
Dexter tidak mengindahkan perkataan Julian membawa Megan pulang dengan langkah kaki wanita itu yang sempoyongan.
Winter menghampiri Julian dengan langkah ketakutan, sepertinya suaminya sedang marah. Ia yakin akan kena imbasnya juga. Akan lebih baik jika ia tidak ikut. Tapi ibu mertuanya memaksa Julian untuk membawanya, jika tidak. Julian tidak bisa pergi.
Winter berdiri disamping Julian yang sedang menatap kepergian Megan dan Dexter.
"Akhh.... ini semua gara-gara kamu.." pungkas Julian marah dengan suara keras lalu pergi meninggalkan Winter sendirian yang terpaku ditempatnya. Sadar, Winter berlari memanggil nama pria itu berulangkali. Namun terlambat. Pria itu sudah pergi. Winter memeluk dirinya dan menangis. Melangkahkan kakinya menyusuri jalan, ia tidak membawa uang sepeserpun. Ponselnya juga ketinggalan.
****
Di dalam mobil Megan bernyanyi dan terkadang tertawa sendiri.
"Ck.. dasar bodoh... sudah tau tidak bisa minum banyak, tapi tetap saja dilakukan," ucap Dexter tertawa kecil melihat tingkah Megan yang sangat lucu.
"Hei.. kenapa lama sekali sampainya.." pungkas Megan menggerutu. Baru 3 menit mereka dalam perjalanan, tapi Megan malah menggerutu karena lama.
"Kamu bisa mengemudi atau tidak sih..." bentak Megan melipat kedua tangannya dan bersandar di kursi mobil. Tidak sadarkah dia siapa yang sedang dibentaknya itu.
__ADS_1
Dexter tertawa, "kau tau, kamu sangat menggemaskan jika seperti itu, kamu membuatku teringat dengan putri kecilku, tingkah kalian hampir sama," ujar Dexter mengusap rambut Megan. Kedua anaknya itu sekarang sedang berada di rumah orangtua Dexter. Semalam mereka melakukan perayaan kecil ulang tahun Dexter bersama kedua anak dan orangtuanya.
Dexter menghidupkan rekaman suara di ponselnya karena gemas dengan tingkah Megan. Ia akan menunjukkan rekaman itu besok pagi, dan melihat ekspresi terkejut dan malu Megan.
Tiba di depan gedung apartemen Megan, pria itu mengudikan mobilnya ke parkiran apartemen.
Dexter keluar dari mobil dan mengintari mobil Roll Royce miliknya dan membukakan pintu untuk Megan.
"Ayo turun.." ucap Dexter membantu Megan turun dari mobil.
"Astaga..hati-hati.." ucap Dexter saat Megan hampir terjatuh.
"Ada apa?" tanya Dexter mengerutkan alisnya saat Megan hanya diam ditempatnya.
"Gendong.." rengek Megan manja merentangkan kedua tangannya seperti anak kecil. Dexter yang gemas melihat tingkah Megan mengecup bibir wanita itu dan dengan senang hati menggendongnya seperti koala.
"Kalau saja kamu tidak mabuk, mungkin aku tidak akan tau kalau kamu ternyata punya sifat manja. Dan aku suka itu," ujar Dexter mengecup kepala Megan yang bersandar di dadanya.
__ADS_1
Setelah sampai di lantai kamar Megan, Dexter keluar dari lift dengan Megan yang tampak nyaman di gendongan pria itu. Terlihat Megan sejak tadi menghirup aroma parfum Dexter yang membuatnya seperti melayang.
Dexter menekan sandi pin kamar Megan lalu pintu terbuka. Dexter tau sandi itu saat ia pertama kali datang ke aparatemen Megan karena ingin makan Jambalaya buatan wanita itu.
Dexter menurunkan Megan di tepi ranjang. Pria itu melepaskan jasnya lalu duduk disamping Megan sembari menggulung lengan kemejanya hingga sebatas sikunya.
Megan bangkit, duduk begitu saja di pangkuan Dexter hingga membuat pria itu terkejut.
Megan menatap dalam-dalam mata hijau pria itu.
"Kenapa kamu mirip dengan si Dexter gila dan mesum itu," ucap Megan mengerjapkan matanya berkali-kali seakan memastikan pria dihadapannya itu.
"Ah sial... jadi sejak tadi wanita ini mengira aku pria lain," batin Dexter tidak suka. Ingin rasanya dia menghukum wanita ini. Dexter masih menunggu apa lagi yang akan dilakukan Megan padanya.
"Tapi kamu juga tampan seperti dia," ucap Megan menangkup wajah Dexter dan tersenyum. Dexter tersenyum mendengar pujian Megan.
"Aku memang tampan.." ucap Dexter memuji dirinya.
__ADS_1
"Huh.. " Megan menghembuskan nafasnya, bersandar di dada bidang pria itu. Tangannya bergerak membuka kancing baju Dexter.
"Apa yang kamu lakukan," ucap Dexter menahan tangan Megan.