My Crazy Boss & His Twins

My Crazy Boss & His Twins
Bab 96: Hampir Membunuh


__ADS_3

"Tidak.." Megan memiringkan kepalanya saat Julian ingin menciumnya kembali.


"Sepertinya kamu suka bermain-main ya.." Julian terkekeh. Megan mendorong tubuh Megan dengan kakinya hingga pria itu terjatuh di lantai. Megan berlari ke arah pintu.


"Akh... lepaskan aku," pekik Megan meronta saat Julian mengangkat tubuhnya dan membawanya ke tempat tidur Megan.


"Kamu hanya miliki ku Megan.." ucapnya menjatuhkan tubuh Megan di atas kasur dan menindihnya. Megan meronta, mendorong tubuh pria itu. Tapi tenaganya kalah. Megan menangis ketakutan karena Julian melecehkannya.


"Tolong....tolong..." teriak Megan meskipun ia tidak yakin ada orang yang mendengarnya.


"Tenang sayang, aku tidak akan menyakitimu," ucap Julian menahan kedua tangan Megan di atas kepala wanita itu, mendaratkan bibirnya di leher Megan.

__ADS_1


"Tidak Julian.. sadarlah. Lepaskan aku.. tolong siapapun tolong aku," ucap Megan menangis sejadi-jadinya saat pria itu mulai mencium leher Megan dengan brutal.


Seorang pria menarik tangan Julian membuat pria itu terhuyung jatuh ke lantai.


"Dex.." gumam Megan menangis, akhirnya ia selamat dari Julian. Untung saja Dexter segera datang.


"Sayang.. kamu akan baik-baik saja, ada aku disini," ujar Dexter memeluk Megan yang tersedu-sedu. Andai ia tidak datang dengan cepat, mungkin kekasihnya itu akan dilecehkan oleh Julian. Untung saja ia teringat dengan Megan yang belum juga pulang ke rumah. Dan menghubungi Vivian. Wanita itu mengatakan jika Megan sedang di apartemennya. Dexter menghubungi Megan karena tidak mengabarinya. Beberapa kali ia meneleponnya, namun panggilannya tidak di angkat. Akhirnya Dexter memutuskan untuk menemui Megan, karena tidak biasanya Megan mengabaikan panggilannya. Pasti ada yang tidak beres. Dan ternyata memang benar. Ketika dia masuk ke unit apartemen Megan, ia terkejut mendengar Megan menjerit meminta tolong.


"Aku akan membunuhmu sekarang juga," tukas Dexter kembali memberi pukulan keras pada Julian. Membuat pria itu semakin tidak berdaya dibawah kungkungan Dexter. Kemarahan Dexter tidak bisa di tolerir lagi, tangannya mencekik leher Julian hingga membuat pria itu hampir kehilangan kesadaran. Julian meronta, berusaha melepaskan tangan Dexter yang mencekiknya.


"Tidak... berhenti Dex.." pekik Megan sangat takut melihat kemarahan Dexter. Pria itu sepertinya akan membunuh Julian.

__ADS_1


"Dex berhenti," ujar Megan menangis histeris , tubuhnya merosot kebawah.


"Aku tidak ingin kamu menjadi pembunuh," ucap Megan menggelengkan kepalanya. Seketika Dexter tersadar dan melepaskan tangannya dari leher Julian. Pria itu terbatuk-batuk, mencari oksigen agar nafasnya kembali stabil. Tubuhnya remuk, tidak sanggup untuk bangkit.


"Sayang.. maafkan aku.." ucap Dexter memeluk tubuh Megan dan membopongnya, membawanya keluar dari dalam apartemen itu.


Setibanya di depan mobilnya, Dexter membuka pintu mobilnya dan mendudukkan Megan di kursi mobil. Ia mengintari mobil itu dan masuk ke kursi pengemudi.


Dexter mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang untuk membawa Julian ke rumah sakit.


"Kita akan pulang, mulai sekarang kamu akan tinggal di rumah ku. Rumah kita selamanya," ucap Dexter menarik tubuh Megan mendekat padanya dan merangkul tubuh Megan dengan satu tangannya.

__ADS_1


Tangannya yang lain ia gunakan untuk menyetir.


__ADS_2