
Sinar matahari menembus celah-celah jendela kamar seorang wanita yang sedang tidur pulas di dalam dekapan seorang pria. Pantulan sinar matahari itu mengenai wajahnya hingga wanita itu terusik. Bukannya bangun, wanita itu semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh pria itu. Mengira tubuh itu adalah bantal guling nya.
Megan mengernyitkan alisnya saat merasakan hembusan nafas menerpa wajahnya. Bukankah guling miliknya benda mati. Sejak kapan benda mati bernafas. Megan yang penasaran membuka matanya perlahan. Ia terkejut bukan main melihat wajah Dexter dihadapannya, begitu dekat.
"Akh..." pekik Megan kuat mendorong tubuh Dexter hingga pelukannya terlepas.
Megan bangkit dan melihat sekelilingnya. Kamarnya. Ya, dia di apartemennya. Tapi kenapa pria itu juga ada disana. Megan melihat kebawah dan terbelalak saat melihat baju yang dipakainya bukanlah miliknya. Ia tau jika baju yang dipakainya milik Dexter, dan aroma pria itu masih menyengat di kemeja pria itu. Sudah pasti Dexter lah yang menggantinya. Karena sangat jelas hanya mereka berdua yang ada di kamarnya.
"Sialan... apa yang kamu lakukan padaku," ucap Megan menatap marah Dexter.
__ADS_1
"Memangnya apa yang kulakukan, aku tidak melakukan apapun," balas Dexter santai merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku sehabis bangun tidur.
Megan mencoba mengingat kembali apa yang sudah dilakukannya tadi malam. Tapi yang ia ingat hanya sampai pada Dexter bergabung dengan mereka untuk makan dan minum dan ia sedikit mabuk. Selebihnya ia tidak ingat lagi.
"Lalu kenapa kamu ada disini. Astaga... aku tidak ingat apapun," ucap Megan memijat kepalanya yang masih terasa pusing.
"Kamu mabuk, dan aku mengantarmu kesini. Karena terlalu malam, aku memutuskan untuk menginap disini," ucap Dexter menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
Dengan cepat tangannya membuka selimut yang menutupi setengah tubuhnya.
__ADS_1
Dexter menyentil kening Megan hingga membuat wanita itu meringis. "Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Tidak terjadi apapun. Meskipun aku brengsek di matamu. Tapi aku tidak pernah memanfaatkan seorang wanita yang mabuk tak berdaya, " ucap Dexter seakan tahu apa yang dipikirkan Megan. Walaupun sebenarnya Dexter mati-matian untuk tidak menyerang Megan tadi malam. Megan menggodanya dan setelah puas, wanita itu tidur. Sungguh tidak adil baginya.
Dexter turun begitu saja dari atas tempat tidur Megan, tanpa peduli dengan wanita itu yang sedang memalingkan wajahnya saat melihat Dexter hanya memakai boxer hitam ketat yang mencetak keperkasaannya. Oh Megan gagal fokus dibuatnya.
"Aku pinjam kamar mandi mu dulu," ujar Dexter melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Megan sedikit mencuri-curi pandang melihat tubuh atletis Dexter.
Dexter membuka pintu kamar mandi dan teringat sesuatu. "Oh ya, tolong buka ponselku dan kirimkan pesan pada Alvin untuk mengantarkan pakaian ganti untukku," pungkas Dexter berbalik melihat Megan yang tiba-tiba memalingkan wajahnya
"Oh ya.. kamu sangat cocok dengan baju itu, aku merasa seperti memelukmu terus," goda Dexter lalu masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Dasar tukang gombal. Apa dia seperti itu dengan semua perempuan," gumam Megan mengambil ponsel Dexter.
"Ku harap ia tidak berbohong dengan apa yang dikatakannya tadi," batin Megan sedikit meragukan perkataan Dexter.