My Crazy Boss & His Twins

My Crazy Boss & His Twins
Bab 112: Penyesalan Julian


__ADS_3

"Aku pergi dan mengurung diri selama satu bulan, tidak ada yang tau aku pergi kemana. Mematikan ponselku selama itu. Entah sudah berapa banyak panggilan yang masuk ke ponselku saat itu," lanjutnya lagi.


"Aku kembali ke mansionku dan tidak menemukan Winter disana. Hanya ada mommy yang duduk melamun di halaman samping memeluk foto winter dan sepasang baju bayi. Mommy melihatku dan memberikan ku tamparan keras beberapa kali yang rasanya tidak cukup untukku setelah tau fakta yang sebenarnya," ucap Julian, sebuah bulir bening jatuh membasahi pipinya. "Mommy menceritakan semuanya, mulai dari ia bertemu dengan Winter pertama kali dan menyukainya dan menginginkan Winter menjadi menantunya karena sebelumnya mommy selalu memintaku untuk menikah dan aku menolaknya. Aku juga salah tidak menceritakan mu pada mommy secepatnya hingga mommy meminta Winter untuk menikah dengan ku dan memanfaatkan keadaan Winter saat itu. Mommy berjanji akan membeli tanah rumah panti tempatnya tinggal karena pada saat itu pantinya akan digusur oleh perusahaan yang ingin membangun apartemen disana," ucap Julian. Dexter ikut sedih mendengar cerita dari temannya itu. Ia tidak tau jika masalah Julian serumit itu.


"Saat aku ingin mencari Winter mommy bilang jika dia pergi dan bayi kami meninggal. Aku tidak tau jika dia mengejar ku saat itu. Dia terjatuh dari lantai dan mengalami keguguran. Tidak ada yang melihatnya saat itu hingga sore hari. Untung saja mommy datang saat itu dan membawanya ke rumah sakit. Bayi kami dinyatakan meninggal, dan beberapa hari kemudian, Winter pergi tanpa meninggalkan jejak," ucap Julian tidak peduli jika mereka akan mengejeknya karena menangis. Ia sungguh menyesali semua perbuatannya selama ini pada Winter. Ia tidak tau seperti apa keadaan Winter saat ini. Ia yakin wanita itu pasti lebih hancur dari dirinya.


"Julian... aku ikut sedih mendengar cerita mu. Kami akan membantu mu untuk mencari Winter," ucap Megan. Ada rasa bersalah dalam dirinya yang dulu sempat memiliki rasa tidak suka dengan Winter karena wanita itu penyebab hubungannya dengan Julian berakhir.


"Ternyata kalau kamu menangis lucu juga," ucap Dexter tertawa. Walau sebenarnya ia ingin menyemangati temannya itu. Tapi ia terlalu gengsi sepertinya.


"Dex.. kenapa kamu malah tertawa," pungkas Megan kesal memukul lengan suaminya.

__ADS_1


"Habisnya aku belum pernah melihat si brengsek ini menangis," pungkas Dexter meninju lengan Julian. Keduanya saling menatap satu sama lain, seperkian detik kemudian mereka berpelukan. Suasana seperti inilah yang keduanya inginkan, pertemanan mereka kembali seperti biasa.


"Katakan, apa kamu mencintai Winter?" tanya Dexter setelah melepas pelukannya.


"Tentu saja. Tapi sayang.. aku terlambat menyadarinya. Winter pergi meninggalkan ku," ucap Julian menunduk. Ia bahkan hampir gila tiap malam karena tidak bisa tidur. Beberapa bulan terakhir, hubungannya dengan Winter berjalan dengan baik. Bahkan tiap malam ia akan tidur memeluk wanita itu. Julian selalu bermimpi tentang anaknya dan winter yang datang menemuinya dan mengatakan Julian pembunuh dan mereka membenci Julian.


Winter bahkan pergi tanpa membawa apapun. Oleh karena itu, Julian semakin takut dengan keadaan Winter. Takut apakah wanita itu memiliki tempat tinggal, apakah dia makan, dimana ia tidur, dan apakah ia punya uang. Apakah Winter memikirkannya? ah, sudah pasti tidak. Winter pasti membencinya, sangat-sangat membenci. Pikiran-pikiran seperti itu selalu membayanginya.


"Thanks Dex," balas Julian.


.

__ADS_1


.


.


.


.


END.


Note: Akan ada extra chapter. Kemungkinan di upload beberapa hari lagi. Berhubung author sedang ada pekerjaan mendadak dalam beberapa hari ke depan. Trims...

__ADS_1


__ADS_2