
Setelah acara utama selesai, kini mereka sedang menikmati hidangan yang sudah disediakan sembari mendengarkan suara merdu dari beberapa karyawan yang menyumbangkan suaranya.
"Hai cantik, apa kami boleh bergabung," ujar Erick siperayu ulung kontan membuat tiga wanita yang sedang duduk itu melihat ke arah sumber suara.
"Erick..." gumam Megan. " Ya tentu saja, silahkan duduk," pungkas Megan. Erick dan Jack lalu duduk.
Jack duduk tepat di samping Vivian yang tidak menggubrisnya sama sekali. Entah kenapa Megan tiba-tiba mencari keberadaan Dexter karena tidak bersama Jack dan Erick. Matanya melihat sekeliling ruangan dan melihat sosok pria yang dicarinya sedang duduk bersama beberapa pria dan dua orang wanita yang duduk disampingnya tampak seperti sedang mencari-cari perhatian dari pria itu.
"Baby, apa kamu masih marah.." tukas Jack santai mengecup bahu Vivian membuat wanita itu menatap tajam pada Jack.
"Megan, Beatrix.. Sahabat kalian ini sepertinya sedang marah. Ayo dong bantu aku membujuknya," ucap Jack meminta bantuan pada Megan dan Vivian.
"Apa kamu tidak bisa diam Jack," tukas Vivian kontan membuat Jack diam seperti seorang anak yang sedang dimarahi ibunya.
__ADS_1
"Ekhmm... Apa kamu tidak ingin mengenalkan ku dengan wanita cantik di sampingmu itu Megan," timpal Erick menatap Beatrix yang terpaku di tempatnya.
"Ah ya... namanya Beatrix Erick, kami bekerja di perusahan yang sama, " ucap Megan.
"Oh.. hai cantik senang berkenalan denganmu, aku Erick Rivers," ujar Erick mengulurkan tangannya.
"Beatrix..." balas Beatrix singkat tidak ingin membalas jabatan tangan pria itu. Erick menghardikkan bahunya dan menurunkan tangannya kala Beatrix tidak membalas jabatan tangannya. Wanita itu sungguh menarik perhatiannya.
"Benarkah.. tapi mungkin itu orang lain. Wajah Beatrix memang pasaran," ujar Vivian menyenggol lengan temannya itu.
"Sampai-sampai seorang pria tua mengejar-ngejar Beatrix saat mengira Beatrix adalah istrinya yang kabur dari rumah.." ucap Vivian membuat Megan tertawa mengingat kejadian itu.
"Aishh.. jangan ingatkan aku dengan kejadian sial itu," ujar Beatrix kesal dengan wajah cemberutnya.
__ADS_1
"Iya.. iya...sekarang senyum dong," pungkas Megan mencubit gemas pipi Beatrix.
"Gimana mau senyum coba, si Erick brengsek itu ada disini," batin Beatrix jijik melihat tatapan nakal pria itu padanya. Ia baru tau jika Erick ternyata sepupu Jack dan kedua sahabatnya mengenal Erick.
Dunia begitu sempit bukan?.
"Guys... maaf aku terlambat," ucap Julian yang baru saja datang bersama seorang wanita disampingnya. Wanita cantik yang dibalut dengan gaun berwarna merah menyala. Tanpa sengaja tatapan wanita itu bertemu dengan Megan. Spontan membuatnya menunduk. Tidak berani menatap Megan.
"Kamu darimana saja, bisa-bisanya datang disaat acara hampir selesai," timpal Erick.
Julian duduk di kursi kosong yang ada di samping Megan. "Ada sedikit urusan," ucapnya tanpa memperdulikan wanita hamil disampingnya yang masih saja berdiri.
"Oh.. hai.. kamu winter istri Julian kan, ayo duduk lah," timpal Vivian menawarkan kursinya untuk wanita itu. Ia mengenal wanita itu karena Jack membawa Vivian saat acara pernikahannya dengan Julian.
__ADS_1