
Setelah memilih pakaian yang akan mereka pakai dalam 1 minggu ini, mereka lalu keluar dari kamar Archer.
"Mom, minggu depan bantu kami memilih baju lagi ya," ucap Amber.
"Tentu saja sayang," balas Megan mengusap kepala Amber.
"Pak, apa tidak sebaiknya kita kembali ke kantor?" tanya Megan karena sekarang jam sudah menunjukan angka 1.
"Mommy di sini saja. Tidak usah capek-capek bekerja. Uang daddy sudah banyak," ujar Amber tidak ingin Megan pergi dari rumah mereka. Ia masih ingin berlama-lama dengan Megan. Bahkan menginginkan Megan tinggal di rumah mereka.
Megan terkejut mendengar penuturan Amber. Masalahnya yang banyak itu uang Dexter. Dan pria itu bukanlah siapa-siapanya.
"Tidak perlu ke kantor lagi, hari ini kamu bekerja setengah hari saja," pungkas Dexter membuat Megan mengerjapkan matanya beberapa kali. Sebelum akhirnya mengeluarkan suara.
"Kamu serius?" tanya Megan.
__ADS_1
"Memangnya sejak kapan aku bercanda jika berbicara," tukas Dexter.
"Yeayy.. kalau begitu mommy di sini saja," ucap Archer. Megan lalu mengangguk, lagi pula kalau ia pulang tidak ada kegiatan yang akan dilakukan di apartemennya. Lebih baik ia disini bersama anak-anak.
"Aku ingin makan siang, tapi kamu yang memasaknya, apa kamu keberatan?" ucap Dexter.
"Baiklah, aku akan memasaknya. Tunjukkan dapurnya di sebelah mana?" pungkas Megan. Dexter lalu mengajak Megan menuju dapur.
"Kalian bermain dengan bibi Dorothy dulu ya, nanti kalau makanannya sudah siap, mommy akan panggilkan kalian," ucap Megan membuat kedua anak itu mengangguk dan pergi menemui Dorothy.
"Aku buat Risotto saja," gumamnya saat melihat bahan-bahan untuk membuat Risotto tersedia disana. Megan lalu mengeluarkan semua bahan yang di butuhkan.
"Dex, kamu duduk saja dulu," ujar Megan saat melihat Dexter masih berdiri di dekatnya.
"Tidak, aku hanya ingin melihat mu memasak," balas Dexter. Megan menggeleng - gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Apa kamu takut jika aku menaruh racun di dalam makanan yang ku buat?" tanya Megan mengambil panci untuk membuat kaldu ayam terlebih dahulu.
"Pertanyaan macam apa itu," pungkas Dexter menyentil kening Megan. " Aku bahkan sangat percaya pada mu lebih dari siapapun," ucap Dexter jujur.
"Tapi.. kalau kamu menambahkan racun cinta di dalam masakan mu, itu lebih baik. Karena aku aku semakin mencintaimu," ucap Dexter mengerlingkan sebelah matanya pada Megan, kontan membuat wanita itu mengalihkan pandangannya pada air kaldu yang ada di dalam panci. Wajahnya mulai merona.
"Bagaimana? apa kamu ingin menambahkannya," goda Dexter mendekatkan wajahnya ke wajah Megan.
"Sepertinya kalian para pria memang ditakdirkan untuk menggombal," ucap Megan menjauh dari Dexter. Megan mengupas bawang dan mulai mengirisnya. Keduanya terdiam dalam beberapa saat. Dexter mendekati Megan dan secara tiba-tiba memeluk Megan dari belakang. Spontan membuat wanita itu terpaku ditempatnya. Jantungnya berdetak tidak beraturan saat ini, belum lagi wajahnya yang merah seperti kepiting rebus.
"Karena tiap kali kami menggombal dan melihat kalian tersipu atau salah tingkah membuat kami tertarik dan bahagia," bisik Dexter. Megan bergedik saat merasakan hembusan nafas Dexter di telinganya.
"Dex... lepaskan tanganmu," ucap Megan mencoba melepaskan tangan Dexter dari pinggangnya. Namun tidak bisa.
"Ma..maaf tuan, saya hanya ingin mengantar piring kotor saja," ucap seorang pelayan yang tidak sengaja melihat Dexter yang sedang memeluk Megan. Suara pelayan tersebut sontak membuat Megan menjadi salah tingkah. ia tidak ingin pelayan itu berpikiran yang aneh-aneh dengannya. Dengan sekuat tenaga ia mencoba melepaskan tangan Dexter dari pinggangnya. Tetap saja Dexter tidak berniat untuk melepaskannya. Pelayan itu lalu pergi dengan wajah malu.
__ADS_1