My Anemy My Hubby

My Anemy My Hubby
bab85-Revan


__ADS_3

...🌵...


...Revan...


Lala mengoles selai ke roti tawar di tangannya dengan pelan. Ia memberikannya ke Rey setelah olesannya merasa.


"Mau kemana?" Tanya Rey saat melihat Lala yang hendak berdiri.


"Buat susu!" Jawabnya sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit. "Biar Papi aja ya Mami!" Ujar Rey yang mendudukkan Lala kembali ke tempatnya.


Semua yang ada di meja makan, tersenyum melihat sikap perhatian yang di berikan oleh Rey.


Semenjak hamil, Lala memeng jarang beraktipitas, bukan karna bawaan hamil, melainkan larangan dari sang suami maupun sang Bunda mertua.


Semenjak hamil, Lala tak pernah sarapan pagi dengan nasi, karena semenjak waktu itu, yang setelah makan nasi setelahnya pasti akan di keluarkan lagi. Jadi Lala hanya makan pagi dengan roti beserta susu.


Semenjak mengetahui hal itu, Rey juga menyamakan sarapan paginya, kadang kadang ia juga merasa tak tega saat melihat Lala yang masih sering mual mual.


"Udah?" Tanya Rey dengan wajah khawatir.


Lala hanya mengangguk kecil.


"Buruan bentar setengah jam lagi Lala ada kelas!" Ujar Lala yang kembali bugar dengan senyum lebarnya.


Rey megetikan sesuatu di ponsel nya lalu mulai menyalakan mobil. "Aku jemput, atau pulang bareng Mely!" Ujar Rey dengan senyum lebarnya.


"Sama Mely aja, aku pamit ya!" Lala menyalami punggung tangan Rey lalu berjalan memasuki gerbang.


...


"Aduh si bumil, lo gak ada bedanya ya, udah nampak buncit juga, masih aja lari lari. mana cepat banget lagi. Tungguin gue atuh!" Teriak Mely yang membuat langkah Lala berhenti ditempat.


"Buruan, gue ada kelas pagi, lo sendiri tau kan gimana dosen gue, bahh baby gue yang diperut aja ketar ketir kalo dia masuk!" Ucap Lala sambil mengelus perutnya. Ia tak membayangkan jika ia telat masuk maka akan ribet urusannya.


"Udah berapa bulan itu sih, kok mangkin buncit aja!" Ucap Mely dengan sengong. "Aduh baby senior, masa baby gede pertanyaannya itu itu aja sih, tiap hari!" Kesal Lala dengan muka judes.


"Aduh, bawaan bumil nih merepet mulu! Baru tanya satu aja udah judes banget ngomongnya!" Mely mengelus perutnya Lala dengan pelan.


"Udah enam bulan lo La, kok gak cuti aja sih. Kasian tau debay nya di bawa belajar. Bosan ya kan?" Mely seakan akan berucap dengan anak yang di kandung Lala.


"Buruan, udah kesiangan ini! " Lala berjalan meninggalkan Mely yang berjalan pelan di belakangnya. "Gue ngapin ikutan tuh anak, kan gue masuk siang, mending sarapan dulu aja deh!" Mely memutar arah jalan yang sekarang menuju ke arah kantin.


...


Yaya tersenyum bahagia, saat yang berjalan beriringan dengan Yogi. Apalagi saat ini ia di ajak makan di salah satu warung bakso. Di tengah menikmati makanannya. Yaya tersenyum saat mendapatkan ide


"Bang, nikah yuk, kayak Kak Lala sama Bang Rey, mereka tuh bucin kebablasan. Ntar kalo kita nikah kita bakal buc... makan dulu biar semangat belanjanya." Yogi memasukan makanan ke mulut Yaya.

__ADS_1


Bukanya marah, Yaya malah memberikan senyum selebar mungkin. "Kamu itu masih kecil tapi udah mikirin nikah nikahan, mending kamu mikirin gimana caranya supaya dapat nilai bagus di saat ujian bentar lagi ujian kan?" Tanya Yogi sambil menyentil hidungnya Yaya dengan gemas.


"Bukan nikah nikahan lo Bang, tapi nikah beneran, yang sah agama dan negara. Ujar Yaya meluruskan ucapan Yogi berusan.


"Belajar giat, rajin baca buka, jangan banyak main, jangan banyak jajan jangan suka bolos sekolah, dan.. Yaya menjeda ucapannya sambil melihat serius ke Yogi.


"Dan apa?" Tanya Yogi sambil memasukkan bakso ke mulutnya. Yaya langsung berdiri dari duduknya. dan mencium pipi kiri Yogi tanpa di perbolehkan oleh si empunya.


Yogi membulatkan matanya. "Yaya waktu sd selalu di cium sama Nenek, tapi semenjak udah Smp gak pernah lagi. Jadi boleh kan setiap kali kalo Yaya jumpa sama abang cium pipi!" Yaya menatap Yogi penuh harap.


Yogi tak menjawab permintaan dari Yaya, namun Yaya berpikir jika Yogi mengizinkannya.


May yang kebetulan sedang magang di daerah itu, yang kebetulan sedang makan siang di warung bakso. Di buat kaget dan sesak hati.


"Sejauh itu kah, hubungan lo sama Yaya, gue berharap setelah itu kita bakal bisa dekat, tapi gue sekarang mengerti jika lo gak bakal di satukan dengan gue, mulai hari ini, dan detik ini perasaan gue ke lo bakal gue buang sejauh jauhnya.


May berjalan keluar dari warung, padahal ia belum ada menyenggol sedikit pun bakso yang baru saja di letakkan di mejanya.


Gue berharap. keputusan gue kali ini tepat.


Setelah membayar, May langsung pergi dengan meninggalkan semua rasa tentang Yogi dari dirinya.


...


Menjelang delapan bulan, Lala tak lagi kuliah, ia mengambil cuti untuk beberapa bulan, lebih tepatnya saat anak yang di kandungnya lahir ke dunia.


Langkah Lala memelan saat menuruni satu persatu tangga. Yaya yang melihat kakak iparnya berjalan susah langsung menghampiri Lala dengan membantu berjalan.


"Eh kakak ipar, alias calon emak emak!" Balas Yaya dengan senyum mengejeknya.


Lala paling kesal saat ada orang yang memanggilnya dengan sebutan emak emak. Menurutnya panggilan itu hanya cocok untuk orangtua yang sudah berkepala tita keatas.


"Kakak masih muda, jangan di panggil emak emak gak sopan!" Ucapnya sambil meneken ucapan akhirnya.


"Kak, jangan keget ya!" Bisik Yaya sambil mendudukkan Lala di sofa. Ia pun ikut duduk di sampingnya Lala di sertai dengan mengelus perut Lala dengan gemas.


Lala menatap heran ke arah adik iparnya. "Hayo maslah apa, kepo nih kakak!" Ujar Lala dengan muka penasaran.


Yaya tersenyum malu dengan sendirinya. "Yaya pacaran sama Bang Yogi. Kemarin dia cium Yaya di sini!" Bisiknya sambil menunjuk ke pipinya.


"Jangan macam macam, lo masih kecil, jangan mau di cium cium gak bagus takutnya malah ke bablasan nantinya!" Peringat Lala dengan wajah galaknya.


"Gak bisa gitu, soalnya kalo jumpa Bang Yogi Lala luan yang cium pipi dia. dia gak pernah cium Yaya sama sekali, awalnya Yaya malu, tapi karna udah biasa cium jadi kebiasaan. Dan kemarin, dia pertama kali cium Yaya, Yaya senang banget Kak!" Yaya memeluk kakak iparnya dengan kuat.


Lala memukul bahu Yaya dengan kuat. "Sakit!" kesel Lala dengan wajah sangarnya.


"Maaf!" Yaya yang akan mengelus perut Lala di tepis kasar oleh Lala. 'buatin dulu lontong pecel yang pedas sana, baru kak La maafin." Yaya sempat tak ingin menuruti kemauan sang ipar namun karna melihat kondisi Lala yang syulit berjalan akhirnya pun harus ia kerjakan.

__ADS_1


Rey tersenyum tipis saat melihat Lala yang sudah tertidur pulas. "Sory sayang, Papi gak bisa temani makan malam, karna malam ada urusan mendadak. Gak bandel kan sama Maminya, lahir cepat ya, Papi gak sabaran mau gendong si baby.


mendengar suara yang samar samar, Lala bagun dari tidurnya. "Haus!" Ucapnya sambil berusaha duduk. "Biar aku ambil dulu jangan bayak gerek, baby lagi tidur!" Ujar Rey yang terdengar membisik.


"He'em" Jawab Lala seadanya.


Lala membuka matanya sambil memegangi perutnya kuat. "Sakit baget!" Ucapnya dengan muka menahan sakit. Ia memegangi perutnya yang sakit luar biasa. Air matanya perlahan turun karena merasakan sakit oleh tubuh pemiliknya.


"Apa gue mau lahiran, sakit banget!" Keluh nya lagi. Ia menatap orang di sampingnya dengan tatapan tajam. Jam tiga malam, Rey baru saja tidur satu jam yang lalu. ada rasa kasihan saat ingin membangunkan. Namun rasa sakit yang mangkin menjadi membuat rasa kasihan kepada Rey terhilangkan.


Ia mengguncang badan Rey dengan pelan, jujur saja, untuk membangunkan Rey saja sudah tak sanggup lagi. Ia menggigit bibir atasnya dengan kuat, air matanya terus keluar karna rasa sakit yang luar biasa.


"Rey!" Lala menggenggam erat lengan kiri sang suami. Rey terbangun karna kaget. Ia langsung terduduk saat mendengar suara iasakan.


"Kenapa? Kenapa sayang!" Rey menggenggam bahu sang istri dengan pelan. "Sakit!" lirih Lala dengan suara menggetar.


"Apa mau lahiran! " Tanyanya namun langsung mengangkat Lala yang kini berada di gendongannya.


'Sakit banget, sakit, hiks.. hiks..!!" Suara Lala terdengar ngilu di telinganya.


Rey kembali berlari ke dalam, bisa bisanya di saat seperti ini ia lupa membawa kunci mobil.


Di lihatnya Lala yang menahan sakit dengan deru nafas yang tak karuan.


Ia menggenggam tangan Lala dengan erat. "Sabar ya sayang, kita sebentar lagi sampai!" Ujarnya sambil mengelus elus rambutnya Lala dengan kasih sayang. Lala hanya mengangguk mengiyakan.


••


Rey menatap sayang ke arah Lala yang baru saja berjuang. ia menciumi wajah istrinya dengan bertubi tubi, rasa khawatir dan resah kini sudah terlewatkan. Ia tersenyum penuh haru karna mulai detik ini ia akan menjadi seorang orang tua.


"Terima kasih sayang..!" Bisik Rey berkali kali.


tangan kanannya tak henti hentinya mengelus rambut Lala.


Lala sendiri ia hanya dapat mengulun senyum dengan tatapan lemasnya. sungguh ia sendiri merasa bahagia atas kelahiran putra pertamanya. yah anak mereka berjenis kelamin laki laki.


Rada menangis haru melihat bayi mungil yang masih memejamkan matanya. ia memeluk suaminya dengan erat. kejadian kegugurannya beberapa tahun lalu kembali teringat.


"Kalau aja aku gak keguguran, mungkin kita bakal melihat wajah manis seperti anak ini!" Ucapnya di sela tangisnya.


"Semua itu udah takdir, tuhan mengambilnya sebelum lahir ke dunia karna menyayanginya, bukanya kita udah menjadi nenek dan kakak!" Ujar Papi El dengan mengelus pundak Rada.


"Besan!" Pangil Roni yang langsung masuk ke ruangan itu, ia langsung tersenyum cerah saat melihat sosok mungil yang lahir dengan selamat dan sehat. Tak sia sia ia datang pagi pagi buta dan inilah hasilnya.


Setelah mengobrol singkat, ketiga sahabat itu berjalan keluar ruangan. mereka menuju ketempat Lala dan Rey. karna bayi mungil yang sejak tadi mereka omongkan kini di bawa keruang rawat Lala.


Melihat Rey dan Lala yang sedang asik karna kedatangan bayi mereka membuat ketiga orang itu menunggu di luar ruangan.

__ADS_1


"Matanya mirip kamu!" Tunjuk Lala dengan senyum bahagianya. saat ini Bayi itu berada di gendongan Lala.


"Bibirnya mirip Maminya!" Tutur Rey dengan muka mengoda. "Yang jelas, dia anak aku, tapi persi kamu!" Jelas Lala sambil memainkan tangannya di wajah bayi yang baru lahir dua jam lalu.


__ADS_2