
Malam harinya Dexter bersama istri dan anak-anaknya menuju perjalanan pulng ke rumah. Megan duduk di kursi penumpang bersama si kembar. Amber yang sedang mode manjanya duduk di pangkuan Megan seperti koala. Anak itu memeluk tubuh Megan dengan kepala bersandar di dada Megan. Sedangkan Archer bersandar di lengan Megan. Kedua anak itu seolah ingin terus menempel dengan mommy mereka.
"Mom.." panggil Amber.
"Ada apa sayang.." jawab Megan lembut.
"Apa baby nya sudah ada? kalian sudah pergi lama untuk membuat adik kami," tanya Amber menatap Megan yang tampak mengerutkan alisnya.
"Mommy belum tau. Nanti kalau sudah ada mommy akan kasih tau kalian," ucap Megan.
"Ayo dong adik, cepat ada disini ya," ucap Amber mengusap perut Megan dengan tangan mungilnya.
"Aku mau adik laki-laki mom.." ucap Archer.
"Amber juga mom," ucap Amber.
__ADS_1
"Kita doakan saja nanti adik kalian laki-laki," tukas Megan mengecup kepala Archer dan Amber.
Setibanya di rumah, Megan menyuruh si kembar untuk mandi. Ia membantu mengambilkan pakaian untuk Amber dan Archer. Setelah itu, Megan membersihkan dirinya.
Lima belas menit berlalu, Megan sudah selesai mandi.
"Loh kemana Dexter?" batin Megan. Sebelum mandi ia masih melihat suaminya ada di kamar.
"Mencari ku... hmmm," bisik Dexter memeluk tubuh Megan dari belakang.
"Aku tadi mengangkat panggilan dari Addison. Membahas tentang perusahaan," ucap Dexter mengecup leher, menghirup aroma Vanila dari tubuh istrinya.
"Ya sudah kamu mandi dulu, aku mau lihat anak kita dulu," ucap Megan. Dexter malah mengeratkan pelukannya.
"Satu ronde yuk." ajak Dexter membuat Megan terperanjat. Suaminya memang maniak. Merek sudah melakukannya tadi pagi. Apa pria itu tidak bosan.
__ADS_1
"Tadi pagi kan sudah, aku mau lihat anak-anak dulu. Tadi aku sudah berjanji untuk membacakan dongeng untuk mereka," ujar Megan mencoba melepaskan tangan Dexter dari pinggangnya.
"Hubby... lepaskan.." ucap Megan, Dexter menggeleng. Menyusupkan satu tangannya ke dalam gaun tidur Megan dan me.re.mas gundukan kenyal itu.
"Ayo dong sayang.." ucap Dexter memutar tubuh Megan hingga mereka berhadapan. Dexter menekan miliknya yang sudah mengeras membuat Megan terbelalak.
"Ak__ mmpppptthhhh..." belum selesai berbicara, Dexter sudah membekap mulut Megan dengan bibirnya. Ia me.lu.mat bibir atas dan bawah Megan bergantian. Dasar Dexter yang lihai dalam berciuman, membuat Megan terlena dan membalas ciumannya. Pria itu mendorong tubuh Megan ke sofa hingga keduanya terjatuh. Setengah tubuh Dexter menindih tubuh Megan tanpa melepaskan ciuman mereka.
Ciuman mereka semakin dalam dan penuh gairah. Tangan kanan Dexter mengusap lembut paha Megan, perlahan tangannya semakin naik ke atas, mengusap lembut milik Megan yang terbungkus CD.
"Ngghh.... sshhhh..." desah Megan kala tangan pria itu menggoda bagian bawahnya. Perlahan Dexter menarik CD berwarna hitam Megan. Menariknya ke bawah, hingga terlepas. Dexter menarik tubuh Megan dan membawanya kepangkuannya. Megan kemudian duduk menghadap Dexter dengan posisi mengangkang, merasakan milik Dexter yang sudah mengeras. Bibir Dexter turun ke bawah menjelajah di leher putih Megan. Tangannya bergerak menurunkan tali gau tidur Megan hingga melorot sebatas perut Megan. Mencium puncak gunung yang sudah mengeras itu, memilin dan men.jilatnya seperti ice cream, membuat Megan semakin tidak tahan. Ia menginginkan yang lebih lagi.
"Nggghhh... Dex... ouchhh..." lenguh Megan semakin menekan kepala Dexter ke dadanya. Ia ingin pria itu meng.hisapnya seperti biasanya. Megan yang tidak tahan lagi, langsung mengarahkan puncak dadanya ke mulut Dexter. Paham dengan keinginan Megan, Dexter langsung menyesap dada Megan seperti bayi kehausan.
"Sshhh..nggghhh.." Megan melenguh, mengusap rambut kepala Dexter. Tak sabar lagi, Dexter membuka gesper nya. Megan sedikit mengangkat tubuhnya agar Dexter bisa dengan mudah melorotkan celananya. Megan selalu merona tiap kali melihat junior Dexter yang perkasa.
__ADS_1