
Pernikahan Megan dan dexter akan diadakan 3 minggu lagi. Keduanya sudah mulai mempersiapkannya, mulai dari tempat dan dekorasinya yang sudah diserahkan pada seorang wedding organizer yang merupakan adik Freya, kakak ipar Megan. Megan dan Dexter hanya tinggal memilih pakaian pengantin untuk mereka dan Dexter berencana mengajak Megan ke sebuah butik ternama dua hari lagi. Hari ini, setelah pulang bekerja Megan akan menemui kedua sahabatnya di salah satu cafe yang tidak jauh dari tempat kerjanya. Rasanya mereka terakhir kali bertemu saat pernikahan Jack dan Vivian satu bulan yang lalu. Karena setelah itu Vivian pergi honeymoon dalam jangka waktu yang lama dan Beatrix juga tidak bekerja di perusahaan Dexter karena Erick menjadikan Beatrix sebagai asisten pribadinya.
"Sayang apa kalian jadi bertemu sore ini?" tanya Dexter masuk ke ruangan Megan tanpa mengetuknya. Megan lalu mengangguk.
"Ayo.. aku akan mengantarmu," ucap Dexter. Megan lalu merapikan barang-barangnya di meja sebelum mereka pergi.
Tak lama kemudian keduanya tiba di depan cafe tempat Megan dan kedua sahabatnya bertemu.
"Hubungi aku jika kamu ingin pulang, aku akan menjemputmu," ucap Dexter.
"Baiklah. Katakan pada pelayan agar membuat makan malam untuk kalian. Aku takut pulang agak malam," ucap Megan menatap Dexter.
"Berikan aku ciuman," ucap Dexter manja mengerucutkan bibirnya pada Megan.
"Dasar bayi besar," ucap Megan terkekeh lalu mencium bibir Dexter. Pria itu menahan kepala Megan saat Megan hendak menjauhkan bibirnya dan me.lu.mat bibir atas dan bawah Megan dengan rakus seakan tidak ada hari lain lagi untuk melakukannya.
__ADS_1
Megan mendorong kuat dada Dexter saat ia hampir kehabisan nafas hingga ciuman mereka terlepas.
"Kamu hanya bilang mencium dan apa ini," ucap Megan kesal memukul dada Dexter.
"Salahkan bibirmu yang manis itu sayang," ucap Dexter tertawa menatap bibir bengkak Megan karena ulahnya.
"Ahh sudahlah.. aku pergi dulu, mereka pasti sudah menungguku.
"Tunggu dulu," ucap Dexter menahan Megan. Dengan gerakan yang cepat Dexter langsung mencium leher Megan dan membuat tanda disana.
"Dex.. apa yang kamu lakukan," ucap Megan kesal menurunkan kaca spion depan mobil dan melihat kissmark di lehernya.
"Dasar aneh... bagaimana aku menutupinya sekarang," ucap Megan mengusap tanda yang ada di lehernya itu. Ponselnya kemudian berdering, Vivian memanggilnya.
"Astaga.. mereka pasti sudah menungguku," ucap Megan turun dari mobil dengan buru-buru hingga melupakan tanda di lehernya itu.
__ADS_1
Setibanya di dalam cafe, Megan mencari keberadaan kedua sahabatnya itu.
"Mereka ada di sana," batin Megan melihat Beatrix dan Vivian duduk di meja 10 di dekat kasir.
"Maaf aku sedikit terlambat," ujar Megan lalu ketiganya berpelukan melepas rindu.
"Bagaimana keadaan keponakanku," tanya Megan mengelus perut datar Vivian karena usia kandungannya baru satu minggu.
"Dia baik Meg," balas Vivian.
"Kapan kalian berdua akan menikah?" tanya Vivian.
"3 hari lagi," ucap Beatrix membuat Megan dan Vivian terbelalak.
"Apa-apaan kamu ini. Kenapa baru bilang sekarang sih," ucap Vivian memukul lengan Beatrix.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kamu tidak bercerita pada kami," ujar Megan kesal.
"Ini semua gara-gara Erick, aku sudah bilang padanya untuk menikah tahun depan. Dia menggunakan kehamilanku sebagai alat untuk mempercepat pernikahan kami," ucap Beatrix santai, berbeda dengan Megan dan Vivian yang terkejut.