My Crazy Boss & His Twins

My Crazy Boss & His Twins
Extra Part 1


__ADS_3

a few years later


Seorang wanita mengenakan gaun putih bermotif bunga tampak mencari seorang anak laki-laki yang akhir-akhir ini semakin aktif.


"Arthur... Arthur... where are you boy..." panggil Megan mencari anaknya yang kini berusia 18 bulan. Tadi ia meninggalkan balita itu di ruang tengah saat Megan hendak mengambil makan siang untuk Arthur.


"Nyonya, tuan muda sedang berada di pintu utama mungkin ingin melihat tuan Dexter apakah sudah kembali dari sekolah," ucap seorang pelayan.


"Baiklah bibi, tolong taruh ini di meja ya," ucap Megan memberikan nampannya pada pelayan, kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu utama. Dan melihat anaknya sedang berdiri disana.


"Daddy... daddy...daddy.." ucap Arthur senang dengan kaki jalan di tempat saat melihat mobil Dexter memasuki halaman rumah. Megan hanya tertawa melihat tingkah anaknya. Sungguh, balita itu merupakan Dexter versi kecil. Arthur hanya memiliki warna mata yang sama dengannya. Selebihnya mengikuti Dexter. Sepertinya gennya sangat mendominasi. Archer dan Amber juga sangat mirip dengannya.


Dexter keluar dari mobil dan membuka pintu untuk Amber dan Archer. Kedua anak itu langsung berlari menghampiri adik kesayangan mereka dan memeluknya.


"Kakak merindukan mu," ucap Amber mencium pipi gembul Arthur. Anak kecil itu lalu mencium pipi Amber dan Archer.


"Sayang..." ucap Dexter mengecup kening Megan.


"Hai.. boy.." ucap Dexter mengusap rambut putranya. Anak itu merentangkan tangannya agar Dexter menggendongnya.

__ADS_1


"Wah.. anak daddy semakin berat saja," ucap Dexter menggendong Artur. Anak itu lalu melingkarkan tangannya di leher Dexter.


"Ayo sayang.. kalian simpan tasnya dulu baru makan siang.." ucap Megan pada si kembar.


"Baik mom.. apa mommy masak banyak?" tanya Archer.


"Tentu saja boy.." balas Megan mengusap rambut kepala Archer. Kedua anak itu kemudian pergi menuju kamar mereka masing-masing.


"Anak daddy sudah makan siang?" tanya Dexter.


"Elum dad.." ucap Arthur menggelengkan kepalanya. Anak kecil itu belum bisa berbicara dengan lancar. Ia hanya menguasai beberapa kata saja di usianya yang masih 17 bulan. Ia hanya bisa merangkai dua atau tiga kata saja.


"Kalau begitu mari kita makan.." ucap Dexter mengangkat tinggi tubuh Arthur membuat anak itu tertawa senang.


"Mau daddy suapi?" tanya Dexter, Arthur kemudian mengangguk. Megan lalu memberikan makan siang Arthur pada Dexter.


Archer dan Amber berlari bersama menuju ruang makan, mereka tidak sabar untuk menyantap masakan Megan.


"Awas jatuh nak, larinya jangan terlalu cepat.." ucap Megan sembari menyendok multigrain rice di piring Archer dan Amber. Multigrain rice adalah makanan sehat yang terdiri dari beras, gandum dan biji-bijian. Megan selalu memperhatikan makanan yang mereka konsumsi. Bahkan ia selalu membuat list makanan yang akan di masaknya untuk mereka setiap minggu.

__ADS_1


"Tangan dan kakinya sudah di cuci kan?" tanya Megan.


"Sudah mom," jawab Amber.


"Kalian mau lauk apa nak?" tanya Megan.


"Beef teriyaki mom," balas Amber.


"Seafood Soup mom," timpal Archer. Megan kemudian mengangguk.


******


Megan sedang menyu.sui Arthur sebelum anak itu tidur siang. Megan ingin menyapih Arthur hingga usia anak itu berusia 2 tahun. Anak itu juga tidak terlalu menyukai susu formula. Ia hanya meminumnya sesekali saja. Tiap kali menyu.sui Arthur, Megan selalu merasa bahagia.


"ssshh.. sayang.. jangan digigit.." ucap Megan mendesis kala mulut Arthur menggigit puncak dadanya. Anak itu hanya diam saja, dengan mata yang hampir terpejam. Satu tangannya menyentuh wajah Megan.


"Daddy dan anak sama saja," ucap Megan terkekeh.


"Apanya yang sama sayang.." timpal Dexter yang tidak tau sejak kapan masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Ahh... lupakan saja. Apa anak-anak sudah tidur?" tanya Megan.


"Baru saja," balas Dexter duduk disamping Megan yang sedang ada di sofa. Menatap saingannya yang sedang menyu.su. Tangannya mencubit gemas pipi gembul putranya.


__ADS_2