
Lihatlah, hanya dengan melihat Julian seperti itu, ia seolah melupakan rasa sakit dan bencinya pada Julian atas semua perlakuan pria itu padanya. Rasa cintanya yang sudah perlahan ia hilangkan kini seolah kembali dua kali lipat. Sekeras apapun ia mencoba melupakan Julian, tidak akan ada gunanya. Hatinya tetap dimiliki oleh Julian.
"Dulu kamu pernah mengatakan jika kamu di temukan saat musim dingin, dan kamu merayakan ulang tahunmu di musim dingin sendirian. Musim dingin sudah tiba, kedua kalinya aku merayakannya tanpamu. Maaf... maafkan aku untuk semuanya. Walau aku tau aku tak pantas di maafkan oleh mu. Aku membuatmu kehilangan bayi kita. Pasti itu sangat berat untukmu. Sungguh.. pria sepertiku tidak layak untuk dimaafkan. Anak kita pasti sangat membenciku," ucap Julian menunduk lalu menangis.
"Happy birthday sayang... aku mencintaimu," ucap Julian menyanyikan lagu happy birthday lalu meniup lilinnya dan kembali menangis. Menyesali semuanya.
Winter yang tidak kuasa menahan tangisnya menutup mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar. Sungguh, ia tak sanggup lagi mendengar kata-kata pria itu. Mendengar isak tangisnya sembari menyanyikan lagu ulang tahun untuknya.
Sebenarnya pria itu tidak salah seutuhnya, semua ini karena kesalahpahaman diantara mereka semua. Ia bangkit, melangkahkan kakinya mendekati Julian. Sepertinya pria itu belum menyadari keberadaan Winter. Ia masih menunduk dan menangis tersedu-sedu. Julian pasti menyalahkan dirinya untuk semua yang terjadi. Sama sepertinya yang dulu menyalahkan Julian karena ia kehilangan bayinya.
__ADS_1
Winter menunduk, mengusap pelan rambut kepala Julian. Sungguh miris melihat keadaan Julian saat ini. Julian yang merasakan sesuatu mengusap rambutnya dan menghirup aroma tubuh istrinya sontak membuatnya mengangkat kepala.
"Wi..Winter...." gumam Julian terkejut melihat Winter di depannya. Wanita itu terlihat semakin berisi dan dewasa dengan potongan rambut sebahunya.
Julian tampak menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengerjapkan matanya berkali-kali seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mungkinkah ia berhalusinasi lagi?.
"Ke..kenapa kamu berantakan seperti ini," ucap Winter parau dengan tatapan sendunya. Julian tertegun mendengar suara Winter. Tangannya yang dingin terulur menyentuh tangan Winter di wajahnya.
"Ka..kamu nyata... kamu nyata.. kali ini bukan halusinasi kan.." ucap Julian memeluk tubuh Winter dengan erat. Membenamkan kepalanya di dada Winter dan menangis kuat.
__ADS_1
"Maaf... maaf.. maafkan aku. Ku mohon jangan pergi lagi. Aku tidak sanggup sayang. Aku tidak peduli jika kamu hanya halusinasi ku saja, tapi ku mohon jangan tinggalkan aku. Temani aku disini..." ucap Julian.
"Beri aku satu kesempatan lagi untuk menebus semua kesalahan ku," ucap Julian. Winter mengusap punggung pria itu, dan mengecup lama kepala Julian.
"Ya... mari kita mulai dari awal lagi dan melupakan masa lalu," ucap Winter. Julian terpaku, lagi-lagi ia mendengat suara Winter. Ia mendongak, menatap wajah Winter. Tangannya terulur menyentuh wajah Winter memastikan apakah wanita itu nyata.
"Aku Winter istrimu, aku nyata... kamu tidak sedang berhalusinasi sekarang," pungkas Winter sendu seolah tau apa yang dipikirkan Julian.
"Kamu.. kamu kembali..." tukas Julian menghapus air matanya. Winter mengangguk sesenggukan. Julian melepaskan pelukannya. Pria itu menatap nanar ke arah wanita di depannya. Cukup lama mereka hanya diam seperti itu.
__ADS_1