My Anemy My Hubby

My Anemy My Hubby
bab74-Mamanas manasi


__ADS_3

...🌵...


...Memanas Manasi ...


Lala yang sudah di jemput oleh Rey. langsung berpamitan dengan Ella dan Kakaknya, Rey juga sempat memastikan bagaimana keadaan Ella.


"Kenapa bisa pingsan?" Lala melirik Rey sekilas. "Mungkin karna kelelahan main!" Jawab Lala yang kembali memainkan ponselnya. Ia cekikikan saat melihat ricuhnya grup kedua temannya itu.


Merasa terasingkan, Rey merasa bosan dengan tingkah lakunya Lala menghidupkan musik, sekadar menghilangkan rasa kesunyian malam.


Mobil mereka menepi di sebuah pedagang bakso di pinggir jalan. Lala yang memang tak sadar, masih saja cekikikan membaca pesan dari kedua temannya. tanpa pengetahuan dari Lala, Rey yang membuka pintu dari luar, kebetulan posisi Lala sedang bersender di pintu mobil. membuat Lala terhuyung ke luar mobil.


Untung saja hanya ponsel Lala yang terjatuh, sedang orangnya di tampung oleh Rey. Lala langsung berdiri tegak dan menatap Rey dengan kesal. ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas pasir.


Lala langsung memberengut saat melihat retakan di layar ponselnya. Tau wajah kesalnya Lala, Rey langsung merampas ponsel di tangannya Lala "Nanti gue belik yang baru!" Ujar Rey tanpa ada rasa bersalah


Lala yang malas menghiraukan Rey, langsung berjalan menuju pedagang bakso. Setelelah memesan, Rey langsung menghampiri Lala yang sedang memberengut. Tiba tiba saja Lala bersikap mesra denganny,a, Rey sendiri tak tau apa masalahnya.


"Cih.. dasar genit!" Sabrina mendadak berhenti saat melihat kedekatan Lala dan Rey. "Bukanya itu mantan yang lo bangga banggain waktu itu, kok sama cewek lain?" Tanya teman yang ada di samping Sabrina. Sabrina menatap jengah dengan teman yang ia bawa di sampingnya saat in.


"Salah bawak bawang gue ini!" Batinya kesal ke arah temannya.


"Dia kan mantan, bukan cowok gue lagi, jadi wajar aja kalo mereka dekat!" Jawab Sabrina ketus.


"Tapi kemarin lo bilang lo masih jadian sama dia, lah sekarang kok beda ceritanya?" Tanya temanya lagi.


ingin sekali Sabrina menunjang orang yang tak bisa diam mulutnya itu, namun ia urungkan kerna melihat tempat yang kurang pas untuk ia mengelem mulut temanya itu.


"Seperti yang lo bilang, dia kan mantan, mau dia sama cewek lain pun gak ada urusan sama gue!"Tutur Sabrina yang langsung duduk di salah satu kursi.


melihat pesanan yang sudah datang, Lala langsung mengambilnya dan menghadapkan wajah Rey di hadapannya. Lala langsung menyuapi Rey layaknya baby senior, Ia tersenyum manis mengejek saat melihat Sabrina yang menatap dengan tajam.


Rey yang merasa heran dengan kelakuan Lala, ikut menuju arah matanya Lala melihat. Sudut bibirnya tersenyum ke atas. ada rasa bahagia saat melihat tingkahnya Lala padanya.


Rey yang sejak tadi hanya diam dan mengikuti kemauan Lala kini ikut dalam permainan juga.


"Pelan pelan masih panas sayang!" Suara Rey yang sengaja di kuatkan membuat Sabrina di ujung sana mendelik dan tak suka dengan panggilan yang Rey berikan ke Lala.


"Upp.. sory yang, maklum lagi kebelet!" Lala berucap di selingi oleh kedipan mata sebelah.


"Tahan dulu, jangan disini, takutnya yang lain nanti meri!" Balas Rey diiringi dengan tangan yang mengelus elus tangan kanannya Lala, yang diakhiri dengan menciumnya.

__ADS_1


Sabrina yang tadinya memilih minum karna merasa tak tahan melihat tingkah genitnya Lala dengan Rey, Kini tersedak kala mendengar ucapan keduanya. Temannya Sabrina yang sejak tadi melihat tingkah laku Sabrina, kini dapat ia simpulkan bahwa Sabrina merasa cemburu dengan Lala dan Rey.


"Tapi mantan, kok sampai keselek minumnya? jangan bilang kalo lo masih mengharap balikan sama mantan yang selalu lo bangga banggain!" Cerocos temannya Sabrina dengan memberikan selembar tisu ke Sabrina.


Lala merampas tisu dengan tatapan tajamnya. Jujur saja ucapan temannya yang asal asal serta terbilang kuat membuatnya sangat menyesal membawa bawang yang meles.


"Tau gini, gue bawa si reno aja, pasti mereka kepanasan liat gue yang nempelin reno, tapi kok apes banget sih, bisa bisanya bawang kisut


ini yang gue bawa. mana di tempat begini lagi, banyak nyamuk dan jorok!" Batin Sabrina yang langsung beranjak dari duduknya.


"Mau kemana?" Tanya temanya yang kini ikutan menyusul Sanrina.


Sebelum menyusul temannya berjalan ke arah Rey dan Lala. "Lo mantan si Sabrina kan? dan lo ceweknya, hati hati ya sama dia, soalnya dia panas banget liat lo dua yang mesra di tempat beginian, tapi kalo menurut gue, dia lebih parah!" Setelah mengucapkan itu, temannya Sabrina langsung berlari kucar kacir mengejar Sabrina yang hampir meninggalkannya begitu sana.


...


Lala merebahkan badannya di atas kasur berbarengan dengan Rey. ia yang baru saja memejamkan matanya langsung di buka kembali. ditatapnya Rey yang menutup matanya dengan wajah lelahnya.


"Rey..!"


tak ada jawaban dari sienpunyanya, Lala memutar posisi tidurnya agar menghadap ke arah Rey. tanpa memanggilnya, tanganya Lala terulur menyentil hidung mancungnya Rey. puas menyentuh hidungnya, tanganya Lala beralih ke pipinya.


Tak lama kemudian, matanya Rey terbuk dengan ripleks Lala mencubit pipinya Rey dengan kuat. "Sory.. sory..!" Lala berusaha tersenyum semanis mungkin saat melihat Rey dengan mode dinginya.


"Apa?"


Sama seperti awal, Rey tak menjawab pertanyaan dari Lala. ia menatap Lala dengan lekat.


Merasa gereh diliatin oleh Rey, Lala pun menutupi kedua matanya Rey dengan kedua telapak tangannya.


"Gue leleh, ayo tidur!" Ajak Rey yang menepuk nepuk tempat di sebelahnya. Lala tersenyum simpul dan langsung berbaring di tempat yang tadi Rey pinta.


Sudah satu jam lebih, Lala berbaring di sampingnya Rey, namun matanya yang tertutup, bukan berarti tidur. Tak mengapa ia merasa tak ada niatan tidur cepat. Dengan


gerakan pelen dan hati hati. akhirnya ia bisa lepas dari diri Rey.


Ia berjalan pelan mengambil ponsel dan langsung menuju pintu. Ia langsung loncat loncat saat sudah berada di luar kamar. "Gak tau apa gue malah lapar!" Cicit Lala yang berjalan menuju dapur.


Saat ia baru saja membuka kulkas. masuk panggilan telepon dari May. Lala langsung menyetel layar hijau. Saat Lala akan menempelkan ponselnya di telinganya, ia urungkan saat mendengar suara yang berbeda dari sebrang sana. ia pun menghidupkan speaker dan meletakkannya di atas meja makan.


"Ia meneguk minuman terlebih dahulu, baru mendengarkan ocehen dari sebrang sana.

__ADS_1


_Mely


"La, lo dimana?"


_Lala


"Di rumah lah, masa ia gue di gunung!"


_Mely


'Idiiuuu.. ngegas amat si mbak, pasti abis di gas pol ya sama akangnya?'


_Lala


"Kok tau? jangan bilang lo punya indra kelima?" Lala terkekeh meladani ucapan Mely


_Mely


_Kok jadi indra kelima? indra keenam dung, kan ganjal, biar pas buat kita tiga, tiganya di isi sama ayang masing masing.


_May


"Eh.. eh.. nelpon saha lo?" May yang baru saja masuk ke dalam kamar dengan membawa camilan langsung ingin merampas ponsel miliknya dari Mely.


_Mely


"Nelpon ayang lo, pas banget deh lo dateng, dia mau ngomong sama lo!" Tutur Mely dengan senyum bahagianya.


May yang panik pun, langsung mematikan panggilan teleponnya. Melihat itu, Mely tertawa kecil. ia terus terusan menceritakan dengan hal yang ia buat buat. membuat May yang mendengarnya langsung melempari Mely dengan camilan yang di makanya. di dalam kamar itu pun terjadi kejar kejaran, Mely tak henti hentinya mengoceh yang tidak tidak rentang Yogi diiringi tawa jahilnya. sedang May ia terus menerus melempari Mely dengan semua benda yang ada di dekatnya.


Di tempat Lala. ia menyungging senyum. Senyum nya langsung hilang saat mendengar suara ribut dari dapur. Lala langsung berbalik dan mendapati seseorang yang sedang merintih kesakitan.


Lala berlari mendekati arah dapur. rasa panik terpancar di matanya Lala. Lala semangkin panik saat melihat Bunda Rada yang merintih kesakitan dengan memegangi perutnya. Lala yang tadinya sempat membatu Bunda Rada agar berdiri seakan sia sia, karena melihat Rada yang tak bisa berdiri sama sekali.


tanpa berucap, Lala langsung berdiri mendekati saklar. setelah lampu dapur hidup, Lala menelan salivanya dengan susah. darah yang sudah tercecer di lantai membuat Lala mundur dan menjauhi Bunda Rada. Ia berlari meninggalkannya Binda Rada yang masih merintih kesakitan.


Lala menggedor pintu papi mertuanya dengan kuat. tak lama kemudian pintu pun terbuka. Tanpa bis menjelaskan, Lala langsung menyuruh Papi El ke dapur. Melihat Lala yang mengeluarkan air matanya dan tak bisa menjelaskan apa yang terjadi, membuat Papi El berjalan cepet ke arah dapur.


Lala berlari menuju kamarnya. begitu sampai di di dalam kamarnya, Ia langsung mengguncang tubuhnya Rey dengan kuat.


"Ban.. bangun..bangun..!" Lala memanggil Rey dengan tangan yang gemetaran. Mendengar suara tangis diiringi dengan suara bising. Rey pun membuka matanya perlahan.

__ADS_1


Alangkah kangetnya Rey, saat mendapati Lala yang menangis dengan menyebut ngebut dapur. Dengan ripleks Rey memeluk Lala dengan erat. namun Lala tak mau membuang buang waktu. ia pun melepaskan pelukan dengan paksaan.


__ADS_2