
"Eh.. ti..tidak perlu kak, aku duduk disana saja," jawab Winter terbata.
"Tidak apa-apa, kamu duduk disini saja," ucap Vivian melangkahkan kakinya untuk menarik kursi kosong dari meja lain.
Entah kenapa sejak kedatangan Julian dan Winter suasana menjadi canggung.
"Terima kasih kak," pungkas Winter tulus.
"Vivian.. panggil saja Vivian. Aku pikir kita seumuran," pungkas Vivian.
"Akhir tahun usiaku genap 20 tahun kak," jawab Winter duduk di kursi. ke lima manusia yang ada di meja itu hanya diam saja mendengar Vivian dam Winter berbicara. Dalam hatinya Erick ingin menertawai Julian yang menikahi perempuan yang menurutnya masih sangat muda dibandingkan dengan usia Julian.
"Apa? aku pikir kamu sudah 25 tahun," ucap Vivian terkekeh.
"Ternyata kita beda 5 tahun, tapi aku lebih suka kamu memanggilku Vivian saja," ucap Vivian. Winter mengangguk. Vivian kemudian mengenalkan yang lainnya pada Winter. Winter terlihat canggung karena ia tidak biasa menghadiri acara mewah seperti ini. Bahkan makanan lezat yang terhidang di meja bisa dihitung berapa kali ia pernah memakannya hingga di umurnya yang sekarang.
__ADS_1
"Ini Jack kekasih ku. Dia Erick dan ini Beatrix sahabatku dan ya ini_ " seketika Vivan terdiam dan bingung. Ia pikir winter sudah mengenal Megan.
"Megan..." timpal Megan tersenyum menatap wajah Winter yang terlihat takut.
Mereka lalu menikmati makanan yang tersedia di atas meja dengan percakapan ringan.
"Kamu terlihat cantik malam ini," puji Julian
"Oh.. terima kasih atas pujiannya Julian," timpal Erick bercanda spontan membuat Megan tersedak.
"Sejak kapan kelamin mu berubah Erick," pungkas Jack terkekeh.
"Apa kamu baik-baik saja," ujar Julian. Megan lalu mengangguk. Winter hanya menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan sembari mengelus perut buncitnya.
Erick mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada seseorang. "Mari kita lihat siapa lagi yang akan datang setelah ini," batin Erick senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Beatrix yang melihatnya geleng-geleng kepala sembari mengatai Erick sudah gila di dalam hati. Sadar jika Beatrix sedang menatapnya, seketika sudut bibir pria itu kembali normal seperti biasa.
"Jangan minum wine nya terlalu banyak, aku tidak mau kamu mabuk," ucap Julian memperingati Megan. Namun wanita itu tidak peduli dengan perkataan Julian.
"Jadi kamu datang terlambat dan duduk santai disini tanpa mengucapkan selamat untuk ku, teman macam apa kamu," timpal Dexter yang muncul tiba-tiba. Dugaan Erick benar bukan, belum lama ia mengirimkan pesan pada Dexter, pria itu sudah datang.
"Oh hai dude... maafkan aku, " ucap Julian bangkit dari kursinya dan memeluk Dexter lalu mengucapkan selamat ulang tahun untuk pria itu.
Dexter duduk di kursi yang sebelumnya Julian tempati.
"Hei... itu tempat duduk ku," ucap Julian.
"Oh aku lupa, kamu duduk disini saja, aku malas bergerak," balas Dexter dengan santainya menunjuk kursi kosong milik Beatrix. Kebetulan wanita itu sedang ke toilet. Julian akhirnya duduk dan tentu saja sekarang ia duduk tepat disamping kursi winter.
Megan melirik sekilas ke arah Dexter dan baru menyadari jika pria itu ternyata memakai dasi pemberiannya. Megan cukup kenal dengan dasi yang dibelinya tempo hari. Ia tidak menyangka kalau pria itu akan memakai dasi murah pemberiannya.
__ADS_1
"Aku suka dasinya," bisik Dexter. Megan melirik wajah pria itu dan tersenyum dan jangan lupakan dengan rona merah yang sudah muncul di wajahnya.
Julian yang melihat itu sedikit cemburu, pikirannya dipenuhi pertanyaan apa hubungan antara Dexter dengan Megan.