
...🌵...
...Masih Reuni...
sebelum baca, bantu like, komen, vote, ya sayang.. sangat membantu jika di beri..
Yogi menautkan alis heran. dilihat nya wajah Lala yang sedikit pucat membuatnya merasa khawatir juga. Ia pun berniat menjemput Lala ke kamar mandi. Namun langkahnya di hentikan oleh suara seseorang yang sangat pamiliar di ingatannya.
Yogi di buat kaget, ketika seseorang yang di yakin memanggilnya, kini sedang memeluk nya dengan erat. Yaya tersenyum manis saat melihat Yogi dari bawah. saat ini ia masih memeluk Yogi dengan erat.
Yogi sempat memicingkan matanya, karna sosok gadis di depannya ini sangat berbeda, walaupun dengan gaya serta perilaku yang sama.
Mata Yogi melihat ke baju yang dikenakan oleh Yaya. "Jam segini udah balik?" Tanya Yogi pelan.
"Bang Yogi mangkin ganteng!" Bukannya menjawab malah memuji Yogi. Merasa resah akan keadaan seperti ini, Yogi pun melepaskan pelukan Yaya.
Yaya sempat menolak, namun dengan kekuatan Yogi akhirnya ia pun melepaskan pelukannya, dengan gaya mulut yang maju lima meter.
"Jangan maju-maju mau gue cium?" Mendengar ucapan Yogi bagaikan mendapat keutuangan besar. Yaya langsung tersenyum kembali, ia mencoba mencium bibir Yogi dengan jinjit, namun bukannya ciuman yang di dapat melainkan tepukan di keningnya.
"Sakit tau!" Yaya berucap dengan penuh penekanan. di sertai cemberutan di bibir mungil itu.
"Lo dari ma.. temanya Yaya yang tadi merasa kesal langsung diam di tempat saat melihat Yogi. "Gue luan ya!" Yogi mengambil kesempatan ini untuk pergi.
lagi lagi rencana nya gagal. Tanganya langsung di gandeng oleh Yaya.
"Vi.. kenalin calon suami gue!" Ucap Yaya dengan senyum kemenangan pada temannya itu. "Yah ternyata calon suami lo, gue kira abang lo!" Temannya Yaya yang bernama Vivi itu pun terlibat lesu.
"Jangan lo lupakan si Roy!" Ucap Yaya yang sempat sempatnya menoyor kening temannya itu. ia yang melihat Yogi menjauh, Ia pun berlari mengejar Yogi.
Beberapa orang yang ada di meja itu menakutkan alis bingung. "Cewek mana tuh, cantik amat!" Puji Bagas disertai kedipan matanya setelah.
Belum hilang rasa sesaknya, kini May kembali merasakan sesak itu lagi. Matanya memanas saat melihat sosok cewek yang dengan manjanya memeluk lengan Yogi dengan semangat. Terlihat Yogi yang kesusahan melepaskan pelukan lengannya dari Yaya.
"Gue pikir, lo bisa melepaskan Lala dan akan membuka hati dengan gue, tapi baru saja gue kembali membuka harapan, kini sudah terhalang oleh kehadiran orang lain!"
Yogi tak abis pikir dengan Yaya, gadis kecil satu ini benar benar membuatnya risih dan tak nyaman. jika cantik, Yaya emang tergolong cantik. Namun tingkah yang semakin bertambahnya usia, tak merubah apapun bagi dirinya.
"Eh, Bang Bagas, bang Dian, Kak May, Kak Mely, Bang...! Yaya tak jadi melanjutkan ucapannya saat melihat wajah Abangnya dengan mata ingin menerkamnya.
Rey semangkin menikan alis tebalnya dengan tatapan yang tak bisa di ajak kompromi, saat menyadari wajah ketakutan dari adiknya ia pun berdiri menghampiri Yaya yang langsung menarik kedua telinga Yaya dengan kuat.
"Vi.. Vivi tolongin gue dong!" Vivi yang mendengar namanya di panggil oleh temannya menjadi bingung.
Ia pun berjalan mendekati Yaya "Emeng abang ganteng yang jewer lo siapa lo?" Tanya Vivi dengan pelan. Saat ini Vivi mengikuti Yaya yang sedang di tarik ke arahnya. Namun yang membuatnya heran dan penasaran adalah orang yang saat ini di takuti oleh Yaya. Yaya menatap Vivi dengan kesal.
Bukannya ada niat membantu. Tapi malah bertanya.
"Jelaskan! Kenapa bisa di sini di jam pelajaran? dan kalian ngapain di sini?" Tanya Rey yang sudah kembali duduk di posisi semula, ia seakan akan sedang menjadi hakim buat sang adiknya. tatapan tajam yang tak lepas dari Rey membuat Yaya menciut.
Ia menundukkan kepalanya yang sesekali menatap ke Vivi. "Gara gara lo nih!" Bisiknya yang hampir tak di dengar oleh Vivi.
__ADS_1
"Lah kok jadi salahin gue? Kan lo sendiri yang mau ikut!" Yaya di buat kesal untuk yang ke dua kalinya.
"Gue ikut karna tanda setia gue sebagai seorang teman!" Jawab Yaya dengan wajah serius.
"Masih gak mau jawab, atau perlu Abang sidang di rumah?" Tanya Rey antusias.
Yaya menaikkan kepalanya seraya menggelengkan kepala. "Yaya gak bermaksud mau bolos bang, tapi cuma mau temani Vivi ambil baju, pas balik dari ambil baju perut lapar, sekalian ber...
"Lala kemana ya, kok lama banget, perasaan udah hampir setengah jam, masa gak balik balik!" Tanya Mely.
Semuanya saling pandang. "Biar gue susul aja deh!" Ucap Mely yang beranjak berdiri dari duduknya.
Yogi merasa khawatir juga, ia ingin berdiri namun di cagah oleh panggilan dari Rey.
"Gue titip adik gue sama temannya. gue mau susul Maly!" Pinta Rey yang langsung pergi begitu saja. Yogi menatap kepergian Rey dengan muka masam. Belum bilang rasa kekesalannya kedua gadis berbaju putih dengan rok berwarna biru itu sudah berada di kanan dan kirinya.
...
"La.. Lala lo napa La?" Mely menepuk nepuk pipinya Lala dengan berulang.
"Lo jangan buat gue takut dong, mana muke lo pucat lagi, bangun dong!" Mely kembali menepuk pipinya Lala. Tak ada reaksi dari Lala.
Mely memercikan wajahnya Lala dengan air.
Lala sedikit membuka matanya. "Lo napa?" Tanya Mely yang mampu membuat Lala mengerutkan dahinya. "Suara lo cempreng banget, mana kuat lagi!" Komen Lala dan sesaat kemudian ia memegangi kepalanya.
"Pening banget Mel!" Ucapnya yang kembali terpejam. Rey yang menunggu di depan kamar mandi. merasa tak sabaran, apalagi tak ada tanda tanda akan datangnya Mely dan Lala. Tanpa mikir kembali, Rey langsung masuk ke kamar mandi wanita.
...
Yaya dan Vivi ikut berada di area rumah sakit. Dimana Lala sedang di rawat. Bukan hanya meraka saja baik teman Rey maupun Lala pun ikut ke rumah sakit.
Rey langsung menghampiri doktor yang baru saja keluar dari ruang rawat. "Gimana dok?" Tanya Rey dengan wajah khawatir.
Bukannya menjawab malah menatap Rey dengan ekspresi biasa biasa saja "Kondisinya baik baik saja, tapi kalo saya boleh tau, apakah pasien sudah menikah?"
"Saya suaminya!" "Saya adik iparnya!" Saut Yaya dan Rey berbarengan.
"Lo gak di tanya kali!" Tutur Mely pada Yaya. yang membuat Yaya mencebik kesal ke Mely.
"Syukurlah kalau begitu, tidak ada hal serius. Kondisi pasien hanya kurang istirahat saja, berhubung anak yang di kandungnya yang di perkirakan masih hitungan minggu, jadi istrinya harus di jaga dengan baik baik!" Ujar sang dokter yang setelahnya pergi diikuti suster di belakangnya.
Semua yang mendengar itu tersenyum satu sama lain.
"Aduh jadi pengen cepet kawin jadinya, gak sabaran mau di kasih debey juga!" Ujar Mely yang tertuju ke Bambang.
sedang yang di tuju malah asyik dengan ngegamenya.
"Calon jadi bapak bapak nih, selamat ya!" Ujar Bagas yang menepuk bahu temannya kuat.
"Yah.. Akhirnya bakal tambah satu anggota keluarga kita Bang!" Girang Yaya dengan senyum gembiranya.
__ADS_1
"Jadi Abang lo dah nikah, dan yang tadi di gendongnya itu istrinya?" Tanya Vivi yang merasa lemas. "Iya!" Jawaban yang sudah pasti Vivi dapatkan kini keluar dari mulut temannya.
Tak ingin terlalu banyak mendengar ucapan dari para temannya. Rey memilih masuk ke ruang rawatnya Lala.
Yogi menatap Rey yang masuk ke ruangan dengan tatapan kosong. "Apa gue harus berhenti, ketika gue tau lo bakal jadi calon ibu bagi calon bayi yang akan lo lahirkan nantinya. Bahkan gue gak pernah berharap hal ini akan terjadi kecuali dengan gue, tapi hal ini membuat gue sadar. Gue bakal coba melepaskan lo, buat orang yang lo cintai. Terima kasih atas semua rasa suka yang membawa gue dalam kesakitnya untuk yang kedua kalinya."
Yogi pergi dari orang orang yang tak henti hentinya membahas tentang Rey, Lala serta calon bayinya.
Jauh dari diri Yogi. May menggenggam kedua tangannya erat. "Kenapa sakit itu datang lagi. Gue gak bisa liat lo merasa sakit karna kenyataan ini, tapi gue juga gak bisa diam aja atas apa yang lo lakukan selama ini!"
Mely mengejar Yogi yang menjauh dari kerumunan orang orang.
Bunyi ponsel yang sejak tadi berdering di ponselnya ia abaikan sejak tadi. Membuat perhatian Yaya ke Lala kini beralih ke Rey.
"Angkat dulu aja bang, biar gue sama yang lainnya tungguin Kak Lala disini!" Seteleh merasa yakin. akhirnya Rey pun keluar dari ruang rawat dan mengangkat telepon yang
sejak tadi mengganggunya. Sejujurnya ia memiliki meating penting siang ini, dengan Grup Cois berhubungan Lala yang saat ini berada di rumah sakit. Ia pun meminta maaf untuk menunda meating dengan Grop Cois.
...
May berjalan pelan mendekati Yogi yang sedang duduk didepan mobil dengan keadaan sedang melamun. Sudah cukup lama May memperhatikan Yogi, merasa resah dan di selimuti rasa garah. May pun memilih mendekati Yogi.
Belum ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, Kini sudah melihat Yogi yang sedang menatap ke arahnya.
"Di sini panas, lo apa gak haus!" May memberikan sebotol minuman ke Yogi. Yogi menerimanya tanpa berucap.
"Lo sendiri, ngapain kesini! bukanya lo bilang di sini panas!" Yogi berucap sambil memutar mutar tutup botol.
"Gue udah biasa panas, dan gue rasa... panasnya cuaca saat ini gak sepanas hati gue saat ini!" Ucap May yang di akhiri dengan pelan.
"Lo tau kan kalo gue masih suka sama Lala?" Pertanyaan itu seakan kembali menusuk dadanya. May tersenyum kikuk mendengar ucapan Yogi barusan.
"Gue tau, bahkan melebihi lo sendiri!" May berucap dalam hati.
"Apa lo masih mengharapkan dia?" May bertanya sambil melihat mata Yogi dengan mental yang cukup kuat. Yogi terkekeh kecil.
"Berharap hanya buat manusia tersiksa dan hanya menimbulkan luka, luka yang tak terlihat namun menusuk terlalu dalam, tak bisa di lihat melalui logika dan mata tapi hanya bisa di rasakan oleh hati dari pemiliknya!"
May mengganguk kecil.
"Lo benar!"
May kembali meneguk air yang kini tinggal setengah.
"Apa lo pernah berharap?" Pertanyaan yang membuat May tersenyum pihit.
"manusia mana sih yang gak pernah berharap?" Tanya May balik.
"Bahkan sampai sekarang gue berharap dengan hal yang gue tau, bahwa harapan itu tidak akan pernah terjadi dan akan gue dapat nantinya. tapi gue udah siapkan mental walaupun gak tau gue siap apa gak merasakan namanya kecawa nantinya, tapi gue tetap kembali ke kata berharap."
"Kalo gue boleh tau, harapan lo mengenai apa?" Tanya Yogi yang mulai tertarik dengan harapan May.
__ADS_1
"Sesuatu yang masih belum jelas, lebih tepatnya sesuatu yang lo rasa ke Lala, mungkin bisa di bilang begitu!" Jawab May dengan senyum kecil yang bisa di bilang, senyum dengan penuh kepahitan serta keterpaksaan.