My Crazy Boss & His Twins

My Crazy Boss & His Twins
Bab 25: Tampan


__ADS_3

"Hubungannya dengan saya apa Pak? kenapa tidak membawa sekretaris saja jika anda ingin meeting disini," ucap Megan.


"Saya sudah pecat sekretaris saya, jadi saya mengajak kamu untuk sementara sebelum saya mendapat sekretaris yang baru," balas Dexter.


"Saya berubah pikiran, untuk sementara ini saya rekrut kamu jadi sekretaris ku," lanjut Dexter menatap Megan yang terkejut.


"Tidak...tidak.. saya tidak bisa Pak. Saya tidak punya kemampuan di bidang itu," ucap Megan menolak. Dexter terkekeh mendengar perkataan Megan.


"Ke..kenapa bapak tertawa?" tanya Megan.


"Apa kamu sedang bercanda nona Megan Parker," pungkas Dexter menggeleng-gelengkan kepala mengucapakan nama lengkap wanita itu.


"Jangan membohongiku Megan, saya tau jika kamu sebelumnya seorang sekretaris di tempat kerja mu yang dulu," ucap Dexter yang sudah membaca CV Megan sebelumnya. Megan merasa sial karena tidak bisa berbohong.


"Besok pagi saya sudah melihatmu di depan ruangan saya," perintah Dexter.


"Saya akan kasih kamu gaji 3 kali lipat jika pekerjaanmu memuaskan," ujar Dexter membuat kedua mata Megan seketika berbinar.


"Ya ampun... kalau tau begini tadi, aku tidak usah berbohong," batin Megan.

__ADS_1


"Baik Pak," jawab Megan dengan wajah pasrah nya namun dalam hati ia tentu saja senang. Ia tidak mau dianggap matre oleh Dexter.


Dari kejauhan, Dexter bisa melihat kedatangan kedua temannya.


"Kemari... duduk di samping saya," ujar Dexter sontak membuat Megan terkejut.


"Saya disini saja Pak," ucap Megan.


"Jangan membantah saya Megan, ini perintah," ucap Dexter datar, akhirnya Megan duduk di samping pria itu.


"Hei dude, maaf kami sedikit terlambat," ucap Erick teman Dexter.


"Maksudmu Megan mantan kekasihmu itu," timpal Erick asal ucap, ia hanya menebak saja. Julian terdiam, itu artinya benar.


"Apa kalian sudah lama disini," pungkas Erick menetralkan suasana.


"Sejak 5 hari yang lalu," balas Dexter dengan wajah datarnya membuat Erick tertawa, temannya itu memang tipe orang yang sangat menghargai waktu.


"Oh.. hai kenalkan saya Erick Rivers," ucap Erick mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Megan," balas Megan tersenyum membalas jabatan tangan Erick.


"Kenapa Megan bersamamu Dex?" tanya Julian. Seingatnya Megan juga tidak terlalu kenal dengan Dexter.


"Megan sekretaris ku, jadi wajar dia ikut bersama ku saat sedang ada meeting bersama klien bukan," balas Dexter.


Dua orang pramusaji mengantarkan makanan untuk mereka, karena sebelumnya Dexter sudah membooking 1 meja untuk mereka.


"Selamat menikmati tuan-tuan dan nona," ujar pramusaji lalu pergi.


Julian memotong daging steak milikinya hingga beberapa bagian. Menarik piring Megan dan memberikan steak miliknya yang sudah dipotong-potong. Benar-benar pria romantis.


"Terimakasih Julian," ucap Megan. Sebenarnya ia merasa tidak enak saat Julian bersikap seperti itu, mengingat keduanya sudah putus. Kalau saja masih pacaran mungkin Megan akan senang.


Dua jam berlalu, Megan sudah bosan mendengar ketiga pria itu membahas masalah proyek mereka untuk pembuatan film baru mereka. Sejak tadi ia hanya jadi pendengar saja. Dexter bahkan melarangnya untuk mencatat poin-poin penting dari meeting mereka.


"Tau begini, ngapai coba aku dibawa kesini," batin Megan kesal. Ia bahkan sampai bosan memainkan ponselnya. Megan memangku kepalanya dengan satu tangan di atas meja. Menatap Dexter yang sedang berbicara.


"Tampan..." batin Megan tersenyum.

__ADS_1


"Ahh.. sial, kenapa aku harus menatap si mesum ini sih.." batinnya merutuki diri menyadari perbuatannya.


__ADS_2