
Beberapa hari kemudian.
Tiga hari sudah Winter dalam perjalanan menuju LA. Wanita itu menggunakan kereta api untuk menghemat biaya. Pikirannya dipenuhi dengan mimpinya yang sama selama tiga hari berturut-turut. Dalam mimpinya, ia kembali ke LA setelah beberapa tahun kemudian untuk menemui Julian namun sayang, pria itu telah pergi untuk selama-lamanya.
Sejak saat itu, perasaannya tidak tenang. Tidak fokus mengerjakan pekerjaannya. Ia mencoba menyangkal perasaan itu, Winter pikir perasaan cemasnya itu hal biasa karena mereka pernah tinggal bersama. Tapi sayang sepertinya perasaannya tidak bisa diajak kompromi. Perasaan cemas selalu menghampirinya ditambah lagi dengan cerita Vivian. Bart dan Mila menyarankannya untuk pergi menemui Julian. Sepasang suami istri itu tentu saja sudah tau bagaimana kisah rumah tangga Julian dan Winter.
Dua hari setelah kepergiannya dari rumah sakit, Winter bertemu dengan Bart dan Mila saat mereka di stasiun kereta api hendak pulang ke Canada. Mereka bercengkerama cukup lama hingga kedua pasangan itu mengajak Winter ke negaranya dan tinggal bersama mereka karena Winter tidak tau harus pergi kemana pada saat itu.
__ADS_1
Setibanya di LA, Winter memesan taxi. Dua tahun setelah kepergiannya rasanya tidak banyak yang berubah dari kota tersebut. Setengah jam perjalanan dari stasiun, kini ia tiba di depan gerbang mansion besar itu. Hari sudah malam, Winter mengeratkan coatnya, butir-butir salju yang turun semakin banyak mengenai tubuhnya.
Winter menghela nafasnya ketika rasa enggan menghampirinya. Ia sedang dilema apakah ia akan masuk atau mengurungkan niatnya. Winter merasa gugup, mengingat ini pertemuan pertama mereka setelah dua tahun ini. Berlama-lama disana juga hanya akan membuat tubuhnya semakin kedinginan. Akhirnya Winter menekan bel gerbang mansion Julian. Seorang satpam membuka pintu gerbang, mungkin ia tidak mengenali Wanita di depannya karena Winter memakai topi dan syalnya menutupi sebagian wajahnya.
"Anda mencari siapa Nona?" tanya satpam menatap Winter seolah mengenalnya.
"Nyonya... sa.. saya tidak sedang bermimpi kan?" ucap satpam mengerjapkan matanya berkali-kali. Winter menggeleng meyakinkan satpam tersebut.
__ADS_1
"Syukurlah nyonya sudah pulang. Tuan Julian pasti senang," ucap satpam bahagia. Ia kemudian mengajak Winter masuk ke dalam rumah. Pelayan yang melihat kedatangan Winter terkejut. Pelayan itu kemudian menemui Ana, ibu Julian. Winter mengamati mansion tempatnya tinggal 2 tahun lalu. Tidak ada yang berubah. Semua posisi benda-benda di sana tetap dalam posisi yang sama. Dulu ia pernah meminta pada Julian agar dia mendekor ulang mansion itu dan Julian setuju.
"Nyonya silahkan masuk, Nyonya Ana juga ada disini," ucap satpam.
Seorang wanita paruh baya menuruni tangga dengan langkah kaki yang cepat seolah tidak sabar untuk memastikan apa yang baru saja ia dengar dari pelayan.
"Winter..." ucap Ana tidak menyangka jika Wanita yang dirindukannya saat ini sedang berada di depan pintu rumah. Winter menoleh ke arah suara yang menyebut namanya. Wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri dan memperlakukannya layaknya seperti putri kandungnya. Tanpa disadari kedua matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
Ana berjalan mendekati menantunya dan memeluknya, "nak... kamu kembali.." ucap Ana menangis. Ia merasa bersalah karena egois, menikahkan Winter dan Julian tanpa memikirkan perasaan keduanya. Semua itu hanya karena keinginannya yang ingin putranya segera menikah dan memiliki anak. Ana kesepian, suaminya sudah lama meninggal sejak Julian masih di bangku SMA. Ia tidak memiliki keluarga karena Ana sama seperti Winter yang merupakan anak panti. Ia ingin menantu dan cucunya menemaninya di hari tuanya. Sejak dulu Julian tidak ada waktu bersamanya karena Julian sibuk mengurus perusahaan peninggalan suaminya.