mengucapkan sayang.
"Ya kan sayang!" Ejek Bagas dengan suara yang mengejek.
Ryan sejak tadi masih saja melihat ke arah Lala. ia masih tak percaya dengan Lala yang kini di depannya.
"Eh malah bengong. kelamaan bengong bisa jadi patung lo!" Ucap Bagas.
"Eh botak, bukan patung yang ada tapi kasus prozen!" Ucap Dian sambil melihat ke arah Lala.
"Apa lo liat liat, mau gue cungkil mata lo pake paku karat!" Ancam Lala
"Boleh juga, tapi di cungkil pake paku payung yang gantung gantung, asam manis gimana gitu rasanya!" Ujar Bagas dengan wajah menghayalnya.
"Yang mana yang harus kita kerjakan. gue gak punya banyak waktu!" Rey langsung menabrak ketiga orang yang menutupi pintu untuk merasa jalani. Lala mengejek saat berhasil mencubit Dian saat lewat tadi. "Balasan buat mulut lemes lo disekolah!" Ujarnya pelan.
"Status istri sama pacar beda jauh ya, kalo pacar masi bisa di icip icip lah, lah ini belum juga di icip, udah hilang dari pandangan!" Ujar Bagas dengan muka sengek.
"Lo juga sih, pake payung gantung gantung. bawaannya jadi sensi aja tuh anak!" Balas Dian.
"Mending sensi, dari pada nih anak, seketika jadi anak bisu!" Ryan menatap keduanya dengan jengah. "Gue masih ada urusan, gue kasih ke kalian tiga yang siapkan, gue balik luan! " Ujarnya sambil menepuk kedua bahu bahu temannya secara bergantian.
"Woi kita belum selesai, bukanya nih tugas lo yang paling paham, kok malah jadi kita kita yang ngerjakan?" Kesal bagas sambil memanggil Ryan yang sudah hilang dari pagar.
"Biasa koran prozen tuh anak, jadi pada sensi aja bawaannya, biasa udah kejar kejar dari smp malah di dapat sama teman sendiri. mana sekali jadian langsung nuju pelaminan! Gile gak tuh!" Ujar Dian yang ngomong sendiri.
"Kampret lo Gas, emang deh seusai nama gas alam, jadi sesuka hati alam nya aja!" Dian pun menyusul Bagas ke bescem.
•
Lala terus menerus menguap saat belajar. "Nih anak begadang enek enakan atau begadang liat drakor sih, bawaannya kantuk aja, heran gue! " Omel Mely sambil mengebrak meja kuat.
Lala menatap Mely dengan kesal. "Bisa gak, jangan ganggu, bisnis tidur gue, ngantuk tau!" Ucap Lala dengan alis menyatu karna kesal.
"Biarin dulu Mel!" Ujar Ella. Lala tersenyum kecil mendengar ucapan Ella barusan. "si Ella emang ter the best dah!" batinya.
Bel pulang pun tiba. Lala berjalan malas menuju kesalnya Rey. "Sabar La, sabar, tunggu hitungan hari aja lo di sekolah ini, setelahnya lo gak bakal dan mesti datangi si kelas lakik lo lagi!" Ujarnya dengan muka kesal.
"La..!" Lala membalikkan badannya saat mendengar Yogi yang memanggilnya dari belakang. Senyum Lala mulai terlihat kala melihat coklat di tangannya Yogi.
__ADS_1
"Buat gue kan!" Ujarnya yang merampas coklat dari Yogi. Yogi hanya mengangguk dengan senyum senang.
"Tumben, lo tau aja apa yang gue butuhkan!" Ucap Lala sambil menyimpang cokelat batangan ke dalam tas.
"Kok gak dimakan?'
"Gu.. gue luan ya, makasih atas pemberiannya!" Ucap Lala sambil memutar arah mengajar Rey yang baru saja melewatinya.
"Pemberian apa?" Tanyanya sambil berhenti mendadak.
"Kepo!" Jawab Lala yang berjalan mendahului Rey. Rey mencekal tangannya Lala kuat, hampir saja ia terjatuh, untungnya Rey membantunya.
"Pemberian apa?" Tanya Rey mengulangi kalimat yang sama. "Bisa lepas gak sih, risih gue di liatin teman yang lain!" Ujar Lala yang merasa risih. pasalnya ia sedang di peluk paksa oleh Rey.
"Kalo lo gak jawab, bakal gue cium pakasa lo di depan semuanya!" Ancam Rey dengan nada datar.
Lala mendelik mendengar ucapan Rey barusan. kesambet apa sih lo, seketika jadi mes.. Reyyy!"
Lala mendelik saat merasakan ciuman paksa di pipinya. sorak teman teman yang melewati mereka heboh dan saling tanya.
Karna rasa malu di lihat banyak diswa/i Lala menginjak kedua kaki Rey secara bergantian.
Ia berlari cepat saat kedua tangannya Rey sudah terlepas dari perutnya. ia menuruni anak tangga dengan perasaan malu dan geram atas tingkah Rey barusan.
Yogi yang melihatnya terdiam di tempat. sungguh ia tidak tau jika Lala di perlakukan seperti itu oleh Rey, apalagi dari yang ia lihat. Yogi tau jika ciuman yang di berikan oleh Rey pada Lala hanya sebuah ciuman rasa kesal dan marah. ia sendiri pernah melakukan hal seperti itu, namun bendanya ia tak mencium di depen umum seperti ini, melainkan saat Ella meminta dirinya agar memutuskan hubungan di antara keduanya.
Melihat Lala yang pergi di sertai rasa malu, Yogi berlari mengejar Lala yang sudah jauh di bawah sana.
Lala membasuh wajahnya di wastafel dengan kasar. "Kenapa lo jahat banget sih sama gue, ahhhhh!" Lala mengacak rambutnya dengan kesal.
"Gue malu, dia punya perasaan apa gak sih, gue tau kalo gue hak dia, tapi kenapa! kenapa gue harus.. Lala mengelap air matanya kasar. "mana tangan masih sakit lagi, kuat banget tenaga nya!" Kesal Lala sambil mengelus elus pergelangan tangannya yang sakit.
Rey terduduk di kursi kemudi dengan perasaan tak karuan, ia melihat wajah kesalnya Lala dan merasa bersalah atas apa yang ia buat beberapa menit yang lalu.
"Apa gue keterlaluan ya!" Tanyanya dengan tatapan tatapan lurus ke depan. Melihat sekolah yang sudah sepi, Rey menjadi tak karuan, apalagi saat menelpon Lala, ponselnya sama sekali tak aktif.
•
Lala tertawa puas dengan adik iparnya. "Enek kan, besok pinta lagi ya sama Bang.. Lala menjeda ucapannya. "Bang Yogi! " Sambung Yaya yang mendapatkan dua jempol dari Lala.
"Aduh..!"
"Kenapa lagi Ya? " Tanya Lala mimik heran pada adik iparnya ini. "Yaya ke kamar mandi dulu ya, mau beol!" Ujarnya yang meninggalkan kentut.
"Yaya!" teriak Lala sedang yang di teriaki hanya tertawa mengejek.
...
Yogi menatap lurus ke depan. kata kata Lala di mobil tadi terus saja menghantui pikirannya. ada rasa tak percaya, dengan hati yang menolak keras, di sertai rasa sakit yang mangkin lama mangkin sakit di sertai sesak.
__ADS_1