
...๐ต...
...Gosong ...
.........
Tiga bulan kemudian...
Lala menatap bosan ke arah Rey yang sedang sibuk dengan layar di depannya. Ia berjalan mendekati Rey dengan langkah kesal. "Gue lapar!" Ujarnya sambil duduk manis di samping Rey. Rey hanya melihat Lala sekilas lalu menutup laptop di depannya.
"Mau makan apa?" Tanya Rey saat membuka kulkas.
Lala tampak berpikir sejenak. "Ayam geprek enek kayak nya!" Ucapnya sambil menatap cinta ke Rey.
"Istri soleh!" Ujar Rey sambil mengelus pipi Lala gemas. Saat ini mereka sudah memiliki rumah sendiri. rumah yang berasal dari hasil kerja sama dengan Papinya sendiri. ia sudah berniat akan pindah saat dirinya sudah tamat SMA.
Soal pembantu. saat ini mereka tak mengadakan jasa itu, mereka memilih merapat rumah bersama, berhubungan dengan Lala yang tak sepala mahir dengan hal memasak. sempat tak setuju juga saat Rey menyatakan jika tak mau ada jasa pembantu untuk saat ini.
Namun karna diam diam, Rey yang pandai memasak, membuat Lala lega, setidaknya ia bisa leluasa agar tidak berurusan dengan dapur. walaupun Rey sering memberikan dirinya saran agar belajar. namun yang namanya gak niat sampai dua bulan lebih ia tinggal di sini, hanya sedikit ilmu masak yang masuk ke otaknya.
Lala memberikan dua jempol sambil melahap ayam geprek buatan suaminya. tak lupa ia menyuapi Rey, yah hampir tiap hari dan ini menjadi kebiasaan pribadi kedua orang itu.
Lala tersenyum cerah saat akan pulang ke rumah Maminya, sudah tiga bulan lebih ia gak mengunjungi Maminya.
Sesampainya di tempat tujuan. Lala berhambur ke pelukan wanita yang sudah mengandungnya selama sembilan bulan itu.
Roni tersenyum bahagia saat mengetahui siapa tamu yang datang pagi pagi, dan tamunya adalah anak satu satuanya, setelah menyambut hangat anak semata wayang serta menantunya. Roni mengajak Lala dan Rey agar sarapan pagi.
Siangnya, Lala tersenyum haru sambil melihat kepergian May yang mulia menghilang di udara. Ia menatap Mely dan beberapa orang di sekitarnya, yah sudah beberapa bulan ia tak pernah kumpul lagi bersama teman temannya, namun sekalinya akan kumpul, salah satu dari mereka masih sudah pergi.
Mely yang sejak tadi tampak bermuka masuh saat bersama May kini memasang muka bombay saat pesawat yang tumpangi May tak terlihat lagi oleh mata.
Ia berjalan pelan ke arah Lala tak lama ia terduduk dengan air mata yang tak lolos dari tempatnya. "Dia udah pergi, lagian bukannya lo yang bilang gak bakal kagan, lah masi di tinggal beberapa menit udah mellow" Ujar Lala sambil membantu bangkit.
"Bambang juga udah pergi La, gue sepi tau!" Tutur Mely dengan mata yang sudah mereh.
"Udah deh, jangan nangis mulu, liat tuh mata lo udah merah banget! " Ujar Lala membari peringatan.
"Ella kemana? kok gua gak ada liat?"
Mely kembali melihat ke arah Lala. "Sory kita gak kabari lo, dia balik ke luar kota dia netap di sana, katanya sekalian kuliah disana tutur Mely sambil mengelap air mata yang tersisa.
May menatap ke arah jendela, bayangan Yogi terus saja menghantui pikirannya. Ia melihat sebuah isi kado yang Yogi berikan tadi malam.
"Sory, gue gak bisa ikut antar lo ke bandara!" Tutur Yogi sambil memberikan sebuah kotak kecil berisikan syal kepada May.
May tersenyum bahagia saat mengingat kejadian tadi malam. yah ia nekat memeluk Yogi, bahkan ia mengucapkan semua rasa yang teleh di simpan rapi selama satu tahun lebih. Wajah May kembali di tekuk kala mengingat balasan yang diberikan oleh Yogi.
Sebuah senyun khas dari sosok Yogi membuat May yang tadinya merasa dek dekan kini ikut tersenyum.
"Gue gak bisa balas, karna... karna di hati lo ada nama seseorang yang lo suka, namun seseorang itu udah jadi milik orang lain, tapi lo akan terus berusaha sampai lo bisa menemukan titik terang dari orang yang lo suka!" Sambung May dengan senyum lebarnya. senyum paksa yang ia perlihatkan dengan rasa lega namun diiringi sesak yang menjalar sampai ke ubun ubunnya.
May tersenyum ngilu kala mengingat ucapan Yogi kemarin malam.
"Jangan berharap dengan cowok kaku dan gak berguna seperti gue, lo cantik, masih banyak cowok yang menunggu kehadiran lo di sana!" Tutur Yogi.
โข
Lala menatap Mely dengan tatapan bosan. "Gue gak nyangka bakal tinggal di satu kampus sama lo, dan satu atap di satu kelas sama lo!" Tutur Lal dengan muka kesal.
Yah saat ini ia sudah kuliah, ia sudah kuliah satu bulan lebih. "Jadi lo gak bersyukur gitu punya teman setia kek gue, liat noh teman dua lo si Mely si sibuk, si Ella si gak punya waktu.. si pacar susah kasih kabar!' Lanjut Lala degan tawa lucu saat melihat wajah Mely yang tampak berkaca kaca.
"Sejak kapan sosok Mely menjadi anak yang secengeng ini!" Ujarnya sambil menarik Mely agar masuk ke ruang kelas.
__ADS_1
Yogi dan Lala berada di kampus yang berbeda.
maklum hal ini membuat sosok Mely menjadi iri.
"Gue luan!" Lambai Lala pada teman satu akidah nya itu.
"Gue gak di ajak gitu, bosan gue balik sendiri sendiri mulu, gak ada tem.. Mel gue nebeng lo baliknya ya!" Ujar seorang cewek berambut pirang dengan perawakan seperti bule.
"Argell gue titip adik kesayangan gue sama lo ya!" Lala melambaikan tangannya pada Argell cewek yang mirip bule.
"Gue kira bule persi cogan eh ternyata persi mawar!" Kesalnya sambil mengajak Argell agar masuk ke mobilnya.
"Gimana kulaihnya?"
"Lancar, tapi.. Lala menghela nafas kerna ia mendapatkan tugas numpuk. "Nanti aku bantu!" Jelas Rey sambil memberikan sepotong daging ke mulut Lala.
"Makasih!" Ujar Lala dengan bahagia, keduanya pun di sibukan dengan makan siang di salah satu resto yang tak tak terlalu jauh dari kampus Lala.
...
Karna Rey yang sedang keluar kota, membuat Mely mau tak mau harus menetap dirumahnya untuk beberapa hari kedepan.
Lala yang tadinya ketiduran, begitu bangun langsung di perlihatkanlah suasana di sekitar kamar berserakan karna sampah makanan.
Melihat Mely yang juga ikut tertidur sambil mengengam ponsel membuat Lala geram. "Jorok banget sig, untung lakik gue gak di rumah kalo gak bisa naik tiga oktaf nada suaranya!" Lala pun mulai memunguti satu persatu kulit jajan yang berserakan.
Mely terbangun karna mendengar suara gaduh.
"Nonton apa?" Ujar Mely yang membuat Lala menjerit. Bukan hanya Lala saja yang menjerit Mely pun demikian.
"Kok lo ikutan jerit sih! Rese deh!"
"Abis lo ngegetin gue!"
Malam itu pun kedua gadis yang berbeda status itu mereka habiskan dengan menonton drama komedi di sertai makan malam yang di isi dengan pop mie. keduanya pun tertidur pulas dengan layar lebar yang masih menyala.
Lala merenggangkan kedua tangannya malas. Ia membuka mata sipitnya dengan muka bantal. Ia berulang ulang kali mengucek ucek matanya tak percaya.
"Udah bangun!" Ucap Rey sambil meletakkan sarapan yang masih hangat di atas nakas.
Lala hanya diam sambil mengedipkan sebelah mata. "Kapan pulang?" Tanya Lala pada akhirnya.
"Baru aja!" Jawabnya sambil menyingkirkan selimut yang menutupi setengah badan Lala.
Melihat Lala celingak celinguk, membuat Rey mengerti.
"Dia udah pulang!" Tutur Rey. "Kamu usir?" Tanyanya dengan wajah kesal. Ia menunjukkan pesan wa dari Mely. " Kamu ini, dia itu nemenin aku tau, masa main usir usir aja!" Kesalnya yang berjalan ke arah kamar mandi. Rey memeluk Lala dari belakang.
"Bangun bangun udah ngambek, dengerin dulu!" Tutur Rey. "Sambil sarapan ya sayang!" Lala menatap Rey jengah.
"Sayang! aku mau cuci muka dulu!" Ujarnya yang langsung masuk kamar mandi. Rey terkekeh melihat tingkah Lala.
"Kok cepat?" Tanyanya sambil melihat ke arah Rey. "Ada berkas yang ketinggalan, jadi mesti pulang!" Jelas Rey.
"Oh..
"Oh doang, gak rindu gitu?"
Lala menggelengkan kepalanya sebagai jawaban singkat. Mendapat kan ciuman mendadak membuat Lala geram. "Dasar suami mesum, masi makan juga!" Geramnya yang hanya di tanggapi tawa dari Rey.
'manis!'
Lala tersedak akibat ucapan orang di hadapannya ini, apalagi saat melihat Rey menjilat bibir bawahnya.
__ADS_1
Jadi si Mely pulang karna neneknya pulang dengan mendadak. bukan di usir kan?" Tanya Lala dengan muka mencari kebenaran di wajah suaminya.
"Mau gue cium?"
Lala melayangkan sebuah pukulan kecil di bahu Rey. "Cium cium mahal tau!'
Entahlah, hari ini bawaan Lala emosi saja, biasanya jika mendapat ucapan seperti itu akan senang, namun kali ini hawanya berbeda. mungkin bawaan tamu tak di undang.
"Siapa?"
"Mely, sama May.. udah mau pigi? " Lala merapihkan kemeja yang di pakai suaminya. "Wangi banget!' Pujinya.
"Istriku juga wangi, wangi... eh gorengan gue gosong!" Lala berlari terbirit birit mendekati dapur.
Niat akan membawakan Rey makan siang, malah jadi begini. Lala meratapi ikan gosong di atas wajan dengan lemas. Rey terkekeh kecil saat melihat wajah lesunya Lala.
"Sory.. makan siangnya gosong!" Ucapnya dengan helaan nafas gusar. "Gak apa, aku pergi dulu ya sayang!' Ucapnya yang pergi dengan mengecup singkat kening istrinya.
'Satu lagi, jagan makan mi instan gak bagus buat kesehatan. jangan lupa makan siang ya sayang" Ucap Rey dan masuk ke dalam mobil.
Selang kepergian Rey, Lala di kagetkan oleh tawa yang berasal dari ponselnya. Seketika ia lupa jika ia masih menelpon dengan Mely, dan May.
_May
"Aduh gue iri bah, sama yang udah nikah, jangan lupa makan siang ya sayang!' Lala langsung mendapatkan tawa dari May dan Mely.
_Mely
"masakan gosong, masih bisa di makan kucing gak tuh!"
-May
Emang lo bisa masak Mel?
_Mely
Kagak. tapi gue bisa makan, malah lebih tepat lagi, dari pada masak ahhh bikin tangan mungil gue menjerit kepanasan dengan gaya cabe rawit.
-Mely
La. lain kali loe mesti berguru dengan orang yang benar deh, lo salah menetapkan Mely sebagai guru panutan loe!
_Lala
Udah ah.. pusing gue, gue matiin luan dah, bay..
Lala menatap bosan ke arah dapur yang berserakan. saat ini ia baru saja selesai memasak. entah lah ia sendiri tak tau apa yang saat ini ia masak.
Ia menyuruh Mely agar mencicipi masakan pertamanya. eh bukan kedua deh, yang pertama udah gosong ๐๐
Mely menatap Lala dengan curiga. "Gak lo kasih sianida kan?" Sebuah pertanyaan konyol keluar dari mulut mungilnya Mely.
"Ada!" Jawab Lala yang membuat Mely tersedak.
"Becanda!" ucapnya dengan santai.
"Enak La!" Puji Mely. "beneran?" Tanya Lala dengan antusias.
"Lo coba aja deh, asin banget!" Mimik Mely berubah. "Lo masak gak di aduk aduk ya, kok ada yang manis ada yang asam dan asin. ini makanan apaan sih!" Tanya Mely yang mendapat anggukan bahu dari Lala.
Belum sempat melanjutkan makanannya. Lala sudah memasukan makanannya ke dalam wajan.
"Gue masak lagi!"
__ADS_1
Ucap Lala yang menyumpali mulut Mely dengan sutil.