My Crazy Boss & His Twins

My Crazy Boss & His Twins
Bab 48: Rekaman


__ADS_3

Megan berkutat sendiri di depan layar laptopnya, tangan lentiknya sibuk menekan keyboard laptop di depannya sejak tadi. Ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikannya pagi ini. Tiba-tiba ia teringat dengan rekaman yang Dexter katakan saat mereka masih di apartemennya.


Megan lalu mengambil ponselnya dan kemudian mendengar rekaman yang dikirim oleh Dexter. 10 menit berlalu, Megan semakin tidak tahan mendengar rekaman itu. Wajahnya merona sejak tadi. Karena tidak tahan lagi untuk melanjutkan rekamannya, Megan segera mematikan ponselnya. Ternyata Dexter merekam Megan yang sedang mabuk di pesta perayaaan ulang tahunnya dua hari yang lalu.


"Astaga... itu bukan dirimu kan Megan?" gumam Megan menutup mulutnya dengan satu tangannya. Megan menggeleng-gelengkan kepalanya sejak tadi karena malu.


Megan bangkit dari kursi kerjanya, berjalan mengintari Mejanya bolak-balik, "OMG, bagaimana ini. Kenapa aku bodoh sekali," gumam Megan merutuki kebodohannya.


"Bagaimana bisa aku se liar itu. Akh.. dimana harga dirimu Megan.." ucap Megan memukul-mukul kepalanya, bersandar di dinding ruangannya.


"Aku tidak akan mendengarkannya lagi," batin Megan. Namun ia tetap penasaran dengan kelanjutan rekaman tersebut. Megan menatap ponselnya kembali. Berpikir sejenak, antara melanjutkannya atau tidak.


"Tidak Meg... tidak. Sebaiknya kamu menghapusnya sekarang.." ucap Megan. Tapi ia masih penasaran dengan kelanjutan dari rekaman itu.


"Oh tidak... sekarang yang harus kupikirkan adalah bagaimana menghadap pria itu nanti. Ya ampun malunya.." gumam Megan menghentak-hentakkan kakinya di tempat.

__ADS_1


"Ceklek..." pintu terbuka. Dexter tampak mengernyitkan kedua alisnya saat melihat Megan dengan posisi membelakanginya dan berbicara sendiri disana. Wanita itu tampak menghentak-hentakkan kakinya disana. Bahkan Megan tidak menyadari jika pria itu sedang berdiri di samping meja kerjanya. Dexter tak sengaja melihat layar ponsel Megan. pria itu menyeringai lalu menghampiri Megan.


"Apa yang sedang kamu lakukan," ucap Dexter membuat Megan terkejut. Megan memutar tubuhnya dan melihat Dexter berdiri di depannya.


Megan tampak menelan ludah, wajahnya kembali merona mengingat kembali rekaman itu.


"Kenapa wajahmu merah seperti itu," tanya Dexter. Megan spontan memegang pipinya dengan kedua tangannya.


"Ah.. tidak.. aku.. aku hanya.... ahhh sudah lupakan saja," ujar Megan sedikit menjauh dari Dexter. Pria itu tertawa dalam hatinya melihat tingkah Megan.


Andai ia bisa mengulang waktu, ia ingin kembali ke hari dimana kejadian itu belum terjadi dan tidak akan minum banyak.


"Aku ingin mengajakmu menjemput Amber dan Archer ke sekolah mereka," ucap Dexter. Megan sebenarnya ingin ikut dan bertemu dengan si kembar. Hanya saja ia ingin menghindar dari Dexter untuk beberapa saat karena rekaman yang di dengarnya tadi. Ia sangat malu sekali.


"Tapi aku sed_".

__ADS_1


"Tidak ada tapi-tapian, ayo.." ucap Dexter menginterupsi perkataan Megan dan menarik tangan wanita itu untuk keluar.


"Tu..tunggu dulu, ponsel dan tas ku masih ada di meja," ucap Megan, Dexter lalu melepas tangan Megan dan membiarkan wanita itu mengambil barangnya.


Keduanya lalu keluar dari ruangan Megan dan berjalan menuju lift pribadi milik Dexter. Menuju lobby, mobilnya sudah terparkir di depan kantor.


Saat keduanya tiba di lobby, mereka tak sengaja bertemu dengan Erick.


"Erick, sedang apa kamu di sini? kita tidak ada janji bukan?" tanya Dexter heran melihat kedatangan Erick. Biasanya jika mereka ingin bertemu, Erick kan menghubunginya terlebih dahulu.


"Aku ada urusan penting dengan sesorang. Kebetulan dia bekerja di sini, kalian mau kemana?" tanya Erick.


"Menjemput anak-anak ke sekolah," balas Dexter.


"Kalau begitu kami pergi dulu," pungkas Dexter.

__ADS_1


__ADS_2