
Dua Hari Kemudian
Sore hari setelah pulang dari kantor, Megan sedang bersantai ria di sofa menscroll ponselnya melihat alat-alat memasak dari toko online sembari menikmati alunan musik yang di putarnya dari laptop.
"Ceklek.." pintu terbuka membuat Megan menolehkan kepalanya. Yang tau sandi pintunya hanyalah Dexter dan si kembar. Itu artinya yang datang kalau bukan Dexter mungkin si kembar.
"Hubby..." ucap Megan bangkit dari sofa, berlari menghampiri Dexter yang terlihat berantakan dan beberapa luka lebam di wajahnya.
"Apa yang terjadi, kenapa kamu seperti ini," ucap Megan khawatir membawa Dexter berjalan menuju sofa dan membatu pria itu duduk.
"Aku baru saja melakukan olahraga tinju berasama Julian," ucap Dexter tertawa ringan membuat Megan marah dan kesal.
"Bisa-bisanya kamu masih tertawa dengan keadaan seperti ini," ucap Megan refleks memukul lengan Dexter.
"Sshh...." ringis Dexter pelan.
"Astaga.. aku minta maaf, aku tidak sengaja karena jengkel melihatmu tertawa dengan keadaan begini," ucap Megan mengusap pelas lengan Dexter.
"Itu karena aku mengalahkan lawan ku," ucap Dexter mengecup bibir Megan.
"Tunggu sebentar, aku akan mengobati luka mu," ujatr Megan berjalan menuju meja riasnya, mengambil kotak P3K dari laci meja tersebut dan kembali ke sofa.
__ADS_1
"Buka bajumu," ucap Megan.
Dexter menyeringai, "Bagaimana dengan celana?" tanya Dexter dengan wajah polosnya. Megan melotot padanya.
"Aku pikir kita ingin melakukan sesuatu yang berkeringat," tukas Dexter tersenyum nakal.
"Kamu bisa diam tidak, aku ingin mengobatimu dulu!" pungkas Megan. Dexter akhirnya diam, mengamati Megan membuka kotak berisi obat-obatan di tangannya.
Megan menuangkan cairan ke kapas. Menjulurkan tangannya untuk mengobati luka pada sudut bibir Dexter.
"Ssshh.. sakit banget sayang," desis Dexter menahan tangan Megan merasakan perih di wajahnya.
"Lepaskan tanganmu Dex," ucap Megan merasakan tangan Dexter yang mulai menjangkau dadanya.
"Ini untuk menghilangkan rasa perihnya juga," ucap Dexter menyusupkan tangannya ke dalam bra Megan.
"Dia yang duluan sayang," ucap Dexter meremas lembut benda kenyal itu. Dia tidak akan pernah bosan untuk memainkan benda itu.
"Kalian seperti anak kecil saja," ucap Megan meniup wajah Dexter untuk mengurangi rasa perih di wajah pria itu.
"Dia sayang, bukan aku," ucap Dexter tidak terima.
__ADS_1
"Dia yang mengajak ku bertemu dan mengatakan padaku untuk meninggalkan mu, Dia bahkan rela menukar semua asetnya untuk mendapatkanmu. sepertinya pria itu cinta mati pada kekasihku ini," tukas Dexter.
"Aku jelas tidak mau. Bahkan kamu lebih berharga dari penawaran yang diberikannya. Aku hanya memberinya saran untuk mencoba menerima istrinya. Jangan sampai ia menyesal suatu saat nanti dan meninggalkannya. Tiba-tiba dia menyerangku seperti orang kesetanan. Tentu saja aku tidak tinggal diam. Bisa-bisa aku mati ditangannya. Dan dia mengambilmu dari ku," ujar Dexter memberi penjelasan pada Megan.
"Bagaimana keadan Julian?" tanya Megan dengan raut wajah khawatir. Mungkin itu karena dulu mereka pernah bersama.
"Kamu mengkhawatirkannya?" tanya Dexter cemburu.
"Tentu saja sebagai teman, bukan karena yang lain," ucap Megan menangkap raut wajah cemburu Dexter dan memberi satu kecupan di bibir Dexter.
Megan kemudian mengoleskan salep di wajah dan tubuh Dexter.
"Sudah, sekarang kamu istirahat di tempat tidur," ucap Megan mengembalikan kotak P3Knya ke dalam laci.
"Sayang temani aku di sini," ucap Dexter manja di atas tempat tidur.
"Baiklah... baiklah.. aku matikan laptop dulu," ucap Megan. Setelah menyimpan laptopnya. Megan naik ke atas tempat tidur dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
"Pengen di peluk.." ucap Dexter menatap Megan.
"Dasar manja.." ujar Megan terkekeh membaringkan tubuhnya di samping Dexter lalu memeluk tubuh pria itu.
__ADS_1