
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sudah punya pacar?" tanya Megan menatap Beatrix yang terlihat kebingungan dengan pertanyaan sahabatnya.
"Ck..pertanyaan macam apa itu," pungkas Beatrix berdecak.
"Ayolah... kamu jangan menutupinya dari ku. Ini apa?" tanya Megan tersenyum menunjuk bekas kiss mark di lehernya.
"Kalian melakukannya tadi malam ya," ujar Megan menggoda Beatrix dengan menaik turunkan kedua alisnya.
"Astaga.. " gumam Beatrix menutup lehernya dengan kedua tangannya.
"Aku bahkan sudah menutupinya dengan foundation yang banyak tadi pagi," batin Beatrix.
"Oh ayolah.. jangan menutupinya dari ku. Kamu harus mengenalkannya padaku dan Vivian," pungkas Megan.
"Aisshh.. aku belum punya pacar Meg," balas Beatrix.
"Lalu itu apa hmmm," tukas Megan.
__ADS_1
"Sebenarnya... sebenarnya..itu.." Betarix mencoba mengingat kembali malam panas yang dilaluinya bersama seorang pria yang tidak di kenalnya.
"Sebenarnya apa?" tanya Megan tidak sabar lagi saking penasarannya.
"Kau tau, tadi malam aku melakukan one night stand," ucap Beatrix kikuk, ia menyesali apa yang dilakukannya tadi malam.
"APA? bagaimana bisa?" tanya Megan tidak percaya.
"Sebenarnya ini karena kebodohan ku, tadi malam sepupuku mengajakku ke Club. Kami melakukan permainan, kalau kalah hukumannya minum segelas Vodka. Aku beberapa kali kalah dan mabuk. Di toilet aku tidak sengaja menabrak pria. Entah dorongan apa yang membuatku mencium pria itu dan aku tidak ingat lagi apa yang terjadi setelah itu. Paginya aku bangun di samping pria itu. Dia pasti memanfaatkan keadaanku yang sedang mabuk," pungkas Beatrix memukul-mukul kepalanya karena kebodohan nya itu.
"Ku harap kami tidak akan pernah bertemu lagi," lanjut Beatrix.
"Kalau kalian bertemu, bisa jadi kalian berjodoh," timpal Megan.
"Tidak... tidak... aku tidak akan mau. Ya meskipun sebenarnya dia itu tampan," ucap Beatrix.
"Apa kalian pakai pengaman?" tanya Megan.
__ADS_1
"Aku tidak tau, sudah kubilang aku tidak ingat apa pun selain ciuman panas kami. Aku tidak tau berapa kali dia melakukannya. Aku bahkan kesusahan saat berjalan..." pungkas Beatrix ingin mengutuk pria itu.
"Oh ayolah... jangan bahas itu lagi. Aku muak.." tukas Beatrix tidak ingin mengingat wajah pria itu lagi.
"Bagaimana jika kita makan siang saja, aku sudah lapar. Tadi pagi aku tidak sarapan karena takut terlambat," tawar Beatrix.
"Ya sudah ayo.." ucap Megan. Meskipun belum waktunya untuk istirahat jam kerja, lagi pula Dexter sedang pergi. Dan sahabatnya sedang kelaparan. Keduanya lalu pergi ke Cafetaria yang ada di lantai 5 perusahaan.
*******
Keesokan harinya setelah bertemu dengan Addison, Megan pergi ke sebuah toko pakaian pria untuk membeli sesuatu yang bisa dijadikan kado untuk Dexter. Sebenarnya ia tidak ingin memberi apa-apa. Tapi ia tidak enak hati karena sekarang Megan berprofesi sebagai sekretaris pria itu, apalagi setiap hari bertemu dengan pria itu. Kalau saja ia karyawan biasa, mungkin ia tidak akan memberinya kado.
Megan masuk ke dalam toko dan melihat-lihat koleksi pakaian yang ada di sana.
"Ya ampun.. bajunya mahal sekali," batin Megan melihat harga kemeja pria yang hampir mencapai gajinya 1 bulan.
"Kalau beli yang murah, apa dia akan menerimanya tidak? si bos kan orang kaya. Sudah dipastikan semua barang-barang yang ia kenakan bermerek dengan harga yang fantastis," gumam Megan.
__ADS_1